
Fandi berlalu dari rumah Syifa dengan hati yang pilu.Cinta yang dipendamnya selama ini ternyata harus berakhir penuh luka.
Fandi menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang,hatinya perih mengingat kisah cintanya yang miris.
***
Sementara itu di rumah Syifa...
"Loh kok Fandinya mana??".Tanya Irman yang baru saja menidurkan Zahrah di kamar.
"Sudah pulang Kak,Fandi titip salam buat Kakak nggak sempat pamitan sama Kaka.Jawab Nurul pelan.
Irman heran kenapa suasana jadi seperti tegang.
"Mamah ke dapur dulu Nak...mau beberes perabot yang masih berantakan sisa pesta tadi malam".Kata Mamah Syifa sambil berdiri.
"Papah mau ke depan juga dulu menunggu tukang tenda mau bongkar tendanya".Sahut Papah Syifa sambil berdiri ke arah halaman depan.
__ADS_1
Nurul dan Irman hanya mengangguk.
"Kenapa Dekk...kayanya ada terjadi tadi??"Tanya Irman penasaran pada Nurul.Irman menghempaskan tubuhnya di samping Nurul.Di belainya dengan mesra surai hitam milik Nurul.
"Itu Kak...Rupanya Fandi datang tadi,niatnya akan menyatakan cintanya pada Syifa,dan jika Syifa menerima cintanya Dia akan melamar Syifa.Dulu memang waktu kelulusan Fandi pernah berjanji padaku,Dia akan datang menyatakan cintanya pada Syifa jika Dia sudah dapat mencapai cita citanya.
"Astagfirullah...Aku kira Fandi sudah melupakan cintanya pada Syifa,ternyata cintanya masih terpendam,malang benar nasib Fandi ternyata gadis yang dicintainya sudah menikah.Ujar Irman sendu sambil menyelipkan rambut Nurul kebelakang telinga Nurul.Di kecupnya sekilas pucuk kepala Nurul.
"Iiih...Kakak,malu nanti dilihat orang,seru Nurul dengan manja.Di kerucutkannya bibirnya membuat Irman tekekeh lalu menarik hidung bangir Nurul dengan mesra.
"Aamiin"...Semoga saja".
Tanpa mereka sadari ada sepasang telinga sedang mendengarkan pembicaraan mereka.
Maliq yang baru saja habis mandi berniat akan ke rumah Tantenya Syifa yang berjarak hanya dua rumah dari rumah Syifa.Dia menghentikan langkahnya ketika mendengar percakapan Irman dan Nurul.
"Ternyata benar dugaanku tadi,Laki laki tadi memang menaruh rasa pada Syifa"Aku mesti hati hati dengan orang orang masa lalu Syifa.Monolog Maliq dalam hati.
__ADS_1
Di depan pintu kamar Syifa menernyitkan keningnya melihat tingkah suaminya yang sedang terpaku di depan pintu ruang tamu.Dia melihat suaminya sudah mengganti bajunya,rambut hitamnya masih basah.Dia memakai kaos oblonk berwarna biru laut dan celana Jeans berwarna hitam ,serasi dengan warna kulitnya yang putih bersih,Dia terlihat sangat tampan.Tapi Syifa memilih acuh dia pergi berjalan menuju dapur untuk membantu Mamahnya beberes.
"Ehkhemm."..deham Maliq menarik perhatian Nurul dan Irman yang sedang bermesraan.
"Eeh...Maliq"seru Irman gelagapan dia malu kedapatan sedang bermesraan dengan istrinya.Nurulpun demikian,wajahnya merah merona karena malu.
"Mau kemana Maliq??"Tanya Irman menutupi kecanggungannya.
"Aku mau kerumah Tante dulu,mau panasin mobilku ,dari tadi belum sempat di panasin".Jawab Maliq menengok sekilas ke arah Nurul dan Irman sambil berjalan ke arah luar.Maliq memang menitipkan mobilnya di rumah Tante Syifa karena di halaman rumah Syifa terpasang tenda pengantin,jadi tidak ada tempat parkir mobil.
"Ooo...Iya"Sahut Irman sambil mengangguk kecil.
Maliq berjalan ke arah rumah Tante Syifa.
"Kaak...Kira kira Maliq mendengar pembicaraan kita tadi ngaak yaa??".tanya Nurul pada Irman dengan nada khawatir.
Irman tersentak dengan pertanyaan Nurul"Semoga saja tidak,jangan sampe ada kesalah pahaman antar Syifa dan Maliq".
__ADS_1