
" Umi !! Om ?! " Ada apa ?? " Tanya Zian seraya mengernyitkan dahinya. Dia heran lebih tepatnya pura pura heran melihat kedua orang tuanya kompak mendatanginya di kamar. Karena dia sudah tahu apa tujuan kedua orang tuanya mendatanginya.
Maliq menghempaskan dirinya duduk di kursi belajar Zian, sedangkan Syifa memilih duduk di tepi ranjang, setelah Zian mempersilahkan kedua orang tuanya untuk masuk.
" Ada apa, Mi ?! " Zian mengulang pertanyaannya sambil memindai Syifa dengan tatapan penuh tanya. Dia memilih duduk bersisian dengan Syifa.
" Zian lagi apa, nak ?? " Syifa bertanya memilih mengabaikan pertanyaan anaknya.
" Tidak lagi ngapa ngapain, Mi. Cuman bosan saja ada di luar, penuh dengan orang dewasa jadinya Zian bingung mau ngapain " Zian memgemukakan alasannya sambil tersenyum ceria. Sebisa mungkin dia menepis mendung di wajahnya agar tidak membuat sang Umi jadi sedih.
Syifa melirik Maliq yang masih bungkam. " Mm...masalah pengakuan Om Ahdan tadi - " Syifa menjeda ucapannya dan menghirup dalam dalam oksigen untuk mengurangi beban yang menghimpit rongga pernapasannya.
" Iya ada apa dengan pengakuan Om Ahdan, Mi ?? Itu benar kan , Mi ?? " Ujar Zian menimpali ucapan Uminya yang terjeda.
" Maafkan Umi nak. Harus menyembunyikan kebenaran selama ini dari Zian " Syifa meraih tubuh bocah tampannya dan membawa ke dalam dekapannya. Dia merasa sangat bersalah pada anaknya.
" Kenapa Umi minta maaf pada Zian ?? Memangnya Umi buat kesalahan apa ?? " Zian mendongak menatap netra Syifa yang telah bersimba air mata.
" Umi sudah menyembunyikan siapa abi Zian " Timpal Syifa dengan diiringi oleh isakan kecil.
" Umi tidak salah. Kan Om Ahdan datangnya baru sekarang. Jadi otomatis Zian tahunya baru sekarang juga. Jadi salah Umi di mana ?? " Ujar Zian sambil terkekeh. Dia mengucapkan dengan nada riang, tapi entah kenapa di telinga Maliq seperti bernada sindiran.
" Deg " Maliq menatap sendu ke arah anaknya yang sedang berbicara dengan istrinya.
" Zian tidak marah, nak ?? " Tanya Syifa sambil menangkup kedua pipi anaknya. Dia sangat terharu.
" Tidak Umi..justru Zian sangat senang, ternyata Zian masih punya Abi. Zian bukan anak yatim " Ucap Zian seraya tersenyum sumringah dan melempar senyum termanisnya itu pada Maliq yang dari tadi hanya terpaku di tempatnya.
" Alhamdulillah " Gumam Syifa lega.
Maliq beranjak ke arah Zian dan berlutut di depan putranya itu. Mata elangnya telah berkaca kaca. Diraihnya kedua tangan putranya dan mengenggamnya dengan lembut.
" Zian tidak benci Abi ?? " Tanya Maliq denga suara tercekat di tenggorokan.
" He..he..dengan alasan apa Om ?? " Ucap Zian ambigu. Sorot mata bening itu menyorot tajam ke arah Maliq. Tapi hanya sekilas, selanjutnya mata itu menatap Maliq tanpa riak.
__ADS_1
Maliq seketika tertegun. Dia bingung dengan sikap anaknya.
" Zian senang Om Maliq kembali bersama Umi. Terus kenapa Om Maliq harus bilang Zian benci pada Om Maliq ?? " Seloroh Zian sambil terkekeh riang.
Syifa mengeratkan kembali pelukannya. Dan Maliq mengecup kedua punggung tangan Zian.
" Terima kasih, nak..!! Mau menerima Abi dengan lapang. Dan maafkan Abi tidak ada di sisimu selama ini !! " Ujar Maliq masih berlutut di hadapan Zian.
" Mm ...bagaimana kalau Om tinggal di sini saja. Tidak usah tinggal di rumah kakek Diman, supaya Om tidak kesepian lagi " Celetuk Zian tiba tiba setelah beberapa saat hening. Dia tidak menanggapi semua ucapan ucapan Maliq dari tadi. Dia seperti sedang menghindari ungkapan rasa bersalah dari Maliq.
Syifa dan Maliq tersentak dengan ucapan Zian tiba tiba itu. Keduanya menatap Zian dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.Seketika keduanya menjadi canggung.
" Kenapa Umi dan Om Ahdan jadi liatin Zian kaya gitu ?? Kan kalau Om Ahdan itu suami Umi, harusnya tinggal bareng bareng kaya orang tua temanku. Iya kan ?? " Ujar Zian dengan wajah polos.
Maliq bangkit dari tempatnya dan duduk di samping Zian, sehingga Zian ada di tengah kedua orang tuanya.
" Zian menginginkan Abi pindah ke sini ?? " Tanya Maliq dengan wajah ceria. Dia memiringkan tubuh hingga menghadap Zian dan Syifa lalu menatap Syifa dengan tatapan penuh damba.
" Iya Om. Biar Umi ada temannya " Ucap Zian singkat lalu tersenyum ke arah Syifa.
" Kan...kan ada Zian dan bunda " Ucap Syifa tergagap. Jujur dia belum bisa menyelami hatinya. Apakah dia bisa menerima kembali Maliq atau tidak. Kalau ditanya apakah dia masih mencintai Maliq ?? Jawabannya, Ya !! Dari dulu sampai sekarang hatinya belum berubah. Dia hanya masih trauma dengan dengan sifat Maliq yang tempramen dan labil.
" Yaa..kok Umi gitu sih.. !! Zian kan ingin punya orang tua lengkap seperti teman teman Zian " Ujar Zian dengan wajah sendunya. Ditundukannya kepalanya seolah dia kecewa dengan ucapan Uminya.
Syifa terperangah mendengar ucapan anaknya. " Ternyata memang aku tidak peka pada anakku.Selama ini dia mendambakan memiliki keluarga lengkap " Batin Syifa sangat merasa bersalah pada anaknya.
" Maafkan Umi, Nak !! Umi tidak tahu kalau Zian merindukan Abimu juga " Bisik Syifa ditelinga Zian seraya memeluk kembali tubuh anaknya itu.
" Tidak apa apa, Mi.Tapi Om Ahdan bisa tinggal di sini kan ?? " Tanya Zian lagi semakin mendesak Syifa.
Maliq diam saja. Dia menanti apa jawaban Syifa. Dia pasrah jika Syifa belum menerimanya. Tapi dia bertekad akan terus berjuang.
" Biar Umi bicara dengan kakek dan Nenek dulu ya, Nak !! " Akhirnya Syifa buka suara menanggapi permintaan anaknya.
" Yeey..alhamdulillah " Pekik Zian sambil melompat dari tempat duduknya.
__ADS_1
Maliq menatap Syifa seakan menjelaskan bahwa Zian menginginkan mereka bersatu kembali.
" Demi Zian, dek " Bisik Maliq beringsut mendekati Syifa.
Syifa membuang pandangannya dengan wajah datar. " Aku bicara dengan Mamah dan Papah dulu " Ketus Syifa.
" Iya, dek. Aku percaya Mamah dan Papah pasti mengharapkan kita bersatu " Ujar Maliq percaya diri.
" Cih..percaya diri melewati batas normal " ucap Syifa sinis yang ditanggapi kekehan oleh Maliq.
" Umi sama Om kok bisik bisik ?? " Kata Zian polos sambil memindai bergaantian wajah kedua orang tuanya.
" Kok panggil Om sih, nak ?? Kenapa tidak panggil Abi saja " Ujar Maliq dengan nada sendu.
" Hi..hi...maaf Om !! Zian belum terbiasa. Biar Zian panggil Om saja yaa..!! Tidak apa apa kan ?? " Zian terkikik geli menanggapi Maliq. Entah benar dia masih kaku memanggil Abi pada Maliq atau memang dia tidak mau.
Maliq menatap pria kecil di depannya itu dengan tanda tanya di hatinya.
" Abi boleh peluk Zian ?? " Ujar Maliq tiba tiba.
" Haa..boleh. Tapi peluknya sama sama dengan Umi " Pekik Zian bahagia.
Maliq meraih tubuh putranya lalu mendekapnya dengan erat. Tapi Zian mengurai pelukan itu dan meraih tangan Maliq diarahkannya untuk memeluk Syifa.
" Ayo sini, Mi !! Kita peluka bertiga " Ujar Zian antusias.
Dengan terpaksa, Syifa beringsut mendekat dan memeluk Putra mereka. Tanpa sadar Maliq dan Syifa meneteskan air mata mereka.
" Ya Allah..satukanlah hamba dengan keluarga hamba !! " Doa Maliq dalam hati.
" Aku tidak boleh egois " Batin Syifa
" Zian sudah mengembalikan kebahagiaan Umi !! Bahagia selalu, Mi " Gumam Zian dalam hati.
《 Part part terakhir yaa gaes... Mungkin bulan ini sudah mau tamat kisah Syifa si Gadis Introvert.Nanti ada kelanjutan kisah Zian berikutnya. Kira kira di satukan di sini saja atau buat judul tersendiri ?? 》
__ADS_1
Author menunggu likenya kaka !!