
" Assalamualaikum readerku terlopeππ...maaf yaa lama baru bisa up kembali.Dunia nyata author terlalu bising, sehingga selalu tidak punya waktu untuk bisa menyapa readerku...doakan yaa, semoga kesibukan author akan segera berkurang..jadi bisa sering sering up dateππ "
Seperti biasa..author minta dukungannya...jangan lupa like, komen and vote karya receh ini, biar author selalu semangat update ditengah kesibukan ππ....
π·π·π·π·π·
" Syifa..!! Mamah balik dulu yaa, Nak...soalnya Ayin nelpon tadi,katanya ada kakek di rumah.Baru sampai " Pamit Mamah pada Syifa.
" Ooh..iya Mah..maaf Syifa tinggalin Mamah tadi " Syifa bangkit dari tempatnya.
" Nggak apa apa, Nak...nanti Mamah balik lagi ke sini kita bicarakan yang tadi bersama Maliq "
" Iya Mah..." Syifa mencium punggung tangan mertuanya saat sang mertua hendak keluar dari pintu utama.
Keesokan Harinya....
" Dek...tadi kakak ke rumah Mamah.Di sana ada kakek dan nenek.Kami membicarakan rencana acara tujuh bulanan untuk adek dan Sandra " Ucap Maliq pada Syifa.
Saat pulang kantor tadi, Maliq langsung mencari Syifa yang sedang duduk di gazebo memangku laptopnya.
Syifa memgangkat kepalanya dan menatap wajah suaminya sesaat.
__ADS_1
" Apa harus yaa bikin acara tujuh bulanan ?? " ucap Syifa retoris.
" Hu'um...kata orang tua begitu, dek !! " Ucap Maliq lirih.
Kembali Syifa menatap wajah suaminya lekat lekat.Sebenarnya dia masih enggan untuk berbicara dengan pria dewasa berwajah Turki di depannya itu, tapi ucapan Maliq yang baru saja yang diungkapkannya menggelitik jiwa Syifa harus bicara dengan suaminya itu.
" Kak.. !! aku tanya, ritual tujuh bulanan itu memangnya disyariatkan dalam agama kita ? " Tanya Syifa datar seraya memutar badannya menghadap Maliq.
Maliq mengernyitkan keningnya sambil menatap wajah istrinya dengan wajah bingung.
" Mmm...sepertinya nggak ada.Tapi itu kan sudah menjadi kebiasaan turun temurun dari nenek moyang kita " Ucap Maliq ragu ragu.
" Acara yang dilakukan dengan mewah dan menghamburkan uang tidak diperkenankan dalam islam.Apalagi kalau niatnya sebagai ajang unjuk diri bahwa dia mampu dan kaya untuk membagikan makanan kepada masyarakat.Sungguh ini adalah perbuatan yang sia sia dan jatuhnya menjadi riya "
" Andai tujuan kita untuk menunjukan rasa syukur kita atas rejeki kehamilanku ini, kenapa hal ini tidak kita lakukan dengan diam diam saja dan lebih berkesan ke nilai ibadahnya saja.Kita bisa bagikan rejeki kita itu dengan membagikannya pada anak yatim atau pada orang yang membutuhkan agar hal ini lebih berarti untuk kita "
" Kita boleh mengikuti adat dan kebiasaan nenek moyang, asalkan hal itu bermanfaat dan bernilai ibadah.Tapi jika ada kebiasaan nenek moyang yang tidak bernilai ibadah, tidak apa kita tinggalkan saja kebiasaan itu.Tapi bagi yang mau percaya dan yakin akan hal itu, aku rasa itu hak mereka.Disini aku hanya ingin menjalankan keyakinanku sesuai dengan tuntunan Al'quran dan Sunnah Rasul "
" Ibnu Tamiya berkata ' Agama Allah dibangun di atas pondasi ittiba' ( mengikuti ) Kitabullah, Sunnah Nabinya dan kesepakatan umat ini.Maka tiga pondasi inilah yang terjaga dari kesalahan.Segala sesuatu yang diperselisihkan oleh umat, mereka kembalikan kepada Allah dan Rasulnya '. Dalam hal ini, aku memilih hanya yang disyariatkan oleh agamalah yang akan aku lakukan "
" Dan Allah berfirman dalam Surat Al' baqarah ayat 170 " Dan apabila dikatakan kepada mereka, ikutilah apa yang telah diturunkan Allah.Mereka menjawab, ' tidak ' kami mengikuti apa yang kami dapati pada nenek moyang kami ( melakukannya ).Padahal, nenek moyang mereka tidak mengetahui apapun dan tidak mendapat petunjuk." Tutur Syifa panjang lebar.
__ADS_1
" Jadi, maaf jika kali ini aku tidak ikut dengan apa kemauan dari keluarga kakak.Aku bukan tidak menghargai kepercayaan keluarga kakak, tapi aku memilih apa yang menjadi kepercayaanku.Jika hal ini membuat keluarga kakak semakin tidak menyukaiku.Tidak apa apa.Itu hak mereka.Aku tidak memaksa orang harus senang denganku.Aku memilih dibenci orang daripada mengolok ngolok kepercayaanku " Imbuh Syifa lagi final dengan nada tegas.
Maliq terperangah dengan pemaparan istri kecilnya itu.Diam diam hatinya tersentil. " Sungguh aku adalah seorang pemimpin dalam rumah tanggaku, tapi aku merasa terlalu kecil di hadapan istriku mengenai paham tentang agamaku " Batin Maliq menjerit.Seketika dia menunduk tajam dengan nafas yang sedikit sesak.
" Maaf, kak !! aku tidak bermaksud menggurui kakak.Maaf, jika pemaparanku tadi seperti merendahkan kakak.Sekali lagi aku tidak punya maksud apa apa " Desah Syifa lirih, seolah dia tahu apa isi kepala Maliq saat ini.
" Eeh...tidak, dek !! kakak tidak tersinggung dengan pemaparanmu tadi.Justru kakak merasa bangga dan bersyukur memiliki kamu " Ujar Maliq seraya mengangkat wajahnya menatap dengan haru ke arah istrinya.
Syifa tersenyum tipis dan membuang pandangannya ke arah lain. " Ya sudah, andai keluarga kakak ingin melaksanakan tujuh bulanan untuk Sandra, itu tidak apa apa.Terserah mereka.Hanya aku minta ke kakak, silahkan kakak jelaskan baik baik penolakanku tadi pada keluarga kakak.Dan jika mereka marah, itu hal yang wajar " Ucap Syifa dengan suara lirih seraya bangkit dan beranjak hendak meninggalkan Maliq yang terpekur di tempatnya.
" Iya, dek.Insyaa Allah kakak akan jelaskan pada keluarga kakak " Sahut Maliq pelan seraya menatap nanar punggung kekasih hatinya yang semakin jauh dari hadapannya.
Ada rasa di dalam hati Maliq ingin mengejar dan memeluk erat tubuh istrinya itu.Tapi dia ragu.Dia melihat masih ada binar kekecewaan di mata bening Syifa yang menatapnya dengan dingin.Sungguh hal ini membuat Maliq semakin tersiksa dengan rasa bersalah.
Dia tersiksa dengan kerinduannya pada istrinya.Raga mereka memang tidak terpisah oleh jarak.Tapi istrinya seperti membangun tembok yang tinggi serta sengaja menciptakan jarak antara mereka dengan mengungkung dirinya di balik tembok itu.
" Dek...!! sampai kapan adek menyiksaku dengan hukuman seperti ini ?? " Batin Maliq menjerit pilu.
" Kakak janji..kakak akan meraih hatimu kembali seperti semula.Kakak janji, kejadian kemarin adalah kejadian terakhir yang menyakiti hati adek " .
" Maafkan aku, kak..!! bukannya aku tidak menghargaimu atau tidak menganggapmu.Tapi hatiku masih terlalu kecewa denganmu yang telah meragukan kesetiaanku.Aku merasa sangat terhina dengan tuduhanmu, kak.Semoga sikapku ini bisa menyadarkanmu untuk tidak meragukanku lagi " Gumam Syifa lirih sambil mengayun langkahnya menjauhi Maliq.
__ADS_1