Kisah Hidup Gadis Introvert

Kisah Hidup Gadis Introvert
279


__ADS_3

" Assalamualaikum, Umii !! " Pekik Zian dari arah pintu pagar. Dia melihat Uminya duduk di teras sambil menggenggam ponsel yang diarahkan ke wajahnya.


Zian dan Maliq baru pulang jalan jalan. Pukul empat sore mereka sudah pulang.


Syifa mengalihkan pandangannya dari ponsel. " Waalaikum salam warrahamarullahi wabarakatuh. Sudah pulang, Nak ?? "


" Iya, Mi. Ayo Om, duduk dulu !! " Ujar Zian melirik Maliq yang berjalan di belakangnya lalu meraih tangan Syifa untuk memberi salam takzim.


Maliq mengerutkan keningnya. Dia heran, selama di taman dan di perjalanan tadi, Zian diam tidak banyak komentar bahkan terkesan dingin pada Maliq. Dan sekarang di depan Syifa, dia bersikap sangat hangat pada Maliq bahkan terkesan manja seakan tidak terjadi apa apa.


" Ayo, Om. Duduk dulu !! Nanti main PS sama Zian, yaa Om yaa ?! " Rengek Zian terkesan manja.


Maliq mengangguk bingung lalu menghempaskan tubuhnya di kursi teras yang bersebrangan dengan Syifa.


Syifa hanya mendengus pelan lalu menatap wajah anaknya. Dia enggan menatap wajah Maliq secara langsung.


" Umi lagi vidio call ?? " Celetuk Zian tiba tiba setelah sesaat terkesan canggung.


" Aah..iya. Umi lagi vidio call dengan Tante Tasya dan Om Fandy " Jawab Syifa sambil memperlihatkan layar ponselnya pada Zian.


" Deg.. !! Fandy ?? Apakah itu Fandy teman Syifa yang waktu itu ?? " Monolog Maliq dalam hati.


" Hai.. Assalamu alaikum Tante Tasya..Om Fandy. Apa kabar ?? " Seru Zian seraya melambai ke arah layar ponsel Syifa.


" Waalaikum salam Aqlan anak gantengnya Tante Tasya. Tante kabar baik, nak !! Aqlan apa kabar, sayang ?? " Sahut Tasya dari sebrang dan terdengar kekehan Fandy juga mengiringi.


Fandy dan Tasya terbiasa memanggil Zian dengan panggilan Aqlan. Menurut Tasya panggilan Aqlan lebih laki untuk nama anak laki laki. Entahlah, Syifa tidak mempermasalahkan itu.


" Alhamdulillah, kabar Zian baik juga Tante. Dedek mana Tante ?? "


Zian terbiasa memanggil anak Fandy dengan panggilan dedek. Zian sangat menyayangi bocah yang belum genap empat tahun tersebut.


" Nih..dedeknya lagi merajuk sama Ayahnya. Dedek pengen makan ice cream tapi lagi flu " Tasya mengarahkan kamera ponsel ke arah anaknya yang lagi duduk di ujung sofa dengan wajah cemberut.


" Dek..ini kakak loh, sayang !! Adek Farah tidak mau ngomong sama kakak ?? " Seru Tasya lagi pada anaknya.


" Kakak ?? Kata Umi Syifa, Kakak lagi pergi " Ujar gadis kecil bertubuh mungil itu seketika sumringah. Bibirnya yang tadinya cemberut sontak mengukir senyum bahagia.


Zian dan Syifa terkekeh melihat bocah kecil itu yang terlihat mendekat ke arah ponsel ibunya.


" Mi, Zian mau ngomong sama dedek boleh ?? Zian pinjam ponsel Umi dulu, yaa !! " Ucap Zian sambil menatap wajah wanita cantik tersebut.

__ADS_1


Sudah menjadi kebiasaan. Setiap Syifa vidio call dengan Tasya, pasti Zian dan Farah akan minta waktu berdua dan tidak ingin diganggu oleh orang tuanya.


Syifa mengangguk lalu tersenyum. " Tasya, udah dulu yaa !! Sepertinya time for Zian and Farah, deh.. seperti biasa kita kena senggol.hee..hee.. !! " Ujar Syifa terkekeh yang dibalas dengan suara tawa suami istri di sebrang sana.


" Iya. Nih..kita di senggol. Ya udah..nih dek..adek sama kakak aja yang ngomong " Ucap Tasya terlihat menyerahkan ponselnya pada anaknya.


" Terima kasih, bu..adek rindu kakak " sayup suara cempreng menimpali ucapan Tasya.


" Mi...Zian ngomong di dalam dulu sama dedek. Om Ahdan jangan pulang dulu, temani Zian main PS " Ujar Zian sambil melirik bergantian kedua orang tuanya.


Maliq mengangguk pelan. " Iya. Om tunggu Zian di sini "


Syifa berdiri hendak beranjak masuk ke dalam rumah dan dicegah oleh Maliq.


" Dek..!! " Kata Maliq sambil mencekal pergelangan tangan Syifa.


Zian yang hendak masuk melirik sekilas adegan itu. Dia tersenyum sinis ke arah tangan Uminya yang sedang dicekal oleh Maliq lalu segera masuk kendalam rumah.


Syifa terkejut Maliq memengang tangannya. Seketika dia mematung di tempatnya. Jantungnya berdebar kencang.Jujur, sentuhan Maliq di tangannya, membuat darahnya berdesir tak karuan.


" Aku mau ngomong, dek !! Boleh yaa ?! " Ujar Maliq dengan wajah memelas.


Syifa bungkam dengan tubuh menegang. Diliriknya pergelangan tangannya yang masih dicengkram lembut oleh ayah dari anaknya.


" Mm maaf, dek !! " Ucap Maliq gugup.


" Jaga batasan anda " Ujar Syifa dingin,, aahh lebih tepatnya dia menutupi kegugupannya dengan ucapan tanpa ekspresi.


" Maaf. Tidak sengaja dek. Itu refleks " Cicit Maliq pelan seraya tersenyum tipis ke arah Syifa dengan sorot mata penuh kerinduan.


Yang ditatap sebenarnya salah tingkah. Tapi, jangan panggil Syifa namanya kalau dia tidak bisa menutupi perasaannya itu. Ingat, dia itu wanita tanpa ekspresi dengan wajah datar seperti tripleks.


" Mau ngomong apa ?? " Ucap Syifa seraya duduk kembali di tempat semula.


" Bb bagaimana, dek..apakah aku masih bisa mendapat maaf. Aku sangat menyesal denga peristiwa waktu itu. Aku memang selalu mengedepankan emosi tanpa berfikir dulu. Aku termakan fitnah Kak Dewi " Tutur Maliq dengan nada memelas mengungkapkan penyesalannya.


" Aku mohon, dek. Terima kembali aku. Aku ingin hidup dengan kalian, anak istriku. Aku tidak bisa menepis rinduku pada kalian. Aku masih sangat mencintaimu. Enam tahun aku tersiksa dengan rasa bersalahku, dan berperang dengan rinduku pada kalian. Aku tidak bisa, dek. Aku juga menderita sepeninggalmu " Maliq bangkit dan berlutut di depan Syifa. Diraihnya kedua tangn Syifa lalu dikecupnya berulang kali. Suaranya menghiba terdengar pilu di telinga Syifa.


Tubuh Syifa menegang. Dihempaskannya genggaman tangan Maliq dengan kasar.


" Jaga batasanmu, kak !! Hatiku masih sakit. Aku belum bisa melupakan semua ucapanmu padaku. Ak aku...hiks..hiks.. !! " Runtuh sudah pertahanan Syifa. Dia tidak bisa lagi membendung air matanya.

__ADS_1


Sejenak Maliq terkesiap. Hatinya menghangat ketika mendengar Syifa memanggilnya dengan sebutan Kakak. Panggilan itu adalah panggilan yang terdengar mesra di telinga Maliq.


Syifa sangat membenci dirinya sendiri. Semakin kuat dia membangun benteng pertahanan, agar dia bisa menghapus rasa cintanya pada Maliq. Tapi justru cintanya yang meruntuhkan benteng itu. Pertahanannya jebol, dia kalah dengan rasa cintanya itu.


Maliq meraih tubuh Syifa. Direngkuhnya tubuh mungil itu dengan penuh kerinduan. " Aku mohon, dek..!! Maafkan aku !! " Lirih suara Maliq berbisik di telinga Syifa. Tetes air mata membanjiri pipi pria berwajah tampan itu. Dikecupnya berulang kali pucuk kepala istrinya yang tertutup Jilbab instant.


Maliq mengelus lembut kepala sang istri yang hanya sebatas dadanya. Kerinduannya selama enam tahun kini telah terobati.


" Aku benci Kakak..aku benci !! Kamu jahat, Kak !! " Pekik Syifa sendu sambil memukul mukul dada Maliq dengan lemah. Nafasnya memburu menahan isakan. Sungguh tubuhnya terasa lemah di dalam dekapan laki laki yang masih berstatus suaminya itu.


" Iya, aku memang jahat. Aku memang pria brengsek. Hukum aku, dek..tapi jangan pernah meninggalkanku lagi. Andai kau pergi lagi, pisahkanlah dulu ragaku dengan nyawaku agar aku tidak tersiksa. Cukup enam tahun kau menghukumku, dek. Aku sudah tidak sanggup lagi menerima hukuman itu " Ucapan Maliq tersendat karena menahan isakannya.


" Pergi dari sini kak.. !! aku belum bisa ikhlas menerimamu kembali " Tegas Syifa setelah beberapa saat pelukan Maliq melemahkannya. Didorongnya dengan pelan tubuh kekar itu untuk mengurai pelukan seraya mengusap dengan kasar air mata yang membanjiri pipinya.


Maliq menatap wajah Syifa dengan intens sambil menangkup kedua bahu Syifa. Digelengkannya kepalanya dengan frustasi.


" Jangan lagi, dek.. !! Jangan pisahkan lagi aku dengan anakku. Aku sudah tidak sanggup lagi. Aku mohon !! " Wajah tampan yang terlihat miris itu semakin menghiba. Sungguh, pemilik tubuh kekar itu terlihat sangat menyedihkan memohon pengampunan dari istri kecilnya.


" Aku menunggu keikhlasanmu memaafkanku, dek. Aku tidak akan meninggalkanmu walau kau memintaku beribu kali. Aku sangat mencintaimu, dek !! "


" Pergilah, kak !! Hidupku dan anakku baik baik saja tanpa kehadiranmu " Ucap Syifa final. Wajah datarnya terlihat sangat dingin. Sorot matanya yang sembab menyiratkan sejuta luka yang masih terpendam.


Maliq menyurutkan langkahnya membuat jarak dengan Syifa.


" Iya dek..aku pergi. Tapi bukan untuk melepaskan dan meninggalkanmu. Aku tidak akan pernah melepasmu, ingat itu !!. Aku pergi dulu. Bilang Zian, aku belum bisa menemaninya hari ini bermain. Insyaa Allah besok aku datang lagi " Ucap Maliq sendu dan menatap netra Syifa penuh dengan binar cinta.


Maliq mengusap pelan kepala Syifa lalu mengecup mesra kening sang istri. " Aku pergi dulu, tapi tidak pergi jauh. Aku cuma pergi ke rumah di sebrang sana. Aku menunggu kamu memanggilku untuk seatap dengan kalian " Bisik Maliq diiringi dengan kekehan kecil.


Tubuh Syifa membeku. Dia tidak sanggup menolak perlakuan manis dari Maliq. Dan Syifa mengutuk dirinya untuk itu.


" Ingat..aku akan tetap berjuang sampai titik darah penghabisan " Imbuhnya lagi terdengar konyol.


" Assalmualaikum..cintaku !! " Pamit Maliq lalu mengedipkan sebelah matanya menggoda Syifa. Binar bahagia tersirat dari pemilik mata elang itu.


Pipi Syifa merona melihat kedipan mata Maliq. Dia mendesah pelan lalu membuang pandangannya memutuskan tatapannya dengan Maliq.


Fatimah yang baru pulang dari kiosnya terpaku di ambang pintu pagar. Hatinya menghangat melihat adegan di depannya. Seulas senyum bahagia terukir di bibir wanita berwajah ayu tersebut.


" Teruslah berjuang Pak Ahdan. Saya yakin Syifa akan menerima bapak kembali " Bisik Fatimah pelan ketika Maliq berpapasan dengannya di pintu pagar.


" Iya, bu. Terima kasih dukungannya. Mohon doanya " Ucap Maliq lalu terkekeh.

__ADS_1


" Sip !! " Fatimah mengangkat jempolnya seraya terkekeh juga.


__ADS_2