Kisah Hidup Gadis Introvert

Kisah Hidup Gadis Introvert
267


__ADS_3

" Hehh...dari mana kamu ?? jam segini baru pulang !! " Bentak Aslan pada adiknya yang baru pulang jam 6 pagi. Aslan sedang memakai sepatu olah raganya di teras rumah.Dia bersiap siap lari pagi.


Seketika Ashar menoleh ke arah Aslan dengan tatapan malas.


" Kamu begadang semalaman ?? Setiap malam minggu selalu begini !! " Aslan memindai penampilan adiknya yang acak acakan. Wajahnya kusut karena kurang tidur dengan lingkaran bawah mata yang menghitam mirip mata panda.


" Iya, begadang nyari Zian yang minggat dari rumah " Jawab Ashar ogah ogahan seraya melanjutkan langkahnya meninggalkan kakaknya menuju lantai dua.


" Zian mana ?? teman kamu ?? " Cecar Aslan lagi sambil bangkit dari tempatnya.


" Zian anaknya Bu Syifa !! " Ujar Ashar sambil berlalu.


" Astagaa...maksudmu Ibu Syifa, dosen teman kakak ??" Pekik Aslan terkejut lalu menyusul langkah Ashar karena penasaran.


" Hmm.." Ashar hanya bergumam tidak jelas.


" Hei...Ashar !! Kenapa Zian minggat ?? " Pekik Aslan gemas melihat adiknya meninggalkannya masuk ke dalam kamarnya dan memberikan informasi setengah setengah.


Ashar tidak perduli.Dia masuk ke dalam kamarnya menutup pintu dan menguncinya dari dalam.Tubuhnya sungguh letih dan butuh istirahat.Semalaman dia menemani Syifa mencari Zian sampai ke pinggiran kota, tapi hasilnya nihil.


Dia mengantarkan Syifa pulang ke rumahnya tepat saat adzan subuh berkumandang.Dia sangat prihatin dengan keadaan dosen cantiknya itu.Dia melihat Syifa sangat terpuruk dan kacau.


" Hhhff...aku istrahat dulu sebentar, nanti aku lanjutkan lagi pencarian Zian setelah agak segaran " Gumam Ashar sambil masuk ke dalam kamar mandi.


Di luar kamar, Aslan mengumpat adiknya yang meninggalkan rasa penasaran di hati Aslan.


" Dasar adik nggak ada akhlak !! " Caci Aslan saat tidak berhasil membuka pintu kamar Ashar karena terkunci dari dalam.


Aslan memutar tubuhnya melanjutkan rencananya untuk lari pagi.


" Hhff...capek juga.Mending aku istrahat di bangku taman saja dulu " Aslan memutuskan istrahat setelah menyelesaikan larinya 10 kali putaran mengelilingi taman.


Aslan menyeret langkahnya mendekati bangku taman.


Tiba tiba keningnya berkerut saat netranya menangkap bayangan tubuh anak kecil sedang meringkuk di bangku taman.

__ADS_1


Aslan semakin mempercepat langkahnya mendekati bangku taman.Dia melihat dengan jelas sosok yang memakai baju koko putih. Tubuh kecil itu terlihat bergetar entah karena apa.


" Dek...!! kenapa bobo situ ?? kamu kenapa ?? " Ujar Aslan seraya mengulurkan tangannya menyetuh tubuh kecil itu.


" Dek..!! " Aslan kembali menggoyang pelan tubuh anak kecil tersebut. Tapi dia tidak bisa melihat dengan jelas wajah setengah tengkurap itu.


" Umi !! dingin, Mi !! " Lirih suara anak tersebut dengan suara bergetar.


Aslan tersentak. Sontak dirabanya tubuh kecil itu dan membalikannya dengan hati hati.


" Dia sakit. Astagaa Zian !! " Pekik Aslan terkejut setelah melihat dengan jelas wajah pucat anak kecil itu.


Sontak Aslan membopong tubuh anak semata wayang Syifa dan membawanya masuk ke dalam mobilnya.


" Bertahan, nak..!! Om Aslan akan membawamu ke rumah sakit " Gumam Aslan panik seraya melirik Zian yang dibaringkannya di kursi belakang dari kaca spion.


Aslan memacu kendaraannya di atas rata rata.Dia takut akan terlambat menolong Zian.


Sementara di rumah Syifa.


" Kamu kemana, nak...!! kenapa ninggalin Umi ?? andai kau tahu, pusat kebahagiaan Umi itu adalah kamu.Kamu meninggalkan Umi, sama seperti kamu membunuh Umi perlahan lahan " Gumam Syifa lirih.Dipandanginya foto anak semata wayangnya yang sedang tersenyum ceria ke arah kamera.


" Syifa..makan saja dulu !! nanti kita lanjut lagi mencari Zian.Kalau belum ketemu juga sebentar, kita lapor polisi saja ". Fatimah tiba tiba muncul sambil membawa napan berisi makanan untuk Syifa.


Syifa mengangkat pandangannya. " Bagaimana aku bisa makan, kak.Sementara anakku ada di luar sana.Aku tidak tahu, apakah dia sudah makan atau belum.Dia tidur di mana semalam ?? Dia pasti kedinginan semalam. " Ujar Syifa gusar dan seketika isakannya kembali terdengar.


Perempuan dewasa berwajah ayu itu mengayun langkahnya mendekati Syifa yang sedang duduk di tepi ranjang setelah meletakan napan di atas nakas.


" Kakak tahu, dek.Kakak juga gelisah memikirkan Zian. Tapi kita butuh tenaga untuk mencari Zian.Kalau kamu tidak makan, kamu bisa sakit dan tidak bisa mencari Zian " Tutur Fatimah lembut lalu duduk bersisian dengan Syifa sambil mengusap pelan kepala Syifa yang tertutup oleh khimar.


Syifa mendongakan kepalanya lalu menatap wajah cantik milik kakak angkatnya. " Bisa apa aku tanpa Zian, kak !! dia hidupku !! " Lirih Suara Syifa lalu menjatuhkan kepalanya di bahu sang kakak.


" Insyaa Allah, Zian pasti ketemu.Kita akan mencarinya setelah ini.Sekarang kamu makan dulu " Lembut suara Fatimah memberi semangat pada Syifa.


****

__ADS_1


" Kenapa nomorny tidak aktif !! " gerutu Aslan setelah berulang kali menghubungi nomor ponsel Syifa.


Saat ini Zian sudah dipindahkan kedalam ruang perawatan walau belum siuman, setelah ditangani sebentar di ruang UGD


" Oo..Iya.Coba aku telpon Ashar.Biar dia yang mengabari Bu Syifa tetang anaknya.Aku tidak bisa meninggalkan Zian sendiri di sini " Gumam Aslan kembali menatap layar ponselnya.


" Si*l...!! nomor Ashar juga tidak aktif " Umpat Aslan gusar setelah menghubungi nomor adiknya.


Aslan mondar mandir memikirkan cara menghubungi Syifa.


" Aah..sus...!! Boleh saya titip ponakan saya ?? saya ingin menjemput ibunya di rumah " Aslan memanggil suster yang hendak keluar dari ruangan Zian sehabis memeriksa keadaan Zian.


" Iya..boleh pak !! " Ujar Suster yang ber name tag Pipit seraya tersenyum sangat manis ke arah Aslan.


" Ok.Sus saya pergi dulu.Saya ucapkan terima kasih sebelumnya " Gegas Aslan pergi dari situ tanpa memperdulikan senyum dan tatapan penuh damba dari mata suster pipit.


Aslan yang hanya memakai pakaian olah raga, tidak mengurangi kadar ketampanannya. Di mata suster pipit, Aslan sangat seksi dengan pakaian sperti itu.


****


" Iya, Mah...Zian pergi.Adek tidak tahu apa yang ada dipikiran anak itu saat ini.Adek tidak bisa kehilangan Zian, Mah " Isak Syifa sambil menatap layar datar di depannya.


Dia sedang melakukan panggilan vidio dengan keluarganya. Sudah empat tahun lalu, keluarga Syifa mengetahui keberadaan Syifa.Mereka intens berhubungan.Bahkan setahun dua kali orang tua Syifa datang mengunjungi Syifa.


Tapi hal ini tetap mereka rahasiakan dari Maliq.Walau hampir setiap saat Maliq mendatangi mereka, namun rahasia ini mereka tutup rapat rapat.Syifa berpesan, biarlah nanti dia yang akan mendatangi Maliq untuk mengenalkan anaknya pada Maliq.


" Adek sabar yaa dek !! Mamah yakin, Zian pasti ketemu.Insyaa Allah Mamah dan Nurul akan berangkat ke situ " Suara lembut Mamah dari seberang sana menenangkan Syifa.


" Benar ?? Mamah mau ke sini dengan Kak Nurul ?? " Tanya Syifa terkejut dengan kata kata Mamahnya.


" Iya, Nak..!! Mamah juga mencemaskan cucu Mamah " Ucap Mamah dengan tatapan sendu.


" Baik Mah..Adek tunggu !! " Ujar Syifa dengan sedikit mengukir senyum di bibirnya.Dia kembali semangat setelah mendengar kedatangan Mamah dan Kakaknya.


" Syifa..ada yang mau ketemu di depan !! " Fatimah tiba tiba masuk ke dalam kamar Syifa yang baru saja menutup panggilan dari Mamahnya.

__ADS_1


__ADS_2