
" Tap.."
"Tap.."
Maliq mendengar langkah lembut teratur menaiki anak tangga.
" Hatchiim"
" Hatchiim"
"Hatchiim"
Beruntun suara maliq bersin mencoba menarik perhatian Syifa...
Syifa menghentikan langkahnya dan membalikan badannya menatap ke arah Maliq yang meringkuk di atas sofa" Eeh...apa Kak Maliq sakit ???"
" Kak...Kakak nggak apa apa ??" Ucap Syifa lembut saat sudah berada di dekat Maliq.
" Hatchim...Brrr..!!!" Kali ini Maliq benaran bersin.
" Nggak apa apa dek..." Jawab Maliq singkat.
" Aku tambahin selimutnya,Kak ??"
" Nggak usah,dek...Hatchiimm...!!"
" Astaga..kayanya aku sakit benaran " Batin Maliq.
Syifa memberanikan diri meraba dahi Maliq.
" Astagfirullah...Kakak demam " Pekik Syifa panik.
Syifa bergegas menuju dapur mengambil baskom diisi air hangat dan handuk kecil untuk mengopres Maliq.
" Kak..!!! aku kompres dulu yaa,Kak !!"
Maliq tidak menjawab hanya suara gemeletuk giginya yang terdengar.
Syifa menempelkan handuk basah ke dahi Maliq yang terasa hangat.Lalu beranjak ke dalam kamar untuk mengambil obat penurun panas yang selalu dia sediakan.
" Kak...Kakak minum obat dulu,Kak " Ujar Syifa sambil menyodorkan gelas air minum dan obat pada Maliq.
Maliq membuka matanya yang terpejam. Lalu duduk dengan susah payah untuk meminum obat yang disodorkan oleh Syifa.
" Apa dia tidak berniat untuk membantu menopang tubuhku ???" Batin Maliq.
" Maaf Kak,Kakak bukan Mahramku lagi.." Syifa seperti bisa membaca isi fikiran Maliq.
" Hff..." Maliq menghela nafasnya.Dia ingin menjelaskan bahwa mereka masih sah tapi kondisi tubuhnya tidak punya tenaga untuk melakukannya.
" Masih juga tidak percaya " Gerutu Maliq dalam hati.
Syifa kembali membasahi handuk dan menempelkan di dahi Maliq.
Perlahan Maliq bisa terlelap seiring dengan demamnya yang mulai turun.
Pukul 06.30 pagi.
Syifa terlonjak dari tempat tidurnya dan melirik jam kecil di atas nakas.
" Astagfirullah...sudah pagi,aku tidak sholat subuh " Pekik Syifa.
__ADS_1
" Astagfirullah..tidak biasanya aku begini.Ya Allah ampuni aku !!"
" Eeh..tunggu dulu,bukannya aku lagi jagain Kak Maliq di sofa tadi ??trus kenapa bisa aku tidur di sini ??" Monolog Syifa.
"Astagfirullah...." Bergegas Syifa masuk ke dalam kamar mandi,menyikat gigi dan membersihkan wajahnya.Setelah itu dia memakai khimarnya.
" Kak Maliq...!!" Seru Syifa saat melihat Maliq sedang duduk di Sofa dengan keadaan yang sudah segar bugar sambil memainkan ponselnya.
Maliq memandang ke arah Syifa.
" Ada apa,dek...??"
Syifa menatap tajamn ke arah Maliq." Kenapa aku bisa tidur di kamarku??seingatku,aku sedang menemani Kak Maliq di sofa " Cecar Syifa dengan nada geram.
Maliq tersenyum lembut." Iya,dek.Aku mindahin kamu ke kamar,soalnya kamu tidur dengan posisi duduk.Nanti sakit badanmu tidur dengan posisi tidak nyaman seperti itu " Jelas Maliq dengan tenang.
" Apa ???jadi Kak Maliq menggendongku ??" pekik Syifa.
" Kak Maliq tidak sopan...!!! berani menyentuh wanita yang bukan mahramnya.Kita bukan suami istri lagi,Kak..!! " geram Syifa.Dia kecewa pada Maliq yang tidak menghargainya.
Maliq mendesah lalu tersenyum lembut.
" Ayo,dek..sini duduk dulu.Biar kita bicara baik baik dengan kepala dingin agar tidak ada kesalah pahaman lagi" Ajak Maliq sambil menepuk sofa di sampingnya.
Syifa mendengus kesal lalu duduk di sofa bersebrangan dengan Maliq.
Maliq terkekeh melihat wajah Syifa yang cemberut.
" Dek...!! aku tau juga mana yang boleh dan yang tidak boleh.Aku tidak mungkin melanggar sesuatu yang tidak bisa aku lakukan.Kita masih sah sebagai suami istri,dek !!!"Tegas Maliq sambil menatap Syifa dengan lembut.
Syifa membisu sambil menatap tajam ke arah Maliq.
Tiba tiba Maliq meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja.
.......
" Iya,Mah.Aku di Jerman sekarang "
Syifa mengarnyitkan dahinya. " Heh...tidak jelas.Dia menyuruhku duduk mendengarkan penjelasannya,tapi malah asik berteleponan dengan Mamahnya " Gerutu Syifa dalam hati.
" Nanti saya ubah ke panggilan Vidio saja yaa,Mah..!!"
" Dek..ini !!" Seru Maliq sambil menyodorkan ponselnya pada Syifa.
Syifa menatap Maliq bingung.
" Ini..Mamah mau bicara sama kamu " Imbuh Maliq lagi.
Segera Syifa meraih ponsel di tangan Maliq dan menatap ke layar ponsel.
" Masyaa Allah...Mamah !!" Pekik Syifa tertahan.Dia membekap mulutnya dengan telapak tangannya.
" Ii ini beneran Mamah ??" Ucap Syifa tak percaya dengan penglihatannya.Seketika air mata kerinduan menyeruak di pelupuk matanya.
" Assalamualaikum..sayang...!!" Ucap suara lembut Mamah Syifa.
" Waalaikum salam warrahamtullahi wabarakatuh...Hiks.hikss..!!" Ucap Syifa terbata bata menahan isaknya.
" Dek...kenapa adek menangis,sayang hmm..??" Tanya Mamah
" Adek....rr rinduu...hils..hiks !!!"
__ADS_1
" Eeh..rindu kok nangis,sayang..??"
" Iish...Mamah..!!!.Papah mana Mah..???
Maliq terpana melihat sikap manja Syifa pada orang tuanya." Ternyata kamu punya sisi manja juga " Batin Maliq gemas pada Syifa.
" Nih..Papahmu..!!." Mamah mengarahkan kamera ponsel ke wajah Papah.
" Assalamualaikum,Pah...!!!"
"Waalaikum salam warrahmatullahi wabarakatuh,dek...!!"
" Papah...!!!Adek rindu...hiks..hiks..."
Mamah dan Papah terkekeh sambil berlinang air mata melihat tingkah Syifa.
" Makanya yang rajin belajarnya,biar cepat pulang ke Indonesia " Ujar Papah disela kekehannya.
Syifa mengangguk.
" Mamah sama Papah ada di mana sekarang ??"
" Di rumah..." Jawab Mamah singkat sambil mengarahkan kamera memperlihatkan suasana sekitar mereka.
" Tapi...kok bisa Mah ..???apa di situ ada signal ??"
" Iya,Nak...di sini sudah ada jaringan.Dan Nak Maliq membelikan ponsel ini untuk Mamah pakai.Biar lancar komunikasi katanya"
"Oh.." Syifa menoleh ke arah Maliq yang sedang menatapnya sambil tersenyum.
" Hmmm...Dek..!!" Tiba tiba suara Papah manggil Syifa.
" Iya..Pah..!!"
" Papah sudah mendengar semua tentangmu dari Nak Maliq.Dia sudah meminta maaf pada Mamah dan Papah dan Papah sudah menikahkan kalian kembali "
"Deg..." Syifa membulatkan matanya lalu tertunduk.
" Maafkan adek,Pah...Adek berangkat tidak pamit pada Mamah dan Papah " Lirih suara Syifa merasa bersalah.
" Tidak apa apa,Nak.Insyaa Allah lain kali jangan mengambil keputusan dalam keadaan emosi dan terburu buru.Kamu itu perempuan.Tidak baik pergi jauh tanpa didampingi oleh mahramnya"
" Seperti dijelaskan oleh Hadis Rasulullah "
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda," Janganlah seorang wanita bepergian sejauh perjalanan sehari semalam kecuali bersama dengan mahramnya ".(HR.Tirmidzi)
"Nah..sekarang sudah jelas kan ??"
" Iya,Pah..maafkan adek !! Ujar Syifa sambil tertunduk.
" Sekarang sudah ada Nak Maliq jagain kamu di situ,kamu harus menurut apa kata suami.Dan satu lagi,kalau ingin rumah tanggamu bahagia,jangan pernah mengungkit ungkit kesalahan yang sudah berlalu.Jadikanlah kesalahan itu sebagai bahan ajar untuk memperbaiki diri kalian berdua.Karena sejatinya hanya sesuatu yang salah yang bisa diperbaiki." Nasehat Papah dengan bijak.Papah seperti bisa membaca apa yang sedang bergolak di hati Syifa sekarang.
" Iya,Pah.." Ujar Syifa lirih.
" Ya...sudah.Papah tutup dulu telponnya yaa,dek..Insyaa Allah kita bicara lagi lain waktu "
" Iya,Pah Mah...Assalamualaikum Warrahamatullahi wabarakatuh " .
" Hff..." Syifa membuang nafanya setelah mengakhiri panggilan.
" Terima Kasih,Kak " Ucap Syifa singkat sambil menyodorkan ponsel pada Maliq lalu melangkah menuju kamarnya.
__ADS_1
" Eeh.." Maliq melongo menatap kepergian Syifa.