
" Jika ada yang salah...memang akulah yang salah.
Jika ada yang rindu, rindumu tak seberapa dari rinduku.
Jika ada kata sesal, sesalku ini adalah lautan penyesalan tak bertepi.
Jika ada kata maaf, akulah orang paling malu untuk memohon maaf darimu "
" Bila salahku bisa termaafkan, apa pantas kau beri maaf ?
Bila angin akan berbisik padamu tentang rinduku.
Maukah kau mendengar itu ??
Bila kata sesalku akan membuatmu kembali padaku,aku akan menenggelamkan egoku dan memohon secuil harapan untuk cintaku.
Bila... !! yah, hanya kata bila yang mampu terbesit di otakku, tapi aku terlalu malu mengungkapkan itu "
" Sayangku.. !!
Mungkin saat ini ragaku tak dapat berjumpa denganmu.
Tapi aku selalu tetap menghadirkanmu di sisiku setiap saat.
Pendar cinta ini selalu menyala padamu.
Dia tetap memberikan cahaya di hidupku dan kujadikan kekuatan untuk kesendirianku.
Kuhukum diriku dengan kesendirian ini agar aku sadar kepergianmu adalah ' kesalahanku '
💔💔💔
__ADS_1
Seorang pria berumur awal empat puluhan terpekur menatap setiap bait bait puisi yang baru saja ditulisnya di buku hariannya.Seulas senyum perih terlukis di bibirnya.Mata elangnya menatap dengan kosong tak bercahaya.
Buku tebal bersampul warna hitam itu, menyisakan tinggal beberapa lembar kertas kosong di dalamnya.Selama enam tahun terakhir ini, dia menumpahkan segala penyesalan dan rindunya hanya melalui goresan tinta penanya.
Setiap rasa sesal itu datang menggerogotinya, kertas itulah yang menjadi sasaran penyesalannya.
" Hhfff "
Pria dewasa berwajah rupawan itu menghirup nafasnya dan membuangnya dengan kasar.Ditutupnya kembali buku bersampul hitam itu dan meletakkannya kembali ke dalam laci nakas di dalam kamar yang ditempatinya.
Laki laki itu kembali tercenung di tempatnya.
' Maliq Ahdan ' pria berwajah rupawan itu, sudah enam tahun terakhir ini meninggalkan rumah yang ditempatinya bersama Syifa dan memilih kantor menjadi tempat tinggalnya.
Dia tidak sanggup tinggal di rumahnya.Setiap dia melihat rumah mewah yang pernah ditempatinya dengan istrinya, saat itu juga penyesalan di hatinya semakin menekan batinnya.
Maliq menutup semua akses yang berhubungan dengan keluarganya.Hanya sang Mamahlah yang bebas berkomunikasi dengannya.Pun ketika kakeknya meninggal dunia dua tahun lalu, hati Maliq tak sedikitpun tersentuh untuk sekedar datang melayat.
Hari hari Maliq dihabiskannya dengan bekerja tanpa kenal waktu.Usaha yang dilakoninya sudah melebar ke berbagai bidang, tidak hanya bergerak dibidang penyiaran seperti awal dia buka usaha.
Dia sudah membangun sebuah showroom mobil di kota kelahiran Syifa.Usaha properti juga dilakoninya.Hari harinya dihabiskan hanya untuk mengembangkan usahanya.
Saat mengetahui rahasia Kak Dewi yang telah menyingkirkan Syifa dengan kejam, Maliq mengusir Sandra dan anaknya dari rumahnya dan dia pun pergi meninggalkan istananya.Dia menitipkan rumahnya pada Bu Ati dan Pak Sani dengan gaji yang dia naikan dua kali lipat buat asisten dan satpamnya itu.
Sedangkan hubungannya dengan mertuanya, sampai saat ini belum juga membaik sejak dia berterus terang pada kedua orang tua Syifa itu tentang kepergian Syifa.
Mamah dan Papah Syifa sangat kecewa pada Maliq.Mereka telah memberi kesempatan kedua pada Maliq tempo hari, tapi Maliq kembali mengulangi kesalahan dan menyebabkan Syifa kembali menghilang tanpa jejak.
Papah Syifa sangat murka, tapi tak sampai memaki Maliq.Dia hanya mengusir Maliq dan berkata belum ingin melihat wajah Maliq selama Maliq belum menemukan Syifa.
Demikian juga dengan Nurul, dia sangat kecewa pada Maliq.Dia memutuskan tidak ingin lagi mengolah bengkel variasi yang diolahnya selama ini.Tapi Maliq memohon pada Nurul, agar Nurul tetap mengolah usahanya itu dengan dalih bahwa usaha itu sudah mutlak milik Syifa, bukan lagi miliknya.Dengan berat hati, Nurul tetap mengolah usaha itu tanpa ada campur tangan lagi dari Maliq.
__ADS_1
Maliq tersentak dari lamunannya mendengar dering ponsel yang terletak di atas nakas.
" Hallo, Assalamualaikum Mah...!! ada apa ?? " Ujar Maliq saat dia mengangkat panggilan dari Mamahnya.
" Lagi di mana nak ?? " Tanya Mamah.
" Di kantor Mah..!! "
" Hidupkan tvmu dan buka channel R*T* !! lalu buka gambar yang Mamah kirim lewat WA " Titah Mamah to the point.
Maliq menautkan keningnya. " Untuk apa Mah ?? aku lagi nggak mood untuk menonton "
" Hidupkan sekarang Nak..!! sebelum terlambat !! " pekik Mamah dengan tidak sabar.
" Astagfirullah...!! " Maliq mendesah jengah.Dia lagi malas untuk menonton.Dia ingin mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lemah karena sedang berpuasa di bulan ramadhan.
Maliq meraih remot tv di atas nakas dan mencari channel yang diberitahu oleh Mamah.
" Apa yang penting di sini sih ?? " gerutu Maliq sambil menekan remot tv.
" Ini sudah dapat channelnya Mah..!! apa yang harus kulihat di sini ?? " Tanya Maliq pada Mamah.
" Buka gambar yang Mamah kirim di WA !! " Titah Mamah bikin Maliq semakin bingung tapi dia tetap melaksanakan perintah sang Mamah.
Maliq menautkan keningnya ketika melihat gambar di ponselnya.
" Ini kan fotoku waktu kecil !! " Gumamnya bingung lalu mengalihkan tatapannya di layar tv LED 42 inch di kamarnya.
Maliq terpaku menatap layar datar di depannya.
" Deg...!! "
__ADS_1
" Kenapa bisa ?? " Desis Maliq dengan mata terbelalak.