
" Siapa, Kak ?? " Syifa membalikan badannya menatap ke arah Fatimah.
" Kakak tidak tahu.Tapi kayanya penting sekali, terbukti dia ingin cepat cepat ketemu kamu " Ujar Fatimah.
Syifa melangkahkan kakinya dengan lunglai untuk menemui tamunya.
" Maaf..mau ketemu siapa ?? " Ujar Syifa kala melihat punggung tamu pria yang sedang berdiri di teras rumah minimalisnya.
Tamu tersebut membalikan badannya menghadap Syifa.
" Pak Aslan ?? " Gumam Syifa dengan kening berkerut.Dia heran dengan kedatangan rekan kerjanya itu yang tiba tiba.
Selama dia mengabdi di kampus milik keluarga laki laki ini, dia bukanlah orang dekat dengan cucu pemilik kampus tempatnya mengais rejeki.
Aslan tersenyum canggung. " Bu..!! ss saya bertemu Zian " Ucap Aslan to the point dengan suara gagap.Dia gugup mendapat tatapan dari orang yang dipujanya diam diam.
Syifa tercenung mencerna ucapan Aslan.
" Aa apa ?? Bapak ketemu Zian di mana ?? dimana Zian sekarang ?? " Pekik Syifa terkejut dengan ucapan Aslan.Hilang sudah wajah datar nan dingin miliknya berganti dengan binar antusias setelah dia bisa mencerna ucapan dari laki laki berbadan tegap di depannya.
Aslan terjengkit kaget mendengar pekikan Syifa. " Dia di rumah sakit sekarang " Ujar Aslan setelah sudah bisa menguasai keadaan.
" Rumah sakit ?? " Beo Syifa.
" Kk kenapa bisa ?? " Mata Syifa membulat sempurna dengan suara bergetar.
Fatimah yang mendengar pekikan Syifa berjalan tergopoh gopoh mendekati Syifa. " Ada apa dek ?? "
" Zian sudah ketemu kak..!! " Jawab Syifa antusias. Binar kerinduan tergambar jelas dari netra bening yang sedikit sembab karena terlalu banyak menangis.
" Masyaa Allah....Alhamdulillah " Pekik Fatimah mengucap Syukur dengan binar bahagia.
" Mana Zian ?? " Fatimah mengedar pandangannya mencari sosok bocah yang membuat mereka tidak tidur dari semalam.
" Ayo kak..!! kita menemui Zian !! " Seru Syifa tanpa menjawab pertanyaan Fatimah.
__ADS_1
Fatimah menautkan keningnya. " Memangnya Zian di mana ?? "
" Rumah sakit " Jawab Syifa singkat lalu berlari mencari kunci mobilnya di dalam rumah.
***
Derap langkah beberapa pasang kaki bekejaran di koridor rumah sakit.Langkah langkah itu seakan tidak sabar untuk sampai ke tempat tujuan.
" Ceklek ".
Langkah beberapa pasang kaki itu berhenti di depan sebuah kamar VIP dan salah satunya membuka knop pintu dengan tidak sabar.
" Zian !! " Ucap Syifa setengah bergumam seraya menatap sendu ke arah sosok tubuh bocah laki laki yang berbaring lemah di atas bed rumah sakit.
" Umi !! " Seru Zian lemah kala mendengar pintu terbuka dan melihat sosok wanita yang melahirkannya mendekat ke arahnya.
Baru beberapa menit yang lalu Zian siuman.Dia bingung ada di mana dan sempat bertanya pada perawat yang menjaganya.
Ada perasaan sedih hinggap di hatinya saat dia membuka matanya, dia hanya ingin bertemu dengan ibunya.Dia menyesal telah pergi dari rumah.
" Umi..!! maafkan Zian !! " Desis Zian seraya berusaha bangkit dari tempat tidur.
" Sstt....Zian istrahat ya.. Nak !! " Syifa mengelus kepala bocah laki laki kesayangannya itu.Dia memutuskan untuk tidak menanyakan alasan anaknya itu kabur dari rumah.
Syifa memberikan ruang pada Zian. Dia menunggu Zian sendiri yang akan menceritakannya tanpa diminta. Dia tidak ingin anaknya merasa tertekan.
" Jangan pernah tinggalkan Umi lagi yaa, nak..!! Umi tidak sanggup " Lirih suara Syifa berbisik pada anak semata wayangnya. Bulir bulir cairan bening menetes tanpa permisi di pipinya yang mulus tanpa jerawat.
Bocah laki laki tampan itu bungkam seraya menenggelamkan wajahnya dalam pelukan sang ibu. Ada rasa sesal menyusup dalam hatinya. Dia tidak mampu berkata kata.
" Maaf, Umi " Gumam Zian dengan suara bergetar.
Syifa mengangguk pelan setelah mengurai pelukannya. Suaranya tercekat di tenggorokan.
Fatimah mendekat seraya tersenyum lembut ke arah Zian.
__ADS_1
" Bunda !! " Seru Zian.
" Anak bunda..!! " Fatimah memeluk Zian erat. Ada rasa yang tak dapat dia ungkapkan. Rasa akan takut kehilangan.
" Maafkan Zian, bunda !! "
" Sst...." Fatimah mengecup pucuk kepala bocah enam tahun tersebut dengan penuh kasih sayang.
" Zian istrahat saja yaa, sayang !! Tidak usah mikir macam macam...hmm " Ujar Fatimah lembut.
Aslan yang terpaku di sofa dalam ruang perawatan Zian, ikut terharu dengan adegan di depannya.
Dia tidak tahu apa yang terjadi antara Syifa dengan anaknya. Yang dia tahu, raut wajah Syifa seakan akan menjelaskan bahwa dia sangat takut kehilangan anaknya.
" Terima kasih Pak Aslan...!! " Ucap Syifa sesaat ketika Zian sudah terlelap kembali.
" Sama sama Bu Syifa....saya rasa ibu tidak perlu sungkan seprti itu. Cuma kebetulan saja saya menemukan Zian " Timpal Aslan tulus.
Syifa mengangguk pelan tanpa melepaskan tatapannya dari sosok anaknya yang tertidur pulas " Dimana bapak menemukan Zian, pak ?? "
Aslan menceritakan kronologis saat dia menemukan Zian.
Syifa terkesiap. Dadanya sakit ketika membayangkan anak semata wayangnya meringkuk kedinginan di bangku taman.
Fatimah yang mendengarkan cerita Aslan, ikut terisak. Dia tidak bisa membayangkan, seandainya Aslan tidak menemukan Zian.
" Terima kasih, pak...aku tidak bisa membayangkan, apa yang terjadi pada Zian seandainya bapak tidak menemukannya " Celetuk Fatimah tiba tiba dengan suara bergetar menahan isakannya.
Aslan mengalihkan tatatapannya ke arah wanita berjilbab bergo warna milo itu.
" Aahh..iya sama sama bu !! " Aslan tergagap ketika netranya bertemu dengan netra bulat bening dan berbulu lentik itu.
Entah perasaan apa yang menyergapnya. Tiba tiba netra itu membuatnya salah tingkah.
" Aahh...iya pak Aslan. Kenalkan ini kakak saya, namanya Fatimah " Ujar Syifa tiba tiba. Dia menangkap ada aura lain dari tatapan Aslan pada Fatimah.
__ADS_1
" Aa..ee..iya..salam kenal bu Fatimah " Aslan salah tingkah.
Fatimah terkekeh pelan lalu menangkup kedua tangannya di depan dada seraya menganggukan kepalanya.