Kisah Hidup Gadis Introvert

Kisah Hidup Gadis Introvert
276


__ADS_3

Syifa meremas dadanya yang terasa sesak. Siluet memori enam tahun lalu berputar kembali di benaknya ibarat rol film yang dimainkan.


Makian dan tuduhan keji yang terlontar dari mulut suaminya seolah dia wanita yang tidak bermoral, itulah yang selalu menyirami luka hati Syifa selama ini.


Sakit !!. Itu yang dia rasakan saat ini.Enam tahun dia berusaha melupakan segala rasa sakit yang menderanya ternyata harus hadir lagi. Luka yang susah payah dia sembuhkan, nyatanya harus tergores kembali.


" Kenapa kau harus hadir kembali, kak !! Sudah sejauh ini aku berlari darimu, tapi kau tetap datang juga. Sia sia pengorbananku, menanggung dosa selama enam tahun dengan pergi tanpa ridho darimu " Gumam syifa lirih menahan isakannya.


Wanita bertubuh mungil itu jatuh melorot di pojok kamarnya. Dia meringkuk menyembunyikan kepalanya diantara lututnya. Sungguh, pertahanannya dari tadi untuk terlihat dingin dan biasa biasa saja, runtuh. Ternyata dia tak setegar apa yang terlihat.


" Sakit, kak !! Aku benci dengan hari ini !! Kenapa harus datang lagi, kak !! " Isakan Syifa terdengar pilu.


Wajah yang biasa datar dan dingin itu, kini terlihat sangat sendu dengan sorot mata penuh luka.Butir butir air mata, luruh membanjiri pipinya.


" Aku membencimu, kak !! Aku membencimu !! " pekiknya dalam hati seraya memukul mukul dadanya yang terasa sesak.


Inginnya dia berteriak sekuat tenaga agar sesak di dadanya berkurang. Tapi kesadarannya masih menguasainya. Dia sadar jika dia berteriak, akan menimbulkan tanya dari putra kecilnya. Dia tidak ingin terlihat menyedihkan di mata anaknya. Dia ingin anaknya selalu mendapat kebahagiaan.


" Astaghfirulah haladzim !! " Syifa mengucap istigfar berulang kali setelah beberapa saat tenggelam dalam tangisan kepedihannya.


Syifa mendongak menatap jam kecil di atas nakas kamarnya. Jarum jam menunjukan pukul setengah enam sore.


" Yaa Allah berapa lama aku menangis " Gumam Syifa lirih. Perlahan dia mengangkat tubuhnya bangkit berdiri.Sayup indra pendengarannya mendengar suara cekikikan dari teras depan.


Suara itu adalah suara putra semata wayangnya yang beradu dengan suara pria dewasa yang kadang terbahak lepas.


Syifa duduk di tepi ranjang lalu tercenung. " Ternyata Zian sangat bahagia dengan kehadiran pria itu. Sudah lama aku tidak mendengar Zian tertawa selepas itu "


Tok


Tok


Tok


" Umi !! Om Ahdan pamit pulang !! Dia ingin pamit pada Umi !! " Pekikan Putranya disertai ketukan di pintu kamar menyentak lamunan Syifa.


Gegas Syifa mengusap air matanya lalu berteriak tanpa membuka pintu kamar.


" Iya, nak.Bilang Om Ahdan pulang saja !! Umi baru mau mandi !! " Pekik Syifa.


" Ok. Mi !! " Pekik Zian sambil berlari kembali ke teras.


***


" Jadi Om Ahdan itu, teman Umi ya , Mi ?? Tau gitu, dari dulu sudah Zian ajak ke sini " Celetuk Zian tiba tiba saat mereka sedang menikmati makan malam mereka.

__ADS_1


Syifa melongo. " Om Ahdan ..eeh..iiya "


Fatimah yang mendengar percakapan ibu dan anak itu mengerutkan keningnya. " Om Ahdan teman Zian ?? "


" Iya, bunda. Ternyata Om Ahdan itu temannya Umi. Tadi Om Ahdan datang ke sini bermain dengan Zian. Om Ahdan janji pada Zian, Om Ahdan akan datang setiap hari bermain dengan Zian " Cerocos Zian dengan wajah berbinar.


Fatimah melirik Syifa dengan mimik penuh pertanyaan.Dia menelisik wajah adik angkatnya itu, dan dia sadar mata Syifa terlihat sembab.


" Ada yang perlu diceritakan dek ?? "


Syifa menarik nafasnya lalu mengangguk pelan.


" Andai Om Ahdan itu adalah Abinya Zian. Zian pasti akan sangat senang, Mi !!"


" Deg " Jantung Syifa sontak memukul dadanya dengan keras mendengar celetukan Zian yang terlihat sangat antusias ketika mengucapkan itu. Binar matanya menyimpan sejuta asa di sana.


" Om Ahdan itu sangat baik dan perhatian sama Zian, Mi. Setiap Zian habis sholat Isya pasti Om Ahdan mengantar Zian pulang. Atau kalau Zian latihan karate, Om Ahdan pasti menemani Zian. Zian jadi merasa punya Abi deh, Bund " Imbuh Zian lagi seraya menatap Bunda Fatimah dengan mata berbinar. Lengkung bibirnya membentuk senyum lebar.


Syifa yang mendengar ucapan dari anaknya semakin merasa gamang. Tersirat kegelisahan dari wajah cantiknya.


" Zian, habiskan makanananya, sayang. Lalu kerjakan tugas sekolahmu !! " Titah Syifa lembut pada anak semata wayangnya.Dia belum siap menanggapi setiap ucapan anaknya.


" Iya, Mi " Zian tertunduk. Sekilas wajahnya terlihat sendu mendengar titah sang ibu. Seakan ada kekecewaan melihat Uminya tidak menanggapi ucapannya tadi.


***


" Kamu habis menangis ??" Imbuh Fatimah lagi.


Syifa melirik sekilas pintu kamar anaknya yang tertutup rapat.


" Sebaiknya bicara di teras belakang, Kak " Ujar Syifa seraya bangkit lalu berjalan menuju teras belakang dan diikuti oleh Fatimah.


Syifa menarik nafasnya dengan berat setelah duduk berhadapan dengan Fatimah di kursi teras.


" Kak..ternyata Om Ahdan yang dimaksud Zian adalah - " Syifa menjeda ucapannya lalu membuang pandangannya ke arah taman belakang rumahnya.


Fatimah mengernyitkan keningnnya menanti kelanjutan ucapan Syifa.


" Dia Abinya Zian Kak " Lirih suara Syifa berhasil membuat Fatimah terkejut.


" Abi ?? Abinya Zian ?? " Beo Fatimah terkejut.


Syifa mengangguk lemah dan menundukan kepalanya.


" Mak maksudnya Pak Ahdan itu adalah mantan suamimu ?? " Cecar Fatimah dengan keterkejutannya.

__ADS_1


" Dia masih sah menjadi suamiku kak. Dia belum jadi mantan. Dia belum menceraikanku " Gumam Syifa meluruskan tanggapan Fatimah.


" Astaghfirullah. Jadi kamu belum bercerai dari Abinya Zian, dek ?? "


Fatimah semakin terkejut dengan pernyataan Syifa. Selama ini memang dia tidak tahu bagaiman kisah Syifa yang sesungguhnya. Dia tidak mau lancang bertanya pada Syifa yang dianggapnya itu adalah privasi Syifa. Dia tidak ingin melebihi kapasitasnya yang hanya sebagai orang yang ditolong oleh wanita baik hati itu.


Syifa mengangguk lemah. " Dan dia menemukanku kak !! "


" Pantas, aku merasa wajah pak Ahdan itu tidak asing bagiku. Ternyata dia itu memang sangat mirip dengan Zian " Batin Fatimah.


" Tapi kenapa, dek ?? " Tanya Fatimah.


Syifa menarik nafasnya kembali lalu menceritakan semuanya pada Fatimah, bagaimana dia sampai nekat meninggalkan suaminya dengan status masih resmi menjadi istri seorang laki laki bernama Maliq Ahdan.


" Aku takut, kak. Aku takut zian akan sangat terpukul ketika mengetahui bahwa laki laki yang dianggapnya orang baik dan menyanyanginya itu, dahulunya adalah orang yang menolak kehadirannya "


" Aku takut Zian akan merasa menjadi anak yang tidak diinginkan. Aku juga sangat takut, jika Zian akan membenci ayahnya " Isak Syifa kemudian lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Fatimah mengusap pelan bahu Syifa.


" Tapi dia sudah datang memohon maafmu, dek !! Apa kau tidak ingin memaafkannya ?? " Hati hati Fatimah mengucap kata katanya. Dia takut Syifa akan semakin terkekan.


Syifa mengangkat wajahnya.


" Tapi di sini masih sakit, Kak " lirih suara Syifa sambil menunjuk dadanya.


" Selama aku menikah dengannya, aku selalu menjaga marwahku sebagai istrinya. Tapi apa yang aku dapat, kak. Dia menuduhku dengan sangat keji seolah aku adalah wanita yang tidak bermoral. Aku sakit kak. Dan lebih sakitnya lagi, ketika dia tidak mengakui anaknya "


" Mungkin kalau hanya tuduhan kejinya padaku, aku bisa memaafkannya saat ini. Tapi yang aku tidak terima, ketika dia tidak mengakui Zian sebagai anaknya. Aku sangat terpukul saat itu, kak. Hal itulah yang membuatku nekat menanggung dosa dengan meninggalkan suami sahku "


Fatimah mentap netra bening penuh dengan luka itu.


" Bagaimana jika Zian mengetahui bahwa Pak Ahdan adalah Abinya, dan dia menerimanya dengan senang hati. Apa yang kamu lakukan, dek ?? Apa kamu tega mematahkan kebahagiaan Zian ?? " Tanya Fatimah tiba tiba setelah beberapa hening.


Syifa terperangah mendengar pertanyaan Fatimah. Dia tercenung sesaat.


" Apa itu mungkin, kak ?? Apakah Zian akan memaafkan Abinya jika dia tahu bahwa Abinya dulu tidak mengakuinya ??" Syifa menjawab Fatimah dengan pertanyaan kembali.


Fatimah menggeleng. " Kakak juga tidak tahu, dek. Tapi saran Kakak banyak banyaklah minta petunjuk kepada Allah. Hilangkanlah dendam yang mengotori hatimu. Karena semua yang terjadi di dalam hidup kita itu adalah kehendak dari Allah untuk menguji keimanan dan keyakinan kita kepadaNya " Tutur Fatimah lembut seraya menyentuh bahu Syifa untuk memeberi kekuatan pada wanita yang sudah dianggapnya sebagai adik.


" Kakak tidak tahu bagaimana perasaanmu saat ini dan kakak juga tidak tahu apa yang telah kamu alami selama ini. Tapi yang kakak tahu, adik kakak adalah wanita yang bijaksana "


Syifa semakin tertunduk mendengar ucapan Fatimah. Dilema yang dirasakannya semakin menekan batinnya.


" Berdamailah dengan hatimu, dek. Agar kegelisahan itu tidak akan menggerogotimu. Dendam yang terpendam tidak baik untuk kesehatanmu " Fatimah mengakhiri ucapannya dengan menarik tubuh Syifa ke dalam pelukannya.

__ADS_1


Suasana kembali hening. Mereka terdiam dengan benak masing masing. Tanpa mereka sadari seseorang telah mendengar semua percakapan mereka dengan pipi yang telah banjir dengan air mata.


__ADS_2