Kisah Hidup Gadis Introvert

Kisah Hidup Gadis Introvert
285


__ADS_3

" Dedek Farah jadi datang kan, Mi ?? Nanti Zian ikut jemput dedek di bandara ya , mi !! Ya..yaa !! " Bujuk Zian beruntun pada Syifa.


" Iya, nak. Tapi pesawatnya malam. Umi ke kampus dulu. Zian bobo siang ditemani abi yaa !! " Sahut Syifa seraya merapikan khimarnya.


" Tidak usah ditemani, Mi. Zian bukan anak kecil lagi. Janji Zian akan bobo siang " Ujar Zian datar lalu keluar dari kamar Syifa.


Syifa terpaku di tempatnya. Dia heran, sudah sebulan Maliq tinggal bersama mereka atas permintaan Zian. Tapi Zian seperti menjauhi Maliq. Setiap ada momen mereka bersama, ada saja alasan Zian untuk bisa menghindar dari Maliq.Dan sampai saat ini, Zian masih enggan memanggil Maliq dengan sebutan Abi.


" Hff..ada apa dengan Zian ?! " Keluh Syifa sambil menghembuskan nafasnya.


" Dek ..kenapa termenung hmm ?? " Syifa tersentak kaget, tiba tiba sepasang lengan besar melingkar di pinggang rampingnya.


" Ckk..kak. Bikin kaget !! Lepas, nanti Zian lihat. !! " Sentak Syifa seraya menggoyangkan badannya berusaha mengurai pelukan Maliq. Dia masih merasa canggung dengan keberadaan Maliq.


Maliq bukannya melepaskan pelukannya. Dia semakin memeluk Syifa dengan erat. Dia meletakkan dagunya di atas pundak Syifa.


" Mana ada Zian di sini. Hmm ?? "


" Ada tadi, sewaktu Kak Maliq di kamar mandi. Dia baru saja keluar " Kata Syifa seraya mengerucutkan bibirnya.


" Tahukah dek. Aku sangat merindukan saat saat seperti ini. Enam tahun aku hanya bisa membayangkan ini dalam mimpiku. Aku sangat tersiksa dengan kepergianmu. Duniaku terasa sesak. Aku terpuruk dalam penyesalanku " Desah Maliq berbisik di telinga Syifa. Matanya berembun mengiringi setiap ucapannya.


" Jangan pernah pergi dariku lagi, dek !! Andai itu terjadi lagi, tolong bunuh saja diriku agar aku tidak merasakan lagi bagaimana tersiksanya menahan rindu " Imbuhnya lagi.


" Ckk...iya..iya..tapi lepas dulu !! Sesak nih, kak " Gerutu Syifa tak menanggapi ucapan Maliq.

__ADS_1


" Aku sudah telat. Minggir dulu " Syifa menggoyangkan badannya semakin kuat untuk mengurai dekapan Maliq.


" Hmm..iya deh. Tapi kakak antar yaa ?! " Maliq tidak putus asa untuk meluluhkan hati Syifa.


Sudah satu bulan mereka tinggal bersama. Tapi Syifa masih saja bersikap dingin padanya. Mereka memang tinggal satu atap bahkan tidur satu kamar. Namun Maliq belum berani menyentuh Syifa. Siang ini, dia memberanikan diri untuk memeluk Syifa dan ternyata dia melihat istrinya itu risih dengan pelukannya.


Apa dia kecewa ?? Jujur dia kecewa. Tapi dia sadar, tidak mudah menyembuhkan sebuah luka yang terlanjur tertoreh begitu dalam. Dia hanya berdoa dan bertekad, semoga suatu saat keadaan akan semakin membaik.


" Tidak usah, kak. Aku pergi sendiri saja. Zian cuma sendiri di rumah, soalnya Kak Fatimah lagi di kios dan sebentar lagi kayanya Zian pergi ke tempat latihan karate " Tukas Syifa tegas seraya menyampirkan tas di bahunya.


" Baiklah dek. Tapi bagaimana dengan rombongan Mamah sama Papah. Jam berapa mereka di jemput di bandara ?? " Tanya Maliq tiba tiba ingat bahwa mertuanya akan datang hari ini, untuk menghadiri pernikahan Fatimah.


" Pesawatnya landing jam delapan malam. Jadi kita ke bandara ba'da magrib" Jawab Syifa sambil mencium tangan Maliq dengan takzim


" Aku pergi yaa, Kak !! Assalamualaikum !! " Pamit Syifa setelah sebelumnya Maliq mengecup pucuk kepalanya.


" Waalaikum salam. Hati hati di jalan dek !! " Sahut Maliq sambil menatap sendu punggung mungil milik sang istri.


" Ya Allah lembutkanlah hati istriku. Beri satu kesempatan lagi untuk memperbaiki kesalahanku !! " Bisik Maliq dalam hati berharap kepada Allah.


***


" Jadi ini alasan Mas Aslan tetap keukeuh menikahiku ?? " Ujar Fatimah sambil menatap kertas di tangannya. Kertas itu berisi catatan medis Aslan.


Fatimah memutuskan memanggil Aslan dengan panggilan Mas. Sebab Aslan keturunan Jawa. Ayahnya berdarah Jawa dan Ibunya bersuku Banjar.

__ADS_1


" Iya !! Waktu pertama bertemu denganmu, aku memang sudah jatuh cinta padamu. Tapi aku ragu untuk menyatakannya.Aku takut, kamu tidak dapat menerima kekuranganku " Timpal Aslan sambil tertunduk.


Saat ini Fatimah dan Aslan sedang berada di salah satu caffe. Mereka janjian untuk makan siang di tempat ini.


Fatimah menghela nafasnya." Jadi kita sama sama mempunyai problem yang sama ?? "


Aslan mengangguk pelan. " Inilah penyebab aku tidak mau menikah. Karena aku tidak bisa memberikan keturunan untuk istriku nanti. Kecelakaan sewaktu aku duduk di bangku SMP, yang membuatku di vonis mandul.Dari sanalah aku lebih menutup diri dari yang namanya wanita. Aku takut jatuh cinta " Tutur Aslan sambil meremas kedua tangannya di atas meja.


" Kemarin, saat aku mencoba memberanikan diri untuk melamarmu, jujur aku mengumpulkan dengan susah payah keberanianku. Tapi saat kau menolakku dengan alasan kau tidak bisa memberiku anak, saat itulah kepercayaan diriku naik 100 persen. Ternyata kita sepaket " Imbuhnya lagi sambil terkekeh pelan.


Fatimah ikut terkekeh. Entah apa yang mereka tertawakan. Yang jelas, saat ini mereka berdua sudah sama sama percaya diri untuk melanjutkan hubungan mereka.


Kemarin Fatimah sangat tidak percaya diri untuk menerima lamaran Aslan. Dia menganggap dirinya tidak pantas untuk seorang Aslan, putra seorang pengusaha terkenal di kota ini. Keluarganya adalah orang terpandang. Sedangkan dia hanyalah seorang janda sebatang kara dan di vonis tidak bisa memiliki keturunan lagi.


Fatimah sudah berusaha keras menolak Aslan. Dia kemukakan alasannya di depan Aslan dan kedua orang tua Aslan dengan harapan mereka mempertimbangkan kembali lamaran mereka. Tapi bukannya mereka mundur malah semakin yakin melamar Fatimah untuk jadi menantu mereka.


Akhirnya hari ini Fatimah mengetahui alasan keluarga Aslan keukeuh ingin mempersuntingnya.


" Kita bisa adopsi anak dari panti asuhan setelah menikah. Kita akan mengadopsi sepasang " Celetuk Aslan setelah sesaat hening.


Fatimah mengangguk pelan " Jika itu yang terbaik, aku ngikut aja. Seorang anak memang hanya titipan. Entah titipan itu akan di titipkan lewat siapa. Bisa jadi anakku di titipkan oleh Allah lewat rahim wanita lain dan akulah yang akan dipercayakan oleh Allah untuk membesarkannya. Yang penting kita selalu amanah menerima titipan itu " Ujar Fatimah bijak seraya tersenyum lega.


Batinnya yang selama ini terbebani oleh kekhawatiran seolah telah terangkat seiring pengakuan Aslan.


" Iya. Mari tetapkan hati dengan ijin Allah. Semoga rumah tangga kita menjadi keluarga sakinah mawadah warrahmah, walaupun tanpa keturunan kandung " Timpal Aslan dengan tulus.

__ADS_1


" Aamiin " Ucap Fatimah sambil mengusap kedua telapak tangan di wajahnya.


__ADS_2