
" Zian anak Umi !! Zian anak hebat, Nak !! Gumam Syifa seraya mengusap cairan bening yang menetes di sudut mata beningnya.
Ditatapnya dengan seksama layar Tv di depannya.Rasa haru dan bangga menyusup perlahan di dalam relung hatinya.Dia sangat terharu melihat penampilan anaknya yang penuh percaya diri.Ayat perayat dibacakannya tanpa ragu dan tak ada kesalahan.
" Masyaa Allah...anak Umi sungguh luar biasa !! " Gumamnya lagi seolah anaknya berada di depannya kini.
Saat ini dia berada di dalam ruangan kerjanya di kampus.Dia menyempatkan diri sekedar menonton pertunjukan anaknya di TV.Walau dia tidak bisa mendampingi anaknya langsung, setidaknya dia tidak ingin melewatkan moment penting dari anak semata wayangnya itu.
" Maafkan Umi, Nak !! tidak bisa mendampingimu " Desis Syifa sendu.
" Zian tidak punya Ayah.Karena kata Bunda, Zian itu memang tidak punya Ayah.Zian hanya punya Bunda dan Umi "
" Deg !! "
Syifa tersentak mendengar jawaban anaknya saat diwawancarai oleh host.Ada sisi yang berdenyut nyeri di dalam hatinya. Dia bisa merasakan perihnya perasaan sang anak ketika ucapan itu keluar dari mulut mungil tersebut.
Kalimat itu terdengar biasa saja bagi orang lain.Tapi bagi Syifa sebagai ibu dari Zian, kalimat yang meluncur mulus dari bibir anaknya itu terdengar seperti jeritan pilu hati sang anak.
Syifa menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kerjanya.Dipejamkannya matanya seakan ingin menampik realita hidupnya.
__ADS_1
" Kak Maliq !! apa kau bisa mengenali anakmu seandainya kau menonton hari ini ?? dia sudah besar Kak !! dia menjiplak semua wajahmu, Kak !! lihatlah anak yang kau tidak akui itu, dia adalah Maliq dalam versi kecilmu " Batin Syifa menjerit pilu.Tetes tetes cairan bening kembali bergulir tanpa permisi keluar dari matanya yang terpejam.
" Apa kabarmu saat ini, Kak ?? pastinya kau sudah bahagia dengan seseorang yang setara denganmu.Seseorang yang bisa mengimbangi hidupmu "
Lihatlah diriku, Kak..!! aku masih setia dengan kepedihanku.Aku belum bisa menghapus bayangmu walau berkali kali kau menyakitiku.Rindu ini masih tetap milikmu !! "
Enam tahun Syifa meninggalkan Maliq.Enam tahun pula dia berusaha melupakan Maliq.Tapi hatinya tidak bisa diajak bekerja sama, hatinya tetap setia terpaku pada ayah dari anaknya itu.
Kalau ada yang bilang bahwa hidup Syifa tidak diganggu laki laki yang menyukainya, jawabannya adalah tidak.Banyak yang ingin mendekatinya, bahkan ada beberapa mahasiswa yang mencoba menarik perhatiannya.Rekan seprofesinya ada juga yang tertarik dengannya.Tapi semua itu disikapinya dengan dingin
Hatinya seolah mati untuk mengenal makhluk yang namanya laki laki.Hatinya tertinggal nun jauh di seberang pulau sana.Raganya memang pergi dari sisi Maliq, tapi hatinya ada bersama Maliq.
Hanya di ruangan inilah dia berani menumpahkan kesedihannya.Saat dia ada di hadapan orang lain, dia akan bersikap baik baik saja, apalagi di depan anaknya.Sebisa mungkin dia akan menyembunyikan segala beban di hatinya.Dia ingin anaknya tumbuh dengan perasaan sempurna walau tanpa seorang ayah.
Matanya masih terus terpejam dengan punggung yang luruh pasrah di sandaran kursi kerjanya.
Syifa tidak menyadari, sepasang mata teduh sedang menatapnya dengan intens.
" Kenapa setiap kali aku melihatmu, kau pasti sedang menangis diam diam ?? apa yang membuatmu harus menanggung kepedihan ?? " Batin pemilik mata teduh itu.
__ADS_1
Pria bernama Aslan itu adalah salah satu rekan kerja di kampus tempat Syifa mengajar.Selain dosen, pak Aslan adalah cucu pemilik kampus.
" Andai aku bisa menghapus air matamu itu, aku akan menghapusnya dan tak akan pernah membiarkan air mata berhargamu itu akan menetes lagi "
" Sayangnya, aku terlalu pengecut walau hanya sekedar menghampirimu !! " Desah pria berwajah tampan dan memiliki postur tegap itu masih setia menatap Syifa dari celah pintu yang tidak tertutup dengan sempurna.
" Ngapai berdiri di situ pak ?? lagi ngintip Bu Syifa yaa pak ?? awas bintitan loh pak !! " Seruan setengah berbisik di dekat telinga pria itu disertai tepukan keras dibahunya sontak mengejutkannya.
Aslan terjengkit kaget lalu membalikan tubuhnya menghadap pemilik suara.
" Astagaa..!! bocah sialan !! " Geram Aslan seraya mendelik pada pria berumur awal 22 tahun di depannya yang sedang nyengir kuda.
" Kamu yang ngapain di sini haa ?? " Sentak pria itu geram.
" Peace Kak..ee Pak !! Aku hanya kebetulan lewat.Tau tau liat bapak lagi ngintip, jadi sekalian mampir deh...he..he..!! " Ujar pria yang baru datang tadi dengan wajah usilnya sambil mengangkat dua jarinya.
" Lagian...kenapa kakak eeh..bapak suka sekali ngintip ngintip Bu Syifa ?? kalau memang suka, tembak aja langsung..keburu digondol orang baru tau rasa.Maka status jomblo sejati tidak akan lepas dari diri kakak " Ledek pria itu seraya terkekeh lalu mengambil langkah seribu setelah melihat kepalan tangan dari kakaknya siap mendarat di bahunya.
" Pikirkan ucapanku, kak !! soalnya teman temanku banyak yang naksir Bu Syifa, termasuk aku !! lambat sedikit kakak akan gigit jari " Pekik pria itu memprovokasi kakaknya dengan wajah setengah meledek dari kejauhan.
__ADS_1
" Ashar sialan !! " Gerutu Aslan sangat geram pada adiknya.Dia hanya bisa bergumam sambil meraup wajahnya dengan kasar walau sangat geram.Dia takut Syifa akan mendengar keributan ulah adik badungnya itu dan akibatnya Syifa akan mengetahui bahwa dia sedang memperhatikan Syifa.