Kisah Hidup Gadis Introvert

Kisah Hidup Gadis Introvert
293


__ADS_3

" Zian kenapa nak ?? " Ucap Syifa ketika melihat gelagat Zian yang sedikit gelisah di tempatnya. Tatapan sendunya menyiratkan sesuatu yang ingin disampaikannya.


Zian menggeleng pelan. " Tidak ada apa apa, Mi !! Zian masuk dulu. Mau ganti baju " Sahut Zian seraya beranjak dari tempatnya.Dia masih enggan mengutarakan niatnya di hadapan semua orang. Dia ingin mengutarakannya hanya pada Syifa.


" Nek..!! Zian masuk dulu !! " Pamit Zian pada neneknya juga.


" Iya, nak " Kata Mamah sambil mengusap pelan pucuk kepala cucunya.


Zian masuk ke dalam kamarnya dengan diikuti tiga pasang mata orang dewasa dalam ruangan tersebut.


***


" Mi..Zian boleh bicara ?? " Zian berjalan mendekat ke arah Syifa yang sedang menyirami tanaman.Wajahnya tertunduk penuh dengan keraguan.


Pagi hari minggu, keluarga Syifa tidak ke mana mana. Syifa yang merasa tubuhnya agak segar pagi ini, dia memilih menyirami tanamannya. Mamah memilih menyiapkan sarapan, karena dia tahu menantunya tidak bisa mencium bau bumbu dapur. Sedangkan Maliq, seperti biasa sedang menyelesaikan pekerjaannya dan akan mengirimkan hasilnya pada Hendra lewat email.


Syifa meletakan selang air yang dipakainya untuk menyiram tanaman dan menutup keran air.


" Zian mau bicara apa nak ?? " Ujar Syifa lembut.


" Ayo kita bicara sambil duduk di ayunan " Imbuhnya lagi sambil menuntun anaknya ke arah ayunan besi di depan taman kecil di halaman rumahnya.


" Zian boleh sekolah di pesantren, Mi ?? " Ucap Zian masih dengan nada ragu saat mereka sudah duduk di ayunan besi, yang tempat duduknya saling berhadapan.


Syifa tersentak dan sesaat tercenung di tempatnya. Dia mencoba menelaa kalimat yang baru saja diucapkan oleh sang putra.

__ADS_1


Wanita hamil muda itu tak langsung menjawab pertanyaan putranya.Ditatapnya dengan seksama wajah yang tertunduk di depannya itu.


" Apa alasan Zian tiba tiba ingin sekolah di pesantren ?? " Ucap Syifa dengan nada sedikit bergetar. Ada rasa tidak rela di hatinya ketika membayangkan putra semata wayangnya itu tinggal jauh darinya. Selama ini, Zianlah yang menemaninya. Hanya Zian pula yang membuat dia kuat, walau hidup jauh dari sanak saudara. Dia kuat melewati hari hari yang kadang up and down.


Zian mendongak. Memberanikan diri menatap wajah wanita yang telah melahirkannya.


" Zian ingin jadi anak sholeh seperti doa doa Umi selama ini pada Zian. Zian ingin menjadi anak yang doanya diijabah oleh Allah kala mendoakan Umi " Tutur Zian lalu menundukan wajahnya kembali.


Syifa terkesiap. Ditangkupnya kedua sisi wajah sang putra.


" Bukankah selama ini Zian sudah jadi sholehnya Umi ?? Tidak pernah sekalipun Zian mengecewakan Umi. Zian selalu jadi anak yang patuh dan taqwa kepada Allah. Kenapa Zian harus meninggalkan Umi ?? " Cecar Syifa sambil menatap kedalaman netra pekat di hadapannya itu. Bulir bulir cairan bening perlahan luruh tanpa bisa dia cegah lagi.


Zian mengulurkan tangan mungilnya dan menghapus air mata di pipi sang Umi dengan lembut.


Ooh..bolehkah Syifa menyesali, kenapa anaknya yang belum genap tujuh tahun itu sudah sangat pandai berargumen ?? Ini bibit siapa sebenarnya, sehingga ucapannya tidak sesuai umurnya.


Syifa menggeleng keras. Seolah dia sedang membuang semua kalimat kalimat yang baru diucapkan oleh anaknya dari kepalanya. Batinnya bergolak. Egonya menginginkan anaknya tetap bersamanya, tapi ada sisi dalam hatinya membenarkan setiap ucapan sang anak.


" Bagaimana dengan kelas akselerasi Zian, nak ?? " Syifa mencoba kembali membujuk anaknya dengan cara lain setelah sesaat dia menetralkan perasaannya.


Zian tersenyum samar ke arah Syifa. " Itu ilmu dan ambisi untuk dunia, Mi. Kata pak Ustadz, kita harus mengejar akhirat dan dunia pasti akan mengikut " Ucap Zian tetap bersikukuh. Tatapan matanya menyiratkan ketegasan dan kekerasan hatinya.


Sungguh, Syifa seperti bukan sedang berhadapan dengan bocah menjelang tujuh tahun. Dia seperti sedang berhadapan dengan sosok dewasa bertubuh mini.


" Apa Zian tidak sayang Umi lagi ?? " Syifa tetap dengan keras berusaha menggoyahkan keyakinan anaknya.Sebagai orang tua seharusnya dia bersyukur memiliki anak yang mau belajar mendekatkan diri kepada Allah. Tapi sesempurna apapun Syifa hanyalah seorang ibu yang kadang khilaf dan penuh kekurangan. Dia lebih memikirkan perasaannya saat ini tanpa berfikir bahwa kebaikan anaknya di masa mendatang.

__ADS_1


Zian menggeleng pelan. " Justru karena Zian sangat menyayangi Umi, sehingga Zian ingin lebih mengenal Allah lagi, dengan cara lebih memperdalam ilmu agama " Ucap Zian tegas. Susah payah dia mencegah jangan sampai dia terlihat lemah dan sedih di depan Uminya. Dia ingin memperlihatkan pada Syifa bahwa dia kuat dan bertekad tetap pergi ke pesantren.


" Hufff..nanti Umi bicara dengan abi dulu. Lagian tiap sabtu minggu, Umi bisa jenguk Zian " Akhirnya Syifa pasrah dan tidak bisa berbuat apa apa dengan keinginan anaknya.


Zian kembali tersenyum ke arah sang ibu. " Tapi Zian tidak sekolah pesantren di pulau ini, Mi. Zian ingin sekolah pesantren di pulau Jawa " Ungkap Zian luwes seperti tanpa beban.


" Haaaa....Ya Allah !! Apa lagi ini ?? Kenapa harus di pulau Jawa, nak ?? Di sini juga banyak pesantren yang bagus dan lulusannya bisa bersaing " Tanpa sadar Syifa terpekik dengan wajah frustasi. Dia tidak bisa mengerti apa maksud dari anaknya ini.


Zian menunduk. Tanpa Syifa sadari, susah payah Zian menekan rasa bersalah dan sedihnya datang bersamaan melihat reaksinya.


" Zian mohon, Mi !! " Zian menangkup kedua tangannya di depan dada bermohon dengan kesungguhan hati pada Uminya agar sang ibu mengabulkan permintaannya.


Syifa membuang nafasnya dengan kasar lalu beranjak tanpa memberikan kepastian pada anaknya. Dia berjalan masuk ke dalam rumah tanpa menengok lagi ke arah anaknya.


Zian kembali termenung di tempatnya. " Maafkan Zian, Mi " Gumam Zian sambil menghapus air matanya yang jatuh di pipinya.


" Ijinkan Zian membersihkan hati Zian, Mi. Zian tidak ingin menjadi orang yang berpenyakit hatinya " Batinnya dengan tatapan lurus ke luar halaman.


" Sudah kuduga..ada yang sedang Zian sembunyikan. Dia terlampau cerdas menyembunyikan perasaannya. Dia bukan seperti bocah kecil " Gumam seseorang yang sedang bersembunyi di balik pohon bunga bambu di belakang Zian.


Orang tersebut mengendap endap meninggalkan tempatnya. Dia tidak ingin Zian akan mengetahui keberadaannya.


" Assalamualaikum..Ziaan !! Lagi apa di situ nak ?? " pekikan seorang wanita memanggil nama Zian berhasil menyentak Zian yang sedang termenung di tempatnya.


" Waalaikum salam warrahmatullahi. Bundaaa !! " Zian berlari menyosong bundanya yang datang dengan Aslan suami bundanya.

__ADS_1


__ADS_2