
" Mah. Kak Nurul. Adek mau tanya..!! " Tanya Syifa sambil menatap Mamah dan kakaknya dengan intens terkesan menyelidik.
Saat ini mereka sudah berada di rumah Syifa, setelah diantar oleh Qenan dua jam lalu dengan mobil kantor milik perusahaan Qenan. Siang tadi Zian sudah diperbolehkan pulang oleh dokter.
Mereka bertiga sedang duduk di sofa ruang keluarga. Sedangkan Fatimah sedang ke kios tempat usaha menjahitnya yang sudah dilakoninya dari dua tahun lalu.
Begitupun dengan Qenan setelah mengantar keluarga Syifa, dia pamit pergi ke hotel tempatnya menginap sekalian menyelesaikan pekerjaannya di kantor.
" Mau tanya apa dek ?? " Ucap Mamah dan Nurul serentak.
Syifa melirik sekilas ke arah kamar Zian yang tertutup rapat. Syifa yakin, anak laki laki semata wayangnya itu sudah terlelap setelah diberi makan oleh Fatimah.
" Kakak serius mau nikah dengan Qenan ?? " Tanya Syifa butuh klarifikasi dari Mamah dan kakaknya.
Pertanyaan ini sudah dari kemarin dipendamnya. Dia tidak ingin bertanya hal ini di depan Qenan.
" Insyaa Allah, dek...!! Kakak serius karena kakak lihat keseriusan Kak Adalrich padaku dan aku melihat kedekatan Zahrah dengannya.Mereka sangat dekat "
" Sebenarnya hal ini tidak serta merta kakak putuskan. Kak Adalrich sudah dari empat tahun yang lalu mengungkapkan perasaannya padaku di hadapan Papah.Tapi, saat itu kakak masih trauma dengan pernikahan kakak yang gagal dengan Abinya Zahrah "
" Kak Adalrich tidak memaksa kakak. Dia sabar menunggu dan memberikan ruang untuk kakak berfikir. Semua berjalan secara alami dan sejak dia mengungkapkan niatnya itu, dia tidak pernah lagi menanyakan hal itu pada kakak "
" Dia bersikap seolah olah tidak pernah mengungkapkan apa apa pada kakak. Tapi dia intens datang pada papah dan sering mengajak papah dan Zahrah untuk jalan, sehingga hubungannya dengan Zahrah sangat dekat. "
" Sungguh, setelah pernikahan kakak gagal. Kakak sudah menutup pintu hati kakak untuk berumah tangga kembali. Tapi seiring berjalannya waktu, kakak tersentuh dengan kebaikan kebaikan Kak Adalrich yang tulus. Perhatiannya terhadap Zahrah dan sikapnya yang selalu santun dengan orang orang, hal inilah yang membuka perlahan hati kakak yang sudah beku "
Nurul menjeda sejenak dan menghela nafasnya dalam dalam, lalu tertunduk.
" Sampai sebulan yang lalu. Abinya Zahrah datang lagi padaku. Dia bermohon untuk kembali rujuk denganku " Imbuh Nurul melanjutkan penuturannya.
Syifa menautkan keningnya. " Minta rujuk ?? Trus istrinya mau dikemanakan ??"
Nurul menggeleng pelan. " Entahlah.Kakak sungguh tidak mengerti dengan manusia seperti itu. Menurut yang Kakak dengar, istrinya itu sudah dua kali melahirkan tapi anaknya anak perempuan semua. Sementara mereka menginginkan anak laki laki, apa lagi Uminya "
" Astagfirullah...mereka fikir, istri ini hanya menjadi alat untuk uji coba keinginan mereka. Dasar manusia manusia kufur " Geram Syifa menahan kesal mendengar penuturan Nurul.
" Iya dek. Dan hal ini sempat di dengar oleh Kak Adalrich. Dia kembali melamar Kakak di depan Papah. Kakak akhirnya memutuskan menerima lamaran Kak Adalrich, disamping kakak sudah bisa meyakinkan hati kakak, kakak juga ingin menghindari Abinya Zahrah yang terus menerus mengganggu hidup Kakak "
__ADS_1
Syifa menghela nafasnya yang terasa sesak. " Tapi masalahnya bukan kebaikan atau keseriusan Qenan. Apakah kakak, Mamah dan Papah tahu Qenan itu berbeda iman dengan kita ?? "
Mamah yang sedari tadi hanya bungkam mendengarkan kedua buah hatinya sedang bicara, sontak menatap Syifa dan tersenyum lembut.
" Syifa, sholehahnya Mamah !! Mamah dan Papah serta kakakmu Nurul ini, memang bukanlah orang yang fanatik. Tapi, Insyaa Allah kami masih punya iman dan tidak seenaknya memilih pasangan hidup untuk kakak tersayangmu " Tutur Mamah lembut seraya mengelus kepala Syifa yang terlindungi oleh khimarnya.
Syifa menautkan keningnya dan melirik ke arah Kakaknya.
Nurul terkekeh pelan. " Kak Adalrich itu sudah mualaf sejak sebelum datang ke Indonesia. Dan saat itu dia belum bertemu dengan Kakak. Artinya, dia masuk islam itu tidak punya tendensi tapi karena murni untuk kepercayaannya kepada Allah. Dan menurutnya, dia masuk islam setelah kedua orang tuanya mengijinkannya. Kedua orang tuanya membebaskannya untuk memilih kepercayaannya "
Syifa membuang nafasnya lega. " Alhamdulillah kalau seperti itu. Karena memang sepengetahuanku, Qenan itu seorang Khatolik "
" Iya..menurutnya agamanya dulu itu khatolik. Dan dia tertarik dengan islam karena dia punya teman yang beragama Islam. Sikap dan pembawaan temannya itu yang selalu menjaga marwahnya itu yang membuatnya tertarik mempelajari tentang islam "
" Syukurlah kalau seperti itu Kak. Setahuku Qenan memang orang yang baik dan selalu care dengan orang lain "
" Tapi dia itu usil dan selalu bikin aku kesal dulu " Lanjut Syifa dalam hati.Tentu dia tidak mau menceritakan tingkah Qenan dulu. Dia takut akan merusak hubungan Qenan dengan Kakaknya.
" Mm...kalau dia tetangga apartemenmu. Artinya Kak Maliq mengenalnya, kan ?? Secara kan Kak Maliq lama menemanimu di Jerman " kata Nurul tiba tiba.
Syifa mengangkat wajahnya dan sedikit terkejut dengan ucapan Nurul.
" I-iya. Kak Maliq mengenalnya " Ujar Syifa singkat lalu membuang pandangannya ke arah lain.
Nurul yang melihat gelagat Syifa yang tidak nyaman seketika rasa menyesal dengan ucapannya.
" Maaf, dek..kakak tidak bermaksud mengungkit nama orang yang telah menyakitimu itu " Sesal Nurul.
Syifa tersenyum tipis. " Tidak apa Kak "
Terdengar helaan nafas berat dari Mamah.Dia juga sempat terkejut dengan ucapan Nurul.
" Syifa !! Mamah mau bilang sesuatu padamu " Celetuk Mamah tiba tiba seraya menatap wajah anak bungsunya itu.
" Apa itu, Mah ?? " Syifa mengangkat wajahnya menatap wanita paruh baya itu.
" Semalam, waktu kalian bertiga dengan Fatimah mencari makan. Zian cerita ke mama tentang sesuatu " Mamah menjeda ucapannya dan menatap dalam dalam netra bening milik perempuan beranak satu itu.
__ADS_1
" Haa..Zian cerita apa, mah ?? " Cecar Syifa tidak sabar.
Mamah menceritakan obrolannya dengan cucunya.
Flash back on
" Nek..Zian merasa bersalah pada Umi.Gara gara Zian Umi dijauhi oleh Abi, Kakek dan nenek " Celetuk Zian tiba tiba saat sedang disuapi oleh neneknya.
Nenek Zian menautkan keningnya dengan sorot heran.
" Kenapa Zian merasa bersalah, sayang ?? Dan Nenek sama Kakek tidak pernah menjauhi Umimu " Tanya Mamah Syifa.
" Kata teman Zian di tempat karantina waktu Zian ikut Hafidz Indonesia begitu. Katanya, dia itu punya tante. Tantenya melahirkan anaknya dan gara gara anaknya lahir, tantenya di usir dari rumah, dibenci sama kakek dan neneknya. Tantenya jadi hidup terpisah dari kakek dan neneknya "
" Setiap tantenya datang membawa anaknya, dia diusir dan kakeknya memakinya " selama kau bawa anakmu itu, jangan coba coba kau datang ke rumah ini. Dengan lahirnya anak ini, kau sudah bikin malu keluarga.Anakmu itu tidak punya bapak, entah siapa bapaknya. Sekarang pergi kau dan jangan datang selagi kau bawa anak sial itu !! Itu kata teman Zian "
" Kata teman Zian. Sepupunya itu tidak punya bapak seperti Zian tidak punya Abi. Dan kata teman Zian, gara gara sepupunya itu sampai tantenya selalu menangis " Tutur Zian polos dengan mata berkaca kaca.
" Astaghfirullah...Zian itu punya Abi nak..dan kakek serta nenek tidak pernah marah atau membenci Umimu " Mamah terisak mendengar penuturan cucunya itu.
" Jadi gara gara itu Zian lari dari rumah nak ?? " Tanya Mamah menahan isakannya seraya memeluk tubuh pria kecil itu.
" Iya, nek. Zian ingin Umi bahagia dan tidak dibenci oleh Abi, kakek serta nenek. Mungkin kalau Zian pergi, Abi akan datang menjemput Umi dan Zian bisa melihat dan mengenal Abi walau dari kejauhan. Zian pergi tapi Zian akan datang melihat diam diam seperti apa wajah Abi Zian. Pasti Abi sangat sayang pada Umi kan, Nek ?? " Ujar Zian antusias tapi dengan mata berkaca kaca.
Tangis Mamah pecah dan tidak tahu akan berbicara apa. Suaranya tercekat di tenggorokan. Dia hanya bisa memeluk erat tubuh bocah tampan itu sambil terisak pilu.
" Jangan menangis nek !! Zian memang jahat nek..bikin orang orang jadi menangis !! " Kata Zian dengan nada sendu rasa bersalah.
" Sst...Zian jangan bicara seperti itu. Zian itu kesayangan Umi, kakek, nenek, Umi Nur, Kak Zahra serta bunda Fatimah. Nenek mohon jangan pernah berfikir untuk meninggalkan Umimu. Umimu sangat menyayangimu. Umimu tidak punya hidup tanpamu, Nak !! "
" Dan masalah Abimu, satu waktu Umi akan membawamu pada Abi.Percayalah, Nak...waktu itu akan tiba. Sekali lagi, jika Zian sayang Umi. Jangan pernah berfikir meninggalkan Umi. Zian bisa berjanji pada nenek ?? "
Zian mengangguk pelan." Insyaa Allah, nek..Zian akan selalu menjaga Umi sampai Abi datang menjemput Umi " Janji bocah kecil itu dengan wajah serius walau matanya berkaca kaca.
Flash back Off
Syifa menangis tergugu mendengar penuturan Mamahnya.
__ADS_1
" Ini salah adek, Mah. Ternyata diam diam anakku menyimpan beban batin yang membuatnya tertekan "