Kisah Hidup Gadis Introvert

Kisah Hidup Gadis Introvert
273


__ADS_3

" Umi..jadikan kita ke mall hari ini ?? " Seru Zian saat mereka sedang duduk menikmati sarapan di meja makan.


" Insyaa Allah, sayang...!! Kita pergi nanti jam sembilan " Jawab Syifa.


Semalam Zian memberitahu Syifa bahwa dia ada tugas prakarya yang diberikan oleh Ibu guru. Dan kebetulan hari ini hari minggu, dia meminta Syifa mengantarnya untuk membeli peralatan membuat tugas.


" Bunda ikut, yaa !! Biar seru " Zian merengek pada Fatimah.


Fatimah menggeleng pelan. " Bunda minta maaf, sayang. Bunda tidak bisa ikut. Soalnya bunda banyak orderan yang harus cepat diselesaikan. Insyaa Allah lain kali ya, sayang yaa...!! " Bujuk Fatimah dengan wajah menyesal seraya mengelus pipi putih kemerahan itu.


" Yaa...Bunda !! " Gumam Zian dengan raut kecewa.


" Sayang..!! Lain kali yaa..Bunda harus cepat menyelesaikan pesanan orang, biar pelanggan bunda tidak kecewa " Tukas Syifa ikut membujuk Zian.


" Iya, Mi "


" Sudah selesaikan sarapannya...trus siap siap !! " Titah Syifa dan dijawab dengan anggukan oleh anaknya.


****


Jam sembilan tepat. Syifa mengeluarkan mobil mungilnya berwarna putih dari carport rumahnya. Mobil bermerk toyota Agya, yang dibelinya dengan hasil dari menulis novel on line sudah menemaninya empat tahun belakangan ini.


Syifa mengendarai mobil membelah jalanan dengan kecepatan sedang. Di sampingnya, Zian yang merasa senang diajak jalan oleh Uminya, mendendangkan shalawat dengan suara yang riang.


Syifa tersenyum sekilas ke arah pria kecil itu lalu ikut berdendang dengan gumaman suara lirih.


" Hhmm..aku sangat senang melihat pria kecilku sudah ceria kembali. Terima kasih Ya Allah, Kau telah mengembalikan Zianku yang ceria seperti dulu " Gumam Syifa dalam hati seraya mengulas senyum bahagia.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam, akhirnya mereka sampai di sebuah mall terbesar di kota ini.


Syifa memarkirkan mobilnya di basement mall.


" Umi..!! Itu kan Om Aslan !! " Seru Zian seraya menunjuk ke arah Pria berbadan tinggi tegap saat mereka keluar dari dalam mobil.


Syifa menoleh ke arah yang ditunjuk oleh anaknya. " Mana, Sayang ?? "


" Ooh..iya. Kayanya itu Om Aslan " Ujar Syifa saat melihat Aslan selesai memarkirkan mobilnya tak jauh dari mobil Syifa.


Aslan merasa ada yang sedang memperhatikannya, sontak menoleh. " Eeh.. Zian !! " Seru Aslan lalu berjalan mendekat ke arah Syifa dan Zian.


" Assalamualaikum..Zian. Bu Syifa !! " Aslan memberi salam ketika sampai di depat Syifa dan Zian.


" Waalaikum salam warrahamatullahi wabarakatuh " Jawab Ibu dan anak itu serentak.


Zian meraih tangan Aslan dan mencium takzim punggung tangan Aslan.


" Apa kabar Om Aslan " Ucapnya seperti biasa memang dia sangat dekat dengan Aslan.


Aslan mengelus kepala bocah itu dengan lembut. " Alhamdulillah..baik, nak !! Zian sehat, nak ?? "


" Alhamdulillah sehat Om " Ucap Zian dengan santun. Sekilas terlihat seperti orang dewasa.


Aslan tersenyum lembut. Dia sangat terkesan sekaligus gemas dengan sikap anak dari teman seprofesinya itu. Walau ini bukan hal pertama yang dia lihat dari Zian, tapi dia selalu terkesan setiap berjumpa dengan Zian.


" Mmm...Bu Syifa. Fatimah tidak ikut ?? " Ujar Aslan ragu ragu seraya memutar pandangannya mencari seseorang.


Sejak bertemu dengan Fatimah di Rumah sakit tempo hari. Aslan menaruh hati pada Fatimah dan sering berkunjung ke rumah Syifa, walaupun dengan alibi ingin mengunjungi Zian.


Dan Syifa telah mengerti itu. Dia sangat tahu bahwa cucu pemilik kampus tempatnya bekerja itu sedang tertarik dengan kakak angkatnya.


" Kak Fatimah lagi banyak orderan. Jadi tidak bisa ikut " Ucap Syifa seraya mengulas senyumnya.

__ADS_1


" Ooh. " Aslan mengangguk.


" Mm..kalau seandainya saya datang melamar Fatimah. Mm..kira kira Fatimah menerima lamaranku nggak yaa ?? " Ujar Aslan to the point tapi dengan nada ragu ragu.


Syifa terhenyak. Dia tidak menyangka Aslan mengungkap maksudnya secepat ini.


" Kak Fatimah adalah perempuan yang merdeka dan tidak terikat hubungan dengan siapa siapa. Sah sah saja jika ada yang akan mengkhitbahnya. Ada baiknya bapak mengutarakan langsung dengan yang bersangkutan. Insyaa Allah kalau jodoh, Kak Fatimah pasti akan menerima lamaran Pak Aslan " Ujar Syifa meyakinkan Aslan.


" Insyaa Allah..sebentar malam saya akan datang membicarakan dengan Fatimah, dan semoga Bu Syifa sempatkan waktu untuk menemani kami berbicara "


" Jika fix, Fatimah menerima lamaran saya. Saya akan membawa keluarga besar saya untuk melamar Fatimah secara resmi " Tutur Aslan dengan tegas, sedikit malu malu. Ada semburat warna merah di pipinya yang ditumbuhi oleh bulu bulu halus itu.


Syifa menarik nafasnya lega. Dia senang Pak Aslan punya niat baik untuk kakaknya itu.


" Insyaa Allah saya akan sampaikan hal ini pada kak Fatimah dan Insyaa Allah saya bersedia menemani bapak dan kak Fatimah " kata Syifa antusias.


" Ya sudah Bu..saya masuk ke dalam dulu, mau bertemu dengan teman bisnis " Ucap Aslan berpamitan pada Syifa.


" Iya. Mari pak !! "


***


" Bagaimana, nak...semua kebutuhan Zian sudah lengkap ?? " Tanya Syifa pada pria kecilnya saat hendak membayar belanjaan di kasir.


" Alhamdulillah sudah, Mi " Jawab Zian seraya tersenyum pada wanita yang melahirkannya itu.


" Biar Zian yang bawa belanjaannya, Mi. Itu kan kebutuhan Zian " Ujar Zian meraih paper bag berisi peralatan yang dibelinya tadi.


Syifa tersenyum lalu menyerahkan paper bag tersebut pada anaknya. Dia memang sering mengajarkan pada anaknya untuk bisa mandiri dan bertanggung jawab tanpa bergantung pada orang lain.


" Syifa...!! " Seru seseorang dengan nada ragu.


" Ini benaran Syifa ?? " Seorang wanita berbadan tinggi semampai, dengan rambut berwarna madu berjalan mendekat ke arah Syifa.


Syifa menautkan keningnya dan menatap dengan intens ke arah wanita berwajah bule itu.


" G- Gladis ?! " Gumam Syifa ragu ragu menyebutkan nama seseorang.


" Iya..aku Gladis !! Berarti ini benaran Syifa kan ?? " Pekik wanita tadi sambil memeluk Syifa dengan erat, yang ternyata adalah Gladis, sahabat Syifa.


" Gladis...!! Aku rindu !! " Desis Syifa pelan membalas pelukan sahabatnya, dengan mata berkaca kaca.


Gladis mengurai pelukannya. " Jahaat..!! Kamu jahat !! Pergi tidak pamit dan menghilang tanpa jejak " Pekik Gladis lagi dengan isakan yang tertahan. Dia sangat bahagia bertemu dengan sahabatnya yang sudah lama menghilang dan lose contact.


" Mom, who is she ?? " Suara cempreng gadis kecil berumur sekitaran lima tahun menginterupsi Gladis dan Syifa dengan matanya mengerjap lucu ke arah Syifa.


Sontak mereka mengurai pelukan mereka dan menatap gadis kecil berbadan gembul dan pipi mirip bakpao.


" He..he...dia onty Syifa, teman Mommy !! Ayo salim sama onty Syifa !! " Titah Gladis pada gadis kecil lucu itu.


" Syifa ..!! Ini anakku, Valentina "


" Hallo..onty..I'm Valen..." Gadis kecil itu melambai ke arah Syifa. Bibir mungilnya yang berwarna merah muda maju mundur dengan lucu saat menyapa Syifa.


" Hallo Valen...saya auntie Syifa..kamu lucu, sayang..!! " Syifa berlutut mensejajarkan tinggi badannya dengan gadis kecil milik sahabatnya itu.


Syifa menjawil pipi gembul itu lalu mengecupnya dengan gemas.


" You're very beautiful, Onty " Seru gadis kecil itu menatap Syifa dengan matanya mengerjap lucu lalu mengecup balik pipi Syifa.


" Valen juga lebih cantik, sayang "

__ADS_1


" Aah..Gladis. Anakmu sangat lucu. Aku jadi gemas " Seru Syifa sambil mengangkat tubuh gembul gadis kecil itu dalam gendongannya dan menghujaninya dengan ciuman bertubi tubi.


Gadis kecil milik Gladis itu tidak protes tapi malah terkikik geli.


Gladis ikut terkekeh geli lalu menatap bocah laki laki di samping Syifa yang menatap mereka dengan datar.


" Plend..ini anakmu ?? " Pekik Gladis seraya mendekat ke arah Zian.


Syifa mengalihkan atensinya dan menurunkan anak Gladis dari gendongannya.


" Iya..ini anakku, Aqlan Sharga Ziandru. Biasa dipanggil Zian " Ujar Syifa sambil mengelus kepala bocah pria kecil miliknya.


" Zian..salim sama tante Gladis, nak. Dia teman Umi waktu kuliah " Imbuh Syifa.


Zian meraih tangan Gladis dan menciumnya dengan takzim.


" Hallo, tante. Saya Zian, anak Umi Syifa " Ucap Zian mengangguk hormat.


" Hallo sayang !! kau sangat tampan. Astagaa, dia sangat tampan, plend...!! " Pekik Gladis dengan tatapan kagum ke arah Zian.


Gladis ingin memeluk Zian tapi secepatnya Zian berkelit menghindari pelukan Gladis.


" Maaf tante..tidak boleh peluk peluk " Ujar Zian dengan wajah datar dan menangkup tangannya di depan dada sebagai tanda permintaan maaf.


" Zian sudah besar " Imbuhnya lagi.


Gladis terhenyak melihat reaksi Zian. " Astaga, plend..!! Dia benar benar anakmu " Pekik Gladis sambil terbahak. Dia tidak tersinggung dengan sikap Zian. Tapi dia maklum bahwa pasti ini adalah didikan dari sahabatnya.


" Maaf, Gladis. Dia tidak mau dipeluk oleh perempuan selain dari aku, neneknya dan kakakku " Tutur Syifa dengan raut tidak enak.


" Tidak apa, plend...aku tahu, kamu pasti mendidik anakmu dengan baik. Aku salut padamu " Timpal Gladis tulus.


" Mommy..kakak ini siapa ?? Dia sangat tampan. Valen bawa pulang, yaa Mom !! " Celetuk Valen tiba tiba lalu menatap Zian dengan genit.


Zian yang mendapat tatapan itu langsung menatap sinis ke arah bocah perempuan cantik itu.


" Dia anak Onty Syifa, Bunny !! Namanya Kakak Zian " Ujar Gladis sambil terkekeh geli mendengar ucapan anaknya tadi.


Valen mendekat ke arah Zian. " Hallo kakak tampan.!! Aku Valen yang cantik dan lucu " Ucap Valen dengan nada genit tapi terlihat lucu di mata Syifa.Tangannya terulur ingin bersalaman dengan Zian.


Zian mendengus pelan dan membuang tatapannya ke arah lain seraya mundur berputar arah ke belakang Syifa.


" Zian..sholehnya Umi !! Itu dede Valen mau kenalan loh !! " Kata Syifa menatap anaknya.


" Iya Umi.. Zian sudah kenal. Nggak usah pake pegang pegang tangan juga !! " Tukas Zian lembut tapi tatapan kesal menghujam ke arah Valen.


" Mom, He doesn't want to be friends with me " Rengek Valen pada Gladis. Matanya berkaca kaca menahan sedih.


Gladis berlutut mensejajarkan tingginya dengan putri kecilnya.


" Kakak mau kok berteman dengan valen. Tapi valen tidak boleh pegang pegang kakaknya " Ujar Gladis lembut.


" Tapi kenapa Mommy ?? Kenapa Valen tidak boleh pegang kak Zian ?? " Tanya Valen heran. Wajah bingungnya semakin lucu dengan bibir mengerucut kesal.


Gladis menggaruk kepalanya yang tidak gatal.Dia bingung bagaimana caranya menjelaskan pada gadis kecilnya itu.


" Mmm..Gladis. Lebih baik kita bicara sambil duduk saja. Kita cari restoran dulu " Tukas Syifa tiba tiba melihat Gladis kesulitan menjelaskan.


" Aahh..iya. Kita cari restoran dulu, Bunny. Baru Mommy jelaskan " Seru Gladis membujuk anaknya.


" Ok..Mommy. Valen juga sudah lapar " Sambut Valen antusias mendengar kata restoran. Seketika dia lupa dengan pertanyaannya.Dalam benaknya sekarang hanyalah makanan kesukaannya.

__ADS_1


__ADS_2