
Sepasang netra bening hitam pekat menatap nanar ke luar jendela kamarnya. Objek pandangannya nampak termangu di tempatnya. Entah apa di benak orang tersebut. Pemilik netra ini tidak tahu dan tak mau tahu. Dia hanya sedang menenangkan gemuruh dalam dadanya. Wajahnya merah padam dengan tetes bening perlahan luruh dari netra hitam pekat itu.
" Kenapa tidak jujur saja, biar aku tahu apa alasannya kau menolakku. Sungguh, aku ingin memelukmu dengan erat dan menumpahkan segala rasa rinduku selama ini. Tapi sangat sulit memang untuk mewujudkan keinginanku yang terpendam selama ini. Aku tidak bisa menampik, bahwa aku adalah anak yang tidak diharapkan "
Sesaat kemudian, bocah berperawakan tegap itu membalikan badannya beranjak dari tempatnya.Tangan mungilnya dengan kulit putih kemerahan menarik knop laci nakas. Diraihnya sebuah buku diary bersampul biru. Dibukannya lembar lembar kertas diary itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
" Aku akan menyatukanmu dengan Umiku. Cinta Umi terlalu besar untukmu. Aku janji, tidak akan jadi penghalang kalian berdua lagi "
Gumaman demi gumaman meluncur deras dari bibir mungil pink alami ini.
" Maafkan Zian, Mi. Zian ambil diary Umi tanpa pamit. Bukan Zian ingin jadi anak kurang ajar, tapi dengan buku ini, akhirnya Zian bisa tahu isi hati Umi yang sesungguhnya. Dan setelah ini, Zian akan mengembalikannya di tempatnya "
Delapan bulan lalu, sebelum Zian pergi ke Jakarta untuk mengikuti lomba Hafidz Qur'an. Zian tidak sengaja menemukan diary milik Uminya terselip diantara buku di ruang kerja sang Umi. Saat itu dia sedang mencari buku hadist yang akan dipelajarinya.
Flash Back on
" Mi..Zian boleh pinjam buku hadist milik Umi ?? Zian mau hafal hadist " Zian menemui Uminya di gazebo belakang.
Syifa mendongak mengalihkan atensi dari laptop yang sedang dipangkunya.
" Zian cari di ruang kerja Umi. Kalau Umi tidak salah ingat, bukunya ada di atas meja kerja Umi " Sahut Syifa seraya melempar senyum manis ke arah putranya.
" Oke, Mi. Nanti Zian cari di sana. Terima kasih sebelumnya " Ujar Zian hendak membalikan badannya.
" Eeits...itu dipinjam tidak gratis loh...harus ada bayarnya " Seloroh Syifa pada anaknya.
" Mmm...Zian bayar pake apa, Mi ?? " Seru Zian pura pura berfikir. Dia sudah hafal apa mau Uminya.
" Yaa... Sudah kalau tidak dibayar nggak usah dipinjam " Syifa pura pura merajuk. Bibirnya cemberut.
Zian terkikik geli lalu mendekat " Cup..cup. Itu bayarannya. Terima kasih Umiku sayang !! Zian sayang Umi, cinta Umi..sangat sangat saayaaang Umi !! " Zian mengecup kedua pipi Syifa dengan penuh kasih sayang lalu memeluk erat tubuh sang Ibu, dia ingin menyampaikan rasa sayangnya lewat pelukannya itu.
__ADS_1
" Umi juga sangat sayang Zian. Putra sholehnya Umi. Pelitanya Umi. Hidupnya Umi. Teruslah tumbuh dengan sehat nak dan tetaplah jadi anak yang patuh kepada Allah " Syifa membalas ciuman anaknya lalu mengelus lembut surai hitam milik anaknya.
" Aamiin Umi... !! " Sahut Zian lalu mengecup sekali lagi pipi Syifa dan beranjak dari tempat Uminya.
" Di mana sih buku itu ?! Kata Umi di meja kerja. Tapi kok nggak ada yaa ?? " Gumam Zian sambil meneliti satu satu buku yang ada di meja kerja Uminya.
" Aah...mungkin di rak buku " Zian beranjak menuju rak buku yang ada di belakang meja kerja Uminya lalu membalik balikan tumpukan buku di sana.
" Pluk " Tanpa sengaja Zian menjatuhkan buku tebal bersampul biru, ketika hendak menarik buku yang diduganya buku yang sedang dicarinya.
" Astaghfirullah...aah,, berantakan deh " Gerutu Zian melihat buku yang jatuh di lantai.
Zian memungut buku tersebut. Keningnya berkerut setelah memperhatikan sampul buku itu.
" My Love Story " Gumam Zian membaca tulisan yang tertera di halaman pertama buku itu. Zian mengerti apa arti dari tulisan itu, karena Syifa sering mengajarkan bercakap cakap pakai bahasa inggris pada Zian.
Zian semakin tertarik dengan buku yang baru ditemukannya. Perlahan dia duduk di kursi kerja milik Syifa dan mulai membuka lembar lembar buku itu.
" Maliq Ahdan, My Love " Gumam Zian lagi membaca tulisan yang terukir di balik foto pria dewasa yang terlihat sangat tampan di mata Zian.
Mata Zian terlihat sangat bahagia. " Mungkin ini foto Abiku. Dia sangat tampan dan eehh..dia sangat mirip denganku "
Zian melompat dari kursi dan beranjak ke arah cermin kecil yang tergantung di sudut ruangan.
" Dia memang mirip aku " Pekik Zian bahagia menatap pantulan wajahnya di cermin lalu menatap kembali foto di tangannya.
Zian bahagia. Akhirnya dia bisa melihat seperti apa wajah orang yang menjadi ayahnya.
Zian kembali duduk di kursi dan membuka lembar diary lalu membacanya dengan seksama.
" Uuh...kebanyakan pakai bahasa inggris tulisannya. Aku kan belum lancar bacanya, masih banyak kosa kata yang tidak dimengerti. Ckk...mesti rajin belajar bahasa Inggris " Keluh Zian sambil melanjutkan membuka lembaran kertas diary.
__ADS_1
" Mungkin orang orang mengatakan bahwa aku adalah perempuan bodoh. Tapi isi hati adalah kuasa Allah. Aku tidak bisa melupakanmu, aku tidak bisa menghapusmu dari relung hatiku. Cintaku masih sama seperti awal aku jatuh cinta padamu. Kau adalah cinta pertamaku ( Maliq Ahdan ) aku masih tetap memelukmu dalam doa doaku "
Zian membaca rangkaian kalimat yang tertulis dengan bahasa indonesia itu dengan mata berkaca kaca.
" Ternyata Umi sangat merindukan Abi. Kira kira Abi di mana sekarang ya ?! Kalau aku ketemu Abi, aku akan bilang ke Abi bahwa Umi sangat merindukannya " Desis Zian lalu menutup kembali diary itu.
Saat hendak mengembalikan diary tersebut ketempatnya, tiba tiba Zian meragu. " Aku penasaran dengan tulisan yang berbahasa inggris. Aku belajar dulu bahasa inggrisnya baru aku membacanya kembali. Biar buku ini aku pinjam dulu deh " Gumam Zian urung mengembalikan diary Syifa ke tempatnya.
Sejak saat itu Zian semakin penasaran dengan sosok sang Ayah. Tapi dia tidak berani menanyakannya pada Uminya. Rasa penasarannya dipendamnya dalam dalam. Dia tidak ingin Uminya merasa sedih dan tertekan ketika dia menanyakan perihal Abinya.
Hingga pada suatu hari, dia sangat terkejut melihat seorang pria dewasa yang mirip Abinya datang menghampirinya dan mengajaknya berkenalan.
Pria tersebut memperkenalkan dirinya dengan nama Ahdan. Zian yakin itu adalah Abinya karena mempunyai nama seperti nama Abinya.
Zian sangat senang sejak saat itu. Harinya kembali ceria setelah peristiwa lalu yang membuatnya minggat dari rumah. Dia bertekad akan mempertemukan Uminya dengan Abinya.
Tapi ada satu malam yang membuatnya patah hati. Dia mendengarkan percakapan Umi dan bundanya. Ternyata dia adalah anak yang tidak diinginkan kehadirannya oleh Abinya. Hatinya hancur. Impiannya selama ini ingin bahagia dengan kedua orang tuanya, kini pupus.
" Ternyata cerita temanku itu sangat benar. Akulah penyebab Abi dan Umiku berpisah "
" Baiklah Umi. Aku sangat menyanyangi Umi. Aku akan mengembalikan kebahagiaan Umi kembali " Tekad Zian di dalam hati.
" Flash back off "
" Tok "
" Tok "
" Zian...kau ada di dalam Nak ?? Buka pintunya !! " Seru seseorang dari balik pintu.
Zian tersentak dari lamunannya. Gegas dihapusnya jejak air mata yang membekas di pipinya lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
__ADS_1