
" Zian...!! memangnya Abimu kemana ?? kenapa setiap aku ke sini, aku tidak pernah melihat Abimu ?? " Celetuk bocah laki laki lebih tua dua tahun dari Zian.
Zian mendongakan kepala, mengalihkan atensi dari buku catatan di depannya dan menatap temannya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
Sore ini Zian dan temannya sedang mengerjakan tugas di teras belakang rumah Zian.
Umur teman Zian memang lebih tua darinya, tapi mereka satu kelas.Zian hanya enam bulan duduk di bangku kelas satu.Setelahnya dia lompat kelas hingga dia sekelas dengan kakak kelasnya.
Zian memang mewarisi wajah Maliq.Tapi dia sepenuhnya mewarisi kecerdasan Syifa.
" Untuk apa kau cari Abiku ?? " Sarkas Zian sinis.Wajahnya seketika datar.
" Ti tidak kenapa napa, aku cuma heran saja , kenapa di rumahmu cuma ada Umi sama Bundamu.Sedangkan Ayah sama Abi kau tidak punya " Sela bocah itu sedikit tergagap melihat tatapan dingin dari Zian.
Zian mendengus menekan rasa yang tiba tiba menekan ruang dalam paru parunya.
" Aku tidak butuh Abi ataupun Ayah.Cukup untukku ada Umi dan Bunda " Ujar Zian dingin dengan tatapan kosong ke depan.
" Mm apa kau tidak pernah bertanya pada Umimu, sebenarnya Abimu itu kemana ?? kan setiap anak itu harus punya Abi dan Umi.Kaya aku, aku punya Mami sama Papi " Ujar teman Zian dengan polos.
Sontak Zian menatap nyalang ke arah temannya.Dia membanting buku catatan ditangannya.
" Sudah aku jelaskan tadi !! aku tidak butuh Abi.Dan untuk apa aku menanyakan orang yang tidak pernah ada untuk aku !! orang itu tidak penting bagiku.Cukup ada Umi dan Bundaku, aku sudah merasa sempurna "
" Kau mau bilang bahwa aku ini anak haram !? atau kau akan bilang juga bahwa gara gara aku, Umi ditinggalkan Abi, kakek dan nenekku ??. Kau mau berkata seperti itu, iya kan ?? menyalahkan aku, iya ?? " Sentak Zian setengah berteriak seraya mendelik ke arah temannya
Sontak teman Zian terjengkit kaget melihat kemarahan dari Zian.Seumur dia berteman dengan Zian, baru kali ini dia melihat Zian semurka itu.
Yang dia tahu, sahabatnya itu adalah orang yang sangat ramah dan ceria. Tidak pernah sekalipun dia mendengar Zian berkata kasar. Sehingga orang orang sangat senang berteman dengan Zian.
" Zian..maaf !! aku tidak bermaksud membuatmu marah " Lirih bocah itu dengan wajah ketakutan.
Zian mendengus kasar seraya berdiri " Pergi kau dari rumahku !! " pekik Zian murka.Wajahnya merah padam dengan mata memerah menahan emosi.
__ADS_1
Teman Zian yang bernama Nando itu semakin terkejut melihat reaksi Zian.Dia terpaku dengan wajah ketakutan atas kemarahan Zian.
" Pergiii kataku !! " Pekik Zian lagi melihat Nando bergeming dari tempatnya.
Sontak Nando membereskan bukunya yang berserakan di lantai dan memasukan ke dalam tas dengan tangan gemetar.Hatinya bergidik ngeri melihat Zian murka.
Syifa yang baru datang hendak menyapa anak semata wayangnya, langsung terkejut mendengar teriakan Zian.
Seumur Zian dibesarkan oleh Syifa, belum pernah dia mendengar anaknya berkata kasar.Dia selalu mengajarkan anaknya untuk bertutur lemah lembut.Selalu mengedepankan sopan santun dan attitude yang baik.
Zian selalu menerapkan nasihat Syifa dalam kehidupannya.Dia adalah anak yang sopan kepada siapapun.Dia anak yang selalu ceria.Siapapun yang mengenalnya akan sangat senang padanya.Baik di lingkungan rumahnya, di sekolah maupun di kampus tempat Syifa mengajar yang selalu didatanginya ketika Syifa mengajaknya.
" Zian...ada apa, sayang ?? " Seru Syifa setengah berlari mendekati anaknya.
Zian terpaku di tempatnya dengan tatapan nyalang ke arah temannya.Dia tidak memperdulikan seruan Uminya.
" Nando..ada apa Nak ?? apa kalian bertengkar ?? " Tanya Syifa pada Nando seraya mendekat ke arah teman anaknya itu.
" Ti tidak tante..!! aku pamit pulang dulu " Ucap Nando dengan bibir bergetar.Segera disampirkannya tas kebahunya lalu buru buru pergi tanpa pamit pada siapapun yang ada di ruangan itu.
Zian membuang pandangannya kesembarang arah.Netranya yang masih memerah menahan emosi tidak berani mentap wanita berhijab lebar di depannya itu.
" Zian..!! Umi lagi bertanya loh, sayang !! " Ujar Syifa masih lembut tapi dengan menekan nada menuntut sebuah jawaban.
" Zian pamit ke kamar dulu, Umi !! " Ucap Zian tiba tiba tanpa menjawab pertanyaan perempuan yang melahirkannya enam tahun lalu seraya berjalan menjauhi Uminya itu.
" Zian..!! " Desis Syifa dengan suara tercekat di leher.Seketika wajah Syifa berubah menjadi sendu ketika melihat tingkah anaknya.Sekilas dia melihat sifat tempramen Maliq menempel pada bocah laki laki kesayangannya itu.
Syifa heran.Sekembalinya Zian dari Jakarta mengikuti lomba Hafidz Qur'an dua minggu yang lalu, Zian menjadi pribadi yang berbeda.
Zian menjadi lebih pendiam dan terkesan selalu menghindari Syifa.Dia kelihatan sangat tertekan walaupun pulang dengan membawa kemenangan.
" Syifa !! " Tepukan lembut di bahunya menyadarkannya dari lamunananya.
__ADS_1
" Ahh..iya, kak " Ucap Syifa seraya menatap orang yang menepuk bahunya.
" Ada Apa, dek ?? kenapa termenung di situ ?? " Ujar wanita berjilbab bergo yang baru datang seraya meletakan kantong palstik yang ditentengnya di atas meja teras.
" Zian kak !! ucap Syifa mirip sebuah gumaman.
" Kenapa Zian, dek ?? " Fatimah menautkan keningnya sambil menatap mata Syifa yang berkaca kaca.
Syifa tidak langsung menjawab pertanyaan Fatimah.Dia menghempaskan tubuhnya di kursi teras.
" Kakak dari mana ?? " Syifa memilih bertanya pada Fatimah sebelum menjawab pertanyaan kakak angkatnya itu.
" Kakak dari Swalayan di ujung kompleks.Susu Zian sudah habis, jadi kakak pergi membelinya tadi sekalian dengan keperluan mandi " Jawab Fatimah sambil ikut duduk di kursi yang bersebrangan dengan Syifa.
Syifa membuang pandangannya dengan tatapan kosong.
" Kak...!! selama Zian di Jakarta, ada kejadian apa ?? " Ucap Syifa tiba tiba tanpa menatap Fatimah.
Fatimah menautkan keningnya. " Maksudnya ?? " Kata Fatimah dengan raut bingung.
Syifa menarik nafasnya dan menghembuskannya dengan berat.
" Sejak pulang dari Jakarta, Zian bertingkah aneh.Dia tidak seperti biasanya.Dia banyak diam dan selalu menghindariku.Dia tidak mau menatap mataku lama lama " Keluh Syifa mirip sebuah gumaman.Wajah cantiknya diliputi mendung.
Fatimah tersentak.Ditatapnya wajah Syifa dengan instens.
" Tidak ada kejadian apa apa. Aku juga merasa heran, sejak dia kembali dari Jakarta dia lebih banyak diam.Dia tidak pernah lagi bermanja padaku.Dia lebih mandiri tapi terkesan memaksakan diri untuk mandiri " Ujar Fatimah dengan nada sendu pula.
" Tadi dia memarahi tamannya, kak.Aku tidak tahu permasalahannya apa.Dia berteriak kencang memarahi temannya.Dia bukan seperti Zian kita. " Lirih suara Syifa berucap.Tetes tetes cairan bening seketika luruh jatuh di pipinya.
" Astagfirullah...jadi Zian ke mana ?? " Fatimah terpekik mendengar cerita Syifa.
" Dia masuk ke dalam kamarnya tanpa menjawab pertanyaanku.Sebenarnya ada apa dengan anakku, Kak ?! " Lirih suara Syifa sambil melirik ke arah pintu kamar Zian yang tertutup rapat dengan sorot mata penuh tanda tanya.Terukir sebuah kekecewaan di sana melihat sikap anaknya yang tiba tiba berubah.
__ADS_1
Fatimah beringsut mendekati Syifa.Diusapnya bahu Syifa dengan lembut. " Biarkan dia tenang dulu, baru kita tanya ada apa dengannya ".
" Iya, Kak..!! " Syifa mengangguk samar seraya mengusap cairan bening yang singgah di pipi mulusnya.