
" Namanya siapa, Syifa ?? Tanya Tasya ketika sedang menggendong bayi Syifa.Dia gemas bayi mungil itu hanya diam dengan mata mengerjap ngerjap lucu.
" Aqlan Sharga Ziandru " Jawab Syifa lirih dengan tatapan penuh cinta ke arah bayinya.
" Masyaa Allah...nama yang sangat indah.Seindah pemilik namanya !! " Seru Tasya sambil mencium lembut pipi bayi laki laki itu.
" Itu apa artinya Syifa ?? " Tanya Tasya lagi tanpa mengalihkan pandangannya dari bayi dalam gendongannya.
" Pemimpin yang kuat, bijaksana dan dermawan.Aku berharap, jika kelak nanti dia dewasa dia akan menjadi orang yang bijaksana mengambil keputusan dan selalu peduli pada sekitarnya " Jawab Syifa dengan suara sedikit bergetar.
" Dan aku juga sangat berharap dia tidak akan mewarisi sifat Abinya yang tidak tegas dan selalu mengedepankan emosi " Ucapnya lagi dalam hati.
Fandy hanya diam.Dia melihat kepedihan dan harapan di setiap kalimat yang keluar dari bibir Syifa.
" Sungguh kau perempuan tangguh yang luar biasa.Andai dulu aku bisa meraih hatimu, kupastikan aku akan membahagiakanmu.Tapi sayang kita tidak berjodoh sebagai sepasang kekasih.Nyatanya kita berjodoh hanya sebagai teman " Batin Fandy berbicara.
Genap sebulan sudah umur baby Aqlan.Selama itu pula, Syifa menempati apartemen milik Tasya.
Hari hari yang dilaluinya selama sebulan itu juga lebih sering bersama Tasya.Kekasih Fandy itu ternyata gadis yang luar biasa kebaikannya.
Selama Syifa ada di apartemennya, dia lebih banyak menginap datang menemani Syifa.Hatinya sudah terlanjur terpaut dengan laki laki kecil milik Syifa itu.Dan hal itu tentu sangat menghibur Syifa.
" Tasya..!! sepertinya Aqlan sudah cukup kuat untuk bepergian jauh.Rancananya, Insyaa Allah minggu ini aku akan berangkat ke pulau K.Lagipula pihak kampus sudah menanyakan kesiapanku " Ujar Syifa disela sela kesibukannnya.Dia sedang menyetrika pakaian anaknya.
Tasya yang sedang asyik menggoda baby Aqlan sontak mengalihkan pandangannya ke arah Syifa.
__ADS_1
" Secepat itu ?? apa tidak bisa kamu mengajarnya di kampus kota ini saja ?? " Sahut Tasya dengan nada sendu.Seketika air mukanya terlihat sedih.
" Maaf Tasya...aku ingin menyembuhkan lukaku.Dan cara terbaik adalah dengan cara menjauh dari sumber kesakitanku " Lirih suara Syifa nyaris tak terdengar.
" Hfff....kalau itu membuatmu merasa lebih baik, aku sebagai sahabat hanya bisa mendoakan kebahagiaanmu " Tasya menghembuskan nafasnya yang terasa berat.
" Yang pasti..aku pasti sangat tersiksa menahan rinduku pada ponakan tampanku ini " Imbuhnya lagi sambil menghujani ciuman di pipi baby Aqlan yang semakin gembul.
Syifa yang melihat itu hanya terkekeh pelan. " Aqlan juga pasti akan sangat merindukan auntynya "
Dua hari kemudian. Nampak di bandara , Tasya dan Fandy sedang mengantar keberangkatan Syifa.
" Segera kirim alamat lengkapmu setelah sampai di sana yaa, Syifa !! dan sering seringlah mengabari kami " Ucap Tasya di sela sela isakannya.Dia sangat berat harus melepaskan Syifa pergi.
" Iya aunti...Insyaa Allah, aku akan mengirim kabar setelah sampai di sana nanti.Aku juga menunggu kabar bahagia kalian untuk segera menjadi pasangan halal " Tukas Syifa seraya menatap Tasya dan Fandy bergantian.
" Terima kasih atas bantuan kalian.Maaf kalau aku sudah merepotkan kalian berdua.Aku hanya bisa membalas kebaikan kalian dengan berdoa semoga Allah membalasnya dengan keberkahan hidup " Imbuhnya lagi.
" Aamiin...tidak usah mengungkit kebaikan.Aku senang membantumu " Pungkas Tasya dan diiringi anggukan dari Fandy.
" Baiklah...aku mau lakukan boarding pass dulu.Sampai jumpa nanti, aku tunggu kedatangan kalian dengan status halal datang mengunjungiku " Syifa mengurai pelukannya dan pamit untuk terakhir kalinya pada sepasang kekasih yang baik hati itu.
Tasya dan Fandy melambaikan tangan mereka seiring tubuh Syifa yang menghilang di balik dinding bandara.
" Selamat tinggal lukaku !!.Selamat tinggal kekasih hatiku !! Semoga kita berjumpa lagi dalam keadaan suasana yang lebih baik " Syifa menatap ke luar jendela pesawat dengan tatapan sendu.Setitik cairan bening jatuh membasahi pipinya.
__ADS_1
Pesawat mengudara semakin tinggi meninggalkan bumi menembus awan.Seperti rasa di hati Syifa, dia pergi meninggalkan semua rasa sakitnya dan berharap sakit itu akan berganti dengan bahagia kedepannya.
Di kediaman Maliq.
" Pak..ada surat diantarkan oleh kurir !! " Seru Pak Sani seraya menyodorkan sepucuk surat beramplop warna putih pada majikannya.
Maliq yang sedang duduk termenung di gazebo, sontak mengalihkan tatapannya pada Pak Sani.
" Dari siapa pak Sani ?? " Tanya Maliq lesu.
" Tidak tahu pak..!! tidak ada nama pengirimnya.
Maliq meraih surat itu dari tangan satpamnya. " Terima kasih pak...!! "
" Sama sama pak..saya ke depan dulu " Ucap pak Sani seraya membalikan badannya beranjak dari tempatnya.
" Kasihan pak Maliq.Sejak Nak Syifa pergi, tubuhnya semakin kurus " Gumam Pak Sani prihatin dengan keadaan Maliq.
Sejak kepergian Syifa, Maliq lebih banyak mengurung diri dalam kamar atau sekedar duduk di gazebo tempat favorit Syifa.Pekerjaan kantornya lebih sering dikerjakannya di rumah.
Ada yang hilang dari hidup Maliq.Dia merasa sangat hampa.Dia menyesal telah berkata kasar pada Syifa.Tapi ketika dia mengingat foto foto yang dikirimkan oleh nomor yang tidak dikenal, seketika darahnya mendidih dan kekecewaannya pada Syifa semakin menggunung.
" Ini surat dari siapa ?? " Gumamnya seraya merobek sampul surat.
" Pluk..!! " Tiba tiba benda tipis segi empat jatuh di pangkuannya ketika dia membuka lipatan kertas surat.
__ADS_1