
Matahari kian samar dan digantikan oleh sang raja malam yang kini bertahta. Semburat purnama perlahan menghiasi pekat malam. Pendar cahayanya menyapu jagat raya, memberikan sinar terindahnya.
Sepasang netra bening menatap nanar purnama yang bulat sempurna itu. Bulir bulir air mata luruh melintas tanpa permisi di pipinya yang bak pualam.
" Apa yang harus aku lakukan, Ya Allah. Anakku ingin bertemu dengan Abinya. Tapi, aku takut mempertemukan mereka. Aku takut hal ini akan semakin melukai anakku. Aku takut kehadirannya tetap tidak diinginkan oleh Abinya. Aku takut dengan penolakan Abinya. " Gumam pemilik netra bening itu tanpa melepas tatapannya dari bulan purnama.
Waktu menunjukan jam sembilan malam. Tapi Syifa masih betah duduk di gazebo belakang rumahnya, sedangkan penghuni lainnya sudah terlelap dalam mimpi. Ba'da Isya tadi, mereka memilih masuk ke peraduan masing masing untuk melepas penat.
Sedangkan Syifa memilih melepaskan penat dalam batinnya dengan menepi sejenak. Hatinya gundah sejak mendengar penuturan Mamahnya tadi siang. Dan ternyata keindahan purnama malam ini tidak bisa menghapus gundah yang dia rasakan.
" Syifa...!! " Suara lembut memanggil nama Syifa mengalihkan atensinya.
Sontak Syifa menoleh ke asal suara.
" Kak !! Kakak belum tidur ?? " Tanya Syifa menatap kakaknya yang berjalan ke arahnya.
" Sudah mau tidur sebenarnya. Tapi kakak lihat adek tidak ada di kamar, jadi kakak mencari adek, dan ternyata ada di sini.
" Ngapain di sini malam malam, dek..?? Ini sudah larut. Angin malam tidak baik untuk kesehatanmu !! " Ucap Nurul lembut setelah duduk bersisian dengan adiknya itu.
Bibir tipis berwarna pink alami itu membentuk garis lengkung yang samar.
" Mamah sudah tidur, kak ?? " Tanya Syifa tanpa menanggapi ujaran kakaknya tadi.
" Iya..Zian maunya tidur di peluk Mamah. Jadi Mamah tidur di kamar Zian " Jawab Nurul seraya tersenyum lucu mengingat Zian tidak mau melepaskan Mamah sejak dari tadi sore.
" Hi..hi...manjanya kumat "
" Sudah beberapa bulan terakhir ini, dia tidak pernah lagi mau bermanja padaku ataupun pada kak Fatimah. Dia lebih pendiam dan tertutup sejak pulang dari Jakarta " Lirih suara Syifa tiba tiba menjadi sendu.
Nurul mengelus lembut lengan Syifa untuk menenangkan hati adik kesayangannya itu.
Sesaat kemudian suasana menjadi hening. Kakak beradik itu tenggelam dalam benaknya masing masing.
" Bulannya sangat indah, kak !!. Sayang untuk dilewatkan " Celetuk Syifa tiba tiba memecah kesunyian.
Nurul menautkan keningnya seraya menatap wajah cantik milik sang adik lalu terkekeh pelan.
" Tapi yang kakak lihat, adek sedang tidak menikmati purnama "
__ADS_1
" Apa yang mengganggu fikiranmu, dek ?? Cerita ke kakak !! " Ujar Nurul lembut seraya mengelus kepala adiknya yang tertutup jilbab instant.
Syifa menarik nafasnya yang terasa sesak.
" Ternyata aku seegois itu Kak. Aku egois telah memisahkan anakku dari bapaknya. Aku tidak tahu bahwa dia merindukan Abinya. Selama ini dia tidak pernah menanyakan Abinya. Aku fikir dia tidak butuh sosok itu.." Syifa menundukan kepalanya dalam dalam, seolah beban di dadanya terasa sangat berat hingga kepalanya tak mampu walau hanya sekedar mendongak menatap wajah cantik mirip dirinya itu.
" Dan parahnya lagi, aku tidak pernah peka dengan apa yang dirasakan oleh anakku, kak. Aku memang ibu yang sangat buruk untuk anakku " Imbuhnya lagi dengan suara lirih.
" Tapi lihatlah bocah kecil itu, kak. Dia terlalu peka untuk ukuran anak sebayanya. Dia memendam semua pertanyaan tentang Abinya di dalam hatinya. Tak sekalipun dia menyinggung perihal Abinya padaku. Aku fikir, dia memang tak butuh Abinya. Ternyata semua itu dia lakukan, agar aku tidak bersedih. Dia lebih mementingkan perasaanku daripada perasaannya " Ujar Syifa semakin tergugu.
Nurul meraih tubuh mungil adiknya dan membawanya ke dalam dekapannya.
" Ssst....kata siapa adek ibu yang buruk buat Zian. Adek itu wanita tangguh dan ibu terbaik. Tidaklah mudah membesarkan seorang anak di kota orang tanpa sanak saudara. Sejauh ini adek sudah berhasil mendidik Zian menjadi anak yang sholeh. Untuk ukuran seorang single mom kaulah yang terbaik " Ucapan lembut Nurul mencoba menenangkan Syifa.
" Tapi buktinya Zian sangat tertekan dengan keadaan, dan itu tidak pernah kusadari sama sekali " Syifa menimpali ucapan kakaknya seraya menjatuhkan kepalanya ke dalam pelukan sang kakak.
" Sebenarnya sudah lama aku berniat ingin mempertemukan Zian dengan Kak Maliq. Tapi, aku takut Kak Maliq menolak kehadiran Zian. Pasti anakku akan sangat terluka, kak dengan penolakan Abinya !! " Celetuk Syifa tiba tiba sesaat kemudian.
Memori tentang penolakan Maliq memaksanya harus flashback dengan rasa sakitnya. Dia sakit dengan penolakan Maliq pada anaknya, selalu menghantuinya. Itulah sebabnya dia tidak ingin mempertemukan Zian dengan Maliq.
Sesungguhnya Syifa bukanlah tipikal seorang pendendam. Tapi ada hal hal yang membuatnya menjadi sensitif dan seketika menjadi sentimentil, termasuk hal yang berhubungan dengan anaknya. Separuh nyawanya itu.
Nurul mengurai pelukannya pada Syifa dengan lembut.
Syifa balik menatap sang kakak.Keningnya bertautan lalu mengangguk pelan.
" Boleh, kak !! Kakak mau cerita apa ?? "
Nurul menghembuskan nafasnya yang terasa memenuhi rongga dadanya.
" Sebenarnya Kak Maliq sudah tahu bahwa adek di fitnah oleh saudarinya. Dia mencarimu sampai ke kota kita. Dia datang minta maaf pada Papah dan Mamah. Dia mengira adek pulang ke rumah Papah "
Sontak Syifa menatap kembali wajah kakaknya dengan intens tapi tak menimpali ucapan kakaknya. Dia ingin mendengarkan kelanjutan kalimat dari kakaknya.
" Papah dan Mamah marah sekaligus terpukul dengan kenyataan yang dibawa oleh Abinya Zian. Papah hampir saja memukulnya. Dia sangat kecewa dan menyesal sudah memberikan kesempatan kedua pada Abinya Zian waktu itu "
" Papah mengusirnya dan berkata tidak ingin melihat wajahnya selagi dia belum bisa menemukan kalian "
" Sejak saat itu, Abinya Zian rutin datang ke rumah setiap bulan. Dia terus saja datang walau terus diusir oleh Papah. Dia sangat yakin bahwa kami mengetahui keberadaanmu. Padahal kan waktu itu kamipun bingung mencarimu di mana "
__ADS_1
" Maafkan aku, kak !! Aku sudah membuat kalian khawatir " Ujar Syifa mendengar penuturan Nurul.
Nurul mengulas senyumnya. " Kami maklum dek...pasti saat itu adek sedang sangat terpukul " Kata Nurul.
" Semakin hari semakin intens dia datang ke rumah. Sampai sampai dia sering membawa mertuamu serta dengannya. Entah apa maksudnya. Tapi yang pasti, hal ini membuat Mamah terpaksa menerima kehadiran mereka. Mamah sungkan harus mengusir mertuamu juga " Lanjut Nurul lagi meneruskan ceritanya.
" Setiap datang, mertuamu pasti menginap di rumah.Tapi tidak dengan Abinya Zian.Mungkin dia sungkan menginap di rumah, dia memilih menginap di hotelnya "
" Hotelnya ?? " Beo Syifa. Setahunya Maliq tidak punya hotel.
Nurul tersenyum lalu melanjutkan penuturannya.
" Awal pertama datang mertuamu mengucap berulang kali mohon maaf atas kesalahan anaknya. Beliau sendiri sangat terpukul atas kepergianmu.Setelahnya itu dia tidak pernah lagi menyinggung kepergianmu.Seolah dia tidak ingin membangun kecanggungan antara dirinya dengan Mamah dan Papah "
" Sejak saat itu, Abinya Zian banyak membuat usaha di kota kita. Dia membangun sebuah hotel bintang lima, usaha properti, show room miliknya sudah dua, dan dia membangun resort di tempat wisata. Dan apakah adek tahu ?? Dia membangun usahanya itu dan diatas namakan kepemilikannya adalah milik Zian "
" Semua surat surat kepemilikan usaha, dia titipkan pada Papah. Walau Papah berulang kali menolaknya. Hotel, resort , show room dan usaha propertinya dia namakan ' Maliq Junior '. Karena dia tidak tahu, nama anaknya itu siapa dan sampai sekarang kami tidak memberitahunya. Dia sangat yakin, suatu saat kalian akan kembali dan dia sudah menyiapkan masa depan Zian. "
" Maaf, dek..bukannya kami tidak ingin bercerita padamu tentang Abinya Zian selama ini. Tapi menurut Papah, biarlah kalian akan dipersatukan nanti oleh Allah dengan caranya sendiri. Papah sudah tidak ingin mencampuri perasaanmu dan keputusanmu. Kata Papah, andai kalian akan bersatu kembali, harus sesuai apa yang kalian rasakan sendiri bukan karena ada pertimbangan dari pihak lain, termasuk kami keluargamu "
Syifa menarik nafasnya pelan. Seketika batinnya berkecamuk. " Apa Kak Maliq sungguh sungguh mengharapkan anaknya ?? Haruskah aku mempertemukan Zian dengan Kak Maliq ?? " Jerit batin Syifa semakin menekan dadanya.
" Dek..!! Maafkan kami ya, dek !! " Nurul mengulang kembali permintaan maafnya ketika dia melihat Syifa tak menanggapi.
" Iya Kak. Kenapa harus minta Maaf ?? Harusnya aku berterima kasih " Ucap Syifa lirih.
" Dan perlu adek ketahui juga. Zian itu sudah menjadi sultan walau usianya masih segitu " Ujar Nurul sambil tersenyum ke arah Syifa.
" Jadi sultan ?? Maksudnya bagaimana ? " Syifa bertanya dengan mimik bingung.
" Buku tabungan Zian yang dititipkan oleh Abinya pada Papah, saldonya sudah sangat gendut. Zian adalah miliarder cilik. Saldonya miliaran, dek " Ucap Nurul seketika antusias. Tapi hal ini berkebalikan dengan reaksi Syifa.
Wajah Syifa menjadi datar dengan tatapan kosong ke depan.
" Untuk apa dia lakukan semua itu. Setelah dia menolak mentah mentah dan menghina kehadiran anakku, dia mau membayar kesakitanku dan Zian dengan uang miliaran itu ?? " Sarkas Syifa dengan nada dingin.
Nurul terhenyak mendengar ucapan adiknya. " Entahlah, dek..tapi yang kakak lihat dia sangat menyesal "
" Hari harinya dia habiskan dengan membangun kerajaan bisninya. Waktunya lebih banyak berada di kota kita. Usahanya telah menggurita di sana. Dan tidak sedikitpun waktunya dia lewatkan untuk datang memohon kata maaf dari Mamah dan Papah. Dia sangat meneyesal, dek "
__ADS_1
Syifa membuang nafasnya. " Entahlah, kak. Apakah masih ada kepercayaanku untuknya dengan penyesalannya itu. Andai diantara kami tidak ada Zian, mungkin akan sangat berlebihan jika aku mengatakan luka ini masih mengaga " Desis Syifa lirih dengan sorot mata penuh luka.
" Aku memang masih belum bisa melupakannya dan mungkin tidak akan pernah bisa. Tapi lukaku mungkin juga tidak akan sembuh. Entahlah...aku menunggu takdir dari Allah " Imbuh Syifa di dalam hati.