Kisah Hidup Gadis Introvert

Kisah Hidup Gadis Introvert
277


__ADS_3

" Syifa !! Dia semakin cantik dan semakin dewasa. Tak ada yang berubah darinya. Tatapannya masih seperti dulu. Datar dan dingin " Desah Maliq sambil menatap plafon di kamar tidurnya.


" Marahnya pun masih tetap elegan " Imbuhnya lagi seraya tersenyum kecil membayangkan wajah kaku milik sang istri.


Dia berbaring terlentang dengan kedua tangan dilipatnya di bawah kepala sebagai alas kepalanya.


Malam semakin larut. Tapi matanya enggan untuk terpejam. Peristiwa sore tadi masih mengganggu benaknya. Setelah enam tahun berlalu, sore tadi adalah moment dia bisa melihat lebih dekat wajah istri kecilnya itu.


Sudah dua minggu dia datang ke kota ini, dia hanya bisa melihat Syifa dari kejauhan. Kerinduannya yang dia pendam bertahun tahun lamanya, dia tuntaskan hari ini walau hanya ditanggapi dingin oleh Syifa.


Maliq maklum. Dia tahu, dia sudah menyakiti istrinya itu dan mungkin tak termaafkan. Tapi dia sudah bertekad dalam hati, dia akan meraih kembali istrinya itu.


" Tidak percuma aku mengintrogasi asisten Nurul. Ternyata benar dugaanku, mereka datang ke sini, untuk mengunjungi istri dan anakku " Maliq terkekeh pelan.


Flashback On


Hari ini Maliq sedang mengunjungi kota kelahiran Syifa untuk memantau proyek pembangunan perumahan.


Sepulang dari proyek, Maliq menyuruh sopirnya untuk mengarahkan mobilnya ke bengkel yang sedang dikelola oleh Nurul.


" Sadli, Kita mampir ke bengkel variasi. Cuci mobilnya di sana dulu, mobilnya penuh lumpur " Titah Maliq pada sopirnya .


" Baik pak "


Sesampainya di bengkel, Maliq menanyakan keberadaan Nurul pada karyawan bengkel. Dan mereka mengatakan bahwa Nurul sudah dua hari tidak datang ke bengkel. Maliq merasa penasaran dan dia menanyakan langsung pada asisten Nurul tentang keberadaan Nurul.


" Ibu Nurul, sedang ke pulau K bersama Mamahnya Ibu Nurul Pak. Mereka ke kota S tepatnya, berangkat dari dua hari yang lalu " Kata asisten Nurul.

__ADS_1


" Ngapain mereka di sana ?? Setahu saya mereka tidak punya keluarga di sana " Batin Maliq sangsi.


" Ooh..iya terima kasih atas informasinya " Ujar Maliq lalu berbalik meninggalkan asisten Nurul.


" Jangan jangan Syifa ada di sana. Anak yang mirip denganku juga berasal dari pulau itu. Aku harus ke sana " Monolog Maliq dalam hati.


" Hendra, pesankan tiket pesawat tujuan pulau K untuk besok " Titah Maliq lewat telpon pada asistenya, Hendra. Dia berencana sepulangnya dari kota kelahiran Syifa, dia akan bertolak ke pulau K besok.


" Aku harus bergerak cepat. Aku yakin, anak dan istriku ada di sana " Gumam Maliq antusias.


Flashback off


" Sekarang tinggal usaha untuk mendapatkan maaf dari Syifa. Semoga masih ada satu kesempatan lagi dari Syifa " Gumam Maliq seraya memejamkan matanya dan perlahan hanyut dalam mimpi.


***


Gegas Maliq beranjak dari teras rumahnya.


" Zian...mau latihan ?? " Sapa Maliq pada pria kecil berwajah mirip dengannya.


" Eeh.. Assalamualaikum, Om " Salam Zian sambil menghentikan laju roda duanya. Bibir mungil berwarna pink alami itu mengukir senyum lebar.


" Waalaikum salam warrahmatullahi wabarakatuh. Mau latihan, Son ?? Kenapa pakai sepeda ?? Om lagi nungguin Zian, Loh !! " Cecar Maliq pada bocah enam tahun tersebut. Sudah dua minggu terakhir ini memang Maliq akan selalu mengantar Zian melakukan kegiatannya. Dia pergi bersama Zian, kadang naik mobil tapi kadang juga jalan kaki.


Zian terkekeh memperlihatkan gigi putihnya yang terjejer rapi. " Hari ini Zian ingin naik sepeda, Om. Soalnya sepulang latihan, Zian mau balap sepeda dengan teman Zian " Tutur bocah tampan itu lugas.


" Balap sepeda ?? " Beo Maliq. Dipindainya sepeda butut Zian dengan tatapan ragu.

__ADS_1


" Kenapa Om ?? Om ragu dengan sepeda Zian ?? Sepeda Zian memang sudah butut, tapi masih kuat kok Om. Ini sepeda andalan Zian " Ucap Zian dengan kekehan lucunya.


" Zian..besok hari minggu. Kita ke mall beli sepeda baru, biar Zian nyaman pakenya " Kata Maliq sambil menatap wajah bocah di depannya itu.


Sontak air muka Zian langsung berubah. " Terima kasih Om. Dalam rangka apa Om Ahdan, mau membelikan Zian sepeda baru ?? " Tanya Zian dengan nada datar.


Maliq terperangah mendengar ucapan Zian. Sekilas dia melihat kilat kemarahan dari wajah imut itu. Sedikit banyak raut wajah itu mirip dengan Syifa.


" Eeh..Om minta maaf. Om tidak bermaksud apa apa. Om hanya ingin memberikan hadiah buat Zian, karena sudah mau berteman dengan Om " Susah payah Maliq menemukan alasan agar Zian tidak tersinggung.


" He..he..hee.. Apa yang sudah Zian lakukan sampai Om mau memberikan hadiah ??. Umi selalu mengajarkan pada Zian tentang perjuangan hidup. Kata Umi, jika kita menginginkan sesuatu, harus melewati proses yang namanya perjuangan. Agar kita lebih menghargai hidup kita dan selalu bersyukur.Dengan selalu menerima hadiah tanpa perjuangan, akan membentuk mental seseorang menjadi mental pengemis. Sedangkan saat ini, Om mau memberikan Zian sesuatu dengan cuma cuma. Ini bukan konsep hidup yang diajarkan oleh Umi "


" Apa Om tahu ?? Sepeda ini, Zian dapatkan tidak dengan jalan instan. Zian harus menyelesaikan hapalan enam juz dulu dalam waktu satu bulan baru bisa mendapatkan sepeda impian Zian. Umi bukannya tidak mampu membelikan keinginan Zian. Umi lebih dari kata mampu, Om. Tapi Umi lebih mengajarkan tentang arti kerja keras dan usaha pada Zian.Dan Zian selalu bersyukur untuk itu, Zian lebih tahu bagaimana itu tentang yang namanya nikmat hidup "


" Terima kasih untuk niat baik dari Om. Dan Maaf, Zian tidak bisa menerima itu " Tutur Zian panjang lebar dengan lugas tanpa melepas senyumnya. Tak ada sedikitpun keraguan dari setiap kalimat yang diucapkannya pada Maliq.


Maliq semakin terkesiap mendengar penuturan dari anaknya itu. Sekilas dia melihat Zian bukanlah bocah enam tahun. Tapi dia melihat penampakan sosok dewasa yang terperangkap dalam tubuh kecil anaknya. Setiap ucapan Zian sungguh menohok hati Maliq.Ucapan itu mengandung sindiran untuk dirinya. Seolah dia ingin menyampaikan pada Maliq, bahwa dia tidak butuh kehadiran Maliq untuk melengkapi kebahagiaannya.


Sungguh kecerdasan Zian menurun dari Syifa.


Hati Maliq terasa perih mendapat penolakan dari anaknya. Serasa ada beribu belati menancap di dadanya.


" Yah..sudah. Zian lanjut lagi yaa Om...nanti kita main lagi di rumah Zian. Assalamualaikum " Zian tidak memberi kesempatan pada Maliq untuk sekedar menimpali ucapannya. Secepatnya dia mengayuh sepedanya setelah sebelumnya melempar senyuman termanisnya lalu menjauh dari hadapan Maliq yang masih tercenung di tempatnya.


" Zian.. " Desis Maliq.Suaranya tercekat di tenggorokan. Dia tidak mampu memanggil nama Zian.


" Kenapa aku merasa lain dengan sikap Zian hari ini ?? " Gumam Maliq sendu. Dia melihat ada yang lain dalam sorot mata Zian ketika menatapnya tadi. Zian tersenyum tapi raut wajahnya sangat dingin.

__ADS_1


Zian menjauh dari hadapan Maliq. Setetes cairan bening menetes di pipinya. " Apa Sangat sakit rasanya ketika mendapat penolakan ?? Maafkan Zian, Om " Desis Zian seraya mengusap kasar air matanya.


__ADS_2