
《 Maaf sudah khilaf nulis nomor bab 🙏🙏 Harap di maklumi soalnya author juga manusia 😁😁. 》
" Mana Om Ahdan, Mi ?? " Tanya Zian pada Syifa ketika dia tidak melihat keberadaan Maliq di teras.
Syifa menghentikan langkahnya yang hendak masuk ke dalam kamar.
" Sudah pulang. Om Ahdan ada urusan mendadak katanya. Tapi Om Ahdan janji besok ke sini lagi " Tutur Syifa tidak sepenuhnya jujur.
" Yaah..padahal kan Zian masih mau main PS dengan Om Ahdan " Desah Zian kecewa sambil mengerucutkan bibirnya.
" Insyaa Allah besok lagi, sayang !! " Bujuk Syifa seraya mengelus lembut kepala anaknya.
" Zian senang dengan Om Ahdan ?? Zian sayang dengannya ?? " Celetuk Fatimah tiba tiba keluar dari pintu kamarnya.
" Iya, bund. Zian sayang Om Ahdan soalnya Om Ahdan sayaaaang banget sama Zian. Kalau Zian bersama Om Ahdan, berasa punya Abi deh.. " Ucap Zian sumringah dengan wajah polos menggemaskan.
" Deg !! "
Seketika Syifa melirik ke arah Fatimah yang sedang tersenyum. Dia terkejut dengan ucapan anaknya.
" Kalau seandainya Om Ahdan jadi Abinya Zian, apa Zian senang ?? "
" Kak..!! " Sentak Syifa pelan sambil melotot ke arah Fatimah yang dibalas kekehan oleh kakaknya tersebut.
" Mm..Kalau itu bisa bikin Umi senang, Zian pasti senang " Jawab Zian sambil mengetuk ngetuk dagunya dengan mimik menggemaskan.
" Zian..ayo mandi !! Siap siap untuk sholat magrib " Titah Syifa tegas untuk mengalihkan pembicaraan Fatimah dengan Zian.
" Aasiaaap Mi !! " Ucap Zian dengan sikap hormat seraya tersenyum jenaka,lalu berlari menuju kamarnya.
" Mi...Zian sayang Umi !! " Pekik Zian dari ambang pintu lalu meleparkan ciuman dari jauh.
" Ckk..anak itu !! " Desis Syifa tak urung membuatnya terharu atas tingkah putra semata wayangnya.
" Saatnya kau mengambil sikap, dek. Fikirkan kebahagiaan Zian. Walau dia bahagia hanya memiliki ibu. Tapi kita tidak bisa memungkiri, bahwa dia merindukan sosok seorang Ayah " Ujar Fatimah sambil menepuk lembut bahu Syifa.
Syifa tertunduk menyembunyikan air matanya yang lolos begitu saja. Aah..kenapa dia cengeng sekali hari ini. Seakan ini bukan dirinya. Syifa adalah sosok yang tabu meneteskan air mata, tapi entah..sejak kehadiran Maliq kembali, air matanya sangat mudah mengalir.
__ADS_1
" Aku masuk dulu, kak " ucap Syifa tidak menanggapi ujaran Fatimah tadi.
" Dek..kakak mau bicara " Cegah Fatimah tiba tiba ketika melihat langkah Syifa yang hendak beranjak.
" Iya, kak. Ada apa ?? " Syifa membalikan badannya kembali menghadap Fatimah.
" Mm.. Itu Pak Aslan tadi ke kiosku. Katanya dia mau melamar aku secara resmi Insyaa Allah bulan depan " Ucap Fatimah sambil tertunduk malu.
" Alhamdulillah...selamat yaa kak..ternyata Pak Aslan adalah jodoh kakak " Syifa terpekik senang. Seketika dia lupa pergulatan batinnya dari tadi.
Fatimah tersipu.
" Tapi, masalahnya aku tidak punya orang tua lagi, dek " Desisi Fatimah sendu.
" Siapa nanti yang menerima lamaran mereka " Imbuhnya lagi dengan nada terdengar pilu.
Syifa meraih tubuh Kakak angkatnya dan memeluknya dengan hangat. " Ada aku dan keluargaku kak. Aku akan menghubungi Mamah dan Papah untuk menerima lamaran keluarga Pak Aslan. Mamah sama Papah pasti bersedia datang ke sini "
Fatimah mengurai pelukan Syifa. " Masyaa Allah. Benaran dek ?? Apa tidak merepotkan Mamah dan Papah ?? Jauh loh ini, dek "
" Ckk..kakak ini. Kakak itu anak Mamah dan Papah juga. Memangnya orang tua punya alasan untuk tidak menghadiri moment bahagia anaknya ?? " Sungut Syifa pura pura merajuk.
" Sst...jangan ngomomg seperti itu kak. Allah sudah mengatur pertemuan kita. Tidak ada yang akan terjadi kalau bukan kehendak Allah. Aku juga sangat bersyukur bertemu dengan Kakak. Kakak selalu ada saat saat aku sangat terpuruk. Kakak selalu mendukungku disaat aku butuh dukungan. Kakak selalu menguatkanku saat aku rapuh. Aku sayang kakak !! " Tutur Syifa lalu memeluk erat tubuh Fatimah.
Mereka berpelukan dengan rasa haru dan bahagia.
***
" Ckk..Mamah jangan dulu ke sini !! Nggak sabaran banget sih, Mah. Aku masih mau berjuang sendiri. Tunggu Syifa dan Zian menerimaku, baru Mamah ke sini " Seru Maliq kesal atas desakan Mamahnya yang ingin menyusulnya. Setiap saat Mamah menelpon Maliq,merengek ingin bertemu Syifa dengan Zian.
" Tapi, Mamah sudah tidak sabar ' Maliq Ahdan '. Kau lelet sekali bergerak. Biar Mamah yang membujuk Syifa !! " Pekik Mamah dari seberang telpon sambil menyebut nama lengkap anaknya. Dia merasa kesal pada anak laki lakinya itu.
" Astagaa Mamah...kalau kita salah langkah, bisa bisa Syifa lari lagi meninggalkan aku, Mah. Aku tidak mau itu terjadi. Aku akan gantung diri kalau sampai itu terjadi " Sahut Maliq frustasi atas desakan Mamahnya.
" Astaghfirullah..istigfar nak. Kenapa bilang begitu, seperti orang tidak berTuhan saja kau itu !! " Pekik Mamah marah pada Maliq.
" Makanya itu, jangan desak aku dulu dengan permintaan Mamah itu. Doakan saja aku agar bisa melunakan hati Syifa "
__ADS_1
" Iya nak..maafkan Mamah. Mamah selalu mendoakanmu agar kau dan Syifa kembali bersatu dan hidup bahagia " Sahut Mamah dari sebrang.
" Dan doakan juga agar Zian mau menerimaku. Aku punya firasat, anak itu membenciku " Gumam Maliq dalam hati dia tidak utarakan pada Mamahnya.
***
Genap satu bulan Maliq bertemu Syifa. Sejak saat itu dia rutin setiap hari mengunjungi Syifa dan Zian.Dia selalu mengajak Zian bermain dan selalu mengantar Zian pergi mengaji, latihan Karate atau ke sekolah.
Setiap pagi Maliq menjemput anaknya itu ke sekolah, begitu juga kalau pulang sekolah, dia tidak pernah absen.
Sikap Syifa masih seperti biasa. Dingin tidak memperdulikan kehadiran Maliq. Maliq tidak masalah, dia tetap bertekad untuk berjuang meraih hati Syifa kembali.
Tapi, ada satu hal yang mengganjal di hati Maliq. Dia merasa aneh dengan sikap Zian. Saat di depan Syifa, dia akan bersikap manja pada Maliq. Tapi saat hanya mereka berdua, Zian akan bersikap dingin dan ketus padanya. Entahlah, Maliq bertanya tanya dalam hati. Apa sebenarnya yang ada di benak anak laki lakinya itu.
" Syifa..Insyaa Allah, aku mau ke kota kita besok. Hendra menelponku tadi, katanya ada masalah di perusahaan yang harus aku tangani.Insyaa Allah aku seminggu di sana " Maliq menghampiri Syifa yang sedang duduk di gazebo belakang rumah sambil memangku laptopnya.Mungkin sedang menyelesaikan pekerjaannya.
Maliq menghempaskan tubuhnya duduk bersisian dengan Syifa.
" Jaga jarak " Ketus Syifa seraya beringsut menjauhi Maliq.
Maliq terkekeh. Lama sekali marahnya, dek !! semoga sekembalinya aku nanti, marahnya sudah hilang. Hmm !! "
" Ckk...tidak usah balik ke sini lagi.." Ucap Syifa dengan nada sinis seraya merotasi bola matanya.
" Hmm...yakin tidak ingin aku balik lagi ?? Nanti rindu loh dek !! Kata Dylan rindu itu berat " Goda Maliq sambil menaik turunkan alisnya.
" Tau ah...kaya ABG saja. Cek umur !! " Gerutu Syifa kesal lalu beranjak meninggalkan Maliq sambil menghentakan kakinya.
Maliq terbahak melihat Syifa. Dia tahu Syifa mulai luluh padanya. Karena terbukti dia mulai menanggapi Maliq walaupun masih ketus. Dipandanginya punggung Syifa yang semakin menjauh masuk ke dalam rumah.
" Yaa Allah..lembutkanlah hati istriku " Gumam Maliq sambil menghela nafasnya.
" Umi kenapa Om ?? Umi marah lagi sama Om ?? " Celetuk Zian entah dari mana tiba tiba sudah berada di samping Maliq.
" Astahfirullah...kaget Om Ahdan, Zian !! " Maliq terjengkit kaget.
" Hi ..hi..hi Maaf Om..Zian sengaja " Zian terkikik geli lalu berlari meninggalkan Maliq.
__ADS_1
" Ooh..sengaja mau ngagetin Om yaa !! awas yaa !! " Seru Maliq sambil mengejar Zian yang berlari masuk ke dalam rumah.