Kisah Hidup Gadis Introvert

Kisah Hidup Gadis Introvert
164


__ADS_3

" Dek...!!" Seru Maliq.


Sontak Syifa menghentikan langkahnya.


" Sarapan dulu.Kakak sudah masak sarapan tadi ".


Maliq memilih mengajak Syifa untuk sarapan ketimbang melanjutkan pembahasan mereka tadi.Dia berfikir,tidak perlu memaksa Syifa untuk menerimanya kembali.Dia akan berusaha merebut hati Syifa dengan cara lain.


Syifa membalikan badannya."Kakak masak??"


" Hmmm"


" Ayo..kita sarapan dulu !!" Maliq berjalan menuju meja makan.


Syifa mengikuti langkah Maliq dan menatap hidangan di atas meja makan.


"Maaf,kakak cuma bisa masak ini.Soalnya di kulkas cuma ada telur sama sayur" Ujar Maliq sambil tersenyum ke arah Syifa.


" Ohh..iya maaf, aku lambat bangun tadi.Dan aku takut masak buat kakak,nanti masakanku tidak disentuh oleh kakak lagi.Jatuhnya mubazir nanti kalau tidak dimakan.Kemarin aku siapkan makanan karena aku fikir ada kak Willy" Syifa menanggapi Maliq dengan dingin.


" Deg !!!" Perih. Itu yang Maliq rasakan mendengar ucapan Syifa, mengingatkannya kembali perlakuannya pada Syifa.


" Maaf !!!" Gumam Maliq sendu.


Syifa terenyum kecut.


" Yah..udah,ayo sarapan Kak !!"


Syifa menuangkan nasi putih,telur ceplok sama capcay masakan Maliq lalu disodorkannya pada Maliq.


" Terima kasih,dek !!"


Maliq menatap dalam dalam wajah Syifa.Sekilas dia menangkap netra Syifa banyak menyimpan kepedihan.


Syifa dan Maliq menghabiskan sarapan mereka dengan suasana diam dan canggung.


" Dek...ada mata kuliah pagi ini??" Tanya Maliq pada Syifa,setelah mereka selesai sarapan.


" Iya...dari pagi sampai sore " Jawab Syifa.


"Oh..Kakak fikir free jadwal hari ini.Kakak mau ajak ke supermarket buat belanja kebutuhan dapur"


Syifa melirik Maliq sekilas." Tidak perlu,Kak.Aku di sini sudah biasa cuman makan sayur dan telur.Aku harus hemat.Aku di sini hanya mengandalkan uang beasiswa dan..." Syifa menggantung ucapannya.Hampir saja dia membocorkan pada Maliq bahwa mamah Maliq rutin memberikan uang padanya.


" Dan apa dek ???"

__ADS_1


"Aahh..tidak,Kak.Maksudku dan ak aku takut belanja jauh dari sini.Aku cukup belanja di swalayan dekat sini saja " Syifa gelagapan.


Maliq tertegun mendengar jawaban Syifa.


Maliq memindai seluruh tubuh Syifa dengan intens." Pantas dia terlihat semakin kurus,ternyata dia membatasi makanannya. Maafkan aku Syifa " Batin Maliq.Dia merasa menjadi suami yang zolim membiarkan Syifa hidup dengan keterbatasan biaya.


" Dek...nanti ke kampusnya jam berapa??"


" Jam 10 " Jawab Syifa singkat lalu beranjak ke kamar untuk siap siap ke kampus.


Maliq bergegas mengambil kunci mobil yang diantar sopir Willy.Dia mau memanaskan mesin mobil.Dia akan mengantar Syifa ke kampus.


Saat Maliq membuka pintu apartemen.


" Heh...ada bunga ???" Maliq mengernyitkan keningnya menatap sebuket bunga mawar merah yang teronggok di depan pintu.


Maliq membungkuk meraih buket bunga tersebut.


" Beautiful flowers for my beautiful girl".Maliq mengeja kata kata di kertas ucapan buket bunga itu.


" Eh...dari siapa ini dan untuk siapa ??"


Maliq membalikan badannya masuk kembali ke dalam.


" Dek...ini ada bunga !!!" Seru Maliq dari balik pintu kamar Syifa sambil mengetuk pintu.


" Yaa..ada apa,Kak ??" Tanya Syifa dengan wajah datar.


" Nih...ada bunga di depan pintu " Maliq menyodorkan buket bunga.


" Oh..buang di tong sampah saja "


" Lho...???"


" Tidak penting juga,Kak...tiap hari juga aku nemu sampah begitu " Ujar Syifa.


" Tiap hari ?? memangnya siapa yang ngirimin kamu bunga tiap hari " Cecar Maliq dengan nada cemburu.


" Tetangga gila " Ucap Syifa datar lalu menutup kembali pintu kamarnya.


Maliq terkejut dengan jawaban Syifa.


" Apa tetangga gila itu maksudnya si bule yang kemarin??" Gumam Maliq sambil menatap buket bunga dengan tatapan kesal.


" Hmm...tidak bisa dibiarin nih...kayanya itu bule punya jurus nekat.Awas aja !!!" Geram Maliq dikuasai rasa cemburu.

__ADS_1


Maliq membuang buket bunga tersebut di tempat sampah lalu memperhatikan apartemen tetangga Syifa dengan tatapan tajam.


" Selamat pagi,Bro...!!!" Tiba tiba suara bariton mengejutkan Maliq dari belakangnya.


Maliq membalikan badanya lalu menatap tajam ke arah pemilik suara tadi.


Qenan berdiri di belakang Maliq dengan pakaian olah raganya,sepertinya dia baru selesai olah raga.


Maliq menatap Qenan dengan tatapan tajam.


" Haii...pagi !!!.ngapain pagi pagi berdiri dekat tong sampah ??" Basa basi Qenan sambil tersenyum ramah.


" Buang sampah !!! " Jawab Maliq singkat sambil menunjuk buket bunga dengan dagunya lalu tersenyum sinis.


" Kata Syifa,itu sampah makanya dia nyuruh aku membuangnya di tempat sampah".


Qenan terkekeh. " Bilang ke Syifa...besok pasti dia akan menemukan sampah lagi didepan pintunya " Ujar Qenan santai tanpa beban.


" Heh...apa maksudmu ???jadi tiap hari kamu ngirimin Syifa buket bunga ???" pekik Maliq geram.


" Iya...bahkan bukan cuma satu buket,kadang sampai puluhan buket.Aku akan terus mengirimkan bunga untuknya sampai dia mau jadi kekasihku " Ucap Qenan antusias.


Maliq semakin geram mendengar pernyataan Qenan.Dia mengepalkan tangannya yang ada dalam saku celananya.


" Kalau Syifa tidak juga menerimamu,bagaimana???" Tanya Maliq sambil menatap geram ke arah Qenan.Rahangnya mengeras menahan emosi.


" Yah..aku usaha terus sampai dia mau menerimaku.Maka dari itu bro,aku minta dukungan darimu sebagai kakaknya " Ujar Qenan sambil menepuk lembut bahu Maliq.


Qenan tersenyum penuh harap ke arah Maliq.


" Kakak ??" Beo Maliq.


" Iya..kamu kan Kakak Syifa !!"


Maliq mendelik ke arah Qenan.


" Kalau aku tidak mendukungmu,bagaimana??"


" Tidak mungkinlah.Aku ini calon adik ipar idaman loh...!!"


" Bugh..." Maliq melayangkan bogem mentah ke rahang Qenan sebelum kenan menyelesaikan ucapannya.


Qenan yang tidak siap mendapat serangan langsung terhuyung ke belakang.Sudut bibirnya mengeluarkan darah kental.


Maliq mencengkram leher kaus Qenan dengan geram" Itu belum seberapa.Sampai kamu mendekati Syifa lagi,aku akan membuatmu lupa cara bernafas !!!" Kata Maliq sambil menatap Qenan dengan tatapan penuh intimidasi.

__ADS_1


Maliq mendorong tubuh Qenan sehingga mundur beberapa langkah lalu meninggalkan Qenan yang meringis kesakitan.


Maliq masuk ke dalam apartemen dengan langkah lebar dan wajah merah padam menahan emosi.


__ADS_2