Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
97 - Dua Pengendali Angin


__ADS_3

Dua pusaran angin yang saling berbenturan membuat benda apa-pun dibuat melayang. Bahkan Tetua Wan sampai harus menggunakan kekuatannya untuk menangkis kekuatan angin dahsyat ini. Tak main-main, panggung arena dibuat melayang dan hancur sebagian, dan beterbangan tak tentu arah.


"Pengendali kekuatan angin memang tidak bisa dianggap remeh. Klan Ang, benar-benar bisa membuat anak-anaknya berbakat."


Tetua Wan menangkis sebuah bangku yang nyaris mengenai tubuhnya. Dia menggunakan kekuatannya untuk melihat dengan jelas dua bocah yang tengah adu kekuatan spiritual dahsyat ini.


Semakin lama, nyatanya membuat mata penonton terbuka dan tertarik dengan pertandingan yang cukup sengit ini. Mereka saling berteriak dan menghebohkan lapangan Akademi Magic Awan Langit. Menyoraki kedua pengendali angin yang sama-sama tidak ingin mundur.


"Jurus angin memang dahsyat! Aku tak menyangka bocah berambut putih itu dari klan Ang."


"Hei, itu benar-benar menakjubkan!"


"Diamlah. Perkuat saja perisai pelindung kalian. Jika tidak sudah jadi debu melayang diombang-ambing."


Perisai salah seorang penonton retak dan detik berikutnya angin nyasar yang dahsyat mengenainya sampai dia terpental jauh. Tubuhnya langsung luka-luka. Hal itu membuat penonton yang lain berteriak. Mereka tidak menyangka kedua pusaran angin itu layaknya pedang yang bisa menggores kulit dengan mudah. Membawa apa-pun yang disekelilingnya dan membuat pusaran angin tersebut terlihat mengerikan.


Pusaran angin milik Amdara tidak tercampur dengan barang-barang yang dibuat melayang, seakan tidak akan membiarkan barang apa pun terbawa. Yang ada hanya bunga serta daun-daun yang khas membawa aroma segar. Berbeda dengan pusaran angin milik Giba yang berputar cepat menarik benda di sekitar yang lemah dan sampai merusak arena pertandingan.


Amdara memfokuskan pikiran. Dia menyatukan kedua tangan, dan membuat pusaran angin miliknya semakin berputar keras.


"Kekuatanku berkurang banyak."


Jubah serta ikat rambutnya dibuat melambai-lambai kencang karena angin. Tatapan matanya yang tenang dalam menghadapi situasi membuat lawan berdecih. Tak menyangka dengan ekspresi Amdara mirip dengan Cakra.


Giba mengangkat satu tangannya lagi dan detik berikutnya sebuah angin berbentuk burung Phoenix melesat ke arah Amdara.


"Kau klan Ang, tapi bukan berarti aku akan lembut padamu. Angin ini cukup unik. Tak tercampur benda lain di saat dia melayangkannya ke luar. Tsk. Apa Tetua klan pilih kasih dalam memberikan sebuah jurus?"


Giba melayang dengan tatapan bengis. Angin burung Phoenix itu menyerang lawan secara brutal tanpa meninggalkan celah. Bahkan Amdara hanya dibuat membuat perisai pelindung karena kesulitan melawan di saat dia harus mempertahankan kekuatannya membuat beliung.


Pelan, kaki Amdara mulai terdorong mundur. Kekuatan lawan terlalu besar dan Amdara nyaris tak bisa menahannya lagi.


"Melawan manusia memang merepotkan." Amdara menyerap kekuatan alam dengan cepat. Dia menciptakan sebuah pedang terbang untuk menyerang burung Phoenix lawan yang kini tengah bertarung sengit. Bahkan keduanya membuat angin kejut cukup besar saat bersamaan.


Terperangah melihat pertandingan babak kali ini jelas membuat banyak yang melihat menahan napas. Apalagi Aray yang terlihat tak percaya dengan kekuatan besar Amdara. Dirgan, Rinai, dan Nada juga demikian. Ketiga orang itu sampai dibuat menelan ludah susah payah. Jika saja mereka yang ada di sana, pasti nyawa yang langsung melayang bukan benda lain.


Atma sendiri yang terlihat begitu senang dengan Amdara yang terlihat keren berteriak menyemangati di tengah-tengah keadaan yang cukup menegangkan.


"Luffy keren sekali! Dia bertarung dengan wajah tenang dan terus mengerahkan kekuatannya! Luffy, semangatlah. Kau pasti bisa ...!"


Karena dia, banyak peserta yang memandang aneh.

__ADS_1


Inay merasakan pandangan itu dan berdecak. Dia membuat rambutnya mengelilingi teman-teman seakan membuat dinding besar untuk melindungi mereka dari serangan nyasar.


Kembali ke arena pertandingan yang nyaris dibuat luluh lantak oleh kedua pusaran angin dahsyat tersebut.


Amdara menggeleng. Dalam pikirannya tengah bergulat. Saat ini tengah mewakili kelas. Jika sampai gagal, wajah kekecewaan teman-teman dan Guru Aneh terlintas begitu saja.


"Aku tidak akan menyerah."


Amdara terdorong mundur oleh kekuatan spiritual Giba yang kini meningkatkan kekuatannya. Darah keluar dari bibir Amdara. Walaupun dia telah membuat perisai pelindung, tetapi lagi-lagi pecah begitu saja. Kekuatan Amdara terkuras banyak karena menjaga angin beliungnya yang terus berbenturan dengan pusaran angin milik Giba.


Tak kuat, Amdara akhirnya dibuat terpental. Dia merasakan dadanya yang sakit. Darah terus mengalir dari bibirnya. Wajah Amdara pucat, dia merasakan kepalanya yang terasa amat sakit.


Pusaran angin biru miliknya lenyap begitu saja. Sementara milik Giba tak kunjung hilang dan sekarang malah mengarah ke Amdara.


Burung Phoenix yang tak lagi menyerang pedang pilik Amdara beralih dan melesat ke arah lawan. Amdara kembali terpental dan membuat debaman keras pada panggung arena yang hancur seketika.


Bocah itu memuntahkan darah. Dia terbaring tak berdaya. Kekuatannya telah terkuras banyak walaupun bisa menyerap kekuatan alam.


"Tidak."


Amdara mengepalkan tangan. Menekan rasa sakit pada tubuh dan mencoba menyembuhkannya dengan kekuatan alam yang diserap. Dia berdiri, tetapi tiba-tiba sebuah kekuatan spiritual membuatnya kembali terjatuh dengan keadaan tengkurap.


"Junior, bukankah sejak awal sudah aku katakan untuk menyerah? Sekarang kau menerima akibatnya karena keras kepala."


Giba tertawa, dia mendekati Amdara yang mengepalkan tangan dan menatap dingin. Masih dalam posisi tengkurap, Amdara sama sekali tidak berkutik. Suatu tekanan dari Giba membuat Amdara tak bisa bergerak.


"Yah, kekuatanmu memang lumayan untuk murid dari kelas buruk itu. Kau harus bangga bisa melawan denganku yang dua tingkat darimu." Masih dengan wajah angkuh, Giba tersenyum remeh dan kembali berucap, "sekarang katakan menyerah. Atau mau kuhabisi sampai akhir?"


Tetua Wan tidak mengatakan apa-apa. Dia berpikir Giba tengah menggertak agar lawan segera mengatakan menyerah dengan begitu pertandingan selesai.


Namun, Amdara tak kunjung buka suara. Dia memejamkan mata. "Tidak. Aku tidak boleh mengecewakan mereka."


Amdara membuka mata. Bayangan teman-temannya terlintas, dia semakin mengepalkan tangan. Tekad tak ingin menyerah begitu saja membuatnya perlahan dengan sisa kekuatan mencoba berdiri walaupun beberapa kali terjatuh lagi dan hal tersebut jelas membuat Giba tertawa sinis.


"Hei, kau ini keras kepala sekali. Katakan menyerah, aku akan melepaskan tekanan ini."


Tenggorokan Amdara terasa sakit. Dia menggeleng dan berkata, "aku ...."


Giba semakin melengkungkan senyuman. Dia menyilangkan kedua tangan depan dada dan berhenti tepat di depan Amdara yang menggigit bibir bawah. Giba menunggu Amdara melanjutkan kalimatnya.


"Senior,"

__ADS_1


"Yah, baiklah. Aku akan sedikit melonggarkan tekanan spiritual padamu. Jadi kau tidak akan kesulitan berbicara."


Dengan percaya diri tanpa ada rasa awas sama sekali Giba mengangkat tangan dan detik berikutnya Amdara merasa tubuhnya tidak lagi terasa sangat tertekan dan membuatnya. Amdara bahkan bisa menyerap kekuatan alam dengan baik. Dia menatap Giba dengan tatapan datar sambil menekan jari telunjuknya ke lantai keras.


"Giok Air."


"Lanjutkan perka---!"


Blaaar!


BAAM!


Secara mengejutkan sebuah semburan air dahsyat dari bawah tepat di kaki Giba muncul dan menyerang Giba tanpa ampun dan membuat senior itu dipukul berkali-kali oleh air yang terasa seperti pukulan benda keras. Giba yang tak sempat menghindar tak bisa melawan. Wajahnya lebam, dan detik berikutnya air biru yang jernih dan terlihat seperti banyaknya kristal itu mengangkat tubuh Giba dan langsung menjatuhkannya begitu saja.


Giba terbatuk darah, tubuhnya terasa amat sakit. Dia tidak tahu dari mana serangan air barusan.


Penonton dibuat membeku dengan kejadian barusan. Mereka tanpa sadar menahan napas sesaat karena kekuatan barusan sungguh indah dilihat tetapi sebenarnya sangatlah kuat.


Bahkan Tetua Wan membelalakkan mata. Dia melihat air mancur yang begitu indah dan melihat air itu menjadi pusaran yang semakin mengecil dan semakin kecil sebelum menghilang seakan tertelan bumi.


Dari para peserta dibuat terkesima sekaligus terlonjak kaget dengan serangan tak disangka-sangka. Apalagi kelompok kelas Satu C yang tersedak napas sendiri terkecuali Inay yang terlihat mengembangkan senyum dan mengangguk, seakan telah menduga serangan kejutan barusan memang digunakan pada waktu yang tepat.


Dari kelas Tiga Unggulan sendiri langsung berdiri tak terima. Melihat teman mereka tengah menahan sakit sambil terbatuk darah.


Para Tetua, dan juga guru tidak menyangka pertandingan akan semenarik ini. Mereka dibuat menggelengkan kepala.


Di tengah arena, bocah berambut putih yang sebelumnya nampak tidak berdaya tengah berusaha berjalan ke arah Giba. Dia berusaha mempertahankan keseimbangan setelah merasa tubuhnya benar-benar lemas.


Amdara berhenti lima langkah dari Giba yang kini terduduk dan menatapnya tajam.


Giba berdiri, dia mengelap darah yang mengalir menggunakan punggung tangan. Wajahnya merah padam, jelas sekali sangat marah pada lawan.


"Senior, meremehkan lawan bukan hal yang benar."


Kini Amdara tersenyum simpul ke arah Giba yang setengah mati menahan malu. Wajahnya memerah dan dia berteriak dengan lantang sambil mengeluarkan pusaran beliung jauh lebih besar sebelumnya.


"Sialan kau ...! Kau bermain curang dan menjatuhkan harga diriku. Lenyaplah dalam lahapan beliung api milikku. Api Pelahap Jiwa ...!"


Pusaran angin merah itu semakin membesar dan menjadi panas dan layaknya kobaran api yang melesat secepat kilat ke arah Amdara yang tak bisa menghindar karena kekuatannya lemah.


BAAM!

__ADS_1


__ADS_2