
Amdara menarik napas dalam. Tubuhnya benar-benar sembuh. Rasa sakit itu hilang. Namun, pikirannya masih tertuju pada wanita dalam mimpinya. Bocah itu mengedarkan pandangan. Terlihat ada beberapa obat-obatan yang tergeletak dan peralatan lain yang berhubungan dengan pengobatan.
Suasana hening, malam penuh bintang di luar menyambut. Hari ke tiga Amdara baru sadarkan diri. Padahal yang Amdara rasakan dalam mimpi hanya lima menit.
Perlahan Amdara mengangkat tangan, mencoba menerbangkan barang-barang di sekitarnya. Dan benar saja, barang-barang itu terbang sesuai tangan Amdara bergerak.
"Apa Benang Merahnya menghilang?"
Amdara masih tak menyangka bisa merasakan kekuatan lagi. Dia nampak tersenyum simpul. Tentu sangat senang dengan perubahan baik ini. Dengan keadaan seperti ini, jelas Amdara tidak akan membuang waktu lagi menjalankan misi dari Tetua Bram dan tentu setelah acara di Akademi selesai. Sudah lama Amdara tidak berburu Roh Hitam, bocah itu sedikit merindukan masa-masa menegangkan saat berburu.
Amdara segera meletakkan kembali benda yang melayang ke tempat semula dia menggeleng pelan.
"Apa ini juga mimpi?"
Amdara mencubit lengan sendiri, keingin tahunya sangat besar. Takut jika ini semua adalah mimpi. Bocah itu lagi-lagi menari napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Bukan sebuah mimpi Amdara merasa lengannya ngilu.
Saat sedang melamun, suara dobrakan pintu membuat Amdara tersentak. Pintu terbuka cepat, menimbulkan suara keras.
Enam bocah sekaligus masuk ke ruang itu sampai saling dorong dan menimbulkan keributan. Amdara dibuat berkedip, yang datang adalah teman-temannya. Namun, terlihat Orion dan dua senior tengah mencekal pergelangan tangan Dirgan, Rinai, dan Nada. Nampaknya mereka sebenarnya tidak diizinkan masuk karena akan mengganggu istirahat Amdara, tetapi bocah-bocah itu pasti keras kepala ingin menjenguk Amdara.
"Luffy, bagaimana keadaanmu ...?!"
Atma berteriak, tetapi dia tersandung kaki sendiri ketika berjalan cepat. Membuat bocah itu terjatuh membentur lantai. Di belakangnya, Inay nyaris saja ikut terjatuh karena kaki Atma.
"Rambut Putih, apa kau masih merasa sakit?!" Aray terbang cepat ke arah Amdara dan tanpa diduga menyentuh wajah Amdara cemas.
Amdara tersentak, dan sontak menangkis tangan Aray. Ditatapnya Aray dengan kesal. Aray menggaruk tengkuknya yang tak gatal, dia tertawa pelan.
Dirgan yang baru saja sampai langsung menanyakan keadaan Amdara sambil tersenyum senang. Tidak peduli dengan Atma yang kini tengah ditarik oleh senior Orion.
"Hei, kalian jangan mengganggu dia," kata Orion sambil menarik kaki Atma yang memberontak. Orion kembali berkata dengan raut wajah kesal setengah mati, "biarkan teman kalian istirahat. Astaga, benar-benar bocah keras kepala."
"Lepaskan aku, senior! Ya ampun, apa kau sebegitu menyukaiku sampai menarik paksa seperti ini?!"
Atma menendang-nendangkan kaki saat ditarik oleh Orion. Perkataannya yang tidak tahu malu membuat Orion tersentak dan dengan cepat melemparkan kaki Atma ke lantai dengan keras.
"Siapa yang menyukaimu, hah?! Aku ini laki-laki normal! Tidak sepertimu. Tsk, kau benar-benar tidak tahu malu!"
Rasanya kewibawaan Orion lenyap seketika Atma berkata barusan. Dua rekan Orion dibuat tercenang mendengarnya. Atma sendiri merasa kakinya yang sakit karena terbentur keras ke lantai.
"Aku juga normal, senior. Kau yang tidak normal! Buktinya sampai menarik-narik paksa kakiku."
Kali ini Orion dibuat membuka mulut lebar. Sepertinya Atma selain memiliki kepercayaan begitu tinggi juga memiliki mulut yang super duper cerewet melewati omelan wanita.
__ADS_1
Bukan hanya Orion yang dibuat tersentak, tetapi Amdara yang melihat kejadian itu sampai bergumam 'tidak tahu malu'. Begitu pula dengan Dirgan yang menggelengkan kepala dan hanya bisa menghela napas. Entah mengapa terkadang Atma terlihat seperti wanita ketimbang laki-laki.
Aray saja sampai dibuat mengedutkan mata. Teringat Atma saat naik transportasi aneh milik Guru Aneh ketika menuju Hutan Arwah membuat dia bergidig ngeri. Sepertinya setelah ini dia tidak akan dekat-dekat lagi dengan Atma, takut jika hal tidak baik menimpa.
Inay, Rinai, Nada, dan dua rekan Orion membuka mata dan mulut lebar. Keadaan ambigu itu membuat mereka lupa harus menegur karena telah menganggu waktu istirahat Amdara.
"Dasar tidak tahu malu ...! Aku menarik kakimu karena kau keras kepala menerobos masuk dan tidak mau pergi dari sini! Kau menganggu waktu istirahat Junior Luffy! Astaga ...! Mulutmu seperti perempuan! Hah ...!"
Jiwa Orion terguncang hebat. Dia menggelengkan kepala sambil menaikkan intonasi bicara. Ketenangannya kali ini benar-benar hilang karena Atma. Dua rekan Orion bahkan dibuat berkedip melihat Orion yang marah. Apalagi dia terkenal dengan kewibawaan dan ketenangan tetapi malam ini sepertinya Orion bisa menunjukkan taring juga.
Atma yang berhasil duduk, dan memandang Orion terlihat mengerucutkan bibir dan berkata tidak mau kalah, "kau ini tidak tahu aku sangat mengkhawatirkan Luffy? Senior, dua hari dia tidak sadarkan diri membuat kami sangat khawatir, tahu ...! Mendengar Luffy sadar, tentu saja kami harus menjenguk dan melihat kondisinya langsung!"
"Kalian bisa menjenguknya besok pagi! Dia baru saja sadarkan diri dan perlu istirahat!"
"Senior, apa kau tidak tahu obat penyembuh sebenarnya adalah kebersamaan teman?"
"Kalian datang ke sini hanya akan mengusik ketenangannya!"
"Kau yang malah membuat ketenangan Luffy pupus, senior! Haih, apa kau tidak sadar berteriak dan mengganggu?"
Orion tertohok, dia baru sadar telah membuat keributan dengan meneladeni Atma yang selalu bisa melawan menggunakan perkataan.
Amdara sendiri masih bergeming dan melihat Orion yang merasa bersalah. Amdara berkata, "aku baik-baik saja, senior."
Amdara juga tidak terlalu merasa terganggu karena kedatangan teman-temannya. Tidak sadarkan diri selama tiga hari ini cukup membuat Amdara yakin teman-temannya saat menghadapi pertandingan antar kelas tiga hari ini kesulitan.
"Apa benar kau baik-baik saja?"
Orion bertanya dengan perasaan tidak enak. Mendapat jawaban dengan anggukan kepala membuat Orion juga mengangguk dan izin undur diri setelah mengatakan Atma dan yang lain berjanji tidak akan membuat Amdara merasa kurang istirahat.
Sekarang di ruangan dengan nuansa putih itu diisi tujuh murid kelas Satu C. Mereka segera mendekat ke arah Amdara dan menanyakan banyak hal.
"Luffy, apa kau masih merasa sakit?"
Inay bertanya cemas, dia duduk di sebelah Amdara yang bergumam sebagai jawaban.
"Kau sebaiknya istirahat dengan baik," Dirgan menasehati Amdara yang langsung mengangguk mengerti.
Rinai dan Nada mengembuskan napas mendengar jawaban Amdara yang baik-baik saja dan tidak lagi merasa sakit.
"Luffy, ada banyak kejadian yang kami lewati. Kau harus tahu, dan aku akan menceritakan banyak hal padamu!"
Atma bersemangat berdiri di sisi tempat tidur. Atma mulai bercerita ketika ujian tertulis mereka yang mendapat nilai tidak terduga.
__ADS_1
Yang terlihat ingin bertanya banyak adalah Aray, tetapi dia mengatupkan bibir tidak mendapat kesempatan bertanya karena yang lain terus berbicara. Apalagi Atma dan Inay yang mengatakan banyak informasi dan tak membiarkan yang lain menambah terkecuali menanggapi sedikit. Mulai dari tiga hari ini mereka yang melakukan pertandingan dengan kesulitan dan nyaris gagal, tetapi keberuntungan ternyata memihak mereka. Dua bocah itu seakan tidak membiarkan kejadian yang menimpa mereka tidak diketahui Amdara.
"Luffy, kau tenang saja. Dua senior yang membuatmu terluka parah telah diberi hukuman."
Inay membenarkan perkataan Atma dan mengatakan yang memberi hukuman adalah Cakra langsung. Amdara tentu terkejut, tidak menduga Cakra yang mencambuk dua senior itu.
"Tapi kami belum sempat memberi mereka pelajaran."
Aray menyela, dia mengepalkan tangan. Tatapan berubah bengis mengingat temannya telah diserang.
"Tidak cukup kekuatan dan jelas akan melanggar aturan," tambah Dirgan yang langsung menghela napas.
Mengandalkan kekuatan Aray dan Inay saja tidaklah cukup. Yang ada mereka babak belur oleh para senior yang tidak terima dan berakhir saling membalaskan dendam tak berujung.
"Khakha. Jika saja aku memiliki kekuatan, tentu aku akan membalas mereka."
Nada tertawa cekikikan, dia menarik pelan rambut kepangnya.
Mengingat hal itu membuat Rinai menangis dan menunduk. Dia berkata, "huhuhu. Senior yang kuat atau kita yang lemah?"
Amdara menggeleng. Dia tidak ingin teman-temannya membalaskan dendam atau apa pun itu. Nanti yang ada masalah tidak pernah terselesaikan.
"Kalian tidak perlu balas dendam."
Dirgan, Atma, Rinai, Nada, Inay, dan Aray tahu perangai Amdara yang baik. Mereka juga tidak bisa bertindak gegabah.
Untuk menghilangkan suasana yang tidak enak itu, Atma kembali bercerita awal.
Suasana ini cukup dirindukan Amdara. Dia tidak menyangka teman-temannya akan sekhawatir ini pada dirinya. Ditatap satu persatu temannya, Amdara menarik senyum tipis.
Sepuluh menit berlalu begitu cepat, bahkan semakin bertambah sampai satu jam penuh. Karena nada bicara dan kelakuan Atma yang tengah bercerita membuat teman-temannya tak bosan, mereka sampai tidak menyadari satu jam berlewat. Amdara beberapa kali menggelengkan kepala mendengar celotehan yang disampaikan Atma.
"Atma, sore tadi kau mendapat panggilan dari Tetua 'kan?"
Ujar Dirgan saat Atma yang menarik napas panjang setelah bercerita panjang lebar. Semua mata kini tertuju pada Atma yang terlihat jadi tegang.
"Ah, itu ... ini hari terakhir aku seharusnya membuat penawar."
Perkataan Atma membuat Amdara teringat sesuatu. Hari ketiga ini seharusnya ramuan penawar sudah diberikan, tetapi karena Amdara tidak sadarkan diri jadi membuat penawar dipasrahkan pada Atma. Beruntung Amdara sadarkan diri sebelum melebihi tiga hari yang dia janjikan membuat penawar.
"Kau tidak perlu membuat penawar. Biarkan saja senior itu menahan rasa malu. Bahkan aku merasa hal itu masih kurang," kata Aray kesal.
Perkataannya tentu disetujui teman yang lain, kecuali Amdara yang mencoba mengingat bahan apa saja yang dia perlukan.
__ADS_1
Amdara tahu membuat penawar itu, dan sekarang setelah mendapat kembali kekuatannya jelas Amdara bisa mengeluarkan api. Dia memiliki ide cemerlang.
Amdara tersenyum tipis. "Kita buat penawar sekarang."