Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
62 - Kerja Sama Tim


__ADS_3

Dirgan menggenggam topeng kucing yang diberikan Amdara. Dia melihat Amdara seperti orang dewasa yang mengajak kawanan untuk melakukan hal yang seharusnya. Terlihat berwibawa dan memiliki aura kepemimpinan. Dirgan sampai berdecak kagum. Dia segera memakai topeng kucing. Sebagai Ketua Kelas sudah memang seharusnya dia bertindak lebih awal dari yang lain. Namun, lagi-lagi malah Amdara yang bertindak satu langkah darinya.


Kemarahan dan keinginan membuktikan mereka sudah berubah. Tidak ada lagi perasaan takut, tidak ada lagi keinginan dit*n*as. Atma, Rinai, dan Nada segera memakai topeng pemberian Amdara.


Inay melihat Amdara yang percaya pada diri sendiri walaupun kondisinya tidak berbeda dengan teman yang lain. Entahlah, rasanya Inay jadi tak melihat kekurangan Amdara.


Aray tersenyum tipis. Tak menyangka keenam bocah ini mau dan malah semangat mengikuti pertandingan ini. Berbeda dengan teman-teman sebelumnya yang pengecut. Tak menunggu lama, dia langsung memakai jubah di tangannya tanpa melepas pakaian yang dikenakan. Ada perasaan senang saat Amdara lebih dulu memberi penyemangat tanpa disadari.


"Berapa waktu yang kita miliki?" Amdara bertanya setelah memakai topeng kucing.


Dirgan tersentak saat melihat aura yang terasa dari Amdara seperti seorang pemimpin. Dirinya segera mengalihkan pandangan dan berdehem menghilangkan kegugupan.


"S-sepuluh menit dari sekarang."


Jawaban Dirgan lebih membuat yang lain tersentak. Sepuluh menit untuk melewati hutan penuh jebakan ini, apa itu mungkin?!


"Lebih dari cukup."


Kata Amdara sambil mengedarkan pandangan melihat kira-kira apa saja jebakan di hutan ini.


Ada pemikiran di benak Dirgan, Atma, Rinai dan Nada. Mendengar perkataan Amdara, mereka pikir itu hanya hiburan belaka.


Amdara melirik Ketua Kelas Dirgan dan lalu berujar, "Ketua Kelas, buat strategi."


"A-apa? A-aku?"


Dirgan terkejut saat diminta membuat strategi. Dia jadi gugup sendiri saat melihat tatapan mata Amdara yang dingin.


Atma berjalan ke arah Dirgan lalu menepuk bahu Ketua Kelasnya sambil berkata, "walaupun strategimu sering gagal, tapi ada saja satu yang berhasil."


Dirgan menatap Atma dalam. Lalu menyapu pandang pada teman-temannya yang mengangguk seakan yakin pada kemampuan Dirgan.


"Kami percaya padamu."


Dirgan mengembuskan napas. Dia mengangguk setelah diberi kepercayaan. Berjalan ke arah semak belukar yang rusak dan mengamati situasi. Ada jalan acak yang telah banyak rusak, terkena jebakan.


Ketua Kelas Satu C berjongkok, melihat lubang besar yang sepertinya ditutup oleh semak dan lubang itu banyak bambu runcing ke atas. Dirgan menelan ludah, jika saja dia salah perhitungan maka nyawa mereka terancam.


"Nana, bawa kami terbang melewati jalan itu."


Setelah mengamati beberapa saat, Dirgan mengambil keputusan. Dia menunjuk ke arah depan yang sudah banyak pohon tumbang. Sebaiknya mereka memang mencari jalan aman dengan cara melewati jalan yang seperti telah mengeluarkan jebakan. Kemungkinan tidak akan ada jebakan lagi di jalan yang sama, bukan?


Inay mengangguk, lalu melilit tubuh Dirgan, Rinai, Nada, dan Amdara yang tak mungkin menggunakan kekuatannya.


"Aray, apa kau sudah bisa mengontrol kekuatan?"


Dirgan bertanya pada Aray yang langsung mengangguk bangga. Dirgan berkata, "bagus, kau bawa Atma. Apa pun jebakan yang menyerang, aku serahkan padamu."


"Aku mengerti."


Asap hitam tipis mengelilingi Aray sebelum membuat bocah itu melayang. Teman-temannya berdecak kagum. Asap itu kemudian mengelilingi Atma yang langsung membuatnya terbang juga.


"Aku terbang!"


Atma mencoba terbang ke arah Dirgan, tetapi hampir saja dirinya menabrak pohon karena tidak terbiasa. Namun, Atma malah tertawa kegirangan. Teman-temannya tersenyum sambil menggelengkan kepala.


"Dan Luffy--"


"Dia bersamaku."


Inay memotong ucapan Dirgan dan membuat teman-teman yang berada dililitannya terbang.


Dirgan mengangguk, tatapannya tertuju ke depan. Waktu yang mereka miliki tidak banyak, jadi secepatnya sampai tanpa ada gangguan.


"Kita akan melewati hutan ini tanpa menyentuh apa pun. Kupikir jika sampai menyentuh sesuatu, jebakan akan langsung menyerang. Apa kau bisa, Nana?"


Inay mengangguk paham dengan yang dikatakan Dirgan. Dirinya pelan tetapi pasti mulai melayang, membawa teman-temannya melewati hutan.


Jantung mereka berdegub keras saat nyaris saja kaki Nada yang menyentuh pohon akan tetapi dengan cepat Aray menggunakan kekuatannya agar kaki Nada tidak menyentuh pohon.

__ADS_1


Inay harus berkonsentrasi penuh, agar teman-teman yang dalam lilitannya tidak sampai menyentuh apa pun. Sementara Amdara cukup membantu mengamati sekeliling agar Inay tidak membuat mereka dalam bahaya karena kesalahan kecil.


Pemikiran Dirgan sepertinya benar, mereka tidak terkena jebakan karena tidak menyentuh apa pun. Mereka jelas bisa mengembuskan napas lega.


Namun, mata Amdara melihat ada hal yang aneh. Ada bekas noda merah pada pepohonan, dan juga tanah yang menggenang air merah. Tidak ada bau anyir sama sekali membuat Amdara tak berpikir itu adalah darah. Namun, melihat sekeliling seperti telah terjadi pertarungan membuat Amdara mengerutkan dahi.


"Kak Nana, turunkan aku."


Inay menolak dan menjawab mereka tidak memiliki banyak waktu. Namun, Amdara memaksa dan berkata ada sesuatu yang harus dia pastikan sebentar. Inay akhirnya mau menurunkan Amdara dengan terpaksa.


"Hei, lihat di sana!"


Atma melihat sebuah cahaya putih dari arah kebalikan. Dirinya menunjuk dengan mata terpana. Dirgan, Inay, Aray, Rinai, dan Nada sontak menoleh ke belakang untuk melihat apa yang Atma teriakkan.


Amdara tak mempedulikan teman-temannya. Dia segera menyentuh genangan air merah itu, dan mengendusnya. Namun, memang tidak ada bau darah sama sekali.


"Apa ini darah?"


Jika bukan darah, lantas apa ini? Dari teksturnya Amdara bisa mengetahui bahwa ini adalah darah binatang. Saat sedang berpikir, Amdara tidak mengetahui bahwa di belakangnya ada yang tengah mengintai.


"Menghindar!"


Amdara dibawa terbang oleh Aray dengan cepat karena ada seekor binatang buas nyaris menerkam Amdara dari belakang.


Jantung Amdara berpacu lebih cepat. Dia berpegangan pada bahu Aray. Tatapan matanya tertuju pada seekor Serigala Berbulu Putih yang nampak sangat indah, tetapi menyeramkan saat mengeluarkan suara khas.


Inay segera melilit Dirgan, Nada, dan Rinai agar terbang. Mereka terkejut dengan kedatangan Serigala Berbulu Putih ini yang tiba-tiba muncul.


"Bagaimana mungkin ada binatang buas di hutan ini?"


Semuanya menanyakan hal yang serupa. Namun, mereka tidak berpikir bahwa jebakan sesungguhnya adalah binatang buas ini. Serangan-serangan sebelumnya hanya jebakan biasa. Beberapa binatang buas yang sengaja disiapkan itu kelompok sebelumnya juga mengalami hal serupa. Namun, mereka dengan cepat menghabisi binatang buas itu. Ada sebelas binatang buas, setiap kelompok harus melawan binatang buas satu. Dan Serigala Berbulu Putih ini untuk menyerang kelas Satu C.


Serigala Berbulu Putih ini belum termasuk menjadi Siluman karena umurnya yang belum mencukupi. Binatang itu melesat menyerang Rinai tiba-tiba.


Grooaarrr!


Serigala Berbulu Putih melibaskan tangan dan ketika itu juga kekuatan besar menyerang mereka secara bersamaan. Aray segera membuat perisai pelindung dibantu oleh Inay, tetapi kekuatan mereka tak cukup sampai akhirnya mereka dibuat terpental jauh. Membuat Aray dan Inay menjatuhkan teman-temannya.


Rinai spontan menunduk karena seruan Ketua Kelas Dirgan yang langsung melompat menahan Serigala Berbulu Putih dengan memegang tanduk serigala itu. Jelas tenaga Dirgan tidaklah kuat, tetapi dirinya langsung dibantu Atma yang menahan dorongan keras binatang ini.


"Di mana titik lemahnya?!"


Atma bertanya pada Dirgan yang langsung dijawab tidak tahu. Dua bocah itu hampir terhempas karena kehabisan tenaga dan juga kekuatan serigala ini sangat besar.


Amdara mencari kayu dan langsung melemparnya ke arah Nada dan Rinai agar segera memukul binatang itu dengan keras.


Di saat seperti ini memang Amdara tidak boleh diam dan bersembunyi. Dia harus melakukan sesuatu setidaknya membuat Serigala Berbulu Putih ini kewalahan.


"Tahan!"


Amdara melesat, meminta Dirgan dan Atma menahan Serigala Berbulu Putih. Sementara dirinya langsung memukul sekuat tenaga di bagian kepala Serigala Berbulu Putih, begitu pula dengan Rinai dan Nada yang gemetaran tetapi tidak mengurangi kekuatan.


"Bagian perut!"


Amdara berucap keras. Mendengar seruan itu, Atma dan Dirgan sontak mengerahkan seluruh sisa tenaga untuk membuat Serigala Berbulu Putih mendongak agar Amdara bisa memukul bagian perut dengan keras.


Grooaarr!


Serigala Berbulu Putih mengeluarkan suara keras kesakitan ketika Amdara berhasil memukul bagian perut. Dengan kekuatan besar, Seriga Berbulu Putih memutar kepala dan melempar Dirgan dan Atma sampai menubruk pepohonan.


Amdara menelan ludah susah payah. Matanya terbelalak saat Serigala Berbulu Putih yang langsung menyerang Nada yang terduduk lemas tak berdaya.


"Nada!"


Amdara melompati Serigala Berbulu Putih dan langsung men****h tubuh Nada agar tidak terkena serangan cakar.


"Luffy ...!"


Inay yang masih menahan sakit berteriak melihat Amdara yang punggungnya tercakar oleh Serigala Berbulu Putih. Dengan kemarahan memuncak, Inay melesat menyerang Serigala Berbulu Putih.

__ADS_1


Aray yang juga melihatnya mengepalkan tangan dan langsung mengeluarkan kekuatan besarnya melawan Seriga Berbulu Putih tanpa ampun.


Sementara Rinai membuka mata dan mulut saat melihat serangan kuat dari Serigala Berbulu Putih. Tubuh Rinai lemas seketika, dia yang tidak bisa berbuat apa-apa itu mulai menangis. Dan dengan kesulitan berjalan menghampiri temannya.


Punggung Amdara rasanya perih. Dia menutup mata, darah di punggung mulai mengalir deras. Sepertinya lukanya cukup dalam.


Nada tersentak, dia tidak menyangka Amdara melindunginya. Wajah di hadapannya teramat pucat, bahkan Amdara terlihat begitu kesakitan walaupun ekspresinya tidak berubah.


"L-luffy?"


Nada menahan tangis. Dia menyentuh punggung Amdara yang mengalirkan darah dengan deras.


Amdara membuka mata dan berkata, "kau baik-baik saja?"


Setetes air mata berhasil lolos dari pelupuk mata Nada. Dia mengangguk membuat Amdara berucap, "syukurlah ...."


"Luffy ...?!"


Dirgan dan Atma lari dengan tergopoh-gopoh menahan sakit di punggung juga. Bahkan mulut Atma sampai mengeluarkan darah, akan tetapi mereka tidak mempedulikan rasa sakit di tubuh. Kecemasan mereka pada Amdara terlalu besar.


Rinai, Dirgan dan Atma langsung membantu Amdara agar bisa berbaring. Amdara merasakan sakit yang luar biasa ketika di baringkan. Bahkan hatinya turut merasakan sakit karena tidak bisa berbuat apa-apa dan malah merepotkan orang lain.


"Aku baik-baik saja."


Amdara mengatur pernapasan. Dia menyakinkan teman-temannya bahwa dirinya baik-baik saja. Namun, yang ada Dirgan, Atma, Rinai, dan Nada semakin tidak percaya karena mulut Amdara yang mengalirkan darah.


"Apanya yang baik-baik saja? Jelas-jelas kau sedang terluka!"


Atma membentak, dia kebingungan harus berbuat apa. Dirgan juga kebingungan sendiri dirinya tak memiliki kekuatan untuk menyembuhkan.


Tidak jauh dari mereka, pertarungan antara Serigala Berbulu Putih, Inay, dan Aray semakin sengit. Ketiganya tidak main-main melesatkan serangan. Walaupun itu bukan siluman, tetapi kemuatannya tidak bisa diremehkan. Semakin Inay dan Aray melesatkan serangan dahsyat, maka Serigala Berbulu Putih juga tidak main-main dalam melesatkan serangan yang lebih dahsyat dari sebelumnya.


BAAM!


Inay terpental, tepat ke arah pohon di belakang Amdara. Dia memuntahkan darah segar. Sepuluh detik berikutnya Aray juga terpental ke tanah dekat Nada yang masih ketakutan memegang boneka.


"Nana ...!"


"Aray ...!"


Belum juga mereka melakukan sesuatu pada Amdara, Aray dan Inay membuat mereka langsung bertambah cemas sekaligus ketakutan. Dirgan, dan Atma langsung membantu Inay dan Aray yang terlihat kesakitan. Rinai dan Nada yang tidak kuat batinnya terguncang hebat. Mereka sampai mengeluarkan isi perut.


Sedangkan Serigala Berbulu Putih terlihat semakin marah. Dia mengeluarkan suara keras dan berlari ke arah bocah-bocah itu.


Amdara mencoba duduk sebelum berdiri. Dirgan, Aray, Atma, Inay, Rinai, dan Nada tanpa sadar mundur perlahan, tidak memiliki kekuatan lagi untuk melawan. Nada dengan gemetar tiba-tiba saja mengeluarkan suara auman serigala sangat keras, bahkan orang-orang yang berada di luar hutan dapat mendengarnya dengan jelas.


Teman-temannya jelas tersentak, tetapi mereka tidak memiliki waktu bertanya. Yang jelas bahkan auman dari suara Nada tak memengaruhi Serigala Berbulu Putih itu yang terus mengeluarkan air liur dan melangkahkan maju.


Nada melakukan suara auman sekali lagi, dan mengeluarkan suara-suara aneh berharap Serigala Berbulu Putih itu ketakutan, nyatanya tidak sama sekali.


Amdara tidak bisa membantu. Dia mengepalkan tangan sebelum terpikir dirinya bisa memainkan seluring untuk menenangkan binatang. Dan itu pernah dilakukannya di saat masih berada di Organisasi Elang Putih.


"A-apa kita akan tewas di sini?" Dirgan malah memegang lengan Aray ketakutan. Bahkan kakinya sampai lemas.


"Jangan omong kosong! Aku tidak mau mati konyol dihabisi binatang!"


Aray menggeremutukkan gigi. Tatapannya tajam, tetapi dia kehabisan tenaga juga kekuatannya berkurang banyak. Luka luar dan dalamnya masih terasa sakit.


Sangat mustahil melawan Serigala Berbulu Putih. Begitu pula dengan Inay yang mulutnya mengeluarkan darah karena luka dalam. Atma menelan ludah kesulitan. Kakinya yang mulai mundur pun terasa tak bertenaga. Sementara itu Rinai dan Nada saling berpegangan ketakutan. Rasa-rasanya Serigala Berbulu Putih itu adalah malaikat maut yang tiba mencabut nyawa mereka paksa.


Seakan-akan bahaya ini pernah mereka rasakan di hutan lain, tetapi tidak adanya orang dewasa membuat mereka takut. Apanya yang sudah berubah? Mereka bahkan tidak bisa mengatasi satu binatang itu. Apanya yang akan mengambil misi lagi demi uang? Yang ada nyawa melayang sebelum melakukan serangan karena ketakutan.


Saat Serigala Berbulu Putih lima langkah dari bocah-bocah itu, Amdara maju di depan teman-temannya dan lalu berkata, "tenanglah."


Bocah berambut putih itu memejamkan mata sejenak, membuat teman-temannya terkejut. Amdara lalu mengeluarkan seluring dari Cincin Ruang dan dengan tenang mulai memainkan seluring nada ketenangan. Membuat Serigala Berbulu Putih itu terdiam sebelum akhirnya hanyut dalam suara menenangkan seluring itu. Bahkan Dirgan, Atma, Rinai, Nada, Aray, dan Inay juga merasakan ketenangan. Rasa sakit pada tubuh mereka seakan tak terasa, padahal Amdara sama sekali tidak mengeluarkan kekuatan. Hanya memainkan seluring dan menahan sakit di punggung.


Angin berhembus pelan, membawa daun-daun pohon yang mengitari Amdara. Dirgan, Atma, Rinai, Nada, Inay, dan Aray yang awalnya akan menarik Amdara agar tidak mendekati serigala itu terlambat.


Serigala Berlalu Putih tiba-tiba berjongkok, seperti meminta Amdara untuk naik ke punggung. Amdara tersenyum, mengelus pelan kepala binatang itu sebelum menaiki tanpa menghentikan meniup seluring.

__ADS_1


Jiwa mereka seakan tengah diberi kehangatan dan aura dingin yang nyaman. Serigala Berbulu Putih membawa Amdara berjalan keluar hutan diikuti Dirgan, Inay, Aray, Atma, Rinai, dan Nada sambil bahu membahu.


Cahaya dari depan membuat mereka menutup mata, tetapi terus melangkah. Saat cahaya itu terasa hilang, mereka membuka mata. Dan terkejut bukan main saat sesuatu tak terduga terjadi.


__ADS_2