
Tetua Rasmi mengajak ketiga murid ke salah satu toko pakaian. Mereka terpaksa mengenakan jubah berwarna hijau muda dengan corak petir merah. Bahkan menggunakan cadar tebal berwarna putih.
Sesaat Cakra menatap datar diri di cermin yang wajahnya sudah dipakaikan cadar. Dia menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Dia membalikkan badan, di depannya sudah ada Shi yang cekikikan menatap dengan ratu wajah mengejek.
"Pfftt. Kau terlihat cantik, Cakra. Ya ampun, lihatlah bulu mata lentikmu itu."
Shi tertawa, dia benar-benar menggoda juniornya ini. Itu fakta, Cakra terlihat cantik dengan rambut panjang diikat.
Sementara itu, Cakra mengepalkan tangan erat. Memalingkan wajah dan berjalan pergi meninggal kan Shi yang masih tertawa. Jika bukan karena Tetua Rasmi yang meminta dan untuk keselamatan, dia tidak akan mengenakan nya.
Amdara juga terlihat mengenakan pakaian yang sama. Dia tidak lagi menggunakan topeng, melainkan cadar. Melihat Cakra yang menggunakan cadar membuat Amdara menaikkan sebelah alis.
Dia berbicara pada Tetua Rasmi, "Tetua, bukanlah sebaiknya Senior Cakra mengenakan masker daripada cadar?"
Tetua Rasmi menoleh ke arah Cakra. Dia yang tidak peka malah bertanya, "memang kenapa dengan cadar nya?"
"Dia jadi terlihat cantik."
Ucapan polos itu didengar Cakra yang langsung berhenti. Menatap Amdara dalam. Terkejut bukan main.
Tetua Rasmi memandang Cakra lekat-lekat. Dia tersenyum, dan berakhir tertawa kecil. Cakra memang terlihat cantik jika menggunakan cadar itu. Akhirnya dia membelikan masker hitam ke Cakra.
Cakra menerima dengan sopan dan mengganti menutup wajah itu cepat. Menggunakan masker hitam ini lebih baik dari pada cadar putih dengan bordir bunga kecil di setiap sudut.
Setelahnya, mereka langsung kembali melanjutkan perjalanan tanpa berniat istirahat.
Kota Pelita memiliki keindahan tersendiri, apalagi saat malam tiba. Lintang di nabastala tampak menarik perhatian siapa saja. Gemerlap-gemerlip memenuhi angkasa. Walaupun itu adalah kota, tetapi masih ada beberapa pohon yang hidup di samping rumah-rumah mewah. Menjadikan tempat itu terlihat indah dipandang, banyak bunga-bunga yang sudah bermekaran di sepanjang jalan. Jika di lihat saat pagi, tampak sangat menenangkan.
Toko-toko di sana bahkan masih buka. Menunjukkan barang dagangan berbeda jenis. Teriakkan-teriakkan pedagang mencari perhatian pembeli. Apalagi cara menjelaskan barang yang dijual sangat berbeda. Bahkan barang-barang seperti kitab sebuah jurus juga dijual di sana.
Salah satu pedagang menarik perhatian Amdara. Pedagang yang sama sekali tidak buka suara untuk menarik perhatian pembeli. Di depannya, barang-barang seperti mangkuk terbuat dari kaca tampak cantik. Tapi aneh nya, sama sekali tidak ada pembeli yang mendekat.
Dia baru hendak buka suara, tetapi satu orang berjubah hitam dengan caping menghampiri pedagang tersebut. Entah apa yang dibicarakan, tetapi setelahnya orang berjubah tersebut memberikan kantong yang entah berisi apa.
Sekilas pedagang tersebut mengangguk. Tanpa disengaja, pandangan Amdara bertemu. Kedua nya saling diam, tapi Amdara langsung mengalihkan pandangan. Perasaan nya mendadak tidak enak. Bahkan ketika menaiki kapal, dia merasa akan ada sesuatu yang buruk.
"Menghindar!"
Suara Tetua Rasmi menyadarkan Amdara yang sontak menghindar. Debaman cukup besar membuat tanah berlubang. Di sana seorang remaja terbatuk darah.
__ADS_1
Satu remaja lagi sebagai lawan kembali melesatkan serangan berupa cakram. Sangat cepat, sementara remaja yang cukup familiar bagi Amdara itu tidak bisa mengelak.
Tepat sebelum cakram itu menghancurkan tubuh, sebuah pantai es melesat dan menangkan cakram itu. Kontan tindakan nya yang tidak terduga membuat lawan mendelik tajam.
"Sialan! Jangan ikut campur!!" Dia menggeram marah.
Tapi Amdara masih berekspresi sama di balik cadar. Dia melempar cakram ke sembarangan arah. Menatap remaja yang diselamatkannya. Dia yakin pernah melihat orang itu!
Bukan nya mengindahkan umpatan, dia malah mendekat dan menjulurkan tangan sambil bertanya.
"Kau tidak apa-apa?"
Remaja yang mengenakan jubah yang sama dengan Ian. Amdara ingat, dia adalah salah satu Bocah Pengemis, teman Ian.
Remaja itu menatap kebingungan uluran gadis muda bercadar. Tapi detik berikutnya dia mengangguk dan berkata, "terima kasih, Nona."
Dia berusaha berdiri tanpa menerima uluran tangan lawan bicara.
Amdara bergumam, menarik tangan kembali. Lawan teman Ian yang melihat kejadian ini semakin marah dan kembali menyerang ke arah Amdara.
Gadis muda itu sadar, segera mengangkat sebelah tangan. Setelah nya cakram lawan membeku dan jauh begitu saja.
Sementara lawan membelalakkan mata kaget. Padahal dia yakin cakram nya adalah kekuatan besar. Dia memandang cakram yang sudah membeku.
Baik Tetua Rasmi, Shi, dan Cakra juga tersentak atas tindakan Amdara. Ketiga nya menyadari bahwa orang yang menyerang menggunakan cakram mengenakan pakaian khas Akademi.
"Dia murid Akademi Nirwana Bumi."
Shi menahan napas melihat remaja itu. Dia tahu mengenai kekuatan murid-murid dari Akademi tersebut. Tatapannye teralih ke juniornya.
"Mampus. Luffy akan mendapatkan masalah jika terus berada di sana, Tetua."
Shi mulai khawatir. Begitu pula dengan Tetua Rasmi dan Cakra.
Amdara sendiri masih diam, dia sama sekali tidak mengeluarkan kata. Sampai si lawan menatap nyalang.
"Berani-beraninya kau!!"
Dia mengepalkan tangan, kekuatan dahsyat bergejolak dalam dirinya. Bersiap kembali menyerang.
__ADS_1
Seseorang menapak di samping teman Ian. Dia mengenakan jubah juga. "Kau baik-baik saja?"
Teman Ian mengangguk. "Aku baik-baik saja, Ian."
Ian mengangguk. Menyerngitkan dahi melihat gadis bercadar yang telah menyelamatkan teman nya. Dia mendekat, saat berada di samping, tatapan mata biru saling bertemu. Sesaat Ian mengingat seseorang.
Tapi Ian langsung tersadar, lawan sudah mulai memunculkan lebih banyak cakram. Dirinya berkata, "Nona Muda, terima kasih sudah menyelamatkan teman ku. Biarkan kami mengurus urusan kami lagi."
Amdara juga tersadar, dirinya mengangguk dan segera menghampiri Tetua Rasmi yang menarik napas lega.
"Jangan suka ikut campur urusan orang lain. Itu sangat membahayakan dirimu, Nak."
Tetua Rasmi memperingati penuh penekanan. Shi juga langsung mendekat, dan berbicara kesal.
"Kau akan mendapatkan masalah!" Shi berkata, "apa kau tahu siapa remaja itu?"
Amdara mengikuti arah pandang Shi. Tepat ke arah remaja yang melemparkan cakram. Shi menelan ludah dan berucap, "dia adalah murid Akademi Nirwana Bumi. Kau tahu bagaimana kekuatan nya, bukan?"
Amdara terhenyak mendengar penuturan Shi. Dia sama sekali baru mengetahui. Teringat penjelasan Cakra mengenai murid-murid Akademi Nirwana Bumi.
"Tetua, maaf." Amdara sadar langsung meminta maaf pada Tetua Rasmi yang mengangguk.
"Sebaiknya kita lanjutkan perjalanan," ajak Tetua Rasmi yang langsung melesat di ikuti Shi.
Cakra mengangguk ke arah Amdara, dia juga langsung melesat. Amdara baru hendak melesat, tetapi suara murid Akademi Nirwana Bumi itu menarik perhatian.
"Berani sekali kalian kembali. Ciih! Kalian murid buangan sangat tidak pantas menginjakkan kaki di Akademi kami lagi!"
Ian mengepalkan tangan erat mendengar ucapan lawan. Dia maju selangkah dan berkata tanpa gentar, "Hmph. Tidak tahu malu sekali kau, Tan. Walaupun kami murid buangan, tapi setidaknya kami tahu sedikit sopan santun."
"Tutup mulut busukmu, sialan!"
Dia kembali melesat menyerang Ian yang juga tidak tinggal diam. Dalam sekejap, pertarungan berlangsung sangat sengit.
Amdara juga melesat pergi. Dia cukup memikirkan lawan Ian. Seolah dua orang itu pernah mengenal satu sama lain.
Amdara terus terbang mengekor di belakang. Menyusuri kota Pelita ditemani bintang-bintang di angkasa.
Pagi tiba, mereka masih berada di kota Pelita dan akan melewati hutan cukup luas untuk menuju Kota Ujung Bumi, di mana Akademi Nirwana Bumi didirikan, dekat Istana Kekaisaran.
__ADS_1
Saat hendak keluar kota Pelita, Tetua Rasmi pun harus mengurus beberapa hal kepada penjaga kota. Seperti memperlihatkan tanda mengenal dari Akademi. Tujuan nya tentu untuk penjagaan kota. Setelah nya mereka pergi keluar kota Pelita.