Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
200 - Pengungkapan


__ADS_3

"Kau tidak perlu menyembunyikan sesuatu kepadaku, Are."


Bagai ledakkan di dada Are mendengar perkataan Amdara dengan tatapan tajam nan dingin. Bahkan Amdara sekarang sedang menggendong cahaya yang lebih tinggi darinya. Sementara segel pelindungnya sudah pecah berkeping-keping, tetapi ikat rambutnya tiba-tiba saja terbang dengan sendiri dan menghantamkan serangan besar yang sebelumnya sampai terjadi ledakkan.


Tidak ada yang menduga hal ini bahkan Amdara sendiri. Dia menatap sesaat ikat rambut, yang melayang dan kembali ke kepalanya.


Cahaya orange yang digendong Amdara terlihat terkejut. Saat sadar, Cahaya Orange segera turun dan memberikan hormat.


"Maafkan aku, Nona Muda. Aku pantas dihukum atas ketidaksopanan ini."


Amdara mengepalkan kedua tangan menahan kesal. Dia berkata datar, "tidak perlu."


Cahaya Orange tersentak, tapi dia tidak mengatakan apa-apa.


Cahaya Ungu menghampiri mereka melihat hal ini. Dia menunduk, dan langsung bersujud di depan Amdara yang terkejut.


"Maafkan aku sudah membuat keributan di sini, Nona Muda. Aku pantas mati, kau tidak perlu mengampuni diriku yang tidak berguna ini."


Katanya dengan nada bergetar, bahkan tubuhnya juga demikian.


Amdara mendengus dan buka suara, "berdiri."


"T-tapi--"


"Kubilang berdiri."


Aura gelap muncul dari bawah kaki Amdara dan menyelimutinya. Entah dia sadar atau tidak, tapi aura ini membuat Cahaya Orange, Cahaya Ungu, dan Are sendiri yang langsung terduduk lemas merasakan tekanan besar di tubuh mereka bahkan nyaris membuat tubuh meledak.


Are sampai gemetar ketakutan. Ini pertama kalinya merasakan aura mengerikan dari Nona Muda.


"Dia benar-benar anak dari Nyonya. Bahkan aura ini lebih mengerikan dari Nyonya. Tamat sudah riwayatku dan yang lain jika sampai membuatnya benar-benar marah."


Dalam hati dia membatin ketakutan. Bahkan mulutnya saat ini tak mampu bergerak.


"Are, kutunggu kau di istana."


Setelah mengatakan hal tersebut, Amdara menghilang dari pandangan kedua makhluk tersebut yang langsung merasakan keadaan normal. Mereka bernapas lega, entah mengapa yang barusan membuat mereka takut.


"A-apa? Mengapa Nona tidak melenyapkan kita saja?"


Ucapan Cahaya Ungu membuat cahaya di sebelahnya mendelik tajam. Lawan bicara malah memukul kepalanya keras.

__ADS_1


"Tutup mulut baumu! Aura barusan saja sudah membuat dadaku sakit. Aku tidak bisa membayangkan jika dia akan melenyapkan kita dengan kejam."


Kini Cahaya Ungu yang dibuat merinding bertambah takut.


Sementara Are masih menunduk. Entah apa yang sedang dipikirkan. Kedua cahaya menyadari hal tersebut dan menanyakan keadaan Are.


"Kalian pergilah. Aku tahu apa yang akan dilakukan."


Kedua cahaya tersebut hendak menolak, tetapi saat ini perkataan Are adalah sesuatu yang mutlak.


"Apa yang kulakukan ...? Mengapa aku tidak mengatakan langsung kepada Nona Dara? Pembohong. Aku benar-benar pembohong dan pantas mati."


*


*


*


Amdara duduk di singgasana sambil mengusap wajah gusar. Perasaannya memang tidak salah menebak. Di Dark World sedang terjadi masalah.


Dia menatap ke depan, tepat ke arah patung ibunya yang memegang tongkat berbulu putih berkepala naga dan memiliki sayap Phoenix api. Wajah sang ibu nampak ayu ditambah senyum dan rambut bergelombang.


Lirih Amdara sambil menunduk. Dia menghela napas pelan. Tangannya terkepal kuat.


Dia sudah mengetahui nama ibu, bentuk wajah walau melihatnya dari patung di depan, serta beberapa cerita mengenai Dewi yang memimpin Dark World ini. Entah mengapa melihat patung ibunya membuat hati kecil Amdara sedih, sedih belum bisa menemukan ibunya.


Apalagi Amdara pernah menanyakan sesuatu tentang sang Legenda Langit yang kemungkinan dirinya memiliki darah tersebut. Walau informasi tentang kedua orangtuanya masih belum banyak, tapi setidaknya Amdara jauh lebih tenang.


Amdara terdiam, dia tiba-tiba teringat klan Ang yang pernah dikatakan oleh Giba saat di area pertandingan. Amdara menepuk dahi pelan, karena banyak urusan serta masalah yang dihadapi selama ini membuat dia lupa akan hal ini.


"Mn. Setelah ini aku akan pergi mencari tahu tentang Klan Ang."


Are nampak baru tiba, dan langsung terduduk sambil menunduk dalam. Menunggu Amdara mengucapkan sepatah kata.


Suasana di dalam istana mendadak berubah. Amdara mendengus, dan berkata, "kau bisa jelaskan semuanya."


Ucapan Amdara merupakan perintah. Dia menyenderkan kepala ke belakang. Are hanya bisa mengangguk tanpa berani mendongak. Dia mulai menjelaskan dari hal pertama dengan perasaan takut.


"S-sebenarnya tidak lama ini banyak terjadi kasus makhluk seperti kami yang keluar dari Dark World dan tidak kembali. Awalnya kupikir mereka akan kembali sendiri, tetapi salah satu dari mereka yang kembali setelah berbulan-bulan mengatakan bahwa ada manusia yang menangkap mereka."


Are terus menjelaskan dengan jelas.

__ADS_1


"Dia mengatakan bahwa para manusia itu membuat masalah, jadi mereka menyerang tetapi kalah dan berakhir ditangkap. Nona, ini adalah kejadian pertama kali makhluk dari dunia Dark World ditangkap. Dan ... Aku yakin mereka ditangkap dengan alasan tertentu."


Are menelan ludah susah payah. Dengan gemetar kembali berbicara, "j-jika sampai tubuh mereka dilenyapkan maka manusia yang melenyapkan akan mendapat kekuatan sebesar makhluk yang dibunuh."


Ucapan Are bagai petir di siang bolong. Amdara sama sekali tidak mengetahui hal ini. Amdara mengubah posisi duduknya jadi lebih tegak.


"N-nona, yang kau lihat para makhluk yang tidak akur sebelumnya karena marah dan melampiaskan semua kemarahan pada yang lain. Mereka marah bercampur sedih karena teman-teman mereka ditangkap manusia. J-jadi banyak yang datang ke istana dan meminta solusi. Tapi aku tidak bisa memberi perintah, karena aku bukanlah pemimpin." Terjadi jeda beberapa saat. Napas Are terdengar tidak beraturan. Are perlahan mendongak, suaranya bergetar hebat saat berkata, "N-nona, aku khawatir setelah para manusia mengetahui tempat kami, mereka akan berusaha datang kemari dan melenyapkan kami semua."


Jantung Amdara terasa berhenti sesaat mendengar penjelasan detail Are. Dia masih syok untuk saat ini.


Jika sampai banyak manusia yang tahu, mungkin saja mereka akan berusaha mencari tahu Dark World. Walaupun Are dan yang lain dapat menyerang balik, tapi saat salah satu dari mereka tewas, maka lawan akan bertambah kuat dan mudah menghancurkan Dark Wold. Masalah ini bukanlah sepele.


Amdara menatap Are, dia berkata, "Are, tidak perlu menjadi pemimpin untuk memberikan perintah."


Dirinya menghela napas panjang, mencoba untuk menenangkan diri.


"Di saat genting, kau harus bertindak. Hal ini untuk keamanan bersama."


Amdara berdiri, mendekati Are yang masih terduduk menatap Amdara yang tiba-tiba menepuk bahu Are pelan.


"Mulai sekarang, kau yang akan bertanggung jawab atas Dark World."


Ucapan Amdara membuat Are terkejut bukan main. Dia segera bersujud dan berkata, "tidak, nona. Bagaimana bisa saya melakukan hal besar ini? Tanggung jawab Dark World adalah milik Nona Dara."


Amdara berkedip melihat dan mendengar penuturan makhluk di depan ini. Dia mendengus, berjongkok sambil memegang bahu Are agar dia menatapnya.


"Apa kau berniat mengurungku di tempat ini?"


"T-tidak seperti itu, Nona ...."


"Apa kau ingin aku tidak bahagia?"


"Apa? Tentu saja tidak!"


"Dan lalu kau akan membuatku bekerja setiap hari sebagai pemimpin, bukan?"


Are merasakan tubuhnya melemas merasakan aura Amdara yang berubah drastis. Bahkan bahunya terasa sakit saat ini.


Amdara melepas tangan, berdiri dengan tatapan dingin. Dia memunggungi Are.


"Aku akan pergi sekarang." Terjadi jeda beberapa saat. "Untuk menghabisi balik manusia yang menangkap kalian."

__ADS_1


__ADS_2