
Sepanjang perjalanan, Amdara terus dibantu oleh Shi untuk terbang tanpa henti. Walau Shi menawarkan Amdara untuk beristirahat walau sebenak, tapi Amdara selalu menolak dengan alasan mereka harus cepat mencari kediaman Tetua Haki. Sangat berbahaya berada di dalam hutan yang dihuni oleh berbagai siluman dan yang paling berbahaya tentu saja adalah Roh Hitam.
Keberuntungan memang sedang memihak. Selama satu minggu berjalan, tidak ada Siluman dengan umur lima ribuan ke atas yang mereka temui. Yang ada palingan siluman dengan umur seribuan, tapi berombongan. Tentu Cakra dan Shi langsung dapat menghabisinya dengan cepat. Kemampuan mereka memang tidak bisa dianggap remeh dan juga tidak boleh dipandang sebelah mata.
Amdara yang menyaksikan pertarungan mereka dari kejauhan berdecak kagum. Dalam hati dirinya juga ingin segera sembuh dan bisa menjadi lebih kuat sama seperti kedua seniornya.
Berada di hutan melawan para Siluman memang sudah membuat mereka mulai berubah. Baik dari pola pikir maupun tingkah. Dalam perjalanan, Amdara memberi arahan dan juga pemahaman mengenai beberapa tekhnik dasar. Namun, menurut Cakra dan juga Shi, itu bukanlah tekhnik dasar biasa, melainkan sebuah pelajaran yang sangat berharga.
Bahkan Cakra dan Shi belum pernah mendapatkan pengajaran seperti yang dikatakan Amdara. Mereka memuji kecerdasan bocah berambut putih itu.
Shi sempat mengatakan sesuatu yang membuat Amdara terkejut. Shi mengatakan bahwa Amdara memberi arahan seperti seseorang yang sudah lama banyak bertarung. Bahkan bisa dibilang pemahaman Amdara jauh di atas Shi dan juga Cakra mengenai dunia luar. Yah, pengalaman Amdara dalam bertarung memang jauh lebih banyak ketimbang kedua seniornya.
Satu minggu itu mereka tidak makan apa-pun. Cakra apalagi Shi awalnya berpikir di kediaman Tetua Haki akan disediakan banyak makanan, tapi yang terjadi sekarang selama satu minggu ini dia bahkan belum makan. Memang bukan masalah besar, tapi lidah dan mulut Shi perlu berolahraga.
Awalnya Cakra berniat membakar daging siluman yang kaya akan manfaat bagi tubuh, tapi dia urungkan karena dengan aroma dari daging tersebut pasti akan mengundang siluman lain datang menghampiri.
Alhasil mereka tidak makan apa-apa. Dari banyaknya pepohonan lebat di hutan tersebut, mata Shi dan kedua temannya belum menemukan pohon berbuah. Ini sangat aneh. Dan lagi, ketiganya juga tidak menemukan adanya sungai. Tubuh mereka yang sudah dibasahi keringat tentu akan gatal dan juga bau keringat. Tidak mandi selama tujuh hari adalah penyisaan bagi Shi dan kedua temannya yang sangat suka kebersihan.
Amdara menarik napas dalam. Dia sungguh merepotkan kedua seniornya. Berulangkali dia meminta maaf, tapi Shi selalu berkata bahwa dirinya tidak perlu mengatakan maaf karena mereka sudah seperti keluarga kecil. Amdara hanya tersenyum tipis, teringat teman-temannya di Akademi yang entah bagaimana sekarang keadaannya. Namun, Amdara berharap mereka dalam keadaan baik-baik saja.
Keadaan untuk tujuh hari ini di Akademi Magic Awan Langit memang baik-baik saja. Semuanya masih berjalan dengan lancar. Dirgan, Atma, Aray, Rinai, Nada dan juga Inay sudah mulai berlatih dengan benda pusaka yang mereka menangkan tanpa bantuan orang lain. Pelatihan mereka secara otodidak dan juga sendiri-sendiri. Tidak ada yang mengganggu sama sekali.
Mereka mendapatkan pujian dari Guru Aneh dan juga murid-murid lain yang memberikan selamat. Bahkan ada yang mengajak berteman. Keenam bocah itu masih bersekolah dengan baik, seperti biasa.
Saat ada waktu luang, mereka akan berjalan-jalan di Akademi sambil bercerita panjang lebar tanpa memedulikan murid-murid yang menatap aneh.
*
*
*
__ADS_1
"Senior, kau bisa lebih dahulu menggunakan kaki kanan saat hendak terbang."
Perkataan Amdara masih terngiang di kepala Shi. Dijelaskan oleh Amdara, bahwa jika terbang menggunakan kaki kanan yang melangkah terlebih dahulu maka akan lebih cepat dari biasanya. Awalnya Shi tidak memedulikan dan juga yakin hal tersebut tidak akan terjadi. Namun, setelah Shi mencoba dan membuktikan sendiri. Hal diluar dugaan terjadi. Apa yang dikatakan Amdara memang terjadi. Walau pun lesatan saat terbang lebih cepat, tapi tidak menguras kekuatan.
Di perjalanan mereka ternyata banyak menemukan hal baru. Seperti keakraban mereka yang mulai terlihat dan juga rasa saling melindungi dari bahaya.
Walau Amdara belum bisa menghilangkan rasa sakit di tubuh, tapi dia berusaha sebaik mungkin tetap membantu Cakra dalam membuat portal. Tentu dengan penjelasan yang sangat rumit dari sebelumnya. Bahkan Shi yang mendengarnya sampai dibuat menguap beberapa kali sebelum tertidur pulas. Seolah perkataan Amdara adalah dongeng pengantar tidur. Berbeda dengan Cakra yang berusaha keras, tapi tetap tidak bisa melakukannya.
Alhasil, Amdara memberi tekhnik dasar kecepatan. Di saat itu Cakra dalam beberapa hari langsung bisa menerapkannya. Bahkan Shi juga ternyata bisa melakukannya.
Perjalanan mereka terlihat cukup santai walau tidak tahu di mana kediaman Tetua Haki. Cakra sudah terbang lebih tinggi agar bisa melihat sesuatu selain pepohonan. Nyatanya dia tidak bisa melihat apapun selain memang pepohonan dari hutan.
Cakra menghela napas panjang. Dia kemudian turun dan mengatakan hal itu membuat Shi dan Amdara hanya bisa mengembuskan napas. Amdara juga tidak bisa melakukan apa-apa untuk saat ini. Menggunakan portal sangat tidak mungkin karena tubuh Amdara yang masih sakit.
"Kita harus cepat, atau kondisi Luffy bertambah memburuk."
Kata Shi, dirinya tidak memiliki ide apa-pun saat ini. Dia merasa kasihan kepada Amdara yang wajah putihnya bertambah pucat. Amdara sendiri tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Dia hanya berharap agar bisa cepat sampai tujuan.
"Senior, aku baik-baik saja."
Amdara tidak mengerti maksud seniornya ini. Dia diam ketika Shi mulai mengomel kembali, bahkan omelannya jauh lebih panjang daripada Inay dan Aray.
"Senior, lihat itu."
Suara Cakra mengintruksi Shi yang langsung diam dan menoleh ke arah yang ditunjuk Cakra. Matanya terbuka lebar dengan bibir melengkung membentuk senyuman kebahagiaan.
Sebuah pohon besar yang sudah tua berwarna hijau lumut dengan dedaunan yang masih rimbun. Di batang pohonnya, sesuatu berbentuk bulat sebesar kepalan tangan orang dewasa terlihat menggantung dengan warna menggoda yakni merah muda bercampur putih.
Shi membawa Amdara melesat ke sana yang diikuti oleh Cakra. Ketika sampai, tangan kiri Shi mengambil benda yang terlihat seperti buah itu.
"Apa ini buah? Tapi buah apa?"
__ADS_1
Shi membolak-balik benda itu penasaran, menghirup aromanya dan menunjukkannya kepada Amdara ketika dia meminta.
"Mn, sepertinya buah apel."
Amdara mengamati benda di tangan Shi, menghirup aroma yang begitu menggoda. Amdara tidak asing dengan aroma ini, dan juga bentuk apel yang pernah dia lihat di suatu desa Negeri Elang Bulan ketika sedang berburu roh.
Shi menaikkan sebelah alis. Agak tidak percaya dengan perkataan Amdara. Memangnya ada apel yang berbuah di batang pohonnya?! Warna serta aromanya sangat tidak biasa!
"Apa benar ini apel?" tanya Shi pada diri sendiri.
Cakra juga terlihat penasaran. Dia mengambil salah satu buah tersebut dan memerhatikan dengan baik. Sama seperti Shi yang belum pernah melihatnya, dia juga tidak yakin bahwa itu adalah buah apel.
Amdara yang melihat ekspresi Shi dan Cakra, mendengus. Dia mengambil buah apel di tangan Shi, kemudian memakannya. Suara kunyahan Amdara sangat menyegarkan. Bahkan Amdara terlihat sangat menikmatinya. Makan apel ini sudah membuatnya jauh merasa lebih baik.
Shi sampai menelan ludah. Dia menggeleng, hendak mengambil buah di tangan Amdara tapi tangan bocah itu malah menjauh.
"Luffy, cepat ludahkan itu! Bisa saja ini adalah racun!" ujar Shi dengan nada cemas.
Cakra yang melihatnya juga jadi ikutan cemas. Amdara sendiri tersenyum, dia menelan kunyahan apel sebelum buka suara.
Amdara berkata, "ini memang buah apel. Pohonnya sangat sulit di temui di Negeri Nirwana Bumi. Aku pernah memakan buah apel ini di Negeri Elang Bulan."
Shi dan Cakra dibuat tersentak mendengar perkataan Amdara. Keduanya saling pandang sebelum akhirnya mulai memakan salah satu buah itu. Kunyahan pertama, mulut mereka terasa segar. Saat tertelan, rasanya tubuh mereka jadi dipenuhi oleh kekuatan yang segar.
"I-ini luar biasa. Aku merasa seperti hidup kembali!"
Shi kembali memakan buah apel tersebut dengan senyuman lebar. Matanya berbinar-binar ketika memakannya. Begitu pula dengan Cakra yang tidak menyangka itu adalah benar-benar buah yang selama seminggu mereka cari.
Amdara yang melihatnya tersenyum dan lantas menjelaskan, "ini adalah apel yang sudah berevolusi. Jadi buahnya memiliki khasiat."
Khasiat apel ini tentu menambah stamina dan juga membuat kenyang hanya memakan satu buah saja. Amdara juga mengatakan yang dia ketahui mengenai apel yang berbuah pada batang pohonnya.
__ADS_1
Shi berseru semangat.
"Kita harus mengambil semua buahnya! Ini sangat luar biasa. Buah apel ini akan menjadi bekal masa depan--eh, maksudku bekal perjalanan!"