
Hutan di sekeliling kediaman Tetua Haki memiliki tempat para Siluman berbagai tingkat hidup bahkan jenis pepohonan dan tanaman lainnya juga akan berbeda akan tetapi tentu dalam.jarak yang terbilang jauh satu dengan yang lainnya. . Ketika Amdara dan kedua temannya memasuki hutan, mereka berada di sebelah selatan yang notabenenya dihuni oleh siluman-siluman dengan tingkat campuran.
Di sebelah utara, pepohonannya sudah terlihat berbeda, lebih tinggi dan juga dengan beberapa jenis pohon warna hitam keunguan. Sangat berbeda dengan pepohonan pada umumnya. Jenis silumannya kebanyakan adalah siluman yang terbang. Seperti siluman burung elang berkepala empat, siluman serangga berkulit besi, dan sebagainya. Tingkatan siluman di daerah ini rata-rata berumur 20.000 tahunan dan kebanyakan sudah berevolusi. Mereka hidup dengan cara memakan pepohonan dan buah-buahan yang tumbuh melimpah ruah. Tidak ada dari mereka yang saling makan satu sama lain atau menyerang. Daerah ini dihuni oleh para siluman yang masih hidup berkelompok. Jika satu terluka, maka yang lainnya berusaha menyembuhkan.
Ketiga merupakan daerah timur yang tanahnya berbeda sendiri dengan warna merah darah. Tanaman di sana terlihat sudah banyak yang mengering. Tidak ada satu pun buah yang tumbuh walau pepohonan sekitar bertubuh besar. Suara aneh terdengar dari salah satu lubang besar di tanah. Guncangan besar terjadi ketika sesuatu tiba-tiba saja keluar dari lubang tersebut. Seekor siluman semut merah muda dengan banteng di kepalanya terlihat. Beberapa saat lima siluman semut berwarna cokelat muncul dari bawah tanah dengan umur rata-rata 30.000 tahunan dan tentunya kekuatan mereka tidak bisa dipandang remeh. Diaerah timur, kebanyakan siluman hidup di dalam tanah. Mereka juga hidup berkelompok. Tetapi kelompok mereka seringkali bermasalah dengan siluman kelompok lain yang masih berada di dalam daerah tersebut. Sangat berbeda dengan daerah utara yang terlihat harmonis.
Daerah terakhir adalah di sebelah barat, dengan jenis siluman campuran. Kebanyakan mereka berumur sudah mencapai 40.000 tahunan, tapi ada juga yang lebih tua dari itu akan tetapi mereka lebih suka menyembunyikan diri karena tidak ingin terlibat dengan siluman lain. Di sana memang terlihat damai, udara yang berhembus sangat menenangkan. Namun, sebenarnya daerah barat adalah daerah yang sangat rawan akan bahaya. Para silumannya memang tidak bertarung secara langsung, mereka sudah memasuki tahap di mana menyerang dengan menggunakan kekuatan tak terlihat. Jadi di daerah utara pepohonan dan tanamannya masih terlihat utuh tidak terjamah.
Setiap siluman yang hidup di daerah masing-masing tidak pernah saling melukai dan berpindah ke daerah lain entah karena apa. Tidak banyak yang tahu bahwa hutan dikediaman Tetua Haki terbagi menjadi empat daerah dan nyaris tidak ada yang tahu jenis siluman dan bahaya apa saja di setiap daerah terkecuali Tetua Haki sendiri.
Amdara, Shi, dan juga Cakra sudah berpencar. Sekarang Shi tanpa diketahuinya telah berada di daerah timur. Shi menapakkan kakinya di salah satu batang pohon. Dia mengerutkan dahi melihat ke anehan pepohonan di sekitar. Apalagi tanah merah darah yang membuatnya semakin penasaran dengan hutan ini. Dia baru saja hendak turun, tetapi matanya terkunci pada salah satu lubang besar yang tiba-tiba saja bergerak tidak tentu arah. Sesaat kemudian seekor siluman cacing dengan ukuran nyaris tiga rumah bertingkat dua muncul.
__ADS_1
Shi memelototkan mata, napasnya terhenti saat itu juga melihat siluman cacing berwarna merah muda sedang menggeliat. Bahkan mengakibatkan tanah disekitar retak secara besar-besaran. Siluman Cacing itu memiliki tanduk satu berwarna hitam. Disetiap tubuhnya, seperti ada bekas cakaran berwarna orange. Siluman Cacing itu sudah berumur 33 tahun dan sudah berevolusi terlihat dari wajahnya yang berwarna putih bercampur merah.
Shi yang melihatnya menelan ludah kesulitan. Tubuhnya lemas seketika melihat Siluman itu. Apalagi siluman ular terus menggeliat. Bukannya Shi merasa takut, akan tetapi dia merasa geli sendiri dengan tubuh berwarna merah muda itu. Shi ingin pergi, tetapi sebuah hantaman mengenai pohon yang dipijaknya membuat Shi terkejut. Beruntung dia cepat tanggap dan langsung menghindar.
Sebuah desisan terdengar memekakkan telinga. Pandangan Shi beralih ke Siluman Semut Berwarna Merah Muda dengan umur 35.000 tahun bersama lima Siluman Semut lainnya. Shi terjatuh, dia rasanya menjadi semut di antara siluman dengan tubuh besar dengan kekuatan lebih kuat darinya.
Tanah terasa seperti diguncang hebat akibat pergerakan dari keenam Siluman Semut yang berjalan cepat ke arah Siluman Cacing yang juga langsung mengambil sikap menyerang. Shi masih saja terduduk dengan lutut menyentuh tanah. Dengan mata kepalanya sendiri menyaksikan pertarungan antara siluman-siluman kuat itu.
Pepohonan ini berbeda dari pohon yang pernah dia lihat. Baik dari segi warna maupun bentuknya yang menurutnya sedikit aneh. Cakra mengeluarkan petir, meledakkan pohon di sampingnya untuk menyelesaikan rasa penasarannya. Dia kira pohon ini akan menyemburkan air seperti pohon yang dia temui. Namun, yang dia lihat sekarang adalah batang pohon itu malah menyemburkan cairan berwarna coklat. Aroma khas dari cairan itu membuat Cakra langsung mendekat.
Dia mengambil cairannya, menghirup aroma lezat yang terkandung. Masih penasaran, Cakra menjilat sedikit cairan itu. Dia terdiam dengan matanya yang menatap cairan coklat di tangannya. Sebelum dia mendengus dan menyapu pandang kembali. Di daerah ini memang banyak sekali buah-buahan. Cakra mengambil salah satu buah yang tumbuh di tengah-tengah bunga anggrek. Buah itu berbentuk segi empat, sebesar kepala manusia dengan warna putih. Dari aromanya sangat enak. Saat Cakra hendak memakan buah itu, sesuatu melesat dan mengambil buah di tangannya dengan kecepatan tinggi bahkan Cakra sendiri tidak sempat merespon.
__ADS_1
Sebuah bulu coklat putih mendarat tepat di tangan Cakra. Dia segera melihat ke atas di mana sesuatu baru saja mengambil buahnya. Cakra menahan napas melihat seekor burung kecil berubah menjadi Siluman dengan ukuran lima kilo meter. Burung itu mengepakkan sayap, terbang ke langit sambil mengeluarkan suara khasnya.
Cakra segera terbang mengikuti siluman burung barusan karena berpikir dia akan mengambil permata siluman itu dengan mudah. Sayangnya harapan itu pupus ketika dia melihat sarang burung begitu besar dengan dua siluman burung elang sedang memakan buah-buahan dengan jumlah sangat banyak.
Bukan hanya itu, Cakra juga melihat banyak siluman burung sedang terbang bebas di langit. Cakra menelan ludah, wajah tanpa ekspresinya sedikit berubah melihat pemandangan ini. Dia tidak pernah melihat siluman burung begitu banyak. Tapi sekarang matanya dapat melihat hal tersebut.
Hal baru juga dialami oleh Amdara. Dia menarik napas lega karena belum bertemu salah satu siluman. Dirinya terus terbang mencari mangsa. Sesekali pandangannya menoleh ke belakang merasa ada seseorang yang sedang mengikuti. Tanaman di sini ternyata cukup unik dan mengeluarkan warna berbeda. Mata bocah itu terpaku ke salah satu tanaman yang merambat ke pohon dengan bunga berwarna putih. Dengan daun hitam dan merah muda menyala. Bunga itu sudah mencuri pandangan Amdara. Sangat indah hingga membuatnya tanpa sadar memetik bunga tersebut.
Amdara tersentak dan secara tiba-tiba melepas bunga tersebut ketika tangannya terasa perih sampai mengeluarkan darah. Amdara berusaha menghentikan aliran darah dan luka luar di tangan menggunakan kekuatan, akan tetapi tiba-tiba angin berhembus terasa berbeda, seperti ada aura menekan sedang mengarah ke arah dirinya.
Amdara segera membuat portal dan masuk ke dalamnya ketika sesuatu yang amat besar nyaris menimpanya.
__ADS_1