
Ada beberapa adegan yang tidak dikatakan secara jelas agar tidak melanggar aturan. Mohon bijak ketika membacanya.
*
"Luffy?! Kau kah itu?! Huhuhu."
Rinai membuat pahanya sebagai bantal Amdara agar bisa berbaring. Amdara diam tidak merespon membuat Rinai dan Nada semakin cemas.
Nada membuka cadar Amdara, terlihat wajah yang pucat dan darah yang mengalir dari mulut.
"Bagaimana ini? Khakhaa. Dia hampir tewas."
Rinai menepuk-nepuk pelan pipi Amdara. Sementara Nada yang terbiasa tertawa di saat seperti ini jika orang lain yang mendengar pasti mengira bahwa Nada senang atau kurang aj*r.
"Huhuhu. Luffy, kau jangan tutup matamu." Rinai mengusap wajah Amdara yang terkena darah.
Kekhawatiran semakin menjadi, Amdara yang tidak seperti biasanya itu hampir menutup mata. Nada memeluk boneka erat lalu berkata, "khakhaa. Aku akan memanggil seseorang untuk membantu. Kau jaga dia agar tidak menutup mata. Khakhaa."
Sebelum Rinai menjawab, Nada telah berlari dengan tubuh lemas. Dia takut terjadi sesuatu yang buruk. Entah apa yang terjadi pada teman barunya itu sampai di keadaan seperti sekarang.
Dalam lubuk hati Nada dan Rinai mengutuk diri sendiri yang tidak berguna di saat seseorang membutuhkan bantuan. Mereka kesal, mereka sedih pada diri sendiri. Andai bisa menggunakan kekuatan, tak mungkin keadaan Amdara yang semakin memburuk.
Dada Amdara terasa kian sesak. Sesuatu yang dia rasakan, berada di inti spiritualnya. Dia hanya merasakan kekuatannya yang amat sedikit. Tubuhnya semakin lemas. Senior Fans memang telah menyembuhkan luka luar, tetapi tidak dengan luka dalam. Amdara yang saat ini tidak tahu apakah yang membuatnya sampai seperti ini. Antara serangan nyasar Fusi atau Benang Merah yang mulai merambat di inti spiritualnya.
Yang Amdara dengar adalah suara bocah yang dia kenali. Seorang teman yang dia khawatirkan selama tiga hari. Seseorang yang tengah mengalirkan air mata sambil memanggil namanya. Tepukan pelan di pipi, dan tangis yang samar-samar tidak terdengar. Ingin sekali Amdara berbicara walaupun sepatah kata, tetapi mulutnya terasa kelu. Tenggorokannya sakit. Dia tidak berdaya saat ini. Kesadarannya mulai menghilang saat Nada semakin keras menepuk pipinya.
Jauh dari hutan pertemuan Amdara, Rinai dan Nada. Senior Fans masih bertukar serangan dengan Fusi. Sejak mengetahui tujuan Fusi untuk memakan Amdara membuat Fans naik pitam.
Ada orang yang menggunakan jurus terlarang untuk menambah kekuatan. Seperti meminum darah orang yang lebih kuat dengan sebuah tekhnik, atau seperti yang dikatakan Fusi dirinya menggunakan anak kecil untuk menambah kekuatan.
Sejak terakhir Fusi berbicara, Fans diam sama sekali tidak menanggapi. Dia terus melancarkan serangan. Lawan cukup kuat, hingga semakin lama dirinya mengeluarkan kekuatan cukup banyak. Walaupun di wajah Fans terlihat biasa saja, tetapi sebenarnya dia tengah mengatur napas dan mengontrol diri. Beberapa serangan mengenai dirinya, Fans terpental sejauh lima belas meter.
"Haha~apa ini batas kemampuanmu, Tampan?"
__ADS_1
Fusi tertawa, dia melambai-lambaikan selendang hitamnya penuh percaya diri. Di selendangnya, darah mengalir. Jelas, darah tersebut milik Fans.
Fans terbatuk, dia menelan kembali darahnya. Agar terlihat baik-baik saja. Dirinya mengepalkan tangan dan kembali melesat. Kali ini Fans akan mengeluarkan jurus andalan ketika melawan Roh Hitam.
Lesatan putih dengan kecepatan tinggi membentuk elang menerjang Fusi dari arah atas. Fusi membelalakkan mata sebelum dirinya mengeluarkan jurus terbaik.
Debaman keras kembali terjadi. Kali ini Fusi dan Fans sama-sama terpental, mereka mengalami luka serius dari luar maupun dalam. Namun, nyawa mereka masih ada.
Di sisi lain, Aray baru saja terjatuh akibat serangan dahsyat. Saat ini dirinya, Daksa dan Padma berada di lapangan latihan. Entah bagaimana Aray berhasil membawa kedua lawan ke area lapangan yang kini menjadi pusat perhatian. Terlebih Aray yang terkenal sama sekali tidak bisa mengeluarkan kekuatan sekarang tengah bertarung sengit. Sama sekali tidak ada yang menghentikan, penonton hanya berpikir mereka sedang berduel untuk mengasah kemampuan.
Daksa dan Padma sama terkejutnya, melihat kemampuan Aray yang cukup merepotkan. Mereka tidak tahu bagaimana Aray akhirnya bisa mengeluarkan kekuatan dan sampai bertarung sengit. Rasanya berbeda saat bertarung dengan Amdara, atau murid lain. Aura yang terpancar dari Aray cukup membuat Padma dan Daksa menelan ludah susah payah. Seperti ada tekanan yang membuat mereka lemas.
Udara dingin terbelah ketika Aray melesat cepat ke arah Daksa dan Padma yang langsung membuat perisai pelindung.
Petir penyambar ketika kekuatan Aray melesat ke arah perisai pelindung yang dibuat kedua lawan. Debaman keras terdengar, asap mengepul di udara.
"Kalian harus diberi pelajaran." Mata Aray menajam. Di tangannya bola hitam kembali dilesatkan. Kali ini dirinya melakukan serangan beruntun bahkan sebelum Daksa dan Padma belum bereaksi.
Blaaar!
Para penonton yang melihat kekuatan dahsyat langsung menghindar dan membuat perisai pelindung. Getaran pada tanah membuat Guru Aneh yang tengah berjalan santai di hutan buatan tersentak. Dia merasakan kekuatan tidak asing. Kekuatan yang selama ini dia bantu kontrol. Dengan cepat Guru Aneh melesat ke arah debaman keras terdengar.
Ketika serangan benar-benar Aray lesatkan, sesuatu tak terduga terjadi. Seseorang dengan kecepatan tinggi langsung menendang dadanya. Kekacauan terjadi. Kekuatan besar yang Aray lesatkan terdengar bertabrakkan dengan kekuatan lain entah siapa. Angin kejut tercipta saat itu juga membawa debu berterbangan.
Aray terpental menabrak gedung sekolah sampai retak parah. Dia terbatuk darah, merasakan sakit di dadanya akibat tendangan seseorang.
Guru Aneh yang melihat kejadian barusan tak sempat menghentikan. Dirinya langsung terbang ke arah muridnya.
"Aray." Guru Aneh membantu Aray agar duduk. Dia merasakan kekuatan Aray yang tidak beraturan. "Tenangkan dirimu. Cobalah serap kekuatan alam perlahan, lalu kau sembuhkan luka dalam menggunakan kekuatan tersebut."
Bukannya Guru Aneh tak ingin membantu, tetapi dia juga harus mengajari hal-hal seperti ini. Agar nantinya kejadian seperti saat ini dapat diatasi sendiri.
Aray mengatur napas. Dia kembali memuntahkan darah segar dari mulutnya. Dirinya mencoba melakukan seperti yang dikatakan Guru Aneh. Perlahan tapi pasti, Aray merasakan kekuatan alam yang masuk ke dalam tubuh. Sementara Guru Aneh hanya membantu mengatur aliran darah Aray yang sebelumnya berantakan.
__ADS_1
"Apa kau merasa lebih baik, Nak?"
Aray mengangguk pelan. Dia mengusap darah di bibir menggunakan punggung tangan.
Tatapan Guru Aneh beralih ke seseorang yang masih terbang dan menatap dia pula. Guru Aneh mendudukkan Aray pelan sebelum dia terbang menghadap orang yang menendang Aray.
"Apa kau berniat membunuhnya?!"
Mata Guru Aneh menajam. Sementara lawan menatap datar, terlihat angkuh dan dengan nada sinis berkata, "harusnya pertanyaanmu diberikan pada bocah itu."
"Seharusnya guru Ghana bisa menangkis serangan Aray tanpa melukainya!"
Benar. Orang yang telah menendang Aray adalah Guru Ghana. Guru Aneh mengepalkan tangan, nampak kesal tetapi dia mencoba menahan amarah. Terlihat banyak murid yang melihat, jelas baru saja Guru Aneh membuat perhatian yang tidak baik.
"Mn? Hei, kau pikir kekuatan muridmu bisa melukai muridku?" Guru Ghana tersenyum meledek. "Sudahlah. Lagi pula dia tidak lenyap. Jika kau memang berniat menunjukkan kekuatan baru muridmu itu, kau bisa lakukan saat pertandingan antar kelas."
Pertandingan antar kelas akan diadakan tidak lama lagi, sudah banyak yang tahu bahwa Kelas Satu C selalu kalah paling pertama. Tentu bukan masalah itu Guru Aneh cemas, tetapi sekarang dia mencemaskan keberadaan Amdara, Inay, Atma, Dirgan, Rinai dan Nada. Sebenarnya mereka di mana?!
Di sisi lain, Amdara baru saja dibawa susah payah oleh Rinai dan Nada yang tidak melihat siapa pun di hutan itu. Di sebuah gubuk yang hampir roboh, di atas dipan Amdara dibaringkan. Wajahnya pucat.
Atma yang melihat keadaan Amdara dibuat khawatir. Dia mencari keberadaan Inay dan Dirgan yang ternyata mereka di atas pohon yang jauh. Entah bagaimana Inay melawan wanita yang hampir merenggut nyawanya, dia sekarang berada di sisi Amdara dengan jantung berdetak kencang.
"Apa? Apa yang harus kulakukan?!" Inay menangis. Dia hanya bisa menyembuhkan luka luar.
Tangisnya membuat teman yang lain turut khawatir. Bagaimana pun juga, mereka hanyalah anak-anak. Masih membutuhkan orang dewasa untuk menunjukkan jalan.
"Kenapa kau tidak bisa menyembuhkannya?!" Atma mengguncang tubuh Inay.
Dirgan menggeleng. "D-dia pasti akan baik-baik saja. A-aku yakin. Dia a-anak kuat." Dirgan memegang tangan dingin Amdara.
Rinai semakin kencang menangis. Bahkan Nada pun kali ini meneteskan air mata. Atma terus memaksa agar Inay menyembuhkan luka dalam Amdara agar cepat sadar. Tetapi berulangkali Inay mencoba, dia sama sekali tidak bisa melakukan apa pun. Inay menyentuh titik nadi di lengan Amdara, sejenak dia menghentikan tangis. Dirinya menahan napas sebelum dadanya kembali sesak dengan buliran air mata.
"N-napasnya ...."
__ADS_1