
"Ayah, ibu ... aku ... maaf." Amdara menelan ludah kesulitan. Dia semakin menunduk. Karena seringnya berlatih dan berburu Roh Hitam membuatnya melupakan hal yang sangat penting.
Melihat perubahan di wajah Amdara membuat Tetua Widya mengerutkan kening. Saat sadar dirinya menepuk dahi sendiri. "Aku lupa. Bocah ini berasal dari Negeri Elang Bulan, datang mencari kedua orang tuanya."
Tetua Widya berdehem, pasti bocah di hadapannya sedang sedih sekarang makanya menurunkan pandangan. Dengan perasaan bersalah, dia berkata, "maaf sudah menyinggung kedua orang tuamu, Nak."
Amdara masih diam. Dia menarik napas berat, sebelum mengangguk dan mengatakan dirinya baik-baik saja walau itu adalah kebohongan besar bagi hatinya. Amdara mendongak, menatap Tetua Widya dalam. Tiba-tiba terlintas suatu pikiran yang langsung diutarakan kepada Tetua Widya.
"Tetua, apa kau pernah melihat wajah yang mirip denganku?"
Pertanyaan tidak terduga itu membuat Tetua Widya tersentak. Dia menatap mata biru langit lawan bicara lekat. Wajah cantik, berambut putih, nyaris sempurna. Tetua Widya menggeleng. Tidak pernah melihat wajah ini di kehidupan sebelumnya.
Respon yang diberikan Tetua Widya membuat Amdara kembali menurunkan pandangan sedih. Padahal sudah satu tahun lebih Amdara berada di negeri ini, akan tetapi dia belum menemukan informasi lain tentang kedua orangtuanya.
"Nak, kau pasti menemukan mereka."
Suara Tetua Widya membuat Amdara mendongak. Senyuman hangat terbit di wajah wanita itu. Dia bersuara kembali, "kau harus lebih keras mencari mereka. Yakinlah, kalian pasti akan dipertemukan."
Melihat senyuman hangat dari Tetua Widya sontak Amdara tersenyum tipis. Dia mengangguk mengerti. Benar yang dikatakan Tetua ini, Amdara hanya butuh kerja keras untuk mencari mereka. Suatu saat nanti pasti takdir mempertemukan.
Amdara hampir melupakan tujuannya datang kemari. Dia langsung bertutur saat mengingatnya, "Tetua, apa besok kita akan melanjutkan perjalanan?"
__ADS_1
Tetua Widya mengangguk, "benar. Jadi malam ini kau harus beristirahat dengan baik. Selanjutnya kita membutuhkan kekuatan besar untuk melesat dengan cepat agar menyingkat waktu."
Berbicara terbang dengan cepat, Tetua Widya jadi teringat Amdara yang sudah menguasai teknik dasar kecepatan. Dia menanyakan metode apa yang digunakan bocah ini untuk berlatih, dan beberapa hal lagi dirinya jelaskan.
Sampai sore datang, keduanya masih mengobrol hal-hal yang cukup penting.
Amdara baru kembali ke kamar setelah malam tiba. Setelah membersihkan diri, dirinya mengambil sikap tidur di atas tempat tidur yang empuk. Memejamkan mata untuk menenangkan pikiran walau sejenak. Banyak hal yang terjadi selama dia berada di Negeri Nirwana Bumi, banyak pula pengalaman dan pembelajaran yang diambilnya. Amdara memang tertidur, tapi dia membuat perisai pelindung di kamar tersebut agar tidak ada yang mengganggunya.
Malam itu, terasa begitu cepat berlalu. Sang mentari pagi buru-buru menampakkan diri untuk menyinari cakrawala. Membawa kehangatan bumi akan tetapi si awan gelap di atas sana menghalangi. Nampaknya akan terjadi hujan di pagi hari.
Angin yang berhembus terasa dingin menusuk tulang. Di luar penginapan, beberapa orang memang masih beraktivitas dengan membuat perisai pelindung untuk melindungi diri dari hutan yang turun.
Sementara di dalam penginapan, di lantai bawah. Orang-orang sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Dingin-dingin seperti ini memang sangat bagus makan sesuatu yang menghangatkan tubuh.
Tetua Widya sejak tadi memperhatikan bocah di depannya yang mengubah warna rambut, dan mengenakan topeng kucing hitam. Kali ini bocah itu melubangi topengnya di bagian mulut agar dirinya bisa menikmati hidangan hangat di meja.
Tetua Widya menggelengkan kepala, senyuman tipis terbit di wajah cantiknya. Dia berkata, "haih, kau ini seperti sedang menyamar."
Amdara yang baru menyeruput teh, dibuat berkedip dengan ucapan Tetua Widya barusan. Dirinya meletakkan cangkir, dan menghela napas.
"Lebih tepatnya mengantisipasi kejadian memalukan."
__ADS_1
Perkataan Amdara sontak membuat tawa Tetua Widya pecah. Dia bahkan sampai kembali menggeleng-gelengkan kepala. Mengingat bagaimana Amdara yang dikira 'laki-laki' oleh orang-orang. Setelah mengenal cukup lama bocah di hadapannya, Tetua Widya merasa Amdara tidaklah sekejam dan secerewet yang pernah dirinya lihat seperti saat berdebat. Amdara seperti sosok yang bisa menjadi apa-pun sesuai yang diinginkan.
Tetua Widya mulai memakan sop daging yang masih mengepul. Dia meniupnya perlahan dan memasukan sup tersebut ke dalam mulut menggunakan sendok. Melirik Amdara yang juga sedang menyumpit nasi ke mulut. Topeng kucing hitam yang dikenakan Amdara mulai membuat Tetua Widya mengingat suatu kejadian. Di mana di acara penyambutan Tetua Besar Moksa, seorang bocah menabrak dan dia menggunakan topeng kucing yang sama persis seperti yang digunakan Amdara sekarang.
"Aku seperti pernah melihat topeng kucing ini. Luffy, apa kau bocah yang menabrak Tetua Besar?"
Nyaris saja Amdara tersedak nasi mendengar ucapan Tetua Widya. Dia segera mengambil minum dan menenangkan diri. Melirik ke arah Tetua Widya yang sedang menatap curiga. Amdara melupakan hal memalukan lainnya. Dia berdehem sebelum menjelaskan.
"Bagaimana Tetua berpikir itu aku?"
"Mn? Aku hanya bertanya. Topeng kucing hitam ini sangat mirip. Dan jika aku perhatian baik-baik kau memang seperti bocah itu."
"Bukankah salah satu aturan Akademi tidak boleh menuduh orang?"
"Haih, aku tidak menuduhmu. Aku tahu banyak pedagang topeng. Tapi mengapa kau memilih topeng kucing hitam ini? Bukankah gadis cantik seharusnya tidak perlu menutupi wajahnya? Sementara kau ... haih. Tsk. Lupakan. Kau pasti memiliki banyak alibi untuk menyerangku."
Tetua Widya mengedutkan bibir atas. Cukup kesal karena selalu kalah dalam bersilat lidah dengan Amdara. Dirinya menghela napas panjang dan mengatakan, "sudahlah. Cepat habiskan makananmu. Kita akan langsung melanjutkan perjalanan."
Sementara Amdara menarik napas lega. Hampir saja ketahuan bahwa bocah yang menabrak itu adalah dirinya. Dia mengangguk dan segera menghabiskan makanan.
Setelah selesai, keduanya melesat pergi untuk melanjutkan perjalanan. Walau rintik-rintik hujan sudah turun. Akan tetapi mereka tidak bisa lagi menunda perjalanan yang masih sangat panjang. Menggunakan perisai pelindung, mereka terbang tanpa khawatir basah karena air hujan.
__ADS_1
Sama sekali tidak ada istirahat, setelah terakhir kali beristirahat di penginapan. Bahkan Amdara dan Tetua Widya sama sekali tidak berniat makan. Mereka bisa menggunakan kekuatan untuk mengganjal lapar di setiap saat. Ini juga bentuk latihan yang diberikan oleh Tetua Widya kepada Amdara.
Hari-hari berlalu sampai tempat yang dituju akhirnya terlihat. Dalam jarak satu kilometer, desa Igir terlihat sangat tenang di malam hari ini. Tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan. Yah, itu yang terlihat dari luar. Berbeda jika masuk ke dalam desa.