Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
19 Guru Aneh


__ADS_3

Jurus berbahaya di larang dalam sekolah kecuali untuk melawan musuh yang sulit dihadapi dan jika Padma menggunakan jurus dari klannya yang terkenal berbahaya maka bocah itu memang memiliki kekuatan yang hebat. Pendapatnya membuat teman Bena yang awalnya menginformasikan hal buruk malah jadi tersedak napasnya sendiri.


Padma mengepalkan tangan dan menatap kesal pada Daksa karena telah mengatakan dirinya menggunakan jurus itu di hadapan para senior. Daksa menggaruk kepala yang tidak gatal, niatnya hanya menambah rasa benci para Senior ini pada Amdara tetapi sekarang malah sebaliknya.


Kenes yang dari tadi hanya diam nampak mengembuskan napas. Pikiran dia sekarang tertuju pada Amdara yang sekarang tengah mengigit bibir bawah menahan rasa sakit.


Di tempat Guru Aneh, di ruangan dengan nuansa merah dan corak rubah. Seorang bocah terbaring lemas tidak berdaya, Inay telah memperban perut dan luka pada yang lain.


"Api itu bukan api biasa, akan sulit bagimu menyembuhkannya sendiri." Guru Aneh tahu tubuh Amdara yang istimewa tidak bisa sembarangan disalurkan kekuatan. Bahkan Guru Aneh pun tidak bisa menyalurkan kekuatan.


Sekarang yang bisa dilakukan Guru Aneh adalah menjaga aliran darah dan luka luar Amdara secara perlahan.


"Guru, sebenarnya api apa yang kau maksud?"


Aray tentu terkejut ketika Guru Aneh membawa pulang Amdara dalam kondisi kritis. Ditambah penjelasan yang begitu singkat dari Inay membuat Aray bertambah penasaran. Dirinya hanya diberitahu oleh Guru Aneh akan ada duel antara Bena dan Amdara.


"Api yang dikeluarkan Bena adalah jurus Api Keabadian." Guru Aneh menarik napas sebelum melanjutkan perkataannya. Terasa berat saat mengatakan hal ini tentu ada sebuah alasan. "Api Keabadian umumnya akan sulit diatasi. Bukan hanya rasa panas yang menjalar seluruh tubuh tetapi juga kerusakan pada organ tubuh."


Guru Aneh menjelaskan lagi bahwa Api Keabadian milik Bena memiliki sudah mencapai tingkat menengah yang mana sangat membahayakan nyawa. Guru Aneh tidak tahu apa yang akan terjadi jika yang mendapatkan serangan ini bukanlah Amdara dengan tubuh istimewa. Api Keabadian Bena hanya akan padam dengan kekuatan yang setara.


Untuk menghilangkan rasa sakit yang dialami Amdara sekarang hanya dengan kekuatan sendiri, penyembuhan total akan memakan waktu cukup lama tergantung proses pengobatannya. Jika sampai gagal, bukan mustahil nyawa yang akan melayang dan jika hal itu sampai terjadi Guru Aneh akan sangat menyesal karena tidak menghentikan pertandingan itu.


Amdara masih merasakan panas dan rasa sakit luar biasa pada seluruh tubuh. Aliran kekuatan murni terus masuk dan mulai terserap, memproses penyembuhan luka dalam.

__ADS_1


"Guru, lalu apa kita hanya akan menunggu Luffy menyembuhkan diri sendiri?!" Inay tidak tega melihat wajah pucat Amdara. Ekpresinya tidak banyak berubah tetapi Inay tahu Amdara sedang menahan sakit.


Guru Aneh mengembuskan napas. "Ya, tidak ada cara lain."


Mendengar hal itu membuat Inay kembali menangis, tubuh Amdara ini sebenarnya keuntungan atau kekurangan?


Aray mengepalkan tangan kuat, dia merasa sedikit kagum melihat Amdara yang tidak menangis di saat seperti ini padahal umurnya begitu muda. Aray juga merasa kasihan pada bocah berambut putih itu yang menahan sakit sendiri.


"Kau memalukan. Yang kesakitan dia, tetapi kau yang menangis. Ck."


Aray menatap sinis Inay, tetapi Inay tidak peduli. Dia sangat mengkhawatirkannya Amdara saat ini.


Waktu malam tiba, tetapi Amdara belum juga menyembuhkan rasa sakitnya. Dia memejamkan mata beberapa saat mengontrol kekuatan yang mengalir menyejukkan tubuh, tulangnya terasa tidak sakit tetapi rasa panas pada tubuh belum juga pulih.


Guru Aneh cukup kagum pada Amdara yang bisa menahan rasa sakit sampai sekarang tanpa menangis. Aliran kekuatan yang sejak siang mengalir, dapat dirasakan Guru Aneh. Guru Aneh tahu bahwa Amdara dari negeri sebelah yang mana seharusnya tidak bisa menyerap kekuatan di negeri Nirwana Bumi begitu saja. Bakat luar biasa Amdara lagi-lagi membuat Guru Aneh takjub.


"Mn,"


"Coba kau ubah kekuatan murni itu ke elemen air milikmu untuk menghilangkan panas. Gunakan pada seluruh tubuh perlahan lalu buang aura panas itu keluar."


Penjelasan Guru Aneh barusan langsung dilakukan Amdara. Awalnya dia kesulitan, tetapi perlahan kekuatan elemen air miliknya langsung berpindah tempat seluruh tubuh rasa sejuk dan nyaman mulai terasa. Aura panas pada tubuh perlahan Amdara buang melalui pernapasan.


"Kenapa kau tidak mengatakan itu sejak awal?"

__ADS_1


Pertanyaan Aray tepat menusuk dada Guru Aneh. Guru Aneh berdehem untuk menghilangkan rasa gugup. Dia juga baru mengingat teknik ini. Yah, memang ketika mengkhawatirkan sesuatu sulit berpikir jernih.


Inay menggelengkan kepala mendengar ucapan Guru Aneh. Mendengar penjelasan Guru Aneh, dirinya yakin Amdara akan baik-baik saja.


Amdara membuka mata, perasaannya jauh lebih baik sekarang. Tubuhnya seperti dialiri kesejukan, dan kenyamanan. Rasa sakit dan panas sebelumnya menghilang. Tubuh Amdara benar-benar luar biasa! Regenerasinya diluar orang seperti Guru Aneh. Guru Aneh menghentikan menyalurkan kekuatannya untuk menjaga aliran darah saat merasakan kekuatan begitu besar pada tubuh Amdara yang stabil.


"Apa kau merasa lebih baik?"


Amdara mengangguk sebagai jawaban. Guru Aneh mengembuskan napas lega. Inay langsung memeluk Amdara dan menangis tersedak-sedak, sementara Aray menatap sinis Amdara.


Malam itu, Guru Aneh duduk dengan perasaan gelisah. Di depannya ada Inay dan Aray yang menatap kebingungan. Sementara Amdara istirahat di ranjang.


"Aku sebenarnya tidak yakin akan menceritakan ini pada kalian."


Aray dan Inay tidak tahu bagaimana ekspresi Guru Aneh saat ini karena tertutup topeng. Entah mengapa suasananya mulai tegang.


"Setelah kemenangan Luffy, pasti akan ada sedikit masalah pada kalian. Secara kelas kita diberi gelar Kelas Terbuang, bisa saja Luffy dan Inay akan ditarik ke kelas A atau B," jelas Guru Aneh tanpa ragu. Dia juga telah mengetahui kekuatan Inay. Dan mengenai kekuatan Aray yang telah aktif, yang lain belum mengetahuinya kecuali Guru Aneh sendiri dan Amdara.


"Tsk. Apa mereka akan menarik semua murid yang memiliki bakat dan membiarkan Kelas C jadi kelas paling buruk lagi?"


Pertanyaan Aray membuat Guru Aneh tersenyum kecut. Dirinya tahu ini akan terjadi dalam waktu dekat. Apalagi Guru Ghana telah melihat kemampuan Amdara di usia begitu muda, pasti Guru Ghana akan menjadikan Amdara muridnya. Namun, satu hal yang membuat Guru Aneh bingung. Mengapa Guru Kawi memasukkan Amdara dan Inay setelah melihat kekuatan mereka? Guru Aneh masih menebak-nebak apa yang direncanakan Guru Kawi dan Tetua Haki.


"Yang benar saja, guru! Aku tidak mau pindah kelas!"

__ADS_1


Inay menggeleng dan menolak mentah-mentah jika benar dia dan Amdara ditarik kelas lain. Inay masih mengingat cerita Amdara.


"Dengarlah, apapun keputusan Tetua, kalian ikuti saja."


__ADS_2