
Serangan tak terduga dari Giba membuat terkejut semua yang melihatnya. Dahsyat. Debaman keras terdengar. Hancur sudah arena pertandingan dibuat. Asap orange kemerahan nampak mengepul di udara.
Tidak ada yang melihat kondisi Amdara saat ini. Para penonton berpikir Amdara tak mungkin lolos dari serangan barusan. Amdara pasti sudah terluka parah.
Kegaduhan terjadi. Mereka tak menyangka Giba bisa melesatkan serangan dahsyat. Jika begini maka lawan memang kuat dan bisa dikatakan sebanding.
Kelompok kelas satu C dan para peserta lain membelalakkan mata dan langsung membuat perisai pelindung ketika Giba melesatkan serangan tak terduga. Serangan dahsyat Giba saja dari kejauhan sudah sangat terasa. Entah bagaimana nasib si rambut putih itu.
"Luffy ...!"
Aray dan Inay berteriak bersamaan di detik-detik serangan melesat tetapi Amdara sama sekali tidak berkutik dari tempat. Arau yang baru akan melesat dicekal oleh Dirgan yang terus menenangkan. Begitu pula dengan Inay yang ditarik Rinai dan Nada.
Kecemasan dan kekhawatiran terpampang jelas di wajah kelompok ini. Guru Aneh sampai dibuat menahan napas, dia berdiri dan mengepalkan tangan. Tak bisa berbuat apa-apa karena ada peraturan yang dibuat oleh wasit.
Asap kemerahan mulai memudar. Orang yang melesatkan serangan nampak memuntahkan darah tetapi tersenyum senang dan yakin serangan barusan tidak bisa dihindari lawan. Mata Giba menatap ke depan, yang awalnya senang namun seketika membuka mata lebar ketika seseorang berdiri di depan panggung arena melindungi seorang yang seharusnya Giba lukai.
"A-apa?!"
Asap kemerahan benar-benar menghilang. Memperlihatkan Tetua Wan berdiri di depan Amdara yang menahan napas dibuat karena serangan barusan. Dia bersyukur karena Tetua Wan menolongnya. Entah bagaimana jika saja Tetua Wan tidak menolong Amdara.
"Tetua, terima kasih."
Amdara memberi hormat saat Tetua Wan membalikkan badan dan melihat dirinya.
Tetua Wan tersenyum dan mengangguk lalu berkata, "apa kau baik-baik saja?"
Amdara mengangguk sebagai jawaban. Walaupun tubuhnya amat lemas dan kekuatannya berkurang, tetapi Amdara masih bisa berdiri tegak tanpa memperlihatkan kelelahan.
Tetua Wan berdecak kagum dengan ekspresi tenang Amdara. Dia kemudian berbalik menatap Giba yang saat ini sangat marah kemudian berteriak keras.
"Tetua, junior itu telah melanggar aturan! Dia menggunakan niat membunuh saat melawanku ...!"
Tanpa tahu malunya Giba terus menyalahkan Amdara yang menatap datar. Giba menunjuk ke arah Amdara. "Dia seharusnya didiskualifikasi dan dikeluarkan dari pertandingan. Tetua, kau melihatnya dengan jelas bagaimana dia menyerangku!"
Amdara yang mendengarnya mengembuskan napas kesal. Dia mengepalkan tangan. Bukan Amdara yang menyerang dengan niat membunuh tetapi Gibalah yang seperti itu. Bukan Amdara yang melanggar aturan tetapi Giba lah yang demikian. Namun, Giba malah menyalahkan semuanya pada Amdara?! Tsk. Dia benar-benar tidak tahu malu saat berteriak keras.
__ADS_1
Para penonton yang mendengarnya juga tidak menyangka Giba bisa berbicara seperti itu. Ada yang ikut-ikutan menyerang perkataan dengan menyalahkan Amdara. Namun, tidak sedikit juga yang merasa kasihan pada bocah berambut putih itu.
Kelompok kelas Satu C tentu sangat tidak terima Amdara disalahkan. Mereka juga berteriak membela Amdara.
Melihat kegaduhan yang semakin menjadi, Tetua Wan terbang dan mendekati Giba yang menaruh harap padanya.
Giba berkata, "Tetua, kau harus adil dalam hal ini. Jangan karena melihat lawanku seorang bocah, kau jadi mengasihinya."
Tetua Wan mengangguk dan terlihat tenang saat membalas ucapan Giba.
"Tentu, Nak. Aku adalah wasit di sini yang bertugas menjaga jalannya pertandingan dan menentukan kesalahan." Tetua Wan tersenyum dan menyapu pandangan. Kacau. Dia kembali berkata, "sebagian besar kerusakan diakibatkan oleh jurusmu barusan. Kau harus bertanggung jawab nanti."
Giba baru akan buka suara tidak terima tetapi Tetua Wan langsung melanjutkan ucapannya.
"Sejak awal pertandingan ini, bukan lawanmu yang menyerang dengan niat membunuh. Namun, kaulah yang terlalu meremehakan dia sampai tidak sadar kemampuan lawan diluar dugaan. Detik ketika kau melonggarkan spiritual pada lawan, kau lengah dan langsung dibuat terpental."
Penjelasan Tetua Wan tidak diterima Giba yang menyolot saat menanggapinya. Giba mengatakan dirinya sama sekali tidak meremehkan lawan dan berkata Amdara lah yang tetap harus disalahkan.
Tetua Wan menggeleng. Dia melihat dengan kepala matanya sendiri bagaimana Amdara yang menyerang dan melihat Giba saat itu dengan jelas meremehkan lawan. Tetua Wan mengatakan sesuatu yang membuat Giba membelalakkan mata.
"Apa?! Bagaimana itu mungkin?!"
"Lihat kakimu berpijak."
Sontak Giba menurunkan pandangan tepat ke arah kakinya yang tidak berdiri di panggung arena yang hancur. Melainkan di luar arena pertandingan. Mata Giba terbelalak tak terima.
Melihat wajah keterkejutan Giba, Tetua Wan tahu apa yang tengah bocah ini pikirkan. Terdengar helaan napas Tetua Giba sebelum buka suara.
"Itu benar. Lawanmu hanya membuatmu terpental sampai keluar arena dan setelahnya dia tidak menyerang kembali. Bagaimana bisa kau mengatakan dia berniat melenyapakanmu? Padahal dari segi tingkat kekuatan, kaulah yang lebih unggul."
Tetua Wan kembali berkata, "tapi kau malah nyaris melukai dia dengan jurus terakhir di saat kau sudah dikatakan kalah karena keluar dari arena pertandingan."
Giba tak mengatakan apa-pun tetapi wajahnya sangat merah. Antara marah dan malu sekaligus dengan tindakannya. Dia mengedarkan pandangan, banyak tatapan tidak menduga dengan sikapnya.
"Aku adalah wasit di sini." Tetua Wan terbang dan mengeraskan suaranya sambil memandang sekeliling sebelum kembali berujar. "Dengan keluarnya Giba dari arena pertandingan, aku nyatakan Luffy dari kelompok kelas Satu C sebagai pemenang."
__ADS_1
Sontak suara riuh dan tepuk tangan terdengar. Mereka benar-benar dibuat terkejut dengan keputusan Tetua Wan. Kini semua pandangan menatap Amdara yang terlihat memberi hormat ke arah depan tepat pada Para Tetua dan Guru yang ikut bertepuk tangan.
Tidak ada penolakan dari para Tetua dan guru. Itu artinya mereka percaya dengan Tetua Wan.
Amdara menarik napas dalam. Dia akhirnya bisa bernapas lega dengan diumumkannya sang pemenang.
Amdara kemudian turun dari arena pertandingan dan menghampiri teman-temannya yang terlihat sangat senang Amdara baik-baik saja.
"Luffy, apa yang kau rasakan? Apa ada yang sakit? Kemarilah, aku akan mengobatimu."
Inay menyingkirkan tubuh Atma yang menghalangi. Dia menarik lengan Amdara dan memeriksa tubuhnya.
"Aku baik-baik saja." Amdara merasa tidak enak saat Inay membolak-balik tubuhnya.
Setelah memeriksa keadaan Amdara yang cukup baik, hanya butuh istirahat, Inay mendudukkan Amdara. Dan berkata, "kau terlalu banyak mengeluarkan kekuatan. Istirahatlah dengan baik. Luffy, apa kau mau istirahat di asrama saja?"
Amdara menggeleng dan menolak halus. "Tidak. Aku akan membaik setelah ini."
"Senior itu benar-benar tidak tahu malunya menyalahkanmu. Padahal jelas-jelas dialah yang salah!"
Perkataan Aray barusan diangguki oleh Dirgan yang sebagai ketua kelas merasa tidak terima. Dirgan berkata, "untung saja yang menjadi wasit adalah Tetua Wan. Jika tidak, aku yakin kelas kita yang memiliki pandangan buruk akan disalahkan padahal tidak bersalah."
"Padahal senior itu laki-laki tetapi berani menyalahkan perempuan. Haih, apa dia tidak berpikir saat berteriak seperti itu?" Atma menimpali dengan suara tidak senang.
Rinai juga setuju dengan pendapat teman-temannya. Dia berkata, "senior hanya takut kalah dari Luffy. Makanya dia menyerang menggunakan jurus dahsyat. Huhuhu. Benar-benar bukan pria sejati."
Amdara, Inay, Atma, Dirgan, dan Aray tersentak mendengar kalimat pedas terakhir Rinai. Mereka sontak mengalihkan pandangan pada Rinai yang wajahnya tertutup rambut.
"Khakhaa. Sudahlah. Yang terpenting Luffy tidak terluka parah dan kemenangan pertama sudah kita raih."
Perkataan Nada menengahi semua. Mereka senang bisa meraih kemenangan pertama. Ini adalah sesuatu yang membanggakan.
"Dua pertandingan lagi kita akan ikut babak utama," kata Dirgan tak sabar jika sampai babak utama mereka bisa memasukinya.
Pertandingan kembali dilanjut setelah Tetua Wan memperbaiki arena pertandingan dengan kekuatannya. Dia kemudian menyebut nama-nama kelompok lanjutan.
__ADS_1