
Dewi malam terlihat menggantung di gelapnya malam. Pesta kecil-kecilan di desa terpencil itu dilakukan dengan senang. Wajah warga yang semula nampak suram dan ketakutan kini tidak ada lagi. Hanya wajah dengan senyuman hangat tanpa beban. Berbeda dengan dua orang yang masih memikirkan ucapan Kepala Desa yang sekarang terngiang di pikiran.
Peringatan dan sedikit kisah yang diceritakan Kepala Desa mampu membuat Senior Fans dan Amdara mulai memikirkan rencana apa yang akan dilakukan setibanya di desa Bumi Selatan.
Ada satu hal yang perlu Amdara pertanyakan sebelum berakhirnya perjamuan.
"Kepala Desa, apa ciri-ciri penyakitnya?"
Kepala Desa mengelus-elus jenggot putih panjangnya. Dia nampak sedang berpikir keras sampai dahinya mengerut.
"Ciri-cirinya ... dari yang kudengar, mereka memiliki bintik-bintik ungu pada seluruh tubuh. Warna mata merah, dan menderita penyakit luka parah pada kaki."
Yang dikatakan Kepada Desa jelas bukanlah tipe penyakit asli tetapi hanya ciri-cirinya saja. Namun, itu sudah cukup mencari tahu penyakit apa. Sebuah penyakit yang menyerang biasanya bukan dari ciri-cirinya saja untuk mendapat jenis nama penyakit tetapi harus dilihat dari apa yang penderita rasakan dan lakukan.
Senior Fans dan Amdara baru pertama kali mendengar ciri-ciri penyakit ini. Mereka bahkan tidak paham dengan yang dikatakan Kepala Desa sebelumnya. Namun, diyakini penyakit ini bukanlah sembarang penyakit yang dapat disembuhkan dengan mudah.
"Apa mereka tidak bisa mengaktifkan kekuatan?"
Pertanyaan pintar! Amdara terlintas akan warga desa ini yang tidak bisa mengeluarkan kekuatan karena diserap paksa oleh suatu makhluk. Namun, bukankah di desa Bumi Selatan tidak dikatakan ada makhluk? Jadi mengapa mereka bisa tertular penyakit?
"Aku tidak tahu pastinya, tetapi aku baru ingat satu hal penting ini, Nak. Dari desa Bumi Selatan hanya orang-orang biasa pada tingkat paling rendah di Tingkat Tahap Pertama."
Tidak ada yang dikatakan Kepala Desa tingkat tinggi di sana. Amdara mulai berpikir bahwa setidaknya di Tingkat Tahap Emas yang sama sepertinya kemungkinan kecil bisa lepas dari penyakit menular itu 'kan?
Namun, bagaimana dengan teman-temannya yang bahkan tidak bisa mengaktifkan kekuatan?
"Malam ini kalian istirahatlah di kediamanku. Akan kusiapkan tempatnya. Seperti yang kukatakan sebelumnya, jangan ambil resiko besar hanya demi misi. Sebaiknya kalian pikirkan baik-baik."
Kepala Desa tersenyum, dia izin pergi karena tubuhnya yang sudah menua jadi harus banyak beristirahat. Dan meminta mereka untuk segera beristirahat juga.
Amdara dan Senior Fans saling pandang seakan memberi banyak pertanyaan lewat tatapan mata itu.
*
*
*
Di kamar yang disediakan Kepala Desa untuk Inay dan teman perempuannya yang lain, Senior Fans, Dirgan dan Atma juga berkumpul di sana. Senior Fans mulai merasa dirinya jadi seperti seorang ayah yang tengah menemani anaknya berdiskusi.
Di kediaman Kepala Desa sendiri tidak terlalu besar. Dia hanya memberikan tiga kamar.
Amdara menjelaskan sebagaimana Kepala Desa menjelaskan mengenai desa Bumi Selatan. Namun, sudah dijelaskan tetap saja ada yang bertanya. Mungkin karena Amdara yang penjelasannya kurang olah kalimat. Senior Fans juga sedikit menambah.
"Ini sangat berisiko. Jadi kalian tetap di sini."
__ADS_1
Atma yang sedang meminum air dibuat tersedak mendengar kalimat terakhir. Dia terbatuk-batuk, Dirgan membantu menenangkan.
"Senior, apa maksudmu?"
Tentu mereka semua dibuat tersentak. Namun, tidak dengan Amdara yang mengetahui situasi. Dia setuju dengan pendapat Senior Fans. Terlalu berbahaya bagi teman-temannya untuk ikut ke desa Bumi Selatan.
Dirgan, "tapi kita sudah sampai di sini. Mana bisa menghentikan misi?"
Rinai, "huhuhu. Apa desa itu sangat berbahaya untuk kita yang belum bisa mengaktifkan kekuatan, Senior?"
Nada, "khaakha. Sejak awal kita sepakat akan pergi bersama. Dan kami tahu penyakit menular itu, Senior. Khakhaa. Kenapa jadi seperti ini?"
Atma, "apa? Tapi kenapa?!"
Dirgan, Atma, Rinai, dan Nada menolak. Mereka tidak setuju dengan Senior Fans yang tiba-tiba mengambil keputusan. Senior Fans tahu akan seperti ini jadi dia sudah memikirkan bagaimana agar bocah-bocah itu menyetujui.
"Ini untuk keselamatan kalian."
Mereka tetap tidak setuju dan ngotot mau pergi ke desa Bumi Selatan. Inay yang sedari tadi diam melirik Amdara yang tengah mendengarkan penjelasan lebih lanjut. Memang sulit membuat seorang bocah mengerti keadaannya. Perdebatan pun terus terjadi, penolakan tegas dari Dirgan, Atma, Rinai, dan Nada membuat pusing Senior Fans sendiri. Sampai mereka diam ketika Amdara berbicara hal tak terduga.
"Kita tidak datang untuk mengantarkan nyawa."
Amdara mengembuskan napas. Memang benar yang dikatakannya, persiapan untuk ke desa Bumi Selatan juga belum lengkap. Jika mereka nekad datang ke sana, hanya nyawa yang hilang tanpa membantu warganya.
Sudah sampai jauh, banyak rintangan yang mereka hadapi hanya untuk datang dan menyelamatkan warga desa Bumi Sekatan. Jika mereka mat* maka semuanya sia-sia. Sebelumnya mereka hanya berpikir penyakit menular yang dalam gulungan misi hanya penyakit biasa. Namun, setelah mendengar dari Kepala Desa sendiri membuat Amdara berpikir apakah mereka bisa menyelasaikannya dengan baik.
Amdara jadi menyesal karena menyetujui teman-temannya ikut bersama menjalankan misi. Andai saja dia tidak egois saat berniat menyelesaikan misi ini, maka teman-temannya tak akan terluka. Dirinya juga tidak akan mendapat Benang Merah yang membuatnya kesulitan mengeluarkan dan menyerap kekuatan.
Beberapa menit tidak ada yang mengeluarkan kalimat. Mereka semua tengah bergulat dengan pikiran masing-masing. Sampai akhirnya Dirgan yang terlihat mengembuskan napas panjang sebelum berbicara.
"Hah, kau juga tidak salah. Kupikir mengambil misi adalah sesuatu yang mudah. Ternyata tidak, yah?"
Dia tersenyum miris. Membayangkan sulitnya hanya untuk sampai di desa Bumi Selatan. Dia seorang Ketua Kelas yang harus berpikir lebih tenang.
"Aku ... huhuhu. Aku tak ingin mat* sebelum mengaktifkan kekuatan dan mencapai tujuan hidup. Huhuhu."
Rinai memeluk lutut dan menangis seperti biasa. Dia membuat Nada mengangguk setuju setelah berpikir lebih tenang. Walaupun terasa berat jika harus diam di desa ini untuk menunggu Senior Fans ke desa Bumi Selatan.
Atma tersenyum miring, dia menatap Senior Fans berbeda. "Kami merepotkan, ya?"
Tatapan semua orang beralih ke Senior Fans yang langsung menggeleng dan berkata, "tidak. Hanya membuatku kesulitan sedikit."
Dirgan, Atma, Rinai, dan Nada tersenyum simpul. Perasaan mereka campur aduk. Mereka selama ini kurang peka jadi merepotkan Senior Fans.
Amdara menggaruk pelan pipi. Dia tidak menyangka 'pamannya' ini berbicara terang-terangan. Dirinya jadi ikut tersinggung karena selalu bergantung pada Senior Fans karena Benang Merah keterlaluan ini. Dan juga ini bukanlah sebuah misi yang harus dilakukan Senior Fans, tetapi dia harus terlibat karena dirinya.
__ADS_1
Inay melihat wajah teman-temannya yang terlihat sedih. Dia berujar, "kalian bisa membantu desa ini. Bukankah tidak ada bedanya? Membatu desa yang dalam kesulitan."
Amdara yang mendengarnya menyetujui. "Mn, benar. Itu akan menambah pengalaman."
Dirgan dan ketiga temannya saling pandang sebelum akhirnya mengangguk.
"Yah, baiklah. Mau bagaiman lagi? Kita akan membantu desa ini saja."
Perkataan Dirgan mewakili yang lain membuat Senior Fans, Amdara, dan Inay mengembuskan napas lega. Dengan begitu besok pagi mereka akan segera pergi.
*
*
*
Pagi-pagi buta, Senior Fans, Amdara, dan Inay telah pergi dan saksikan oleh Kepala Desa dan beberapa warga. Dirgan, Atma, Rinai, dan Nada juga turut melihat kepergian mereka.
Semalam Senior Fans telah mencari informasi lagi mengenai desa Bumi Selatan. Begitu juga dengan Amdara yang tidak bisa hanya diam. Semalam dirinya mengatakan tidak akan pergi, tetapi teman-temannya curiga. Mereka malah mengatakan bahwa Amdara jadi lebih pengecut dan jarang mengeluarkan kekuatan. Jelas mereka tidak tahu keadaan Amdara yang sebenarnya. Dan Amdara juga tidak berniat mengatakannya, khawatir jika mereka malah lebih mengkhawatirkan Amdara. Senior Fans dan Inay juga tidak berniat menceritakannya.
Awalnya Inay keberatan Amdara ikut tetapi karena Senior Fans berkata tidak apa-apa, Inay juga tidak bisa menolaknya lagi.
Inay menanyakan banyak hal pada Senior Fans. Salah satunya adalah langkah apa yang harus mereka lakukan setibanya di desa. Seperti yang Amdara duga, mereka akan menganalisis keadaan sekitar untuk langkah berikutnya. Jika keadaan memungkinkan, mereka akan melakukan sesuatu dan jika tidak mereka terpaksa kembali.
Jarak ke desa Bumi Selatan cukup jauh tetapi karena kekuatan Senior Fans, mereka jadi sampai lebih cepat.
Mereka menapak pada dahan pohon. Sekitar lima belas meter terlihat gerbang besar yang terbuat dari besi berkualitas serta sebuah patung ular besar menyambut kedatangan mereka. Angin yang berhembus terasa berbeda. Tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali. Bahka suara binatang pun tidak terdengar.
Tidak ada penjang gerbang, membuat mereka cukup waspada. Ditambah perasaan mereka sudah tidak enak.
"Senior, apa yang kau lihat di desa?"
Amdara bertanya, dia tidak merasakan apa-pun. Inay hanya menggunakan pendengarannya dengan tajam, tetapi dia hanya mendengar suara angin.
Senior Fans memfokuskan pada matanya, dan juga pendengaran. Sampai lima menit, dia baru menyadari kejanggalan.
"Aku tidak yakin, tapi tidak ada orang."
Amdara menggeleng, pasti ada yang salah. Jika memang warga desa telah mat*, bukankah seharusnya ada bau menyengat dari maya* mereka? Tetapi Senior Fans bahkan tidak mengatakan ada bau maya*.
"Apa mereka sudah lenyap? Jika begitu, sebaiknya kita masuk untuk menyelidiki lebih dalam."
Senior Fans mengangguk menyetujui Inay. Tetapi Amdara mencegah dan berkata, "sebentar. Jangan sampai kita terjebak."
Amdara mengingat perkataan Kepala Desa bahwa warga desa Bumi Selatan tidak bisa keluar karena suatu alasan. Ada kemungkinan jika mereka juga masuk maka akan sulit keluar.
__ADS_1
Amdara mengambil sebuah batu, dia meminta Inay untuk melemparnya ke arah gerbang dengan keras. Inay melakukannya tanpa pikir panjang, dia tidak boleh gegabah.
Suara keras akibat pantulan batu terdengar. Awalnya tidak ada yang mencurigakan sampai terdengar suara dari dalam yang cukup membuat merinding.