
Malam setelah menguburkan mayat hidup di desa Bumi Selatan, perasaan Amdara jauh lebih lega. Namun, dia masih memikirkan nasib Ang. Bagaimana pun dia masih seorang bocah. Membutuhkan bantuan atau sekadar teman sebagai tempat bercerita itu diperlukan untuk menghibur diri.
Hal tak terduga, banyak kejadian yang menimpa Amdara selama ini dia jadikan pelajaran. Tak ada pelajaran yang lebih banyak selain pengalaman. Ini juga kali pertama pengalaman Amdara yang menganggap orang lain 'teman', sungguh diluar pemikiran sendiri.
Senior Fans menggunakan kekuatannya untuk membawa Amdara dan Inay yang tengah memulihkan diri. Mereka akan kembali ke desa terpencil dan membawa Dirgan, Atma, Rinai, dan Nada.
Menyelesaikan satu malam ini sungguh luar biasa. Bahkan teka-teki di desa Bumi Selatan diceritakan langsung oleh teman baru Amdara, Ang.
"Dara, bagaimana kau menjelaskan semuanya?"
Senior Fans juga nampak tidak percaya dengan yang sebelumnya dikatakan Amdara. Oleh sebab itu dia meminta Amdara menjelaskan kembali.
"Ang adalah bocah yang kutemui di lorong." Amdara kemudian menarik napas dalam dan kemudian melanjutkan, "dia bukan orang yang mengendalikan mayat hidup menggunakan seluringnya. Dia memainkan seluring untuk memanggil mayat hidup."
Memang benar yang dikatakan Amdara. Sejak siang bertemu mayat hidup, tidak ada suara seluring. Jadi bisa disimpulkan bahwa para mayat hidup itu tidak dalam kendali Ang. Dan tentu Amdara tidak akan mengatakan Ang yang bisa berubah jadi bocah berumur 5 tahun.
"Ang memainkan irama kematian ... itu hanya untuk melepas rasa sedih." Amdara menggeleng sambil mengepalkan tangan. Teringat cerita menyedihkan Ang. "Sejak lama, desa itu tidak ada manusia yang hidup. Senior tahu? Bahwa para mayat hidup itu sebenarnya warga desa Bumi Selatan."
Senior Fans tersentak mendengar kisah ini. Dirinya menanyakan bagaimana hal itu bisa terjadi?
"Penyakit menular itu memang ada. Mengakibatkan satu persatu warga desa terserang. Tak ada bantuan dari luar. Mereka ... mati karena tak ada yang bisa mengobati. Dan berakhir jadi mayat hidup."
Tak sampai di sana, Amdara mengatakan bahwa Ang kecil tak berpikir harus berbuat apa. Warga desa Bumi Selatan tak bisa keluar desa, sama seperti desa terpencil. Ada kutukan. Amdara juga menjelaskan warga desa tidak bisa menggunakan kekuatan untuk menyembuhkan penyakit tersebut. Kekuatan mereka sia-sia saja.
__ADS_1
Senior Fans menghela napas. Dia menatap ke depan. Sungguh kejadian tidak terduga. Dan pengalaman hidup yang berharga.
Inay baru membuka mata pun masih nampak lelah. Tak tak banyak menanggapi cerita Amdara yang memang mengejutkan.
"Lalu bagaimana dengan gulungan misi itu?"
Pertanyaan Senior Fans dijawab Amdara tenang walaupun ekspresi Senior Fans dan Inay berubah. Tak habis pikir pada orang-orang yang dimintai bantuan oleh Ang. Dan mengenai Ang yang hanya dia seorang bisa keluar desa untuk meminta bantuan dan dia juga lah yang membuat surat permohonan dan menbuat isu desa Bumi Selatan tertular penyakit. Padahal sebenarnya warga desa itu telah menjadi mayat hidup. Tujuannya membuat permohonan itu hanya untuk mengubur mayat hidup. Seperti yang dikatakannya sebelumnya, dia memiliki alasan tak bisa mengubur warga desa sendiri.
"Mengapa dia tidak cari tempat baru selama ini? Bukankah dia malah mempersulit sendiri dengan hidup di desa mati itu?"
Kata Inay ada benarnya. Namun dengan segera Amdara menjawab, "dia juga memiliki alasan."
Inay mendesah. Tidak tahu pemikiran teman baru Amdara itu senang mempersulit diri sendiri. Apalagi Amdara mengajak bersama untuk pergi. Apa Amdara tidak memikirkan ke depannya mau bagaimana? Memasuki Akademi Awan Langit sangat sulit, jika mereka kembali dengan membawa orang asing, bukan tidak mungkin hukuman berat dijatuhkan atau malah mereka ditendang dari Akademi.
"Yang terpenting adalah nyawa kita selamat."
Malam itu, Inay memilih memejamkan mata. Dia rasanya sangat lelah. Berbeda dengan Amdara yang tak bisa menutup mata. Dirinya terus menemani Senior Fans berbicara.
Pagi-pagi buta mereka baru sampai di desa terpencil dengan kecepatan tinggi. Kedatangan tiga orang itu jelas mengejutkan semua orang. Mereka berkumpul dan menanyakan kondisi ketiganya setelah itu menanyakan warga desa Bumi Selatan. Amdara dan Inay pergi untuk membersihkan diri. Pertanyaan dari warga diserahkan pada Senior Fans.
Air hangat telah disiapkan di kediaman Kepala Desa. Amdara memejamkan mata, merasakan hangatnya air yang menjalar ke tubuh. Dia masih memikirkan Ang, dan kertas yang diberikan bocah itu. Yang mana berisi tempat orang yang mengetahui cara menghilangkan Benang Merah. Namun, Amdara tidak yakin akan cepat mencari orang itu karena setelah kembali ke Akademi pasti dia memiliki masalah sendiri di akademi.
Di luar, Dirgan, Atma, Rinai, dan Nada telah menunggu. Dan ingin mendengar semua cerita di desa berpenyakit itu. Mereka awalnya khawatir jika kedua teman dan Senior tak bisa kembali dan malah tewas di sana.
__ADS_1
"Mereka menyelesaikan misi sulit ini dalam semalam. Apakah semudah itu?"
Atma menyangga wajah dengan tangan. Dia sangat penasaran saat ini.
"Tidak mungkin Luffy berbohong. Mereka memang hebat." Dirgan mengangguk-angguk dengan pemikiran sendiri. Tanpa ada rasa curiga dengan cerita yang kini beredar.
Nada memeluk boneka erat. Dia tertawa, "khakhaa. Mereka memang hebat. Kekuatan mereka sangatlah besar. Khakha, beruntung sekali warga desa itu yang bisa mendapatkan bantuan dari ketiga orang kita."
Ketiga bocah itu mengangguk setuju dengan pendapat Nada. Rinai menyeruput air yang sebelumnya disediakan. Tanpa menangis dia berbicara, "kita tunggu cerita dari Inay dan Luffy."
Keempat bocah itu menunggu cukup lama. Dan yang pertama kali keluar dari sekat yang berisi bak mandi adalah Inay. Terlihat wajah segarnya setelah membersihkan diri.
"Mn? Luffy belum selesai?"
Inay bertanya pada teman-temannya, tetapi memang Amdara belum juga keluar. Perasaan Inay tiba-tiba saja tidak enak melihat tatapan dan senyuman khas dari teman-temannya. Ah, dia lupa harus menceritakan perjalanan misi membahayakan nyawa itu. Inay jadi menyesal membersihkan diri dengan cepat.
Dengan hati-hati dia menceritakan bagaimana yang dikatakan Amdara sebelumnya. Dan jelas Inay tidak mengatakan sepenuhnya.
"Apa benar begitu?"
Dirgan menatap Inay yang terlihat gugup saat akan menjawab. Yang lain juga kurang puas dengan cerita Inay.
"T-tentu saja. Kau pikir aku membual?! Hei, walaupun beruntung kami tidak tertular penyakit, tetapi bukan berarti kami di sana dengan mudah menyelesaikannya, tahu. Nyawa kami dipertaduhkan di sana. Yah, takdir memang baik masih ingin melihatku bernapas.
__ADS_1
Sebenarnya Inay mati-matian agar tidak keceplosan bagaimana mereka menyelesaikan misi tak terduga itu. Dirinya melirik sekat yang di baliknya Amdara masih belum keluar. Inay mengepalkan tangan, dan berharap agar Amdara segera keluar agar dirinya tidak terus ditanyai teman-teman.
Namun, harapan Inay pupus. Dia tidak tahu bahwa Amdara malah tertidur pulas di bak mandi dan sekitar tiga jam Amdara baru sadar dirinya tertidur. Dirinya dengan cepat segera mengganti pakaian.