
"Murid-muridku, kalian adalah kebanggaan Akademi Magic Awan Langit ini. Setiap kali pertandingan diadakan, kalian akan menempa kemampuan asli pada diri dan kelompok. Kerja sama dan langkah luar biasa yang kalian ambil dalam menjalankan pertandingan, pasti sulit tetapi itu menyenangkan, 'bukan?"
Pembukaan dibuka oleh sambutan Tetua Widya. Dia berdiri dan menatap ke semua murid dengan senyuman melengkung.
Tepuk tangan serentak didapatnya. Seruan-seruan dari para murid membuat Tetua Widya bertambah bangga.
Berbeda dengan satu kelompok yang nampak mendengus kesal dan tidak menyetujui apa yang dikatakan Tetua Widya. Kelompok itu tidak lain adalah kelas Satu C.
"Apanya yang seru? Hah, ini lebih mengerikan daripada seru." Atma membuang wajah kesal. Dia mengerucutkan bibir.
"Khaakhaa. Ini lebih tepat dikatakan melangkah ke maut daripada ke pertandingan."
Nada tertawa cekikikan sambil memeluk erat boneka. Yah, memang itulah yang dirinya rasakan. Rinai juga mengangguk setuju dengan perkataan Nada.
Rinai mengusap-usap lengan dan mulai menitikkan air mata. "Huhuhu. Bahkan aku masih merinding saat mengingat kejadian yang kita lalui."
Inay tidak merasa semengerikan itu. Hanya saja saat mengingat betapa pusing dan mual ketika menaiki alat transportasi aneh dengan kecepatan luar biasa membuatnya mengeluarkan keringat dingin. Dia menyenderkan kepala ke depan, tepat pada punggung Amdara.
"Ah, aku tidak mau lagi dekat-dekat dengan air. Perutku, ya ampun. Kepalaku jadi ikut pusing."
Amdara tersentak, dia menoleh ke belakang dan menjaga Inay yang disenderkan pada bahunya. Amdara menepuk-nepuk pelan punggung Inay. Ini kali pertama Inay merasakan takut pada sesuatu selain hantu.
"Ini baru dua hari. Dan hari berikutnya akan lebih menarik. Kalian jangan putus asa. Bukankah kita berjuang bersama?"
Saat Dirgan berbicara, dia membalikkan badan. Dan menghadap ke teman-temannya dengan senyuman. Dia mengepalkan tangan, mencoba menguatkan diri sendiri.
Mereka memang berjuang bersama, merasakan sakit dan senang bersama juga. Rasa-rasanya tidak terlalu buruk mengikuti pertandingan ini. Jika dipikirkan hal ini akan membuat pengetahuan dan pengalaman baru yang sebelumnya mereka tidak rasakan.
Aray juga merasakan hal tersebut. Dia membalikkan badan ke belakang, dan mengangguk menyetujui apa yang dikatakan Ketua Kelas Dirgan.
"Ketua Kelas benar. Kita berjuang bersama-sama. Jadi semangatlah! Apa pun yang terjadi kita tidak boleh mundur. Kalian tidak ingin lagi mendapat tatapan merendahkan, bukan?" Aray tersenyum. Kali ini nada bicaranya lebih ke menyemangati ketimbang marah-marah seperti biasa. Aray berkata, "kita akan buktikan pada mereka, jika kita telah berubah! Awal perubahan bagi kelas Satu C!"
Tidak ada lagi yang namanya tatapan meremehkan serta tanggapan-tanggapan membuat lara hati mereka. Semua itu akan musnah jika mereka memulai dengan perubahan kecil dan membuktikan suatu saat nanti, kekuatan mereka akan aktif dan menjadi orang-orang hebat dan berbakat yang terkenal di dunia.
Dirgan, Atma, Nada, dan Rinai mendongakkan kepala. Menatap mata penuh bara semangat Aray, membuat mereka juga tersenyum dan mengangguk. Semangat itu muncul dan mulai menyerang jiwa-jiwa yang sebelumnya mati.
"Kau benar, kawan. Kita sudah sampai di titik ini. Mana bisa mundur begitu saja?"
Raut wajah Atma lebih semangat ketimbang barusan. Begitu pula dengan yang lain.
Amdara tiba-tiba menyodorkan tangan di tengah-tengah mereka yang kebingungan. Bocah berambut putih itu mengangguk sebelum berkata, "semangat."
Inay, Dirgan, Aray, Atma, Rinai, dan Nada yang melihatnya tersenyum. Lalu melakukan hal yang sama di atas tangan Amdara.
__ADS_1
"Berjanjilah kita akan berjuang bersama."
Kata Dirgan tegas dan penuh harap. Teman-temannya tersenyum dan mengangguk yakin. Mulai menguatkan hati, apa pun yang terjadi mereka harus berjuang bersama.
"Semangat dan berjuanglah!"
Serentak mereka berseru semangat. Tanpa menyadari telah menghentikan sambutan dari Tetua Widya yang langsung menatap ke arah sumber suara. Begitu pula dengan kelompok-kelompok lain yang nampak penasaran siapa biang yang telah menghentikan sejenak sambuatan Tetua Widya.
Amdara, segera bersikap seperti semula. Dia hampir tertawa kecil, tetapi melihat tatapan orang-orang disekitar membuatnya mengurungkan niat. Begitu pula teman-temannya yang menjadi tegang sendiri. Tidak menyangka mereka membuat perhatian banyak orang.
Tetua Widya menggelengkan kepala dan tertawa kecil. "Sepertinya ada kelompok yang sangat bersemangat kali ini. Jika begitu, mari kita langsung ke penyambutan inti ...!"
Tepukan kembali terdengar. Kali ini Tetua Widya kembali duduk di bangku dan mempersilahkan Tetua Genta mengambil alih.
Suasana pagi yang belum terlalu siang itu terasa angin dingin yang berhembus. Tetua Genta menatap semua murid-murid yang mengikuti pertandingan antar kelas. Dia mengembuskan napas sebelum memulai.
"Baiklah. Waktu yang ditentukan telah habis. Barang-barang yang kalian cari bisa diletakkan di meja masing-masing setiap kelompok satu."
Tanpa berbasa-basi Tetua Genta berucap. Tatapan matanya nyaris persis dengan Amdara dan Cakra. Tajam, tegas, sekaligus menenangkan.
Sebagai perwakilan, setiap kelompok mengirim satu murid untuk meletakkan barang yang mereka temukan.
Amdara menoleh ke belakang, di mana Atma yang hanya memegang satu ginseng merah.
"Tak apa. Satu pun kita berhasil. Itu lebih baik daripada sama sekali tidak," kata Dirgan menengahi keheningan di antara mereka.
Aray menyesal. Dia mengembuskan napas kecewa pada diri sendiri.
Atma menggeleng dan tersenyum. Ini semua adalah kerja keras mereka, tidak boleh ada yang merasa paling bersalah.
Rinai, Nada, dan Inay menyetujui. Mereka adalah satu kelompok. Jika satu yang membuat salah, artinya satu kelompok harus bertanggung jawab. Itu yang dinamakan solidaritas tinggi dan memiliki jiwa juang kelompok.
Di kelompok mereka, ketuanya tetap Dirgan. Walaupun dia menolak dan meminta Aray atau Amdara menjadi ketua, tetapi mereka juga menolak dan terus memaksa Dirgan sebagai ketua karena telah terbiasa.
Kali ini Atma meminta dia sendiri yang maju membawa ginseng merah, dan diangguki oleh Dirgan. Atma baru saja melangkah ke depan, tetapi lengannya dicekal oleh Amdara yang membuat tersentak satu kelompok.
Di tangan kiri Amdara, dia mengeluarkan sesuatu dari dalam jubah dan memberikannya pada Atma.
Tatapan tak percaya dari teman-temannya adalah petanda mereka ingin segera dijelaskan.
"I-ini ...."
Yang disodorkan Amdara tidak lain adalah bunga teratai hitam, dan akar tanaman putih. Jelas keterkejutan terlihat di wajah kelompok kelas Satu C itu. Tatapan mata mereka beralih ke Amdara yang mendengus dan meminta Atma agar segera maju, karena semua kelompok yang hadir telah meletakkan barang-barang mereka.
__ADS_1
"Pergilah. Akan kujelaskan nanti."
Atma mengangguk penuh haru mendengar perkataan Amdara yang padahal terdengar biasa saja. Atma segera berlari ke arah meja yang masih kosong dan segera meletakkan tiga tanaman herbal yang usianya mencapai ribuan tahun.
Amdara mengembuskan napas melihat tatapan mata penasaran dari teman-temannya. "Lihat ke depan. Akanku jelaskan setelah ini selesai."
Aray, Dirgan, Inay, Nada dan Rinai spontan mengangguk dan menatap ke depan, tepat di mana Atma yang juga tengah menatap mereka.
Tetua Genta menyipitkan mata ketika melihat benda di meja kelompok kelas Satu C. Dia berdehem, dan melanjutkan menjelaskan.
Namun, satu murid dari arah depan melesat dengan cepat dan langsung mendarat tidak baik di depan Tetua Genta. Bocah itu ternyata adalah Daksa yang terlihat seragamnya penuh koyakan, dia seperti telah bertarung.
"Maafkan keterlambatan kelompokku, Tetua ...!"
Daksa tanpa diduga memberi hormat. Tubuhnya sampai bergetar hebat. Entah apa saja yang dia dan kelompoknya alami.
Enam bocah lagi yang merupakan teman Daksa sekaligus satu kelompok itu berjalan saling bahu membahu. Mereka terluka dan terlihat kelelahan.
Tetua Genta melibaskan tangan dan meminta Daksa kembali ke kelompok lalu meletakkan barang yang mereka temukan di meja yang masih kosong. Keterlambatan mereka jelas akan mengurangi nilai.
Barang-barang yang ditemukan setiap kelompok berbeda. Ada yang membawa ramuan, benda-benda aneh, bahkan sampai taring siluman yang berusia ribuan tahun.
"Kalian memang generasi hebat. Membawa barang-barang yang tertulis di kertas dengan lengkap. Aku memuji kalian."
Tepukan meriah disambut para murid. Mereka merasa bangga sendiri mendengar penuturan Tetua Genta. Tepuk tangan juga diberikan oleh Tetua Widya dan Tiga Guru Besar.
Tetua Genta tersenyum, lebih tepatnya menyeringai sebelum menjelaskan, "pertandingan ini belum selesai. Dan yang sebenarnya menentukan pertandingan kali ini adalah, apa yang akan kalian lakukan dengan benda-benda di atas meja yang kalian temukan."
"Apa ...?!"
Semua murid dibuat terkejut bukan main. Mereka tidak berpikir dengan benda-benda yang mereka cari untuk dibuat apa. Penjelasan Tetua Genta membuat jantung mereka berpacu lebih cepat.
Ada beberapa murid yang tidak terima dan langsung protes. Namun, dia membeku setelah bertatapan dengan mata Tetua Genta yang seakan menelannya hidup-hidup jika buka mulut lagi.
"Dan murid yang mewakili setiap kelompok tidak boleh ditukar."
Keterkejutan kembali melanda hati mereka. Kerisauan terjadi dan membuat mereka berdecak kesal.
Dirgan sebagai ketua kelompok langsung menatap satu persatu temannya cemas. Dia berkata, "apa yang Atma bisa lakukan pada tanaman herbal itu?"
Kecemasan juga terlihat di wajah Aray, Inay, Nada, dan Rinai yang berpikir mereka akan kalah. Namun, tidak dengan Amdara yang menatap Atma dengan yakin. Atma memiliki cara untuk mengolah tanaman herbal itu.
Atma terlihat menggigil karena perasaan takut mulai menyerang. Dia melihat ke arah kelompoknya, tetapi mereka memunggungi dan seakan tengah berbicara. Atma semakin tidak yakin dengan diri sendiri. Namun, tatapan matanya bertemu dengan Amdara yang terlihat tenang dan tersenyum tipis sebelum mengangguk. Seakan itu adalah petanda dia percaya pada Atma. Atma merasakan tubuhnya dingin, tetapi terasa nyaman. Dia tersenyum ke arah Amdara dan kembali mengangguk. Melihat tatapan menenangkan dari Amdara sudah cukup membuat Atma merasa ada yang yakin pada dirinya.
__ADS_1
Kepercayaan diri Atma perlahan muncul. Dia mengambil satu bunga teratai hitam, dan menghirup aromanya yang berbeda. Dia juga melakukan hal yang sama pada kedua tanaman herbal di depannya. Atma mengangguk dan mengerti apa yang harus dia lakukan.
"Tetua, bolehkan aku meminta sesuatu?"