Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
117 - Serangan Tidak Terduga


__ADS_3

Para penonton menahan napas melihat kebrutalan kelompok kelas Satu C yang menghajar lawan dengan tangan kosong tanpa rasa takut sekali. Walaupun berkali-kali terlempar karena jurus milik lawan, tapi mereka kembali bangkit dan menyerang lebih brutal. Tidak mengandalkan kekuatan, melainkan tenaga fisik dan kenekatan dalam hati. Walaupun darah sudah mengalir dari bibir, tapi hati mereka meminta agar jangan mundur sebelum kemenangan diraih. Walaupun tubuh sudah mengajak istirahat, tapi hati tidak ingin mendapat penghinaan seperti tahun-tahun sebelumnya. Mereka ingin merubah nama. Ingin merubah sikap orang-orang terhadap mereka.


Para Tetua sampai tidak berkedip melihat kelompok kelas Satu C yang sungguh diluar dugaan. Mereka terus memperhatikan gerakan-gerakan dari rombongan Dirgan terkecuali Amdara yang tidak sadarkan diri. Inay sendiri sudah melesat membantu teman-temannya.


Begitu pula dengan para peserta yang berdecak kagum dengan kerja keras dan kerja tim yang saling bahu membahu mengalahkan lawan. Mereka tanpa sadar mulai melihat perbedaan antara pertandingan tahun lalu dan sekarang. Tidak ada tangis, wajah ketakutan serta menyerah sebelum bertanding. Yang ada mereka melihat kelompok kelas Satu C melawan sekuat tenaga dengan wajah tidak ingin menyerah. Seolah-olah mereka telah berevolusi.


Dari para penonton semua, sama sekali tidak ada yang memerhatikan gerakan-gerakan kecil yang dilakukan Amdara sekarang karena terlalu asik melihat peserta yang sedang saling bergelut dengan tangan kosong, bahkan wasit sendiri lengah tidak memerhatikan.


Perlahan tangan Amdara bergerak kesamping, lalu kakinya berkutik. Matanya seketika terbuka, melihat langit cerah. Dia terduduk, sebelum akhirnya berdiri. Melihat dengan mata kepala sendiri teman-teman sedang melawan sekuat tenaga.


Mata biru terang Amdara tidak ada. Berganti dengan mata hitam pekat seolah ingin menelan siapa pun yang dia inginkan. Aura yang dipancarkan berbeda. Ada aura aneh yang menyelimuti tubuhnya saat ini. Perlahan senyuman tipis terukir. Dia menggerakkan kepala ke kanan dan kiri. Melihat tangannya dan menyentuh wajah perlahan.


Senyumnya semakin lebar. Dia tiba-tiba saja melayang. Teman-temannya masih tidak sadar akan dirinya yang sudah bangun.


Amdara menjentikkan jari, detik itu juga sebuah angin beliung biru muncul, menghentikan pertarungan teman-temannya. Mereka sontak langsung menatapnya tidak percaya. Antara kaget, senang dan juga kebingungan.


Angin beliung yang dibuat menerbangkan serpihan-serpihan arena pertandingan, beberapa benda yang berada dekat langsung terbawa. Besarnya setengah dari arena pertandingan.


Amdara memutar jari telunjuk, angin beling yang dibuat juga berputar-putar. Sedetik berikutnya, jari telunjuk dia arahkan ke teman-temannya. Angin beliung itu mendekati bocah-bocah yang dibuat membuka mata lebar. Mereka terlonjak kaget, segera Aray dan Inay membuat perisai pelindung dengan kekuatan terakhir.


Mereka menyerukan nama Amdara, dan bertanya apa yang bocah berambut putih itu lakukan tetapi Amdara sama sekali tidak mendengarkan. Dia terus menunjuk ke arah mereka membuat angin beliung tersebut semakin membuat perisai yang dibuat Aray dan Inay perlahan retak.


Keterkejutan kentara di wajah teman-teman Amdara. Mereka berkali-kali menyerukan nama teman mereka agar berhenti menyerang teman sendiri. Bahkan suara Atma dan Aray sampai serak. Seolah teriakkan mereka tenggelam oleh angin beliung itu.


Kelompok kelas Dua I juga terlonjak kaget ketika melihat bocah berambut putih malah menyerang reka sendiri. Mereka yang sudah babak belur karena dipukul oleh lawan nampak tidak percaya dengan yang sekarang terjadi.


Opi seperti mengenali aura dari bocah bernama Luffy itu. Seketika matanya terbuka lebar, dan segera mencari keberadaan temannya yang sedari tadi tidak ikut bertarung. Nampak Lasi terbaring dengan mata tertutup. Opi segera berlari mendekati temannya tersebut. Dia menahan napas ketika menyadari bahwa temannya sedang mengambil alih tubuh lain menggunakan jurus sendiri. Tatapan Opi kemudian beralih ke bocah berambut putih yang memiliki mata hitam pekat mirip seperti milik Lasi. Senyuman mengembang di wajah Opi seketika. Dirinya memanggil teman-temannya dan kemudian mengatakan bahwa Lasi sedang melakukan serangan dalam.


Sekarang alur pertandingan berbanding balik. Berubah drastis. Serangan tidak terduga dari teman sendiri membuat kelompok kelas Satu C membuka mata lebar.


BAAM!

__ADS_1


Perisai buatan Aray dan Inay meledak tidak sanggup menghalau angin beliung Amdara yang sangat kuat. Mereka dibuat terpental karenanya. Beruntung tidak sampai keluar arena pertandingan.


Angin beliung itu terus mendekat sampai membuat mata sulit melihat ke depan.


Inay merapatkan tubuh ke tanah. Dia menelunglupkan wajah. Angin menerbangkan rambutnya. Nyaris saja dirinya dibuat terbang jika tidak menggunakan sisa kekuatan untuk menempel pada tanah.


"Luffy, apa yang terjadi padamu?!" Inay bertanya-tanya dalam hati sama seperti teman-temannya yang lain.


Memanggil dan meminta Amdara menghentikan tindakannya sama sekali tidak digubris. Inay sudah sangat lemah, kekuatannya terkuras habis. Jika sampai dia melakukan serangan, yang ada dirinya akan tidak sadarkan diri.


Dirgan yang dekat dengan Nada memanggil bocah itu dan meminta Nada menggunakan jurusnya untuk menyerang Amdara. Awalnya Nada ragu, tapi dengan cepat Dirgan menjelaskan ada sesuatu yang aneh pada diri Amdara. Seolah sekarang yang mereka lihat bukanlah teman mereka.


Nada mengangguk mengerti, dia berpegangan dengan Rinai. Angin terus saja mendekat. Nada menarik napas dalam. Dia mulai bersiap memberikan perlawanan.


Suara geraman dahsyat menciptakan angin yang tidak kalah hebat. Bahkan angin yang diciptakan dari geraman Nada mampu membuat angin beliung milik Amdara termundur sebelum akhirnya menghilang.


Nada mengatur pernapasan. Ini pertandingan pertama dia yang mengeluarkan begitu banyak kekuatan. Tidak disangka dirinya bisa merasakan pertandingan sengit. Baru bisa bernapa lega, sebuah cahaya biru muncul di belakang Amdara. Cahaya tersebut menyilaukan mata, berbentuk pedang besar nan tajam. Jika mereka terkena saja, bisa dipastikan nyawa akan melayang.


Aray sontak menjentikkan jari dan dengan lemah meledakkan pil tersebut yang langsung meledak. Aroma tidak sedap menyeruak ke udara. Amdara terlihat terganggu dengan hal tersebut. Dia menutup hidung, dan menyentuh perutnya yang mendadak mules.


Atma terpaksa melemparkan pil berbau tersebut karena merasa bahaya akan terjadi jika sampai Amdara melesatkan serangan. Ketegangan terjadi di antara mereka semua.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Luffy?! Dia terlihat tidak seperti orang yang kita kenal!"


Aray mengepalkan tangan. Dia mengusap darah yang mengalir di pipi. Kekuatannya sudah terkuras habis. Tidak yakin bisa melakukan serangan sekali lagi.


Dirgan yang berada tidak jauh dari Aray mendengar hal tersebut. Dirinya memerhatikan Amdara, beberapa saat tidak menemukan apa pun sebagai dalih. Pikiran Dirgan buntu saat itu juga. Dia memukul kepala, mencoba berpikir lebih tenang dan jernih.


Tatapan mata Dirgan bertemu dengan mata hitam milik Amdara yang sedang menahan amarah. Seketika Dirgan merasakan tubuhnya ditekan. Dia merasakan aura mengerikan dari tubuh Amdara.


"Tidak ... Luffy tidak memiliki mata hitam."

__ADS_1


Dirgan menelan ludah susah payah. Tertegun ketika mengingat ketika pertandingan berlangsung ada satu orang yang tidak ikut bertanding. Pandangan Dirgan beralih ke belakang yang menampakkan Opi dan teman-temannya yang sudah terluka tersenyum ke arah Amdara.


"Sial. Aku lengah." Dirgan mengepalkan kedua tangan. Dia sadar bahwa yang sedang mengeluarkan jurus bukanlah jiwa Amdara asli, melainkan Lasi.


"Nada, ganggu pendengaran Luffy ...!"


Dirgan berteriak. Dia membuat teman-temannya kebingungan. Namun, Nada langsung menerima perintah tersebut. Dia menggunakan kekuatannya untuk mengganggu pendengaran Amdara.


Terlihat Amdara menutup telinga. Wajahnya sudah pucat pasi karena aroma tidak sedap. Perutnya juga terasa campur aduk.


Dirgan menggunakan kesempatan itu untuk menyerang Lasi yang tidak sadarkan diri dan dikelilingi teman-temannya. Melihat Dirgan yang berlari ke arah mereka, Opi menggunakan tanaman merambat untuk menghalangi Dirgan tetapi Ketua Kelas itu berlari dengan cepat. Tubuhnya lihat menghindari serangan Opi.


Atma dan Aray terkejut saat Dirgan tiba-tiba saja berlari ke arah lawan. Mereka yang tidak tahu juga ikut berlari dan berteriak menanyakan apa yang dilakukan Dirgan.


"Ketua Kelas, lawan kita sekarang adalah Luffy ...!" Atma berteriak. Namun, Dirgan tidak menghentikan aksinya. Dia tanpa gentar terus menghindari serangan Opi, dirinya membalas teriakkan Atma tidak kalah keras yang membuat para lawan terlonjak kaget.


"Luffy terkena serangan mata Senior Lasi. Biarkan Nada yang mengurus Luffy, kita serang Senior Lasi ...!"


Aray, Atma, Inay, Rinai, dan Nada yang mendengarnya terkejut bukan main. Mereka segera berlari Luntang-lantung ke arah kelompok kelas Dua I. Terkecuali Nada yang harus mengganggu konsentrasi Amdara.


"Luffy, sadarlah. Khakhaa. Kau mendengarku dari sana bukan? Apa pun yang sedang kau hadapi disana, tolong jangan menyerah. Khakhaa. Kau harus melawan dan bertarung sama seperti kami di sini. Khakhaa. Jika sampai kau kalah, kami di sini juga kalah karenamu. Khakhaa ...."


Ada nada sedih yang terlontar. Tatapan mata Nada juga mengisyaratkan dirinya sungguh meminta dengan sangat pada Amdara agar segera sadar.


Inay tidak ikut berlari. Kondisinya sudah memprihatinkan. Dia melihat adik seperguruannya sedang tersiksa.


"Luffy, sadarlah. Dengarlah suara kami dan lihatlah teman-temanmu ...! Apa kau ingin kami menyerah?! Usaha yang sudah kita lakukan akan gagal hanya karena kau tidak sadar ...! Kau bisa melihat perjuangan kami bertarung. Luffy, cepat ambil kembali kendali tubuhmu sendiri. Kau bayangkan saja jika Tetua Bram melihat keadaanmu ini ...!"


Inay berteriak menggunakan kekuatannya bahkan sampai para penonton mendengarnya merasa telinga mereka berdenging. Air mata Inay mengalir. Tidak sanggup lagi jika benar Amdara tidak akan sadarkan diri selamanya karena tubuhnya diambil alih orang lain. Dia tanpa sadar menyebut nama Tetua Bram.


Jauh dari arena pertandingan, bahkan di dunia nyata. Dunia yang dibuat Lasi, untuk menjerat jiwa orang yang ingin dia gunakan tubuhnya. Ruangan mengerikan masih terlihat, satu bocah yang keadaannya mengenaskan bergantung pada rantai merah darah tidak sadarkan diri. Matanya tertutup rapat, tapi telinganya mendengar samar-samar orang-orang yang dengan hangat menyebut namanya. Memintanya untuk melawan dan segera keluar dari ruangan mencekam tersebut. Dia mencoba membuka mata, tapi rasanya sangat sulit. Luka disekujur tubuhnya terasa luar biasa sakit. Satu nama yang terdengar di telinganya membuat dia berhasil membuka mata.

__ADS_1


__ADS_2