
Perlahan matanya terbuka. Hal pertama yang dia lihat adalah dinding putih bercorak bambu hijau-kuning serta bunga lili di atas sana. Setelah mengumpulkan kesadarannya, dia segera terduduk dan mengedarkan pandangan. Tempat asing yang membawa hawa misterius.
Bocah berambut putih itu mencoba mengingat sebelum kehilangan kesadaran. Saat teringat, dirinya terkejut.
"Kau sudah bangun?"
Seseorang menginstruksi lamunannya. Seorang pria berjubah putih nampak berjalan sambil tersenyum ke arah Amdara yang sontak segera berdiri dan memberikan hormat. Amdara tersentak dengan responnya sendiri.
Pria itu tidak lain adalah Tetua yang pernah Amdara tabrak pacsa berburu Roh Hitam. Tetua Moksa memberikan anggukan kepala agar Amdara segera menegakkan kepala.
Keterkejutan masih nampak di wajah datar bocah itu. Dia menelan ludah susah payah. Tidak ada orang lain selain dua orang itu. Perasaan aneh muncul kembali ketika mengingat pertemuan pertama mereka.
Tetua Moksa sama sekali tidak merasa terkejut. Karena memang seorang yang lebih tua harus dihormati oleh yang muda. Dia tidak mengetahui bahwa Amdara adalah bocah bertopeng yang pernah menabraknya.
Tatapan mata Tetua Moksa memerhatikan mata sebiru langit. Dia terdiam sejenak sebelum Amdara bertanya dirinya yang berada di mana. Tetua itu menjelaskan bahwa sekarang berada di alam bawah sadarnya, jadi bukan berada di dunia nyata. Jawaban itu membuat Amdara tersentak. Belum bertanya lagi, Tetua Moksa sudah terlebih dahulu mengatakan bahwa tubuh Amdara sekarang sudah aman berada di rumah kediaman Tetua Haki.
Amdara menarik napas lega. Dirinya berterima kasib kepada Tua Bangka di depannya. Sikap Amdara memang sudah sedikit berubah pads Tetua Haki.
"Nak, sepertinya kau memiliki masalah besar." Tetua Moksa memerhatikan Amdara, ada aura yang pernah dia rasakan di suatu tempat. Apalagi melihat rambut putih itu mengingatkannya kepada seseorang yang sudah lama dia tidak jumpai. Dia lantas kembali bersuara, "mengapa tidak mengatakannya kepada Tetua Haki?"
Amdara menahan napas, entah mengapa pikirannya tertuju pada Benang Merah. Tetua Moksa memang berbeda dengan Tetua yang lain, jadi bisa saja dia mengetahui sesuatu.
"Maaf, Tetua. Apa maksudnya?"
Tetua Moksa tersenyum. Dia berjalan ke arah kursi dan duduk di sana. Tangannya melibas, dua cangkir serta satu teko berisi teh hijau muncul begitu saja. Dia menuangkan teh ke cangkir sebelum akhirnya menyeruput sedikit.
Amdara berjalan ke arah Tua Bangka itu, tapi tidak ikut duduk karena belum dipersilakan. Saat ini Amdara berharap Tetua Moksa dapat membantunya.
Tetua Moksa melirik Amdara yang sedang menunggu jawaban dengan cemas. Tetua Moksa mempersilahkan bocah berambut putih itu untuk duduk.
"Apa kau tahu siapa aku?"
Amdara yang baru saja duduk tersentak mendengar pertanyaan barusan. Dirinya berkedip sebelum akhirnya mengingat bahwa Tetua Moksa belum pernah melihat wajahnya. Ada rasa lega di hati kecil Amdara mengingatnya. Dia kemudian menjawab bahwa dirinya tahu bahwa orang di depannya ini merupakan seorang Tetua Besar Moksa di Akademi Magic Awan Langit.
__ADS_1
Tetua Moksa mengangguk-angguk, dirinya menarik napas. Tangannya mengetuk-ngetuk tangan kursi sambil terus melihat rambut dan mata Amdara.
"Apa sebelumnya kau pernah bertemu denganku?" tanyanya yang langsung membuat Amdara terdiam sejenak sebelum mengangguk dan mengatakan pernah melihatnya di acara pertemuan pertama mereka. Tetua Moksa kembali mengangguk tanpa merasa ada kejanggalan.
"Kau pasti kesulitan selama ini," katanya. Dia menyambung kembali. "Akademi tidak mungkin mengirim orang lemah."
Amdara menelan ludah sudah payah. Dia rasa Tetua Besar Moksa memang mengetahui Benang Merah di inti spiritualnya. Tetua Besar Moksa lalu mengatakan bahwa Benang Merah di inti spiritualnya sudah merambat terlalu banyak dan akan sulit dihilangkan jika tidak segera dicabut.
Amdara jelas terkejut bukan main. Dia mengepalkan tangan kuat. Dugaannya benar selama ini. Yang menghambat jalannya kekuatan ke dalam tubuh serta tubuhnya yang sangat sakit adalah karena Benang Merah.
Tetua Moksa sebenarnya kagum dengan bocah di depannya. Bagaimana tidak? Bocah ini mampu bertahan hidup dengan adanya Benang Merah di inti spiritual nya. Apalagi Benang Merah itu sudah terlalu banyak dan nyaris menutupi inti spiritual. Jika orang biasa, dia sudah merasa frustasi karena tidak tahu cara mengatasinya serta sudah akan mengakhiri hidup karena merasa tidak berguna.
"Tetua, apa kau tahu cara mengatasinya?" Amdara akhirnya buka suara.
Tetua Moksa mengusap-usap jenggot putih panjang sambil menaikkan sebelah alisnya. Dia berujar, "kau bahkan belum mengatakan siapa namamu tapi malah bertanya demikian?"
Amdara berkedip sebelum akhirnya meminta maaf karena sudah bertindak tidak sopan. Dalam hati dia membatin, "sejak pertemuan awal aku tidak sopan dan pertemuan kedua juga demikian."
"Namaku ...." Amdara terdiam. Teringat bahwa dirinya pernah menyebut nama sebagar 'Dara' di pertemuan pertama mereka. Tidak mungkin dia mengatakan namanya itu, yang ada Tetua Moksa mengetahui mereka memang pernah bertemu sebelumnya. Tatapan mata Amdara bertemu dengan mata ungu milik Tetua Moksa.
Tetua Moksa mengangguk dan mengatakan bahwa nama itu pernah didengarnya dari para Tetua. Dia berujar, "ternyata kau."
"Mn?"
"Baiklah, kau sekarang memiliki permasalahan besar dengan adanya Benang Merah. Tidak mungkin kau bisa menjadi perwakilan Akademi. Aku salut melihat tekadmu mempelajari Teknik Pemusatan Kekuatan padahal jelas-jelas tahu kondisi tubuh sendiri."
Penjelasan Tetua Moksa langsung ke inti. Dia nampak terus saja mengelus-elus jenggotnya sambil manggut-manggut seperti sedang memikirkan sesuatu.
Penjelasannya barusan membuat Amdara menahan napas sejenak. Dirinya kemudian bertanya cemas, "Tetua, apa ada cara menghilangkan sampai ke akarnya?"
"Mn, aku bisa membantumu. Tapi tidak sampai ke akarnya." Tetua Moksa mengambil cangkir, meminum teh kemudian menarik napas panjang. "Hanya satu orang yang bisa menarik Benang Merah sampai ke akarnya."
"Siapa?"
__ADS_1
"Ketu, dari Tetua Akademi Nirwana Bumi."
Detik itu juga rasanya waktu berhenti berputar. Amdara seperti mendapat jawaban yang pasti. Ketu lah yang bisa melepas Benang Merah dari inti spiritualnya.
Tetua Moksa kemudian menjelaskan bahwa Benang Merah hanya bisa dilepas oleh seorang bernama Ketu. Bahkan seorang Tetua Besar Moksa saja tidak sanggup melepas sampai ke akar. Namun,Ketu ini dapat melakukannya. Walau demikian, dia sangat sulit ditemui. Jika Amdara berpikir akan pergi ke sana suatu saat nanti, itu hanyalah mimpi belaka yang tidak akan pernah terwujud.
Mendengar penjelasan itu membuat Amdara menurunkan pandangan. Tanpa di duga dia langsung berdiri dan memberi hormat.
Dia berkata, "Tetua, tolong bantu aku."
Tetua Moksa menarik napas dalam. Dia tidak tega melihat murid Akademi Magic Awan Langit ini mendapat Benang Merah yang entah di dapat dari mana.
"Baiklah. Tapi aku hanya bisa menariknya tanpa bisa mencabutnya. Dalam waktu tiga tahun ini kau akan bisa menggunakan kekuatanmu."
"Aku mengerti, Tetua."
Sebelum membantu, Tetua Moksa mengatakan bahwa prosesnya akan sangat menyakitkan. Jika Amdara tidak bisa menahannya, yang ada dia akan tewa sia-sia. Amdara yang mendengarnya tanpa ragu mengatakan dirinya bisa menahan dan tidak akan pernah tewas dalam hal seperti ini. Awalnya Amdara berpikir bahwa yang membantunya waktu itu adalah Tetua Moksa tapi setelah mendengar perkataan tetua itu, Amdara jadi berpikir lain.
Tetua Moksa menyentuh kepala Amdara. Sebuah kekuatan dahsyat menyelimuti tubuh Amdara yang kemudian berpusat pada inti spiritualnya. Semakin besar kekuatan itu, semakin besar pula rasa sakit yang terasa. Namun, Amdara masih bisa mengendalikan diri untuk tidak berteriak.
Proses itu sebenarnya tidaklah mudah. Hanya seorang yang berada di tingkat tertentu yang dapat melakukannya. Bahkan Tetua Moksa sendiri tidak bisa menekan rasa sakit di tubuh Amdara karena suatu alasan.
Tubuh Amdara terangkat ke atas, sebelum cahaya mengelilingi tubuhnya. Tangan Tetua Moksa mengepal, dirinya fokus melemahkan Benang Merah di dalam tubuh bocah itu. Bahkan Tetua Moksa sendiri sampai berkeringat dingin, dia tidak boleh memikirkan hal lain di saat seperti ini karena dapat membahayakan nyawa bocah berambut putih itu.
Membutuhkan waktu sampai tiga jam hingga akhirnya proses tersebut benar-benar selesai. Amdara diletakkan di kursi. Keringat dingin sudah bercucuran, napasnya juga berantakan.
"Bagaimana rasanya?" tanya Tetua Moksa yang dapat menarik napas lega karena proses sulit ini dapat diatasinya.
Amdara melihat kedua tangannya. Terasa kekuatan alam mengalir ke dalam tubuh. Bahkan dia merasakan kekuatan di dalam tubuh yang mengalir begitu lancar.
"Ini ..." Amdara tidak bisa berkata-kata. Dia segera memberi homat dan berkata, "terima kasih, Tetua."
Tetua Moksa tersenyum sambil mengelus-elus jenggot. Dirinya mengangguk, dan kembali duduk sambil minum teh hijau.
__ADS_1
"Duduklah, minum tehnya."
"Mn."