Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
121 - Sebelum Pertandingan


__ADS_3

Dirgan sendiri tidak bisa menggunakan kedua strategi yang dia buatnya. Dia berkata bahwa akan dekat dengan Nada sambil mengawasi keadaan. Ketika ada sesuatu, dia akan meminta Nada untuk memberikan petunjuk pada teman-temannya yang lain menggunakan kekuatannya.


Mereka setuju dan sepakat akan berusaha sebaik mungkin. Entah menang atau kalah, tapi mereka harus berusaha.


Mentari remang-remang mulai tenggelam. Menunjukkan hari sudah sore. Pertandingan terakhir berakhir tidak terduga. Kelompok kelas Tiga Tingkat Tinggi tidak kalah, sementara kelas Tiga Tingkat Atas juga tidak kalah. Karena keduanya memiliki pertahanan dan serangan dahsyat, Tetua Wan sudah berdiskusi dengan para Tetua dan menghasilkan keputusan bahwa kedua kelompok lolos babak final. Hasil mereka seri. Keputusan ini tidak bisa diganggu gugat.


Pertandingan babak final akan dilakukan saat malam hari setelah mereka semua diistirahatkan dalam waktu tiga jam.


Waktu istirahat itu Amdara gunakan untuk mengikuti Roh Hitam tanpa mengatakannya pada Inay dan teman-temannya yang lain. Saat ini Amdara sedang berada di atas atap asrama laki-laki diam-diam. Matanya tajam ke arah Roh Hitam yang sedang berjalan santai di depan asrama. Tangan Amdara mengepal, dia baru saja akan melesat tapi bahunya ditepuk oleh seseorang.


"Apa yang sedang kau lakukan di sini?"


Amdara terlonjak kaget dan segera menoleh ke belakang. Dia mendapati Cakra yang menatap curiga.


"Senior ...." Amdara mengembuskan napas lega. Jika itu orang lain, sudah dipastikan dirinya akan berada dalam masalah. Amdara kemudian buka suara tenang, "senior, kau sendiri apa yang sedang dilakukan di sini?"


Cakra berkedip mendengar pertanyaan balik dari lawan bicara. Dia mendengus dan berkata tanpa nada, "ini asrama laki-laki."


Amdara tahu ini asrama laki-laki. Dirinya menelan ludah untuk menenangkan diri. Dia mengalihkan pandangan ke depan. Mencari Roh Hitam yang kini entah berada di mana.


"Apa kau sedang mengintip?"


Amdara tersedak napas sendiri mendengar perkataan Cakra barusan. Amdara segera menggeleng dan menoleh. Mengintip apanya? Lebih tepatnya Amdara sedang memata-matai Roh Hitam.


"Tidak."


"Lalu apa yang sedang kau lakukan?"


"Mencari seseorang."


Cakra memerhatikan wajah Amdara yang tidak berekspresi. Dia menaikkan sebelah alisnya. Dan bertanya siapa orang yang sedang dicari Amdara sampai mencarinya di asrama laki-laki.


Amdara menjawab bahwa orang yang sedang dicarinya adalah seorang senior, tapi Amdara tidak tahu namanya. Dia juga mengatakan orangnya barusan ada di halaman asrama, tapi ketika Amdara mengalihkan perhatian sebentar, orang yang dicarinya sudah tidak ada.


Karena orang yang dicari Amdara entah pergi ke mana, Amdara hanya bisa menghela napas panjang. Dia kemudian berkata, "senior, aku izin pergi."


Amdara memberi hormat sebelum pergi. Dia kemudian melesat setelah mendapat anggukan dari Cakra.

__ADS_1


Cakra juga melesat ke arah belakang bangunan asrama. Ketika dia mendarat, dirinya berjalan ke arah hutan bambu dan nampak seseorang tengah berdiri memunggunginya. Lantas Cakra menepuk punggung orang itu yang terasa dingin.


"Apa yang sedang kau lakukan?"


Orang itu membalikkan badan dan tersenyum kaku ke arah Cakra.


"Aku sedang istirahat untuk pertandingan nanti."


Cakra menatap dingin orang di hadapannya yang mencoba menyembunyikan raut wajah terkejut. Oranh di hadapan Cakra adalah orang yang dia lihat sedang ditatap Amdara dari kejauhan.


Walaupun curiga dengan tingkah dan jawaban barusan, Cakra mencoba tidak berpikir aneh. Dia menghela napas panjang.


"Qi, istirahatlah di asrama," saran Cakra yang langsung diangguki orang bernama Qi itu.


Qi langsung melesat begitu cepat, seolah-olah memang ingin segera pergi.


Angin membawa perasaan aneh bagi Cakra. Dia melihat ke arah hutan bambu yang berbunyi karena angin. Dia menyipitkan mata dan segera melesat ke arah hutan bambu tersebut.


*


*


*


"Luffy, kau dari mana saja?"


Atma bertanya kebingungan. Dia mendapat tatapan mata seperti biasa.


"Mn, mencari angin," jawab Amdara lalu menanyakan keberadaan teman-temannya yang ternyata di asrama masing-masing untuk istirahat sejenak.


Atma mengatakan sebelum mereka pergi ke asrama, Guru Aneh menemui mereka dan mengatakan selamat serta pujian karena mereka masuk ke babak final.


Amdara mengangguk dia ingat Atma yang ingin belajar menjadi seorang alkemis. Tanpa beban, Amdara mengeluarkan kitab berisi penjelasan tanaman herbal, obat-obatan, ramuan, bahkan racun sekalipun. Kitab itu dia serahkan pada Atma yang melihat sampulnya tersentak.


"Aku pinjamkan. Pelajarilah."


Atma menerimanya dengan senang hati. Dia membuka isi dalam kitab perlahan. Matanya sampai berbinar-binar. Dia berkata, "Luffy, dari mana kau mendapat kitab selengkap ini? Apa kau meminjamnya dari perpustakaan?"

__ADS_1


Amdara menggeleng dan berkata, "itu milikku."


Amdara lalu mengatakan bahwa Atma tidak boleh mengatakan pada siapa-siapa mengenai kitab tersebut termasuk teman-teman yang lain. Amdara juga berpesan agar Atma menjaga kitab miliknya dengan baik.


Mendadak Atma menundukkan kepala. Dia perlahan menyodorkan kembali kitab tersebut sambil bergumam, "milikmu, yah ... mn, kurasa aku akan meminjam buku saja di perpustakaan. Ini terlalu berharga. Isi dan penjelasannya sangat lengkap. Bagaimana kau bisa meminjamiku kitab berharga ini?"


Gumaman barusan didengar Amdara yang mengembuskan napas. Dia benar-benar memiliki teman-teman yang baik. Amdara mendorong kitab tersebut yang langsung membuat Atma tersentak dan menatapnya.


"Karena kau temanku."


"Apa?"


"Aku harus pergi ke Balai Istirahat sekarang."


"Luffy, kau---"


Amdara melesat begitu saja sebelum mendengar perkataan lanjutan Atma. Atma membuka mulutnya dan beralih menatap kitab di tangannya. Dia tidak menyangka Amdara akan sebaik ini. Dengan cepat Atma menyembunyikan kitab tersebut di balik jubah, melihat ke kanan dan kiri takut ada orang yang akan merampas kitab tersebut. Atma kemudian berlari ke asramanya untuk menyimpan kitab itu dengan baik.


Sementara itu, Amdara memasuki Balai Istirahat dan mengedarkan pandangan. Masih berusaha mencari Roh Hitam, tapi tidak ada. Dia memutuskan untuk makan terlebih dahulu sambil menunggu waktu babak final.


Setelah mengisi perut dengan cepat, dia segera melesat pergi karena di Balai Istirahat rasanya banyak yang memerhatikan dirinya. Beruntung dari mereka tidak ada yang mendekati Amdara. Jadi bocah berambut putih itu tidak perlu merasa kerepotan sendiri.


Amdara memutuskan pergi ke hutan buatan. Dia berniat menyerap kekuatan alam dengan baik untuk persiapan nanti.


Bocah itu duduk bersila di tanah sambil memejamkan mata berkonsentrasi menyerap kekuatan alam yang melimpah. Perlahan angin memutari Amdara dengan aroma sejuk. Berwarna bening yang perlahan masuk ke tubuh. Amdara merasakan tubuhnya terisi oleh kekuatan. Ikat kepala Amdara sampai terambai-ambai oleh angin sejuk tersebut. Amdara menghirupnya dan mengembuskan perlahan.


Merasa sudah cukup beberapa saat kemudian Amdara membuka mata. Perasaannya cukup tenang saat ini. Dia bermaksud memainkan seluring yang terbuat dari bambu. Irama yang dia mainkan menenangkan. Membuat hawa di sekitar juga ikut tenang oleh alunan musik tersebut.


Tidak lama, seekor Serigala Berbulu Putih sedang berlari ke arah Amdara yang kini tersenyum tipis ke arahnya. Serigala Berbulu Putih yang dinamai Amdara sebagai Lang, duduk sambil menggoyangkan ekornya seolah menikmati irama ketenangan yang Amdara bunyikan.


Tangan Amdara terurur mengelus-elus kepala Lang. Membuat Serigala itu semakin senang. Amdara tidak tahu di mana tempat tinggal Lang sebenarnya. Setiap kali Amdara memainkan irama ketenangan, Lang selalu datang kepadanya.


Amdara menghentikan meniup seluring. Dia kemudian buka suara, "Lang apa kau menyukainya?"


Seolah mengerti dengan perkataan Amdara, Lang mengangguk dan terlihat matanya yang berbinar.


"Aku akan membutuhkan bantuanmu nanti."

__ADS_1


Amdara tersenyum. Dia akan membuat rencana untuk melenyapkan Roh Hitam. Tentu jika sampai lolos, bantuan Lang akan sangat bagus untuknya.


Cukup lama Amdara dan Lang menghabiskan waktu sambil memainkan seluring. Amdara akhirnya memutuskan ke lapangan karena mendengar suara Tetua Wan yang meminta para peserta segera berkumpul karena pertandingan sebentar lagi akan dimulai. Lang sendiri juga pergi lagi entah kemana.


__ADS_2