
Amdara memejamkan mata sesaat. Dia segera memakai cadar kembali karena melihat respon yang diperlihatkan oleh mereka.
"Aku menyesal. Aku berubah pikiran." Amdara segera pamit pergi dan melesat begitu saja sebelum hal-hal aneh seperti sebelumnya terjadi kembali.
Orang-orang yang berada di dapur terkejut karena Amdara melesat begitu cepat, bahkan dalam satu kedipan mata sudah tidak ada.
"Hah ... apa itu benar-benar manusia?" Wanita yang sebelumnya meminta Amdara membuka cadar nampak menahan napas dan menghembuskannya perlahan. Dia melirik ke arah pria yang sebelumnya mencurigai Amdara dan dirinya lantas berujar ketus, "ini semua karenamu yang telah mencurigai bocah cantik itu! Jika bukan karenamu, dia pasti sudah sedang belajar memasak!"
Pria yang ditunjuk tersentak. Tidak mau disalahkan turut berkata dengan nada tinggi. "Apa maksudmu?! Bukankah sebelumnya kau juga mencurigainya?!"
Keduanya saling berdebat dan menyalahkan satu sama lain. Bahkan chef lain juga menyalahkan kedua orang itu. Keadaan di dapur jadi riuh dan penuh bara emosi.
*
*
*
Amdara langsung mengganti cadar dengan topeng kucing hitam. Dia melesat begitu cepat melewati pintu penginapan. Bahkan orang-orang yang sedang makan sampai tersentak dengan angin berhembus begitu kencang.
Amdara baru mendarat di salah satu atap rumah warga. Dia menghembuskan napas lega karena tidak jadi bahan perhatian lagi. Dalam hati sedikit menyesal karena membuka cadar.
"Memalukan. Mereka terlalu berlebihan."
Bocah berambut putih itu membuka topeng. Angin menerpa wajahnya yang putih. Terasa segar di siang hari ini. Menggunakan kekuatannya, dia mengubah warna rambut menjadi cokelat, dia juga menggunakan topeng.
Seharusnya Amdara memang istirahat karena sudah lelah. Akan tetapi dia ingin melihat desa Ghu sebentar. Toh, malam nanti bisa istirahat sepuasnya. Dia melompat, mendarat di salah satu kedai minuman. Dirinya mengedarkan pandangan, dan segera berjalan menyusuri pasar siang itu yang cukup ramai.
Amdara melihat seorang pedagang kakek tua yang menjajakan manisan. Walau banyak orang yang melintas, tapi tidak ada yang membeli. Bahkan manisan itu masih terlihat sangat banyak.
Amdara mendekati kakek tua tersebut. Menanyakan berapa harga dari manisan itu.
"Hanya dua keping perak untuk satuannya, Nak. Kau mau? Ambillah," Kakek Tua itu memberi satu manisan kepada Amdara yang langsung menerimanya.
Walau menggunakan topeng, tapi dia tetap bisa mencium aroma manis lezat dari manisan ini.
"Aku membeli semuanya." Amdara melibaskan tangan, saat itu juga sekantong emas muncul tepat di meja.
Kakek Tua itu terkejut. Dia menatap Amdara lekat-lekat sebelum menanyakan apakah Amdara sedang bercanda atau tidak. Amdara menggelengkan kepala, kembali melibaskan tangan dan semua manisan di meja langsung menghilang.
"Apa sekantong emas ini cukup?"
Kakek Tua yang masih terkejut matanya nampak berkaca-kaca. Dia mengangguk mengatakan sekantong emas ini sudah sangat cukup untuk membeli makanan selama sebulan. Dia mengucapkan terima kasih, dan memberi doa agar Amdara selalu sehat dan terlindung dari orang-orang jahat.
__ADS_1
Amdara kembali berjalan setelah berpamitan. Dia mencari toko yang menjual obat-obatan, saat melihat ada tulisan Organisasi Tangkai, bergambar obat-obatan membuat Amdara yakin bahwa itu adalah toko yang menjual obat-obatan.
Amdara memasuki toko tersebut tanpa dicurigai. Dia disambut oleh seorang pelayan perempuan, yang menanyakan obat apa yang diperlukan anak ini. Pelayan ini sangat ramah, tidak membedakan antara anak-anak, orang dewasa, si kaya dan si miskin.
"Aku ingin bertemu pemilik toko."
Ucapan Amdara membuat pelayan tersebut tersentak. Pelayan itu tersenyum ramah dan berujar, "apa ada hal yang sangat penting, Nona Muda?"
Amdara mengangguk sebagai jawaban. Pelayan wanita itu kembali berujar, "baiklah, Anda tunggu di ruang itu. Aku akan memanggil pemilik toko."
Dia pergi setelah mengatakan hal tersebut. Amdara menunggu di tempat yang ditunjukkan. Hampir lima menit menunggu tapi si pelayan sebelumnya belum juga datang. Telinga Amdara berkedut, dia mendengar pembicaraan seseorang dalam jarak sepuluh meter.
"Cih, hanya seorang bocah. Mengapa sampai memanggilku?"
"Tuan, dia memiliki aura yang sangat kuat. Aku yakin dia bukan bocah biasa."
"Hmph. Seberapa besar auranya? Apa dia lebih kuat dariku?"
"Maaf, sebaiknya Tuan lihat sendiri saja."
Dari banyaknya suara, Amdara dapat memilih suara yang didengar. Dia terdiam sebentar. Suara derit pintu terbuka membuat Amdara segera berdiri.
Pelayan sebelumnya dan seorang pria dewasa kisaran berumur 30 tahunan berjalan mendekat. Pria yang mengenakan pakaian mewah itu menaikkan sebelah alisnya melihat seorang bocah perempuan mengenakan topeng kucing hitam.
Pria itu duduk, walau sebenarnya penasaran dengan bocah ini akan tetapi dia menahannya dan memilih menanyakan tujuan dari bocah di depannya.
Amdara mengangguk dan berkata, "apa Anda membeli sebuah pil?"
Nampak kerutan di dahi pria pemilik toko terlihat. Dengan suaranya yang sedikit angkuh mengangguk dan mengatakan, "jika benar. Memangnya kau mau menjual pil kepadaku?"
Amdara melibaskan tangan. Sebuah kotak muncul di meja. Dia membuka kotak tersebut. Ada beberapa pil di sana dengan aroma khas dan jelas sangat berbeda dari pil-pil biasanya.
"Anda bisa mengujinya."
Keterkejutan nampak di wajah pemilik toko. Dia bertanya dari mana bocah ini mendapatkan pil berkualitas itu, akan tetapi Amdara malah menjawab bahwa tidak perlu mengetahui siapa dirinya karena hal tersebut tidaklah penting.
Pemilik toko tersentak. Dia menelan ludah kesulitan. Mengambil salah satu pil yang sangat murni dan jelasnya sangat berbeda, bukan pil palsu. Dia langsung memanggil seseorang, dan meminta untuk menjadi kelinci percobaan.
Ketika pil tersebut bersentuhan dengan lidah, langsung melebur. Rasanya tidak terlalu pahit, akan tetapi masam. Satu, sampai lima detik tidak bereaksi sampai orang yang menelan pil tersebut tubuhnya bergetar hebat. Dia melihat kedua tangannya, merasakan kekuatan dalam tubuhnya meningkat pesat.
"Bukan hanya pil penambah kekuatan. Tapi ada pil penyembuh luka luar dan dalam. Anda bisa mencoba semuanya."
Amdara menjelaskan semuanya. Pil dengan khasiat berbeda juga memiliki bentuk dan warna berbeda.
__ADS_1
Pemilik toko sampai dibuat menahan napas dengan pil-pil luar biasa ini. Dia sampai kehilangan kata-kata.
"Nona Muda, ini ...."
"Berapa yang bisa kau bayar?"
Amdara langsung ke inti. Tujuannya kemari memang membutuhkan uang banyak untuk tabungan.
Pria itu mendadak tersenyum ramah. Mengatakan bahwa pil-pil ini akan dibeli semuanya dengan harga besar. Karena selain kualitasnya luar biasa, pil ini juga sangat langka menurutnya. Dia melibaskan tangan, detik itu juga satu juta kepingan emas muncul.
"Kuhargai pilmu sebanyak ini." Penjaga toko tersebut tersenyum bangga. Dia yakin penghasilan dari menjual pil ini akan lebih menguntungkan.
Amdara mengangguk, tanpa memberi perhitungan lebih lanjut. Dia juga melibaskan tangan, memasukkan kepingan emas tersebut ke dalam Cincin Ruang.
"Nona Muda, ini transaksi yang sangat luar biasa. Aku bisa memberikan lima persen saham perusahaan jika kau mau bertransaksi pil-pil ini kepadaku dan memberikan resepnya."
"Aku tidak tertarik." Ucapan sarkas Amdara membuat penjaga toko bungkam seketika itu juga. Dia baru hendak kembali berbicara, akan tetapi Amdara lebih dahulu pamit pergi dan mengeluarkan portal.
*
*
*
Amdara mengetuk pintu sebanyak tiga kali di depan kamar Tetua Widya. Ada sesuatu yang ingin dikatakannya. Pintu baru dibuka beberapa saat kemudian.
Tetua Widya mengerutkan kening dengan tamu tidak diundang ini. Apalagi bocah ini mengenakan topeng kucing. Sebelum bertanya, Amdara terlebih dahulu membuka topeng dan berkata, "Tetua, ini aku."
Mendengar suara barusan ditambah melihat wajah yang sangat familiar membuat Tetua Widya berkedip. Di hadapannya sekarang adalah murid didiknya sendiri.
"Haih, kupikir siapa. Ayo, masuklah." Tetua Widya menggelengkan kepala sambil menghela napas melihat tingkah aneh murid Akademinya ini.
Tetua Widya mempersilakan Amdara duduk. Dia duduk sambil terus memperhatikan Amdara yang sudah membuka topeng dan tidak lagi memakainya.
"Ada apa denganmu, mengapa memakai topeng dan mengubah warna rambut?"
Amdara menghela napas mendengar ucapan Tetua Widya yang terlihat sedang menahan tawa. Dirinya dengan suara tanpa nada berkata, "Tetua mengerti."
Seketika Tetua Widya memecahkan tawa. Dia sampai mengeluarkan air mata. Entah mengapa akhir-akhir ini dirinya sangat lepas saat tertawa.
Tetua Widya berkata, "karena wajahmu yang sangat mempesona sampai orang yang melihatnya tidak ingin mengalihkan pandangan."
"Haih, kau benar-benar beruntung memiliki wajah secantik itu, Nak. Masa depanmu akan cerah." Tetua Widya tersenyum hangat. Dia menyeruput teh hijau. Memperhatikan Amdara yang sangat cantik menurutnya walau masih sangat muda. Dirinya kembali buka suara, "ibumu pasti sangat cantik, ayahmu juga sangat tampan. Makanya bisa melahirkan anak secantik kau."
__ADS_1
Ekspresi Amdara terlihat sangat jelas, dia menurunkan pandangan. Tangannya terkepal dan mulutnya diam membisu. Perasaannya mendadak tidak karuan. Kesedihan mulai menggerogoti hati kecilnya.