
Bocah berambut putih itu membuka mata perlahan. Hal pertama yang dilihatnya adalah langit putih bercorak naga hitam. Seperti sesuatu yang fana. Dia berusaha mengumpulkan kesadaran, dan terduduk begitu menyadari dirinya tidak sedang berada di kota yang tengah diserang Raja Roh Hitam.
Amdara mengedarkan pandangan, di sekelilingnya benar-benar tempat asing. Dia melihat ke bawah, gelap dan berwarna merah darah. Saat dia sedang memperhatikan, matanya seketika membulat melihat lesatan putih yang awalnya kecil jadi membesar dan nyaris mengenainya.
Sontak Amdara terlonjak mundur, kaget bukan main. Lesatan putih itu menghilang saat menyentuh langit putih.
"Apa itu?"
Suasana sekitar mendadak terasa aneh. Di kepalanya terasa sejuk, nan menenangkan. Sementara di bawah kakinya terasa panas, dan sangat tidak nyaman.
Keringat dingin mulai keluar dari tubuh gadis itu. Dia menelan ludah susah payah mencoba menenangkan diri.
"Ini tidak benar."
Amdara menggelengkan kepala. Dia mencoba merasakan kekuatan dalam tubuh, masih terasa mengalir dengan baik.
"Aura ini benar-benar terasa familiar seperti Ratu Roh."
"Hmph. Dia sangat lemah."
"Apa dia bereinkarnasi?"
"Ha ha ha. Bukanlah dua makhluk berbeda itu pernah bersama? Kupikir bocah itu adalah. Graooarrh."
Suara-suara mengisi sekeliling Amdara bermunculan tidak ada habisnya. Mengerikan, memekakkan telinga dan membuat merinding. Tumpang tindih sampai Amdara tidak bisa mendengar dengan jelas.
Suaranya semakin keras, sampai membuat telinga bocah berambut putih itu mengalirkan darah segar. Walau sudah menutup dengan jari, tetap saja suara-suara aneh masuk ke telinga sampai berdengung.
Matanya mengedarkan sekeliling, hampa tidak ada siapa pun di sana kecuali dirinya.
"Hentikan!"
Amdara mencoba menyalurkan kekuatannya untuk membuat perisai pelindung. Namun, tiba-tiba langsung retak dan hancur.
Masih dalam kondisi syok, dia melesat pergi secepat yang dia bisa. Berusaha menghindar dari suara-suara yang semakin banyak. Namun, secepat dan sejauh apa pun dia pergi, nyatanya tempat itu sama sekali tidak berubah. Seolah sedari tadi hanya berputar saja.
Amdara sadar akan hal itu dan langsung berhenti. Jantungnya berdetak lebih keras dari sebelumnya. Perasaan aneh seperti takut tetapi juga terasa nyaman menyelimuti. Keringat dingin sudah bercucuran di tubuhnya.
"Berhenti mengoceh. Keluarlah kalian!"
__ADS_1
Tatapan matanya mulai berubah, tajam nan dingin di saat bersamaan.
Suara-suara sebelumnya secara tiba-tiba berhenti, detik setelah Amdara berkata.
Amdara perlahan menghembuskan napas pelan, tangannya turun setelah yakin0pp tidakppp ada suara yang mengganggunya.
Asap yang keluar dari bawah mengepul di udara langsung memutari Amdara. Bau tak sedap langsung tercium. Perlahan, asap itu memadat dan membentuk wujud makhluk bertanduk tiga hitam, bermata merah tajam, bertaring panjang, dan bertubuh hitam besar. Mengerikan!
Amdara menahan napas melihat wujud Raja Roh Hitam, dia mengepalkan tangan ketika sadar ada sepuluh Raja Roh Hitam di sekelilingnya.
Suara tawa menggelegar, membuat telinga langsung berdenging. Hawa panas serta menyesakkan dada terasa. Tekanan yang dirasakan satu anak manusia itu semakin menjadi hingga dia ambruk, tapi masih sadarkan diri.
Satu Raja Roh Hitam mendekat, tidak terdengar bunyi langkah. Dia melayang di udara dengan tubuh besarnya. Tangan pesar dipenuhi kuku tajam menyeret Amdara tanpa ampun. Sementara anak manusia tersebut tidak bisa melakukan perlawanan sebab tiba-tiba tubuhnya terasa mati rasa.
"Lepaskan."
Suara dinginnya terlepas. Tubuhnya benar-benar sakit saat diseret begitu saja. Bukannya mendengarkan, Raja Roh Hitam malah tertawa dan saat itu juga dia melempar tubuh Amdara ke arah lantai.
Suara retakkan tulang terdengar. Rintihan kecil juga terdengar. Darah mengucur dari keningnya saat dia menyentuh.
"Lihatlah, anak manusia itu benar-benar lemah. Ha ha ha."
"Graaoor! Sebaiknya kita habisi saja dia. Kemudian urus Lima Belas Bintang Malam."
Para Raja Roh Hitam itu saling tertawa tanpa mempedulikan Amdara yang kini mengepalkan tangan. Dan menatap tajam mereka. Sadar tempat ini bukanlah nyata.
"Dunia ciptaan Raja Roh Hitam. Aku benar-benar terperangkap."
Salah satu Raja Roh Hitam menyadari tatapan itu, dan dia langsung melesat ke arah Amdara. Tangannya mengangkat tubuh kecil itu dan kemudian kembali diban*ing, tidak sampai di sana bahkan Raja Roh Hitam melesatkan serangan ke arah Amdara dahsyat.
"Lemah. Masih terlalu lemah."
Saat ini Amdara benar-benar tidak berkutik. Dia merasakan sekujur tubuhnya sangat sakit, seperti bukan mimpi. Darah sudah mengucur deras di tubuh kecilnya.
Bukan hanya dirinya yang sedang terluka parah saat ini. Lintang, dia bertarung mati-matian melawan Raja Roh Hitam.
"Merunduk ...!"
Suara Lintang nyaring, sampai orang yang diserunya segera merunduk tanpa banyak tanya.
__ADS_1
Hantaman keras akibat bangunan yang dilempar serta serangan Raja Roh Hitam berbenturan keras mengakibatkan sambaran petir di langit gelap.
Darah mengucur dari mulut Lintang yang sudah banyak terkuras kekuatan. Dia tidak henti-hentinya menyerang Raja Roh Hitam yang hendak menyerang orang lain. Kini Lintang berhadapan langsung dengan Raja Roh Hitam yang menggeram keras sampai membuat angin kejut.
Graaoor!
Lintang menyilangkan kedua tangan depan kepala, membuat perisai pelindung. Saat angin kejut menghilang, dia segera menurunkan tangan.
"Yang perlu kulakukan sekarang adalah menyerang sambil menunggu Lima Belas Bintang Malam datang. Uhuk." Lintang terbatuk darah. Namun, dia malah tersenyum miring, menatap tajam musuh. Dia bertutur, "ternyata selama ini Lima Belas Bintang Malam kuat ya? Menahan rasa sakit ini hanya demi warga kota."
Lintang menggeleng. Lima Belas Bintang malam yang selama ini melindungi mereka tidak diketahui jelas wajahnya. Namun, dari postur tubuh mereka jelas masih anak-anak muda.
Dia kembali melesat menyerang saat musuh juga melemparkan serangan. Kali ini benturan kedua kekuatan sangat keras sampai membuat tanah bergetar hebat, beberapa bangunan roboh.
Warga yang sudah banyak terluka juga tidak tinggal diam. Mereka menyerang secara berkelompok dengan kerja sama baik. Bahkan anak-anak yang cukup kuat turut turun tangan membantu walau hanya memberikan efek serangan kecil. Para lansia yang berpengalaman juga membantu.
Malam ini tidak ada yang berdiam diri berlindung. Semua warga kota ikut andil dalam menyerang Raja Roh Hitam yang sangat kuat.
Salah seorang anak terlempar akibat serangan nyasar. Dia nyaris terkena sambaran petir lain andai seseorang tidak segera menyelamatkannya.
"Apa kau baik-baik saja?"
Anak itu menoleh ke belakang, seseorang yang lebih tinggi darinya dan memakai topeng yang hanya menutupi sebagian wajah dengan corak akar itu bertanya tenang.
"Bintang Malam? Apa kau benar-benar salah satu dari Bintang Malam?!"
Anak itu membulatkan mata saat mendapatkan anggukan dari lawan bicara. Tangisnya pecah saat itu juga, bantuan yang diharap-harapkan akhirnya datang!
"Maafkan aku datang terlambat. Sekarang kau bisa tenang. Semuanya akan baik-baik saja. Pergilah ke tempat persembunyian."
Kata bocah bertopeng itu. Lawan bicara mengangguk dan langsung melesat pergi pelan.
Salah satu Lima Belas Bintang Malam itu memakai jubah berwarna kuning keemasan. Memiliki ciri khas berupa anting kalajengking hitam yang menggantung di satu telinganya.
Tatapannya berubah tajam. Di bawah kakinya, asap terang berwarna kuning keemasan muncul.
Tidak hanya dimiliki olehnya, tetapi keempat belas Bintang Malam lain juga demikian dengan warna kekuatan berbeda.
Dia melesat, menyerang secara beruntun ke arah Raja Roh Hitam yang terlonjak kaget dengan kedatangan mereka.
__ADS_1
Tujuh Raja Roh Hitam yang sebelumnya tidak berada di Penginapan Seribu Rasa kini berada melawan sekitar Tiga Belas Bintang Malam turun membantu warga kota. Serangan mereka benar-benar luar biasa sampai membuat makhluk lain itu terdorong mundur.