Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
18 Bocah Berambut Putih


__ADS_3

BAAM!


Amdara terpental sejauh lima belas meter akibat dari kedua serangan yang berbenturan. Begitu juga dengan Bena yang terpental ke arah bangunan sekolah sampai retak.


Inay menggunakan rambutnya untuk membuat perisai, tetapi dahsyatnya kedua serangan barusan membuatnya kembali terpental tidak kuat menahan serangan.


Para penonton langsung membuat perisai pelindung, tetapi ada yang tidak bisa menahan serangan nyasar dan mengakibatkannya terpental.


Dirgan, Nada, Atma, Rinai dan teman-teman kelas C untungnya dilindungi oleh perisai pelindung milik Guru Ghana.


Darah mengalir di mulut, hidung dan telinga Amdara. Bocah berambut putih itu merasakan tubuhnya benar-benar terasa sakit, bahkan tulangnya kali ini seperti terbakar ditambah perutnya semakin terasa sakit. Amdara mencoba berdiri, tetapi kekuatannya telah berkurang banyak. Amdara mencoba menyerap kekuatan alam kembali untuk menyembuhkan luka dalam terutama perut.


Bena langsung tidak sadarkan diri setelah menggunakan seluruh kekuatannya. Tubuhnya terluka parah, dan dibawa oleh seorang senior ke ruang istirahat untuk diobati.


Suasana jadi riuh, mereka benar-benar tidak menyangka pertarungan ini sangat dahsyat dan sangat tidak menduga bahwa murid dari Kelas Satu C lah yang menang.


Dengan ini Guru Ghana langsung mengumumkan sang pemenang, yaitu Luffy dari Kelas Satu C sebab Bena yang tidak sadarkan diri walaupun tidak mengatakan menyerah.


Lapangan itu sangat kacau, hangus dan retakan besar di mana-mana ditambah gedung sekolah yang retak karena tubrukkan keras tubuh Bena.


Inay segera melesat ke arah Amdara yang tengah terbaring dengan darah di sekujur tubuh.


"Luffy?!"


Inay meneteskan air mata, perut Amdara .... Inay segera mengalirkan kekuatan untuk membantu menyembuhkan luka dalam tetapi kekuatannya ditolak oleh tubuh Amdara.


"Luffy, apa yang kau lakukan? Jangan tolak kekuatanku. Hiks." Inay masih mencoba mengalirkan kekuatan tetapi hasilnya nihil.


"Aku baik-baik saja."

__ADS_1


Amdara masih bisa tersenyum di saat seperti ini, dia mulai membaik setelah menyerap kekuatan alam perlahan.


Guru Ghana baru saja mendarat dan akan membantu pengobatan Amdara tetapi tiba-tiba saja Guru Aneh juga mendarat lalu mencegah dan mengatakan akan mengurus murid didiknya sendiri. Tentu Guru Ghana merasa tersinggung.


"Apa maksudmu? Anak ini memiliki bakat luar biasa. Kenapa masuk kelasmu?" Guru Ghana berucap sinis. Dirinya merasa pangkatnya jauh lebih tinggi dari Guru Aneh. Dan tentu semua guru menganggap Guru Aneh tidak memiliki pangkat apa-apa di sekolah ini hanya seorang yang pantas berada di kelas terbuang.


"Guru Ghana, sejak awal dia memang memiliki bakat, tapi mengapa Tetua menempatkannya pada kelasku?" Guru Aneh tersenyum di balik topeng.


Guru Ghana tersentak, dia menggeleng tidak percaya. "Jangan bicara omong kosong. Biarkan aku yang merawat lukanya."


Baru saja Guru Ghana akan membawa tubuh kecil Amdara akan tetapi Guru Aneh mengatakan sesuatu yang membuat Guru Ghana mati kutu.


"Tidak perlu repot-repot. Aku yang akan menyembuhkan luka muridku sendiri. Sebagai wasit, seharusnya kau langsung menghentikan pertandingan sengit itu sebelum keduanya terluka parah. Guru Ghana sepertinya lupa dengan perkataan sendiri?"


Inay seketika menghentikan tangisnya, yang dikatakan Guru Aneh memang benar. Wasit ini seperti sengaja tidak bertindak ketika Amdara dan Bena melakukan jurus dahsyat yang berakibat fatal.


"Guru, tolong cepat bawa Luffy."


Sesuai permintaan, Guru Aneh langsung membopong tubuh kecil Amdara dan pergi tanpa mengatakan apa pun. Inay melesat mengikuti dari belakang.


Guru Ghana mengepalkan tangan, rencananya seperti telah diketahui oleh Guru Aneh. Tatapan mata Guru Ghana terarah pada Guru Aneh yang semakin menjauh.


*


"Ke mana guru membawa Luffy?"


Napas Dirgan terengah-engah ketika dia terus berlari tanpa henti ke arah lapangan tempat di mana Amdara terpental. Sebuah lubang besar masih membekas, darah yang tercampur dengan tanah hitam masih terlihat walaupun samar.


"A-aku rasa ke tempat guru itu."

__ADS_1


Atma menghentikan langkah, punggung tangannya menyeka keringat di dahi. Tidak disangka hanya lari segini saja sudah kelelahan, benar-benar lemah!


Nada dan Rinai baru saja sampai di belakang Atma, dan langsung terjatuh saking lelahnya. Mereka tidak pernah melakukan latihan fisik, jadi wajar saja kelelahan. Dua anak perempuan itu bahkan kehausan sekarang akibat terus lari.


"Air. Aku ingin minum. Huhuhu." Rinai menangis, dia menyentuh lehernya yang terasa kering.


"K-khakha ... ini melelahkan! Sangat lelah dan lemah!"


Nada tertawa samar, dia mengepalkan tangan kuat. Pertandingan barusan membuatnya sangat iri pada Amdara dan kesal pada diri sendiri yang tidak berguna. Rasa ingin kuat terasa dalam dada, selama ini dia tidak merasa seperti ini, lebih tepatnya Nada belum merasakan sesuatu yang mendorongnya lebih ke arah rasa ingin kuat.


Rinai, Dirgan dan Atma pun merasa demikian. Mereka sekarang hanya bisa berharap suatu saat nanti menjadi seseorang yang kuat dan tidak tertandingi.


"Kau tahu di mana tempat guru?" tanya Dirgan pada Atma.


Atma mengatakan dirinya juga tidak tahu. Selama ini mereka tidak tahu apa-apa mengenai guru, bahkan nama saja tidak mengetahuinya. Entah selama ini memang hubungan murid dan guru atau hanya orang asing yang mengajari mereka. Anehnya mereka tidak pernah bertanya nama atau yang lain pada guru dan guru juga tidak pernah memberi tahu namanya sendiri.


Para penonton setelah ledakan dahsyat itu langsung bertanya-tanya kekuatan besar apa itu. Rasa kagum dan tidak percaya menyelimuti mereka. Namun, ada juga yang mengatakan bahwa murid dari Kelas C telah melakukan kecurangan dan membuat Bena kalah. Salah satunya adalah teman Bena.


"Bocah itu telah melakukan kecurangan! Dia pasti sengaja melakukannya. Kalian lihat kan bagaimana Bena hampir mati karena jurus bocah dari kelas c?!"


Dia terus menginformasikan hal-hal tidak sesuai. Dan mengatakan bagaimana mungkin Bena dikalahkan begitu saja oleh seorang bocah dari kelas c?! Sangat sulit dimengerti tetapi beberapa teman Bena yang menyaksikan sendiri memang lawan memiliki bakat dan tidak melakukan kecurangan. Namun, ada juga yang terpancing perkataan orang yang memprovokasi ditambah Padma yang tiba-tiba saja mengatakan hal buruk.


"Yang Senior katakan benar. Bocah berambut putih itu adalah penyusup, jelas dia memiliki jurus terlarang. Pasti dia menggunakan jurus terlarang itu untuk melawan Senior Bena!"


Padma menyeringai, dengan ini maka Amdara akan mendapatkan banyak masalah. Padma berniat balas dendam dengan Amdara yang telah mengerjainya ketika hukuman cambuk.


Daksa kemudian ikut menceritakan bagaimana Amdara yang masih hidup setelah termakan Bunga Teratai Penghisap Nyawa milik Padma dan menyusup tanpa diketahui oleh para Tetua tentunya saat para Senior tengah melakukan misi hari itu.


Para Senior yang mendengarnya tersentak, tidak menyangka bahwa lawan Bena adalah penyusup yang berbahaya.

__ADS_1


"Tapi bukankah kau menggunakan jurus dari klanmu yang berbahaya? Apa itu tidak masalah? Jika dia sampai mati kau akan mendapat masalah besar, Nak."


Seorang Senior berpikir demikian, dia tidak tahu bahwa Amdara adalah orang dari Negeri lain.


__ADS_2