Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
173 - Daerah Roh Hitam


__ADS_3

"Aku mengerti."


Ucapan Amdara barusan membuat Tetua Haki mengangguk dan segera pergi setelah meminta Amdara untuk sementara waktu bermeditasi.


Sepertinya Tetua Haki, Amdara menarik napas dalam. Dia berujar sambil tersenyum tipis, "aku akan tetap menjalankan misi dari Tetua Bram, tanpa sepengetahuanmu, Tetua. Aku mengerti."


Amdara mengambil tempat duduk di atas batu besar. Mulai melakukan meditasi sesuai permintaan Tetua Haki.


Misi datang ke Negeri Nirwana Bumi, adalah melenyapkan Roh-roh Hitam dan mencari orang tua Amdara. Bagaimana mungkin dia sampai tidak menjalankan misi dari seorang Tetua Organisasi Elang Putih? Hmph, jika boleh jujur bocah berambut putih itu lebih memilih Tetua Bram daripada Tetua di Akademi Magic Awan Langit.


Melakukan meditasi umumnya dilakukan untuk menenangkan pikiran. Disertai dengan menyerap kekuatan alam secara bertahap untuk memasuki tubuh agar lebih kuat.


*


*


*


Dua hari di dalam gua tanpa membuka mata atau bahkan bergerak hanya untuk melakukan meditasi sama sekali tidak membuat seorang bocah merasa bosan atau bahkan kelelahan. Bocah ini bahkan sangat nyaman dengan suasana sepi nan dingin di sekitar. Sudah lama dirinya tidak merasakan suasana setenang ini.


Saat membuka mata, pikirannya sangat jernih. Mata biru langitnya berkedip sambil menarik napas panjang. Dia melibaskan tangan, sebuah peta muncul terbentang di hadapannya. Masih banyak titik-titik merah di sebuah daerah yang belum dia pijak. Dia melukai jari kelingking sampai berdarah.


Setelah mengetahui lokasi dengan cara menyentuh daerah yang ingin didatangi menggunakan jari kelingking kemudian meneteskan darahnya di peta tersebut, sebuah portal muncul di depannya.


Daerah tersebut tentunya adalah daerah zona merah karena banyak Roh-roh Hitam berkekuatan besar. Besar kemungkinan bukan lagi Roh Hitam, melainkan Raja-raja Roh Hitam.


Bocah berambut putih itu memasuki portal, dengan aura berwibawa. Sebuah cahaya menyeruak sampai ketika dirinya membuka mata, sebuah tempat asing telah terpampang jelas di mata biru langitnya. Dia terbang dengan tatapan mata datar, tidak ada ekspresi yang terlihat di wajah putih bersihnya.

__ADS_1


Desa terpencil dengan sepuluh rumah, yang sekelilinginya dipenuh lebatnya pepohonan besar nan terlihat seram. Bahkan angin yang berhembus terasa tidak nyaman. Tidak ada satu pun orang yang keluar di mentari siang ini. Desa tersebut seperti desa tidak berpenghuni. Sangat sepi dan menyeramkan walau cahaya dari sang matahari menyinari.


Amdara mendarat di salah satu atap rumah yang terbuat dari jerami. Hawa di sekitar memang terasa aneh, bocah itu sontak mengedarkan pandangan ke sekitar mengamati situasi.


Dia melompat mendarat di depan rumah. Perlahan, tangannya terurur mengetuk pintu. Tiga kali berturut-turut tidak ada respon dari sang penghuni rumah. Sampai ketika Amdara memilih membuka pintu, walau tidak sopan sebab tidak ada pilihan lain.


Kakinya melangkah, menyusuri ke sekitar yang sama sekali tidak ada makluk hidup. Hanya barang-barang rumah tangga bergeletakkan tidak beraturan. Mata biru langitnya terpaku pada satu titik, di mana satu dinding nampak ada cakaran. Saat diperhatikan baik-baik cakaran itu seperti binatang buas. Tidak ada bercak darah, dinding pun masih sangat utuh tidak ada tanda-tanda telah terjadi penyerangan.


Amdara pergi ke rumah lain, keadaannya nyaris sama persis. Dari sepuluh rumah, sama sekali tidak ada orang yang keluar. Desa ini seperti tidak berpenghuni. Entah sudah berapa lama ditinggalkan, tapi yang pasti orang-orang desa pasti keluar desa karena suatu alasan.


Amdara menarik napas dalam, baru saja hendak melihat keadaan dibalik sekat, suara aneh keluar hingga membuatnya mengerutkan kening. Amdara membuka sekat, tidak ada apa-apa di sana. Hanya bak mandi pada umumnya.


Suara seperti jeritan disertai tangisan sangat lirih masih terdengar. Tanah yang tertutup oleh dedaunan yang dipijak Amdara tiba-tiba saja bergerak. Sontak Amdara termundur sampai tidak menginjak tanah yang bergerak itu.


Amdara tidak merasakan adanya bahaya, tapi dirinya mengambil sikap waspada karena tanah itu terus saja bergerak. Sesuatu tidak terduga terjadi, tanah tersebut terbuka. Terlihat lubang sebesar orang dewasa terlihat. Seseorang muncul dari sana dengan penampilan memprihatinkan.


"A-ampuni aku ...! Tolong ampuni aku ...!"


Suara tangisnya meledak, masih ketakutan menatap Amdara. Wanita itu ambruk gemetaran.


Sementara bocah berambut putih itu juga terkejut dengan respon yang diberikan manusia ini. Dia baru saja hendak mendekat, tapi orang lain muncul dari lubang.


Tatapan matanya bertemu dengan seorang pria tua yang juga langsung menangis ketakutan sambil meminta pengampunan dari sosok di hadapannya. Keadaan ini sungguh di luar dugaan.


Amdara baru maju satu langkah, akan tetapi dua orang itu bertambah kencang menangis dan memundurkan langkah ketakutan. Dua orang ini memakai pakaian yang sudah sangat kotor, bahkan tercium aroma tidak sedap. Jeritan itu sangat persis dengan jeritan ketakutan sebelumnya yang sangat lirih. Melihat keadaan ini membuat Amdara yakin ada sesuatu yang salah.


"Tenanglah. Aku tidak akan memakan kalian."

__ADS_1


Ucapan Amdara yang tidak terduga itu bukannya membuat dua orang tersebut tenang malah semakin menjerit ketakutan. Amdara menarik napas dalam, memikirkan cara agar bisa berbicara dengan kedua orang ini.


"Aku manusia."


Detik ketika itu, dua orang yang mendengar 'manusia' membuat mereka perlahan menghentikan tangis. Memperhatikan Amdara dengan baik.


Melihat respon itu, Amdara kemudian berkata tanpa nada, "paman, bibi, apa yang terjadi di desa ini?"


Lawan bicara saling pandang sebelum akhirnya perlahan mendekati Amdara. Keduanya takut-takut menyentuh jubah Amdara, sampai menyentuh pipi putih Amdara.


Amdara tidak melakukan apa-apa, dirinya malah tersenyum tipis dengan tindakan ini. Wajahnya nampak cantik, dan ramah. Tapi dalam hati ingin sekali melenyapkan Roh Hitam yang mungkin membuat keadaan orang-orang ini seperti sekarang.


Wanita yang wajahnya sangat kotor itu kembali menangis, tapi kali ini sambil memeluk bocah di depannya. Sementara pria tua di sampingnya juga kembali menangis.


"A-apa kau benar-benar manusia, Nak?" tanya wanita itu dengan suara serak. Melepas pelukan, kemudian menyentuh kedua pipi Amdara menggunakan tangannya.


Amdara masih tersentak, tapi dia mencoba terus tersenyum dan mengangguk. Dirinya berkata, "mn, aku manusia."


Wanita itu semakin menangis entah karena apa. Kembali memeluk Amdara erat-erat seolah takut kehilangan.


Dengan suara serak dan terputus-putus wanita yang tidak tahu bernama siapa ini berucap, "hiks, a-apa kau baik-baik saja, Nak?"


"..."


"S-syukur kau masih hidup. Hiks. A-aku tahu semua akan ba-baik-baik saja."


"..."

__ADS_1


"P-pasti b-bantuan sudah tiba kan? Mereka tidak melupakan k-kami? Hiks."


__ADS_2