Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
105 - Nada (2)


__ADS_3

Di depan Balai Istirahat, telah ramai oleh murid-murid yang menyaksikan tujuh bocah sekaligus menyerang Aray yang lebih sering membuat perisai pelindung. Dua menit berakhir begitu cepat. Untunglah Aray masih bisa membuat perisai menggunakan kekuatannya yang telah terkuras banyak.


Inay dan teman-temannya tidak diizinkan Aray untuk ikut campur. Tentu saja Inay merasa kesal begitu pula dengan yang lain.


"Bukankah kita teman? Kenapa Aray tidak membiarkan kita membantu?!"


Atma menggigit kuku jari dengan kesal melihat pertarungan yang berat sebelah.


Apalagi wajah Inay yang sudah memerah karena marah. Dia menghentakkan kaki dan berkata, "dasar Aray keras kepala! Dia itu masih baru dalam hal kekuatan. Tapi kenapa begitu sombong?!"


Dirgan menepuk-nepuk bahu Inay dan Atma menenangkan. Sebagai Ketua Kelas, Dirgan tahu harus berbuat bagaimana.


"Aray hanya tidak ingin kita terluka. Apalagi kau, Inay yang nanti akan bertanding. Simpan kekuatanmu." Dirgan membuat Inay menghela napas panjang.


Apa yang Dirgan katakan memang benar. Namun, jika Aray dibiarkan pasti akan terluka parah. Lihat saja, sekarang Aray dalam posisi terdesak dan telah tergores serangan lawan.


Nada yang melihatnya menyeringai dan berkata pada teman-temannya santai, "kalian tenanglah. Khakhaa. Aku yang akan membantu Aray."


Dirgan, Atma, Inay, dan Rinai tidak tahu apa yang dimaksud Nada yang kini memeluk boneka erat dan menatap salah seorang murid yang mana sedang menonton pertandingan ini.


Sebuah suara cekikikan terdengar, tetapi bukan milik Nada melainkan seorang murid perempuan yang langsung menutup mulut tidak percaya. Suara barusan bukan miliknya. Beralih ke murid lain, yang hendak menyerukan nama kelompok Jao, tetapi yang ada dia malah mengaum tidak jelas, detik berikutnya membuat semua orang terkejut. Bahkan Jao yang hendak melesatkan serangan berhenti tiba-tiba.


"Jao dan teman-temanmu pecundang! Sudah kalah tetapi masih berniat membalaskan dendam. Khakhaa! Benar-benar tidak kuduga tingkah menyedihkan kelas Satu B ini."


Murid itu sontak menutup mulut. Jantungnya berdetak keras melihat tatapan mematikan Jao dan keenam kawannya.


Nada yang melihatnya menutup mata. Dia kembali berulah dengan menggunakan jurus barunya. Setiap kali ada yang hendak membuka mata, dia target lanjutan dari Nada. Keisengan Nada yang mengatakan Jao dan teman-temannya sebagai pecundang karena sudah terlihat kalah tetapi malah menindas yang menang. Tidak hanya sampai di sana, ada murid yang terkena jurus Nada dengan berujar sinis mengatakan bahwa kelas Satu C sudah berbeda dari dahulu.

__ADS_1


Yang paling parah adalah ketika seorang murid senior yang berkata bahwa Jao jika terus menindas malah terlihat tidak ada gunanya dan menunjukkan kelemahan dengan membawa teman-temannya untuk melawan Aray dan telah membuat kerusakan pada aturan Akademi.


Tentu semua orang dibuat tercengang dengan murid-murid yang terkena jurus hebat Nada. Mereka menggelengkan kepala, dan berkata bukan merekalah yang berbicara. Tentu saja Jao dan kawan-kawan tidak percaya. Dengan menahan amarah memuncak, Jao dan rekan-rekan pergi dengan perasaan malu.


"Mn. Rasakan. Khakha."


Nada cekikan sendiri ketika tidak ada yang sadar dirinyalah pembuat ulah tersebut. Bahkan karena ucapan-ucapan pedas yang keluar dari mulut target Nada, teman-temannya tidak memerhatikan mulut Nada yang sedari tadi seperti mengucapkan sesuatu tetapi tidak mengeluarkan suara.


Karena Jao dan teman-temannya pergi, Aray bisa menarik napas lega. Dia mengerutkan alis ketika melihat murid-murid yang telah membantunya seakan tidak mengakui bahwa merekalah yang berkata demikian. Tidak ingin ambil pusing, Aray menghampiri teman-temannya yang terlihat menatap kesal.


Inay menginjak kaki Aray dengan keras dan berkata seolah tengah melampiaskan segalanya.


"Apa kau puas? Dasar sombong. Baru bisa mengaktifkan kekuatan tapi berani menantang orang lain. Cih!"


Atma tiba-tiba menarik telinga Aray dengan keras dan berujar kesal, "Aray sudah kelewatan! Jaga tingkahmu. Bisa-bisa kau akan menyeret teman-temanmu dalam bahaya. Tau tidak?!"


"Berani sekali kalian menyentuh dan mengomeliku! Aku tidak akan memaafkan!"


Tersulut emosi, Aray membanting tubuh Atma keras sampai temannya itu merintih kesakitan. Detik berikutnya Aray melesatkan serangan pada Inay yang langsung menghindar dengan cepat.


Dirgan menepuk jidat sendiri karena ulah teman-temannya banyak yang mengarahkan pandang pada mereka. Bukannya bersyukur tidak jadi melawan Jao, yang ada sekarang malah saling menyerang teman satu sama lain.


Ada satu hal yang masih membuat Dirgan penasaran dengan perkataan-perkataan para murid yang tertuju pada Joa. "Mereka tidak mungkin berniat membantu kami. Pasti ada sesuatu."


Rinai sendiri terlihat menggelengkan kepala melihat sekarang Inay menggantungkan tubuh Aray dengan melilitkan rambutnya pada kaki. Jelas saja Aray berteriak dan meminta Inay menghentikan aksinya, tetapi Inay tidak menghiraukan.


Terlihat Nada yang melihat Puli baru saja masuk ke Balai Istirahat. Dengan cepat Nada mengikuti setelah izin pada Dirgan dirinya memiliki urusan.

__ADS_1


Ketika memasuki Balai Istirahat, Nada menyapu pandang mencari Puli. Dirinya melangkah maju dan baru terlihat Puli yang sudah membaik sedang mengantri mengambil makanan.


"Karena kau juga telah membantuku. Jadi aku akan membalas budi. Khakhaa."


Nada duduk di salah satu bangku kosong. Dia mengetuk-ngetuk jari pada meja sambil menunggu kesempatan.


Ketika seorang senior laki-laki berdiri di depan Puli dan hendak membuka mulut karena tengah berbincang dengan teman-temannya, sesuatu tak terduga terjadi.


"Puli, kau ambil tempatku saja. Aku belum terlalu lapar."


Antara hati, pikiran dan mulut yang tidak berniat berkata demikian membuat Senior itu kebingungan. Teman-temannya juga terlihat menautkan alis dan bertanya apa maksud dia.


"Aku hanya bermaksud agar Puli bisa mengambil tempatku karena dia baru saja menghabiskan kekuatan. Pasti dia lebih lapar dariku."


Puli yang posisinya di belakang senior di depannya menyerngitkan dahi. Dia menepuk senior itu dan bertanya memastikan. Nampak senior tersebut jadi tidak enak, dia hanya mengangguk dan mundur. Membiarkan Puli mengambil tempatnya tanpa merasa heran.


Nada yang melihatnya tersenyum. Tentu saja dia tidak akan mengatakan terima kasih secara langsung, tapi lewat hal-hal kecil yang jelas akan sangat membantu Senior Puli.


Kekuatan Nada sebelumnya karena dampak suara musik milik Puli yang awal mulanya membuat telinga Nada berdenging hebat dan detik berikutnya tubuhnya terasa sangat sakit. Nada merasakan panas yang menjalar di setiap aliran darah.


Lagu yang dibawakan Puli berpengaruh pada inti spiritual Nada yang tiba-tiba terbuka seperti bereaksi terhadap suara musik. Dari sanalah Nada berteriak dan merasakan sakit luar biasa. Entah memang kebetulan atau Nada ditakdirkan berpengaruh terhadap suara musik atau lagu, namun dia sangat bersyukur karena sekarang bisa merasakan kekuatan mengalir dalam tubuh.


Dengan aktifnya kekuatan Nada akan menambah kekuatan baru pada kelompok. Nada berniat memberi tahukan jenis kekuatannya besok, ketika pertandingan dilanjut.


Bocah berkepang dua itu berniat keluar dari Balai Istirahat. Namun, tatapannya terkunci pada murid penjaga gerbang yang pernah diberi obat penawar oleh Amdara sekarang terlihat sehat tanpa ada benjolan di dada seperti perempuan. Itu menandakan racikan pertama Amdara benar-benar berhasil. Dia terlihat tengah tertawa dan sesekali memuji seseorang yang membuat Nada menghela napas panjang.


"Khakha. Apa kami akan dihadapkan masalah kembali?"

__ADS_1


__ADS_2