
Suara musik terdengar, membuat gendang telinga siapa pun terasa sakit. Pusaran angin api mengelilingi Raja Roh Hitam yang masih belum bereaksi. Percikan api meletup ke atas. Cahaya dari listrik menyatu dengan pusaran angin tersebut. Debaman keras terdengar, petir-petir menyambar ke segala arah hingga menghanguskan rumah-rumah serta pepohonan di sekitar.
Jurus gabungan dari Puli, Giba, dan Cakra seharusnya mampu membuat musuh tergores walaupun sedikit. Nyatanya musuh malah tertawa terbahak seolah sekarang dia sedang meladeni anak-anak bermain. Raja Roh Hitam berteriak agar anak-anak itu terus melancarkan serangan, agar dirinya bisa bermain lebih seru.
Para senior lain terbakar emosi dan bertindak gegabah. Mereka mengeluarkan jurus untuk menyerang musuh. Tidak tanggung-tanggung padahal kekuatan yang mereka miliki sekarang hanya beberapa persen, tapi mereka malah langsung melesatkan jurus yang menguras banyak kekuatan.
Amdara menggeleng melihat serangan itu. "Dia bahkan sama sekali tidak tergores."
Amdara meludahkan darah. Kondisinya belum pulih saat ini. Melihat kemarahan teman-temannya membuat Amdara salah menilai, dia pikir dengan menggabungkan kekuatan Raja Roh Hitam akan mendapat serangan fatal. Namun, yang ada teman-temannya malah menguras kekuatan untuk hal sia-sia.
Amdara terbang ke arah Inay yang hendak menerjang musuh menggunakan rambut. "Kak Nana, dan kalian semua berhenti! Roh itu hanya membuat kita lelah dan setelahnya akan menyerang!"
Suara Amdara menginstruksi beberapa senior tapi ada juga yang acuh tak acuh. Dan malah berpikir Amdara tidak layak menjadi seorang pemimpin.
"Luffy, kau mungkin benar."
Inay menarik rambutnya. Kekuatannya juga tidak banyak. Dia berkata, "apa yang harus kita lakukan sekarang? Raja Roh Hitam ini benar-benar kuat!"
"Strategi." Amdara menoleh ke arah Cakra yang juga menatapnya. Amdara lalu meminta Cakra untuk membuat strategi.
Cakra mengangguk dirinya lalu berujar tenang, "teman-teman, dengarkan. Sebagian dari kita yang sanggup alihkan perhatian Roh itu. Sebagian lagi cari titik kelemahan musuh."
Giba, dan kelompok kelas Tiga Unggulan mengambil peran mengelabui musuh menggunakan jurus mereka. Berulangkali mencoba membuat lawan tergores serangan, tapi selalu gagal.
Gelombang cahaya warna warni menghiasi langit. Angin kejut terjadi sangat besar. Sudah banyak rumah yang hangus menjadi debu karena serangan nyasar. Pepohonan meledak ketika mendapat serangan dari salah satu peserta yang meleset. Tanah retak besar, hingga beberapakali terjadi guncangan.
Sementara kelompok Puli mencoba mencari titik lemah. Dia bahkan sampai sampai harus terkena serangan musuh yang nyaris membunuhnya jika saja dirinya tidak diselamatkan temannya.
"Tidak ada titik lemah ...!"
Salah satu peserta berseru gemetaran. Seruannya membuat yang lain menelan ludah susah payah. Padahal pertarungan lima menit berakhir begitu sengit. Tapi belum ada yang bisa menggores tubuh musuh. Ketika satu serangan nyaris mengenai Raja Roh Hitam langsung menghilang, dan detik berikutnya membuat beberapa peserta tidak bisa bergerak hanya dengan jentikkan jari.
__ADS_1
Cakra melesat, dia meneliti tubuh musuh. Tapi memang tidak menemukan titik lemah juga.
Aray mendekat ke arah Amdara dan berkata, "apa yang harus kita lakukan? Semua serangan tidak ada yang berhasil melukai roh itu!"
Nada yang berada di bawah mencoba menggunakan kekuatannya untuk mengelabuhi Raja Roh Hitam menggunakan suara-suara. Namun, yang ada Nada malah balik mendapat serangan berupa suara aneh yang mengganggu pikirannya.
"Luffy, apa sebaiknya kita gabungkan kekuatan untuk membuat jurus itu?"
Suara Inay lirih, dia menatap Amdara yang sedari tadi diam memperhatikan ke depan. Mendengar perkataan Inay, sontak Amdara menoleh dan berkata, "kita coba."
Amdara dan Inay sejejer menghadap ke Raja Roh Hitam yang sedang sibuk meladeni bocah-bocah itu. Amdara dan Inay memejamkan mata, keduanya menyatukan kedua tangan dan mulai berkonsentrasi.
Cahaya putih muncul dari atas, menghantam kedua bocah itu. Beberapa peserta sampai tersedak, menahan napas ketika merasakan aura besar yang mengelilingi kedua bocah itu.
Raja Roh Hitam menajamkan mata, dia mengepalkan kedua tangan saat merasakan firasat buruk. Dirinya menggeram, hendak menggunakan jarinya untuk membuat Amdara dan Inay tidak bisa bergerak tapi hal tersebut tidak berguna.
"Jurus Elang Abadi Pemusnah Roh."
Cahaya emas membentuk pola elang di bawah Roh Hitam muncul. Pola yang sama seperti serangan pertama membuat Raja Roh Hitam tidak bisa bergerak, dia membelalakkan mata.
Raja Roh Hitam memberontak sejadi-jadinya. Dia membuat para peserta yang sudah kelelahan tidak bisa berkutik. Mereka segera menjauh ketika merasa akan terjadi pada pola elang tersebut.
Aray sampai dibuat menahan napas melihat jurus yang mampu membuat Raja Roh Hitam tidak berkutik. Dia tanpa sadar bergumam, "hebat sekali. Luffy dan Inay seolah terlihat seperti orang yang sudah berpengalaman menangkap Roh Hitam."
Gumaman Aray terdengar oleh Cakra yang dekat dengannya. Cakra melihat dengan seksama bagaimana Raja Roh Hitam yang memberontak dan mengeluarkan suara mengerikan.
Beberapa peserta juga nampak tersentak dengan jurus gabungan itu. Mereka menarik napas pelan.
Amdara merasakan guncangan hebat pada batin dan pikirannya yang mulai diganggu oleh Raja Roh Hitam, begitu pula dengan Inay yang mulai buyar konsentrasi. Keduanya mengeluarkan keringat dingin. Darah menetes dari kedua sudut bibir.
Aura dari Raja Roh Hitam membuat kedua orang itu serta teman-teman yang lain tertekan sampai ada yang tidak kuat, tidak sadarkan diri.
__ADS_1
Cahaya pola elang mulai mengikat tubuh Raja Roh Hitam yang memberontak dan mengeluarkan aura yang semakin besar hingga Inay dan Amdara tidak sanggup lagi menanggung aura tersebut. Keduanya terpental, pola emas pada tubuh Raja Roh Hitam memudar perlahan.
Blaaar!
Serangan dahsyat dari Raja Roh Hitam nyaris mengenai Amdara, tapi seketika tertangkis oleh serangan lain. Dari para peserta tidak sempat bereaksi, karena serangan barusan benar-benar cepat.
Amdara menahan napas, dia melihat serangan barusan jika tidak ditangkis oleh seseorang maka dirinya akan tewas seketika. Beruntung Amdara bisa mempertahankan keseimbangan hingga tidak menabrak pagoda.
Tubuh Inay ditangkap oleh seseorang. Cahay putih terlihat dari atas, memunculkan seseorang memakai jubah khas Tetua Akademi Magic Awan Langit mendarat mulus di depan Amdara. Dia lah yang telah menangkis serangan Raja Roh Hitam barusan. Tiga wanita juga terlihat mendarat di hadapan para peserta.
"Kau baik-baik saja?"
Keterkejutan terlihat di wajah Amdara yang baru sadar bahwa Tetua Genta baru saja bertanya. Amdara segera mengangguk, dan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.
Cakra, Aray, Inay, dan peserta yang lain juga terkejut. Mereka nampak menarik napas lega karena bantuan yang ditunggu-tunggu telah tiba. Walaupun sangat terlambat karena para murid sudah banyak yang terluka parah, sebagian lagi tidak sadarkan diri.
"Itu Tetua Genta, Tetua Rasmi, dan Tetua Widya ...!"
"Bantuan akhirnya datang ...!"
"Nyawa kita selamat."
Yang paling terkejut sekarang adalah Raja Roh Hitam yang kini mengepalkan kedua tangan. Kemarahannya semakin memuncak terlihat dari tatapan matanya yang tajam. Dia menggeram marah. Tidak menyangka Tiga Tetua sekaligus berhasil menerobos ilusi Tetua Wan yang sudah dia kuasai.
Tetua Widya langsung membantu murid-muridnya yang terluka parah. Dia menanyakan keadaan mereka dengan nada khawatir. Beruntung, murid-muridnya belum ada yang tewas satu pun.
Seketika tawa Raja Roh Hitam menggelegar membuat semua orang-orang itu terlonjak kaget dan memasang sikap waspada. Pasalnya ada aura yang lebih besar dan menekan dari Raja Roh Hitam tersebut.
"Bagus sekali. Bertambah tiga makanan lezat lagi~"
Raja Roh Hitam menajamkan mata ke arah ketiga Tetua yang langsung berdiri berjejer, siap melancarkan serangan. Ketiganya tidak menanggapi ucapan Raja Roh Hitam.
__ADS_1
Raja Roh Hitam menyeringai, dia mengangkat jari telunjuk dan seketika tubuh ketiga Tetua tidak bisa bergerak tapi sebelum itu, angin beliung yang tercampur oleh debu menghalau penglihatannya. Para Tetua tersentak, mereka masih bisa menggerakkan tubuh.
"Tetua, jangan lihat matanya. Atau tubuh kalian tidak akan bisa bergerak."