
Dari kejauhan, Aray bisa melihat salah seorang senior dan rekan-rekan sedang melesat ke arah pagoda. Aray langsung membuat Dirgan terbang agar Ketua Kelas ini dapat melihatnya sendiri dan mengambil keputusan.
Dari arah selatan, kelompok kelas Tiga Unggulan juga nampak melesat ke arah pagoda. Dirgan yang berniat meminta teman-temannya juga melesat jadi mengurungkan niat karena mereka pasti nanti akan dalam masalah jika terjebak di antara dua kelompok.
"Mereka sebentar lagi pasti akan melakukan pertarungan. Jadi kita tidak bisa terburu-buru ke pagoda."
Kata Dirgan setelah berpikir ulang. Dirinya juga mengatakan bahwa mereka hanya perlu berjalan santai, setelah dekat dengan pagoda, mereka harus bersembunyi-sembunyi dan mencari celah untuk mendapatkan bendera sambil melakukan strategi.
Mengambil jarak aman dari pertarungan. Itu tindakan yang cukup baik agar tidak terluka. Mereka kembali berjalan dan setuju dengan keputusan Dirgan. Berjalan santai seolah tidak terjadi apa-apa. Kejadian ini dilihat langsung oleh para penonton yang berkedip dengan tingkah kelompok kelas Satu C.
Salah seorang penonton juga nampak melongo melihatnya. Dia mengatakan seolah kelompok kelas Satu C itu tidak berniat mengambil bendera yang nyaris saja didapat oleh Cakra, tapi kelompok lain menghalangi dengan cepat. Pertarungan kedua kelompok jadi sengit dalam sekejap. Dari mereka jadi satu lawan satu agar tidak ada yang berhasil mendapatkan benderanya.
Guru Aneh yang menyaksikannya menggaruk tengkuk. Dia bergumam, "haih, kalian ini terlalu santai dibabak final."
Memang yang tidak terlihat ini adalah pertandingan yang harus saling bertarung, tapi kelompok kelas Satu C malah terlihat berjalan santai tanpa gangguan lagi.
91
Suara debaman serta sambaran petir di atas langit sudah menunjukkan ada pertarungan besar. Dalam jarak yang belum dekat dengan pagoda, kelompok kelas Satu C tidak terkena serangan nyasar.
Amdara terbang, dia melihat dua kelompok sedang bertarung satu sama lain. Kelompok kelas Tiga Unggulan melawan kelas Tiga Tingkat A. Tatapan mata Amdara terkunci pada senior yang kini sedang melawan Cakra. Senior yang merupakan Roh Hitam atau sedang dirasuki Roh Hitam itu bernama Qi.
"Belum waktunya." Amdara mengepalkan tangan. Tatapan matanya tajam tidak teralihkan ke Qi yang masih bertarung dengan Cakra yang beberapa kali terpental hanya dengan jentikan jari saja.
Amdara harus memiliki rencana agar bisa melenyapkan Roh Hitam itu. Tidak bisa mendekat secara tiba-tiba, yang ada dia pasti akan kalah telak.
Aray terbang di samping Amdara dan melihat tatapan Amdara. Aray berdecih dan berkata, "apa kau sedang menargetkan dia sebagai lawan?"
Amdara menoleh, wajah Aray terlihat tidak senang. Entah siapa yang dimaksud oleh Aray.
Amdara hanya bergumam sebagai jawaban, kembali melihat pertarungan dari kejauhan.
"Hmph, aku yang akan menjadi lawannya nanti. Kau cari yang lain saja."
__ADS_1
Aray menyilangkan kedua tangan depan dada. Tatapan matanya tidak suka ke arah Cakra.
Amdara mengembuskan napas. Dia berkata tanpa nada, "aku akan mengambil benderanya."
Jawaban Amdara membuat Aray tersedak. Dia lupa bahwa mereka sudah sepakat dengan strategi yang dibuat. Amdara turun, berjalan dengan teman-temannya. Dia belum mengatakan masalah Roh Hitam pada Inay. Amdara jelas nanti akan membutuhkan bantuan Inay.
Inay sedang berceloteh dengan Nada, tiba-tiba dipanggil Amdara yang memintanya berjalan paling belakang. Inay mengangguk dan meminta teman-temannya berjalan duluan.
"Luffy, ada apa?"
Amdara membuat perisai pelindung transparan. Agar teman-temannya tidak bisa mendengar apa yang dia dan Inay bicarakan. Tetua Wan orang yang menciptakan alam ilusi itu juga jadi tidak akan bisa mendengar pembicaraan dua bocah utusan dari Organisasi Elang Putih itu.
Sambil berjalan Amdara mulai menjelaskan, "ada Roh Hitam pada tubuh salah satu peserta."
Inay terkejut, dia menghentikan langkah otomatis dan kembali berjalan di samping Amdara ketika sadar.
"Apa? Siapa?! Kenapa aku tidak merasakan hawa kehadirannya?!"
Amdara kemudian terbang, diikuti oleh Inay yang terkejut setengah mati mendengar penuturan Amdara. Bagaimana bisa ada Roh Hitam yang melekat pada tubuh seseorang tanpa ketahuan oleh Tetua?!
Pandangan Inay langsung terarah pada lawan Cakra yang tiba-tiba menghilang dan muncul di belakang Cakra langsung melesatkan serangan. Inay mencoba mencari hawanya, tapi dia sama sekali tidak merasakan apa-apa. Amdara tidak mungkin berbohong, jadi hanya ada satu kemungkinan yakni Roh Hitam ini tingkat Raja.
"Sejak kapan kau sadar? Dan kenapa baru memberitahuku?!"
"Malam kemarin ketika dia bertarung di arena."
Amdara lalu mengatakan dirinya tidak sempat mengatakannya pada Inay langsung.
Inay menarik napas kesal. Dia kembali bertanya, "lalu mengapa kau tidak langsung menghabisinya, Luffy? Bukankah kau tahu bahaya dari Roh Hitam?!"
"Terlalu beresiko. Yang ada nanti mendapat masalah lagi."
Kata Amdara, dia lalu mengatakan bahwa jika langsung menyerang, pasti tidak akan ada yang percaya. Orang-orang pun menjadi curiga dan akhirnya bisa saja mengetahui identitas Amdara yang sebenarnya.
__ADS_1
Inay mengangguk-angguk. Dia mendapatkan ide, "sekarang kita tidak berada di Akademi. Jadi kita langsung lenyapkan saja dia!"
Amdara menggelengkan kepala tidak setuju membuat Inay menatap tak percaya.
"Kita tidak bisa menyerang di sini."
Amdara mengedarkan sekitar. Ingat dengan jelas ketika di lapangan, ada satu cermin besar yang menampakkan desa ini. Amdara berpikir mungkin mereka sekarang sedang diawasi. Jika nekad melenyapkan Roh Hitam, yang ada mereka akan dicurigai.
Diberi penjelasan barusan dimengerti Inay. Dia menarik napas dalam dan mengepalkan tangan ketika melihat Roh Hitam seolah tidak sadar sudah ada mengetahui identitasnya.
"Jadi apa rencananya?"
Amdara menoleh dan tersenyum tipis ke arah Inay. Amdara lalu menjelaskan rencana dia melenyapkan Roh Hitam itu seolah terjadi begitu saja, murni. Sebelum itu Amdara dan Inay harus bisa memancing Roh Hitam itu keluar dari tubuh Qi. Mungkin akan sulit, tapi Amdara memiliki rencana yang sudah dia pikir matang-matang.
Ketika mereka melakukan Strategi Bocah Nakal dan Belas Kasih, Amdara akan berusaha mengambil benderanya setelah bisa dia ambil, maka Amdara dengan pura-pura menjatuhkan bendera tersebut yang mana pasti akan ada yang mengambilnya. Kesempatan itu digunakan seperti adu domba agar mereka saling menyerang demi mendapatkan bendera. Di saat itulah, Inay menyerang Qi dan dibantu Amdara. Untuk urusan bendera lagi akan diserahkan pada Aray dan Nada. Toh, Amdara sudah mengambil bendera. Ketika dia menjatuhkannya, maka Amdara tidak memiliki kewajiban lagi dari Ketua Kelas Dirgan.
Ketika Inay menyerang Qi, dia akan menggunakan jurus andalan Organisasi Elang Putih yang mana nantinya pasti Roh Hitam akan merasa kepanasan di dalam tubuh Qi dan pasti akan keluar. Di saat itu, Amdara berpura-pura terkejut dan mulai melawan Roh Hitam. Kedatangan Roh Hitam secara mendadak, pasti langsung disadari Tetua yang akan melesat melenyapkan Roh Hitam. Jadi dengan kata lain, Inay dan Amdara tidak melenyapkan Roh Hitam secara langsung.
Penjelasan Amdara barusan langsung dimengerti Inay. Inay berdecak kagum dengan pemikiran Amdara.
"Hanya perlu menyeretnya keluar dari tubuh senior itu, ya."
Inay mengangguk-anggukan kepala.
Tidak terasa, mereka berjalan sudah semakin dekat dengan pagoda. Bahkan sekarang ada serangan nyasar yang nyaris mengenai mereka jika tidak langsung ditangkis oleh Amdara.
Dirgan memanggil Amdara dan Inay agar kedua bocah itu mendekat dan mulai melakukan serangan.
"Aku ubah strategi. Kita akan mendekati pagoda sembunyi-sembunyi. Tidak perlu melakukan perlawanan."
Dirgan menginstruksi teman-temannya. Dia bersembunyi dibalik salah satu dinding rumah warga desa. Diikuti oleh teman-temannya dari belakang.
Aray yang berada di tengah-tengah menarik napas pelan dan berkata, "ini juga tidak buruk. Kita tidak perlu mengeluarkan kekuatan untuk mengambil bendera itu."
__ADS_1
"Hmph, mengambil bendera diam-diam, heh? Dasar kucing-kucing penakut."
Suara asing dari belakang mereka sontak membuat mereka segera menoleh ke belakang. Seseorang mendarat dengan mulus dan terlihat tersenyum sinis. Bukan satu, tapi empat orang sedang menatap mereka remeh.