
Di hadapan Amdara, sosok Roh Hitam yang memiliki kekuatan besar telah tewas ditangannya. Dia menarik napas dalam, memejamkan mata sesaat merasakan sesuatu yang aneh di hatinya. Perasaan yang mana membuatnya sama sekali tidak merasakan kepuasan ketika berhasil melenyapkan musuh. Yang ada malah seperti dia kehilangan sesuatu di hatinya. Entah apa itu.
Amdara masih memejamkan mata, sementara siluman yang memberi hukuman atau apapun ini mendekat ke arahnya. Siluman itu tidak menggunakan tudung kembali, wajahnya masih terlihat syok atas sesuatu.
Siluman itu menanyakan perasaan Amdara setelah menghabisi Roh Hitam. Untuk beberapa saat Amdara terdiam memikirkan jawaban yang tepat. Dia kembali menarik napas, membuka perlahan tanpa menoleh ke samping. Jawaban yang diberikan adalah perasaannya sungguh aneh.
Terdengar helaan napas dari Siluman yang masih belum menyebutkan nama. Dia memperhatikan bocah berambut putih panjang diikat, wajah seputih salju, dan memiliki mata sebiru langit. Nampak tenang, tapi sebenarnya sangat membahayakan. Tatapan matanya tertuju pada ikat kepala bocah di sampingnya, raut wajah yang sebelumnya penuh amarah karena telah diusik, sekarang berubah sedikit berbeda. Tatapan mata merah menyala menyiratkan sesuatu yang hanya dirinya saja yang tahu. Raut wajahnya terpampang kesedihan tersembunyi. Sebenarnya siluman ini merupakan Siluman Rubah Merah. Dia sudah dapat berbicara, tetapi belum dapat membuat wujud manusia dengan kekuatan yang sekarang.
Amdara menurunkan pandangan, ketika menoleh ke samping. Dirinya terlonjak kaget dan sontak termundur satu langkah melihat siluman Rubah Merah di sampingnya sedang memandang dirinya dengan aneh. Bocah ini tentu tidak menyangka bahwa siluman sebelumnya merupakan Siluman Rubah Merah, dari yang dilihat siluman ini tidak sama sekali memiliki tampang mengerikan seperti yang sebelumnya Amdara bayangkan, melainkan siluman dengan wajah menggemaskan dengan warna merah bercampur putih.
Siluman Rubah Merah yang melihat ekspresi Amdara mendengus dan mengatakan bahwa dirinya memang memiliki tampang bagus. Namun, Amdara malah menghela napas mendengar suara siluman ini. Wajahnya sudah menggemaskan, tapi suara dan tubuh siluman ini sudah seperti pria dewasa yang jelas lebih tinggi dari Amdara.
Siluman Rubah Merah berkata bahwa apa yang dirasakan Amdara sekarang merupakan sebuah hal yang wajar. Amdara tentu saja tidak mengerti apa yang dimaksud, ketika hendak bertanya Siluman Rubah Merah terlebih dahulu menghilangkan lapangan gurun dan mereka tiba-tiba berada di dalam gua kembali, dan kemudian dia mengatakan bahwa Amdara telah mendapatkan hukuman yang pantas dan dipersilakan kembali akan tetapi mendapat ancaman jika kembali mengusik Siluman Rubah Merah maka Amdara akan mendapatkan hukuman yang lebih berat.
__ADS_1
Amdara terdiam, menurutnya menghabisi Roh Hitam bukan sebuah hukuman. Dia berjalan mendekati Siluman Rubah Merah dan bertanya apakah dirinya benar sudah mendapatkan hukuman atau belum, sekaligus menanyakan nama Siluman ini.
Siluman Rubah Merah mengambil tudung, memakainya sebelum menjawab bahwa Amdara memang telah mendapatkan hukuman sesuai keinginannya. Lalu berujar bahwa Amdara masih belum pantas mengetahui namanya untuk sekarang. Dia langsung mengusir Amdara begitu saja dengan nada tidak suka. Sementara lawan bicaranya malah terpaku melihat Siluman Rubah Merah yang menurutnya sangat aneh.
Amdara kemudian memberi hormat, menuturkan terima kasih karena telah memberi pengajaran mengenai tidak boleh sembarang mengusik kehidupan makhluk lain dan juga dengan melenyapkan Roh Hitam, berarti Amdara jadi mengetahui kemampuan semdiri terhadap makhluk itu.
Tidak ada balasan. Amdara hanya menghela napas, dia pamit pergi dengan begitu sopan. Sekali lagi menoleh ke belakang, tapi Siluman Rubah Merah sama sekali tidak menoleh ke arahnya.
Di sisi lain, Amdara jadi memikirkan banyak hal. Mulai dari perkataan Siluman Rubah Merah yang seolah mengenal atau paling tidak mengetahui sesuatu tentang dirinya. Amdara tidak mungkin bertanya secara langsung, tahu bagaimana nada bicara Siluman Rubah Merah yang tidak menyukainya. Dan satu hal lagi, dia masih bingung dengan perasaan sendiri mengenai melenyapkan Roh Hitam. Dia melihat kedua tangan sendiri, kecil putih bersih seolah tak pernah melenyapkan siapa pun. Apalagi wajahnya yang terlihat polos, akan membuat siapa pun tidak menyangka sebenarnya dia telah dilatih di Organisasi Elang Putih untuk melenyapkan Roh Hitam tanpa ampun.
Tidak terasa, dia sudah keluar dari gua. Menatap langit penuh bintang. Tidak mengetahui bahwa dirinya tidak sadarkan diri selama dua hari. Dia menghela napas panjang, kembali melanjutkan perjalanan untuk mencari siluman untuk dilenyapkan.
Malam itu dia terus mencari keberadaan siluman yang mungkin bisa diambil permatanya. Terus melesat, menerobos dinginnya angin malam. Dia mengedarkan pandangan, menapak di salah satu dahan pohon sambil menarik napas. Mengenai Siluman Rubah Merah masih terngiang di pikirannya.
__ADS_1
Bocah itu memilih duduk bersandar pada pohon. Memejamkan mata sejenak. Menghirup udara dingin yang masuk ke ronggo hidung.
Angin kejut disertai bayangan burung sangat besar melintas di atas langit. Amdara membuka mata, terkejut ketika melihat Siluman Burung Phoenix sekarang mendarat di hadapannya dengan tubuh besarnya, Siluman Burung Phoenix sampai menghancurkan pepohonan sekitar. Tubuhnya besar, dan memancarkan aura keagungan tersendiri membuat Amdara terkesima.
Dia berdiri, mengerutkan alis melihat siluman yang pernah disembuhkannya sekarang sedang menatapnya sambil mengeluarkan bunyi yang sama sekali tidak dimengerti. Amdara mengeluarkan suara dan berkata apa yang diinginkan Siluman Burung Phoenix, berharap siluman ini dapat berbicara sama seperti Siluman Rubah Merah. Nyatanya, Siluman Burung Phoenix hanya mengeluarkan suara khas yang masih tidak dimengerti Amdara. Masih mencoba berkomunikasi, Amdara mendekat dan terdiam sejenak sebelum mencoba menggunakan kekuatannya untuk berbicara bahasa binatang, tapi itu sama sekali tidak berhasil.
Siluman Burung Phoenix sepertinya mengerti apa yang dibicarakan Amdara, tapi dia sendiri juga belum bisa berbicara bahasa manusia seperti Siluman Rubah Merah. Keduanya jadi tidak bisa berkomunikasi dengan baik.
Beberapa saat Amdara hanya diam kebingungan. Sampai seseorang yang sama sekali tidak dirasakan hawa keberadaannya menapak di samping Amdara sambil mendengus. Dia langsung berucap bahwa sampai satu tahun pun, Amdara tidak akan mengerti bahasa Siluman di depannya.
Amdara terlonjak kaget dengan kedatangan yang tiba-tiba dari Siluman Rubah Merah. Dia belum sempat buka suara, tapi siluman di sampingnya menatap tajam Siluman Burung Phoenix yang termundur merasa ada ancaman. Siluman Rubah Merah berbicara menggunakan bahasa binatang, sampai akhirnya dia hanya menghela napas mendengar perkataan Siluman Burung Phoenix ini.
Amdara sama sekali tidak mengerti. Dia menunggu Siluman Rubah Merah mengatakannya langsung kepada dirinya. Kedatangan Siluman Rubah Merah ini memang berguna, Amdara juga tidak tahu apa yang sedang dilakukan siluman ini. Nampaknya dia cukup membantu Amdara dalam menerjemahkan perkataan Siluman Burung Phoenix.
__ADS_1