Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
65 - Mencari Tanaman Herbal


__ADS_3

Aray memerhatikan wajah Amdara yang pucat. Dia kemudian menyentuh tangan Amdara yang langsung tersentak.


"Kondisimu kurang baik. Kau istirahat saja di asrama." Aray berkata setelah memeriksa kondisi tubuh Amdara. Dia terlihat berbicara serius.


Amdara menggeleng dan menjawab, "aku baik-baik saja."


Sebuah sentilan keras mendarat di dahi Amdara yang membuat bocah berambut putih itu kembali tersentak dengan perlakuan Aray.


"Kau pikir aku tidak tahu kau masih sakit? Cepat, istirahat. Yang ada jika kau ikut, nanti akan merepotkanku."


Amdara berkedip, tangannya mengusap pelan dahi yang terasa nyeri karena ulah Aray yang malah mengomel.


Amdara mengembuskan napas sebelum berkata, "tidak akan."


Aray mengedutkan sebelah matanya. Amdara ternyata cukup keras kepala.


"Jika kau keras batu, lebih baik kita semua tidak usah mengikuti pertandingan ini!" Aray mengepalkan tangan dan menatap tajam Amdara.


Perkataannya bukan hanya membuat Amdara tersentak, tetapi Inay, Nada dan Rinai sampai terbangun dari mimpi karena bentakan Aray.


Atma yang baru saja bangun karena mencium tanah dibuat terkejut bukan main. Apalagi Dirgan yang langsung melerai dan menenangkan Aray.


Penyambutan dari Tetua Genta, dan Tiga Guru Besar telah usai. Dan mereka mempersilahkan setiap kelompok mencari barang yang tertulis dalam kertas kuning emas.


Banyak kelompok yang masih membaca isi kertas, terlihat kerja sama dalam memahami apa yang tertulis. Berbeda sekali dengan kelompok kelas Satu C yang sepertinya sedang ada masalah.


Kelompok kelas Satu C itu menatap Aray penuh tanya dan keterkejutan.


"Ada apa, Aray?"


Dirgan bertanya, dia mendekat ke arah Aray yang masih menatap Amdara marah.


"Bocah ini belum sembuh. Tapi keras batu ingin mengikuti pertandingan. Bukankah akan merepotkan kita nantinya?"


Aray tak menoleh saat menjawab. Amdara sendiri merasa perkataan Aray cukup membuatnya merasa terselentik di hatinya. Sejak inti spiritualnya terlilit Benang Merah, dan saat menjalankan misi dia selalu menjadi beban teman-temannya, tak ada yang menyinggung hal ini. Namun, kali ini Aray mampu membuat Amdara mengepalkan tangan, dan merasa dia sama sekali tidak berguna.

__ADS_1


Inay yang tahu kondisi Amdara, dia menggenggam tangan temannya. Tentu Amdara masih lemas karena terlalu lelah, dia sekarang bukanlah orang yang memiliki kekuatan dan bisa menyembuhkan luka dalam dengan mudah. Bocah berambut putih itu sekarang hanyalah manusia biasa, tanpa memiliki kekuatan atau lebih tepatnya tak bisa mengeluarkan kekuatan sedikit saja.


"Dia tidak akan merepotkanmu. Luffy akan kujaga. Kau tenang saja, Aray. Kita hanya perlu mencari tanaman herbal yang dijelaskan dalam kertas ini." Inay tersenyum miring. Bagaimana pun, dia harus menjaga adik seperguruannya. Jika Inay sepakat dengan Aray, maka percuma saja. Karena tabiatnya Amdara memang keras kepala. Dia akan bertindak selagi percaya pada diri sendiri walaupun keadaan tidak memungkinkan.


"Tapi ini akan menghalangi kita! Kau, sebaiknya cepat kembali beristirahat atau ingin kami tidak mengikuti pertandingan saja?!"


Aray malah menaikkan intonasi nada. Dia bertambah kesal mendengar perkataan Inay. Aray baru saja akan menarik paksa lengan Amdara saat ditangkis oleh Inay.


"Memangnya kau pikir Luffy orang seperti itu?! Selama ini adikku sama sekali tidak merepotkan! Jika dia kelelahan, maka aku akan mengurusnya, dan kalian pergi menjalankan pertandingan! Apa itu sulit?"


Inay maju selangkah berhadapan dengan Aray yang termakan emosi.


Amdara tersentak mendengar perkataan Inay yang terasa begitu perhatian padanya. Inay walaupun sering memarahi, tetapi nyatanya bocah berambut ungu kehitaman itu memang melindungi dan menyayanginya layaknya seorang adik.


Dirgan mencoba melerai, dia menarik bahu Aray saat akan maju dan membalas ucapan Inay.


Atma, Rinai, dan Nada dibuat tegang karena kemarahan Aray sejak dulu memang mengerikan.


"Aray, tenanglah." Dirgan menelan ludah. Sudah lama menjadi Ketua Kelas, tapi nyatanya menenangkan Aray yang selama ini dikenal cukup sulit. Dirgan berkata, "Luffy, apa kau masih sakit?"


"Aku hanya sedikit lemas. Tapi tidak apa-apa."


Aray membelalakkan mata. Dia baru akan berbicara, saat Dirgan langsung berkata, "apa benar? Kau lebih baik istirahat dan pulihkan diri. Perjalanan kita tidak mudah, Luffy."


Amdara mengerti maksud Ketua Kelas Dirgan, jika dirinya istirahat sementara teman-temannya tengah berjuang, bukankah itu tidak adil?


"Aku tahu. Tapi percayalah, aku tidak akan merepotkan kalian."


Amdara membungkukkan tubuh. Dan membuat teman-temannya tersentak.


Dirgan meminta Amdara agar tidak bersikap demikian. Dia tidak ingin ada pertengkaran di antara kelompok ini. Nanti yang ada hanya menambah permasalahan.


"H-hei, sudahlah. Kalian membuat kantukku menghilang." Atma menelan ludah kesulitan saat berkata demikian.


Nada memegang erat boneka, dia mengedarkan sekitar. Tidak enak jika dilihat banyak orang. Apalagi kemarin adalah kemenangan pertama, jika hari kedua mereka bertengkar itu akan memalukan.

__ADS_1


"K-khakha. Bukankah Luffy bisa segera pulih? Dia bisa mengeluarkan kekuatan."


Perkataan Nada membuat Amdara dan Inay tersentak. Keduanya saling pandang, lalu Amdara menggeleng. Seakan mengatakan agar Inay tidak mengatakan kebenaran mengenai kekuatannya yang terlilit Benang Merah.


"H-huhuhu. Itu benar. Jadi A-aray, biarkan saja Luffy ikut." Setelah berkata demikian, Rinai bersembunyi di belakang Nada ketakutan melihat tatapan menusuk Aray.


Aray memalingkan wajah, dan terlihat mengembuskan napas kesal. Karena teman-temannya malah tidak keberatan Amdara ikut, dirinya juga tidak bisa mengelak lagi. Padahal, jika seseorang melihat ke arah sisi lain, maka akan melihat bahwa Aray tidak berniat membentak Amdara, melainkan ada sisi kekhawatiran yang terpancar. Hanya saja, Aray menutupi dengan perkataannya menggunakan nada kasar.


"Huh, kepala batu. Terserah kau sajalah."


Amdara baru mendongak, saat mendengar yang Aray ucapkan. Dia menghembuskan napas lega. Inay terlihat memutar bola mata malas, dia menyilangkan kedua tangan.


Begitu pula dengan Dirgan, dia mengusap setetes keringat di dahi.


"Y-yah, kalau begitu mari kita lihat isi kertas ini." Dirgan mencoba mencairkan suasana. Dia mengambil kertas di tangan Inay.


Atma segera mendekat, dan melihat tulisan yang tertera dengan menguap. Entah mengapa melihat gambar-gambar pada kertas kuning emas itu membuatnya malah mengantuk kembali.


Gambar tanaman herbal bunga teratai hitam, gingseng merah, dan akar tanaman putih beserta penjelasan di kertas kelompok kelas Satu C itu cukup sulit ditemukan. Apalagi dalam waktu yang menurut mereka singkat itu jelas jika dipikir sangat tidak memungkinkan.


"Mengapa harus mencari tanaman herbal?"


Dirgan mengembuskan napas gusar. Dia membaca kembali penjelasan di kertas, dan benar-benar membuatnya pusing sendiri.


"Kenapa tidak diberitahu tempat mencarinya? Ini merepotkan. Hoam, aku juga tambah mengantuk."


Atma menguap beberapakali. Dia mengedarkan pandangan, melihat beberapa kelompok telah melesat menjalankan pertandingan. Seakan isi kertas mereka adalah hal mudah.


Dan sepertinya isi kertas mereka memang cukup sulit dari kelompok lain. Entah bagaimana Inay mengambil kertas ini.


Amdara sendiri terlihat mendekat dan membaca isi kertas dengan kening mengerut. Fokus memerhatikan gambar tanaman herbal tersebut, dan membaca berulang-ulang penjelasan yang ada. Di sana masih dijelaskan fungsi dari tanaman herbal itu, dan sama sekali tidak diberi petunjuk tempat mencari tanaman herbal.


Rinai dan Nada mendekat, mulai membaca isi kertas itu.


Aray yang sedari tadi diam nampak berpikir. Dia mengetuk-ngetuk pelan jarinya pada kepala. Bocah cerewet dan pemarah itu berkata, "sepertinya aku tahu salah satu tempat mencari tanaman herbal ini."

__ADS_1


__ADS_2