
Mata yang sudah sangat lama terpejam itu perlahan bergerak. Sampai mata Ai benar-benar terbuka, membuat Api Biru tidak bisa bergerak melihat mata semerah darah tanpa pupil itu.
Aura di sekitar semakin menekan. Semua air di mana berubah menggelap, dan jauh lebih dingin dari sebelumnya. Udara di sana mulai terasa menyesakkan dada.
*
*
*
Drake yang tenggelam dari air mulai berkutik. Kekuatan api membludak dari dalam tubuh. Mata orange nya bersinar di dalam air gelap itu. Tangannya bergerak cepat, melepas rumput laut hitam yang sudah melilit setengah tubuh.
Drake menyalurkan kekuatan api begitu besar. Perlahan rumput laut hitam memudar dari pinggang dan kaki. Air di sekelilingnya mulai menghangat ketika Drake berhasil meloloskan diri. Dia tampak masih muda, tetapi kekuatannya sudah bisa menandingi Ai.
Drake melesat begitu cepat, menerobos dinding air. Dengan tubuh apinya itu, dia membuat kembang api di atas melesatkan nya ke arah Ai.
"Api Neraka Kegelapan ...!"
Sebuah kobaran api dari atas sana sudah menerjang Ai yang langsung mempertahankan diri menggunakan perisai air. Drake tidak tinggal diam dan melesatkan jurus bertubi-tubi ke arah lawan. Kekuatan dahsyat itu sampai membuat gombang air di bawah sana mulai panas dan terombang-ambing.
Drake merasakan tekanan hebat dari Ai. Tapi dia juga bisa mengeluarkan tekanan tidak kalah hebat. Kedua Roh Hitam itu kembali saling berbenturan kekuatan masing-masing.
Tidak ada yang mau mengalah. Semakin lama, pertarungan semakin sengit dan memakan waktu lima jam tanpa mengendorkan dan lengah sedikit pun. Yang ada keduanya semakin kuat meluncurkan serangan.
Sementara itu, di tempat Amdara berada. Tubuh gadis muda tersebut mulai bisa digerakkan. Bahkan tekanan dalam tubuh mulai menghilang. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Amdara menarik napas lega. Mengusap darah dari dahi yang masih saja mengalir. Dia mulai mengedarkan sekeliling yang sangat sepi.
"Semuanya seperti teka-teki. Tidak ada yang menjelaskan sampai akhir."
Amdara menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Dia menatap pantulan wajah di air. Sebelum akhirnya membasuh kedua tangan yang terluka. Terlihat koyakan besar di sana. Dia juga membersihkan darah di dahi. Perih. Tapi saat ini gadis itu tidak bisa menyembuhkan diri sendiri karena tidak bisa menggunakan kekuatan.
__ADS_1
"Ke mana wanita itu pergi? Sangat lama." Amdara menghembuskan napas. Pandangannya tertuju pada dua pohon besar di seberang sana. Ada sebuah cahaya putih samar-samar yang terlihat.
"Hm?"
Amdara berjalan ke depan. Tapi saat sadar, dirinya tercebur ke dalam danau. Lagi-lagi gadis itu lupa tidak bisa berjalan di atas air tanpa kekuatan.
Amdara mengusap wajah yang basah. Dia mengatur pernapasan sebelum menyelam kembali. Semakin dalam menyelam, pandangannya mulai gelap. Biasanya dia akan baik-baik saja karena bisa melihat kegelapan karena kekuatan. Akan tetapi rasanya berbeda saat tidak memiliki kekuatan seperti saat ini.
Dia segera berenang ke atas untuk mengambil napas. Air danaunya sangat dingin. Wajah gadis itu sampai mulai membiru dan mengerut walau baru sebentar menyelam.
Dia kembali menyelam. Tetapi rumput laut hitam dari bawah sana tiba-tiba menariknya begitu kuat. Sampai Amdara tidak bisa berontak.
Amdara diseret ke dalam danau lebih dalam. Airnya semakin dingin dan terasa berbeda. Di sana sangat gelap. Kakinya sampai terluka akibat rumput laut hitam itu.
"Sial. Apa yang harus kulakukan?"
Mata Amdara terpejam. Mulutnya masih tertutup rapat, menahan napas. Sampai akhirnya rumput laut hitam tidak lagi menarik ke bawah.
"Benda apa ini?"
Amdara menarik benda tersebut sekuat tenaga. Sementara kakinya masih berusaha berontak karena masih terlilit rumput hitam.
Gadis itu mulai kesulitan menahan napas. Dia terus berontak ketika rumput laut hitam mulai merambat ke pinggang. Sementara tangannya tidak mau melepas benda yang terasa keras itu.
"Jika seperti ini aku akan tewas begitu saja." Amdara berpikir keras agar bisa selamat. Tubuhnya mulai melemas saking menahan dinginnya danau ini. "Tidak. Benda ini terlalu keras. Tenagaku hampir tidak ada."
Amdara melepas tangan, dan menarik rumput laut dari pinggangnya. Mencoba melepas dengan tenaga yang tersisa.
Guncangan cukup keras tiba-tiba terjadi. Tubuh Amdara hampir terombang-ambing di dalam danau andai dia tidak segera berpegangan pada benda keras di depan. Karena setengah tubuhnya sudah terlilit rumput laut hitam dia tidak langsung terseret ke arah lain.
"Apa yang terjadi?"
__ADS_1
Amdara dibuat semakin khawatir. Rumput laut hitam mendadak mulai mengundurkan lilitan. Sontak Amdara yang merasakannya segera melepas lilitan itu di pinggang dan kaki.
Masih dengan mata tertutup, dia mencoba menarik benda keras itu sebab rasa penasaran ingin melihat benda apa itu.
Benda keras itu berhasil dicabut. Dengan cepat Amdara naik ke permukaan. Napasnya tidak beraturan saat dia bisa menghembuskan napas setelah wajah nya sudah di atas air.
Matanya terbuka lebar saat tahu benda di yang kiri merupakan benda yang dicari-cari. Amdara buru-buru naik ke permukaan untuk memastikan.
Permata Air. Itu memang terlihat sangat jelas. Benda berharga dan memiliki aura tersendiri yang khas.
Walaupun Amdara baru pertama kali melihat dan memegangnya. Namun, dia yakin ini adalah benda yang di cari.
Permata Air ini di dalamnya ada setetes air cukup besar. Beku dan memancarkan sedikit cahaya.
"Tidak ku sangka aku mendapatkannya."
Senyum Amdara mengembang. Tetapi pudar ketika ada guncangan hebat yang membuatnya terjatuh. Guncangan pada tanah membuat danau terguncang dan memuncratkan air ke mana-mana. Batu di sana sampai retak akibat guncangan ini.
Amdara memegang Permata Air erat. Perasaannya mendadak tidak enak. Dia mengedarkan pandangan cemas.
"Apa yang sebenarnya terjadi?!"
Amdara menggulingkan tubuh ketika ada benda nyaris mengenainya. Tampak batu-batu yang menempel di langit-langit goa mulai berjatuhan. Amdara kesulitan berdiri, dia mencari tempat keluar goa susah payah.
Amdara terus berguling dan sesekali berusaha bangkit sambil mewaspadai sekitar. Karena tanpa kekuatan, kepekaannya berkurang. Hingga salah satu batu berukuran kepala manusia mengenai belakang kepala.
Amdara ambruk saat berdiri. Nyeri di bagian kepala sangat terasa. Darah mencuat dari sana. Amdara meringis menahan sakit. Guncangan tidak berhenti. Bebatuan terus berjatuhan. Sebisanya gadis itu terus berguling dan mencari jalan keluar.
Kakinya tersandung salah satu batu. Tubuhnya terjatuh mengenai batu runcing. Darah keluar begitu deras. Bebatuan kecil jatuh tepat mengenai punggung.
"Akhh ...!""
__ADS_1
Amdara merasakan seolah maut sedang di depan mata. Rasa sakit ini sangat menyakitkan bagi tubuh kecil itu. Bebatuan lain mulai berjatuhan mengenai tubuhnya. Dia kesulitan bergerak karena sakit. Tangannya masih menggenggam Permata Air walau tubuhnya tengah dihantam bebatuan begitu keras dan menyakitkan.