
Sontak tanpa peringatan Aray langsung melesatkan serangan beruntun pada cahaya hitam yang baru saja mendarat. Debaman tak terelakan, dan cahaya hitam yang merupakan Are nyaris tidak bisa menghalau serangan karena terlalu cepat.
Akibat jurus Aray barusan, membuat dinding kamar meledak seketika dan membuat kepulan asap hitam.
Amdara jelas tersentak, dia baru akan menghentika Aray tetapi terlambat sudah. Yang ada sekarang Aray malah memegang pinggang dan melesat terbang melalui jendela kamar dengan meledakkannya.
Entah apa yang Aray pikirkan, dia membuat bola hitam amat besar dan meluncurkan pada para penjaga istana yang tidak siap langsung terpental. Padahal Amdara kira mereka sangat kuat, melihat serangan dari Aray membuat pemikirannya sedikit berubah.
"Aray, hentikan."
Amdara baru akan menjelaskan, tetapi Aray langsung menggeleng tegas dan menolak mentah-mentah.
"Aku tidak peduli! Makhluk-makhluk jelek itu pasti sudah mempengaruhi pikiranmu, Rambut Putih!"
Amdara berkedip melihat respon Aray. Dirinya mendengus dan menjelaskan, "aku sama sekali tidak dipengaruhi."
Aray masih terus terbang, dia beberapakali meluncurkan serangan walaupun sekarang para makhluk itu lebih waspada. Aray belum keluar dari istana, dia masih kebingungan memutari ruangan yang amat besar dan dijaga oleh banyak makhluk.
Aray menggertakkan gigi. Tidak ada kesempatan untuk melarikan diri. Jika nekad melawan, yang ada mereka mat* sia-sia dan jika sampai tertangkap, mereka pun akan ma*i. Ah, tidak! Aray baru saja bisa mengaktifkan kekuatan. Bagaimana mungkin dia mat* konyol?
"Aray, hentikan. Mereka tidak akan menyakiti kita."
Amdara masih besikap tenang walaupun melihat penjaga istana yang terluka akibat ulah temannya ini. Mungkin Aray masih tidak terima dengan keadaan, dia terlalu syok dan tertekan.
"Apanya yang tidak akan?! Mereka tetaplah bukan manusia, Rambut Putih! Mereka makhluk jelek dan jahat ...!"
Aray menggeram, dia kesulitan membawa Amdara sambil terus menyerang para makhluk yang sepertinya tengah membuat perisai pelindung tanpa ada niat melawan.
"Jika mereka jahat, aku tidak membiarkannya." Amdara menarik napas gusar. Entah mengapa berada di sisi Aray selalu membuatnya kesal. Amdara berkata, "hentikan. Mereka tidak menyakitimu. Kau yang menyakiti mereka."
Aray tak menggubris, dia baru meledakkan salah satu dinding agar mereka bisa keluar. Amdara sampai dibuat tak habis pikir oleh tindakan temannya ini.
Jika seperti ini terus, yang ada istana akan runtuh akibat ulah Aray. Ini adalah istana milik ibu Amdara, bagaimana mungkin dirinya membiarkan Aray melakukan kerusakan di sini?
"Are!"
Tepat saat Amdara memanggil Are, dia muncul di depan Aray dan langsung membuat Aray terpental jauh, sementara Amdara dibuat terbang.
Menghadapi Aray memang tidak hanya harus menggunakan kata-kata tetapi menggunakan serangan menyakitkan.
Aray terbatuk-batuk, dia tersentak dengan serangan yang lumayan barusan. Dirinya mengepalkan tangan, melihat makhluk cahaya hitam berbentuk manusia tengah terbang di samping Amdara yang diam menatap tanpa ekspresi.
"Mereka bukan musuh."
Penegasan Amdara mampu membuat Aray berdecih dan langsung berkata dengan intonasi tinggi, "semua makhluk adalah musuh! Jika mereka bukan musuh, lalu apa yang membuat mereka tertarik membawa kita kemari?! Luffy, kau telah dipengaruhi oleh makhluk jelek itu ...!"
Amdara menepuk dahi, dan mengusapnya pelan sampai pipi. Aray lebih keras kepala, dan jika dibiarkan ini sangat membahayakan. Padahal Amdara sudah mengatakan semuanya. Hah, benar-benar menyebalkan!
__ADS_1
Are baru angkat bicara tetapi ditahan Amdara. Sepertinya mereka memang harus pergi, terserah bagaimana Aray menganggap makhluk Dark World seperti apa. Itu tidak penting.
Are berkata, "nona, apa anda yakin akan pergi?"
Amdara mengangguk dan menjawab, "mn. Jaga diri dan Dark World."
Are mengangguk lemah dan memberikan sebuah kitab yang Amdara inginkan yang langsung meletakkannya di dalam Cincin Ruang.
Amdara berterimakasih, dia membuat Are malah merasa Amdara terlalu sopan padanya. Setelahnya bocah berambut putih itu meminta agar cepat dikembalikan ke dunia manusia.
Are mangangkat tangan, sebuah cahaya muncul dan membuat pusaran cahaya hitam kelam tengah memutar cepat. Itu merupakan gerbang yang dibuat Are sendiri sebagai terkuat di antara yang lain. Gerbang ini telah diletakkan di beberapa tempat agar bisa keluar untuk berjalan-jalan di Hutan Arwah. Tak heran, banyak isu yang beredar.
"Nona, kembalilah jika dunia manusia menyakitimu. Dark World selalu terbuka untukmu."
Are juga berkata bahwa Amdara harus menjaga diri.
"Dunia manusia lebih baik walaupun berbahaya dari pada Dark World." Amdara tersenyum tipis dan mengangguk.
Amdara memanggil Aray agar dia mendekat dan berkata akan kembali ke dunia asal. Mendengarnya sontak awalnya Aray tidak percaya, tetapi Amdara langsung mendorong ke dalam pusaran cahaya itu.
Cukup lama berada di Dark World, jelas sangat mengganggu pikiran Amdara. Bagaimana dengan kondisi teman-temannya yang lain? Apa mereka baik-baik saja atau tengah bergulat melawan sesuatu? Matahari pasti sudah muncul, 'kan? Lalu apa mereka berhasil mendapatkan tanaman herbal dan lolos dari orang-orang aliran hitam?
"Nona, tenang saja. Setelah memasuki gerbang ini, teman anda tidak akan mengingat mengenai Dark World."
Amdara tersentak dengan lamunan sendiri. Dia menatap Are dan mengangguk paham. Dirinya izin pamit dan langsung memasuki pusaran hitam itu.
Ketika cahaya hitam itu menghilang, Amdara menurunkan lengan dan tercengang saat sekeliling masih gelap.
Bukankah seharusnya matahari sudah muncul? Dengan kata lain, selama apa-pun di Dark World, di dunia manusia hanya sampai satu menit, mungkin?
"Berbedaan waktu."
Amdara menebak dengan pemikiran sendiri. Di saat dia masih berpikir, suara seseorang mengagetkan dirinya dari arah belakang.
"Rambut Putih, apa ini kau?"
Suara Aray terdengar pelan. Tepat di telinga Amdara pula. Jelas Amdara langsung melompat dan merasakan tengkuk yang merinding.
"Memalukan."
Satu kata itu ditujukan untuk Aray, tetapi dia sama sekali tidak peka. Dan memang, Aray tidak ingat apa-pun mengenai Dark World. Yah, itu lebih baik daripada tahu, yang ada nanti akan merepotkan.
Aray menggaruk tengkuk kebingungan. "Aku seperti melihat dua cahaya yang mengejar ...."
Amdara berkedip, mendengar perkataan Aray selanjutnya. Jika kekuatan Are salah, maka Amdara harus bertindak dengan memukul tengkuk Aray sampai tidak sadarkan diri. Amdara melangkah, dan mencoba mencari keberadaan Aray.
"Hah, sepertinya aku berhalusinasi karena terlalu lama di Hutan Arwah. Sebaiknya kita cepat kembali ke titik kumpul."
__ADS_1
Aray hendak memegang lengan Amdara, setelah mendengar derap langkah mendekat. Namun, Amdara malah mengatakan sesuatu yang membuat Aray tersentak.
"Jangan menyentuhku." Amdara kesal saat tiba-tiba Aray yang menyentuh bahkan menariknya paksa. Itu tindakan tidak sopan dan memalukan! Amdara berkata dingin dan penuh penekanan, "selagi lagi menyentuh, kupot*ng lenganmu."
Aray dibuat menelan ludah kesulitan. Tengkuknya merinding seketika.
"Kau akan menabrak sesuatu jika tidak berpegangan padaku!"
Aray mencoba membela diri, tetapi yang ada dia kalah telak. Berdebat dengan Amdara memang tidak akan pernah menang.
"Ada jubahmu."
Aray mengembuskan napas, dan membiarkan Amdara yang berpegangan pada jubahnya. Keduanya mulai berjalan hati-hati, mencari titik kumpul di dekat aliran sungai.
*
*
*
"A-apa jangan-jangan mereka dibawa ke dunia lain oleh penghuni H-hutan A-arwah?"
Perkataan Atma membuat Inay, Dirgan, Rinai, dan Nada tersentak. Mereka menegur Atma agar tidak bicara sembarangan. Di saat tegang-tegangnya, mengharap kehadiran Amdara dan Aray mereka dibuat terkejut dan spontan berteriak saat suara dari luar mengagetkan. Suara tersebut menggedor pintu transportasi mereka, tetapi tidak ada suara orang. Jelas yang ada mereka bertambah ketakutan.
Inay memeluk Rinai erat, tubuhnya bergetar hebat ketakutan.
"K-ketua, kau cek apa yang terjadi di luar."
Atma menelan ludah susah payah, dia masih berpegangan erat pada lengan Dirgan yang langsung ditempis saat itu juga.
"K-kenapa aku?!"
Dirgan juga merasa ketakutan, dia sampai merasakan lemas. Gedoran masih terdengar, dan malah semakin keras.
"K-kau kan Ketua Kelas."
Dirgan mengepalkan tangan. Mendengar penuturan Atma membuatnya tak ingin menjatuhkan harga diri sendiri hanya karena tidak mau melihat keluar. Dengan gemetar, Dirgan langsung membuka pintu dan terkejut bukan main saat tidak terduga malah mendengar omelan seseorang yang tengah mereka tunggu.
"Kenapa membukanya lama sekali?!"
Aray langsung masuk dan masih dengan amarah, dia duduk di posisi mengontrol alat aneh tersebut.
Belum sempat membuka mulut, Amdara masuk dan duduk dengan tenang paling belakang.
Kehadiran keduanya jelas membuat teman-teman senang sekaligus bersyukur. Mereka sepertinya baik-baik saja. Dirgan, dan yang lain bisa mengembuskan napas lega.
Atma langsung berseru, "apa kalian baik-baik saja?!"
__ADS_1
Amdara dan Aray mengangguk bersamaan. Mereka diberi banyak pertanyaan tak terduga. Amdara lebih memilih diam dan memejamkan mata, sementara Aray mengendarai sambil menjawab dan heboh sendiri saat menceritakan halusinasi yang dia alami di Hutan Arwah.