
Amdara tentu saja sangat senang karena sekarang Benang Merah tidak lagi mengganggu kekuatan di inti spiritual. Dengan seperti ini, dia dapat berlatih selama tiga tahun penuh persiapan untuk pertandingan. Namun, Amdara juga harus bersiap-siap agar bisa secepatnya pergi Akademi Nirwana Bumi untuk bertemu Ketu.
Amdara tidak henti-hentinya berterimakasih kepada Tetua Besar Moksa yang sudah sangat membantunya dalam masalah ini. Jika takdir tidak mempertemukan keduanya, pasti Amdara sekarang masih dalam masalah besar.
Kedua orang berbeda usia itu terus mengobrol. Tentu yang paling banyak berbicara adalah Tetua Moksa yang sejak tadi menceritakan beberapa hal mengenai seorang benama Ketu. Mendengar cerita tersebut, Amdara pastinya akan mengalami kesulitan besar nantinya. Tetua Moksa juga bertanya dari mana Amdara yang sampai mendapat Benang Merah tersebut. Amdara dengan tenang menjawab bahwa dirinya pernah diserang oleh pria berambut merah. Untuk sejenak Tetua Moksa terdiam seperti tengah memikirkan sesuatu.
Tetua Besar Moksa menarik napas dalam melihat ikat rambut yang dipakai bocah di depannya. Rasa-rasanya dia pernah melihat ikat rambut itu entah berada di mana. Ada aura aneh yang dia rasakan dari ikat rambut tersebut. Dirinya hanya tersenyum, tidak berniat menanyakan hal ini.
Tetua Besar Moksa mengusap-usap jenggot putihnya. Dia kemudian berbicara, "Nak, kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kau tida meminta bantuan Tetua Haki?"
"Mn, aku tidak ingin merepotkannya."
"Lantas apa menurutmu kau tidak merepotkanku?"
"Bukan seperti itu. Hanya orang tertentu yang dapat melihat Benang Merah ini, jadi ...." Amdara menurunkan pandangan. Tidak enak jika melanjutkan perkataannya.
Tetua Besar Moksa mengangguk-angguk seperti mengerti kelanjutan ucapan Amdara. Tetua Besar Moksa kemudian kembali berkata, "baiklah, kau sudah bisa menggunakan kekuatanmu. Aku ingin melihat hasil latihanmu tiga hari ini."
Amdara mengangguk. Kemudian mulai melakukan gerakan yang pernah dipelajari selama tiga hari penuh ini. Dirinya menarik napas dalam sebelum menghembuskan perlahan. Sebenarnya Amdara masih penasaran mengapa saat ini pun masih bisa merasakan kekuatan alam mengalir ke dalam tubuhnya. Padahal jelas Tetua Besar Moksa sudah pernah mengatakan bahwa dirinya sedang berada di alam bawah sadar yang harusnya tidak bisa merasakan kekuatan alam seperti saat ini.
Kekuatan besar berwarna biru memusat di atas kepalanya. Bahkan Tetua Besar Moksa sampai terperangah melihatnya. Semakin membesar hingga pusaran angin berputar cepat nyaris membuat ruangan tersebut dibuat melayang di atasnya tidak beraturan.
"Tunggu," Amdara membuka mata. Dia berkedip menatap Tetua Besar Moksa yang tersentak karena tiba-tiba saja Amdara menghentikan aksinya. Amdara tanpa nada berujar, "aku akan menghancurkan alam bawah sadarmu, Tetua."
__ADS_1
Sontak saja Tetua Besar Moksa tertawa, dia berujar sambil mengelus-elus jenggot putih panjangnya.
"Kau pikir alam bawah sadarku selemah itu?" Tetua Moksa kemudian mengatakan bahwa Amdara tidak perlu mengkhawatirkannya. Dan harus tetap fokus pada pemusatan kekuatan. Mendapatkan izin, Amdara langsung mengangguk dan kembali melanjutkan kekuatannya.
Cahaya biru penuh kekuatan dahsyat tersebut meluncur ke atas cepat ketika Amdara menyatukan kedua tangan di atas kepala. Guncangan hebat terjadi, suara retakkan terdengar. Angin berhembus sangat kencang. Tetua Moksa menahan napas melihat kekuatan dahsyat tersebut. Dirinya sampai harus fokus mempertahankan kekuatan di alam bawah sadarnya.
Tempat di ruangan tersebut memang tidak berterbangan karena tekanan dari kekuatan Tetua Besar Moksa. Namun, bahkan Tetua itu harus mengerahkan kekuatannya.
Tetua Besar Moksa membatin, "tidak kuduga kemampuannya sudah mencapai tingkat ini. Hmph, sepertinya aku pernah merasakan kekuatan besar ini dahulu."
Tatapan Tetua Moksa tidak berhenti memerhatikan bocah berambut putih yang sedang menutup mata sambil memfokuskan diri. Dia menurunkan tangan ketika pemusatan yang dia lakukannya berhasil dengan hasil sangat memuaskan bagi Tetua Besar Moksa sendiri.
Tua Bangka itu bertepuk tangan dan mengatakan bahwa kemampuan Amdara sangat luar biasa. Pantas saja Tetua Haki memilihnya sebagai perwakilan Akademi Magic Awan Langit.
Amdara jelas terkejut mendengar perkataan Tetua Besar Moksa yang sungguh diluar dugaannya. Dia kemudian memberikan hormat dan menjawab sopan, "saya tidak akan menolak jika Tetua sendiri yang memberinya."
Tetua Besar Moksa tersenyum. Dia telah memikirkannya matang-matang dan akan memberikan sebuah jurus kepada Amdara secara khusus.
*
*
*
__ADS_1
Di alam nyata, Shi sedang menunggu Amdara bangun. Sejak satu jam lamanya dia menunggu namun bocah berambut putih itu belum juga sadarkan diri. Tentu saja Shi sangat cemas, begitu pula dengan Cakra yang sedang berlatih di halaman depan. Sementara Tetua Haki sendiri tidak mengetahui akan hal ini, dia entah sedang pergi ke mana sejak semalam.
Shi beberapa kali menghela napas gusar. Kekuatannya ditolak oleh tubuh Amdara. Dia berbicara kesal, "kenapa kau sangat keras kepala?! Jika seperti ini siapa yang repot, hah?! Tsk. Luffy, kau ini bocah menyebalkan. Lebih menyebalkan dari Cakra yang hemat bicara."
Shi menggelembungkan pipi kesal. Dia menyenderkan kepala di kursi sambil merenung. Menutup mata sambil memikirkan bagaimana caranya agar bisa mengatakan hal ini kepada Tetua Haki tanpa diketahui oleh Amdara. Saat sedang berpikir, mata bocah berambut putih itu perlahan terbuka. Hingga pandangannya menjelas. Dia segera duduk dengan posisi mengedarkan pandangan ke sekitar.
Shi yang merasakan adanya pergerakan sontak membuka mata Dia terkejut sebab Amdara sudah duduk di sampingnya tanpa ekspresi.
"Kau sudah bangun?!" Shi segera menyentuh bahu Amdara. Dirinya memeriksa keadaan Amdara yang ternyata sudah membaik. Shi terdiam, menatap Amdara dalam. Ada aura aneh yang dia rasakan. Aura yang membuatnya tertekan hingga dirinya kesulitan menelan ludah.
Amdara sendiri kebingungan dengan ekspresi Shi yang tiba-tiba menarik kembali tangannya.
"Luffy, apa yang terjadi denganmu?"
Pertanyaan Shi kembali membuat Amdara kebingungan dan lantas menaikkan sebelah alisnya. Dia bertanya, "ada apa?"
"Ikuti aku," Shi menarik paksa Amdara membawanya keluar. Saat di luar, Cakra terkejut dengan Amdara yang ternyata sudah sadarkan diri. "Luffy, perlihatkan kemampuanmu."
Amdara tersentak dengan perkataan Shi yang memintanya untuk mengeluarkan kekuatan. Amdara menarik napas dalam, ternyata Shi memang sangat peka terhadap kekuatan seseorang. Tanpa ragu, Amdara mulai melakukan gerakan Pemusatan Kekuatan yang pernah dia lihat dari Tetua Haki. Sebuah angin tiba-tiba berhembus kencang, aliran kekuatan di atas kepalanya menyatu hingga lesatan cahaya biru melesat ke atas dan mengakibatkan kembang api disertai debaman keras terdengar. Bahkan debaman itu lebih cepat dan keras dari milik Shi dan Cakra.
Shi menahan napasnya melihat begitu dahsyatnya kemampuan bocah berambut putih itu. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sebelumnya Amdara tidak dapat mengeluarkan kekuatan tetapi sekarang ....
Cakra juga menahan napas sejenak sebelum pandangannya beralih ke arah Amdara yang mengembuskan napas lega.
__ADS_1
Shi langsung mendekati Amdara dan menanyakan bagaimana Amdara yang bisa sembuh. Tentu bocah itu sangat penasaran sekarang. Amdara tersenyum kecil, dia menjawab dengan sedikit kebohongan.